• Tentang Kami
Thursday, October 1, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Hari Pancasila dan Harapan Rakyat

SAGOE TV by SAGOE TV
October 1, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Hari Pancasila dan Harapan Rakyat

Ilustrasi Hari Pancasila dan Harapan Rakyat. (AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Fajri, S.Pd.I., M.Ag.
Guru dan Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia kembali mengingat Pancasila. Bendera dikibarkan. Upacara digelar. Lima sila dibacakan. Sejarah kembali dikenang. Pancasila disebut sebagai dasar negara yang menyatukan bangsa Indonesia.

Tetapi di tengah semua itu, ada pertanyaan yang rasanya semakin sulit dihindari: Jika Pancasila menjadi dasar negara, mengapa wajah negeri ini masih begitu carut-marut?

BACA JUGA

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan: Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

Dari Percakapan ke Meja Ngopi: Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan Pancasila. Justru sebaliknya. Pancasila perlu dijadikan cermin untuk melihat wajah negara. Sebab Pancasila bukan sekadar lima kalimat yang harus dihafal pelajar atau dibacakan dalam upacara. Pancasila adalah cita-cita tentang bagaimana kekuasaan dijalankan, bagaimana manusia diperlakukan, bagaimana perbedaan dikelola, dan bagaimana keadilan diwujudkan.

Masalahnya, antara cita-cita dan kenyataan sering terdapat jarak yang menganga. Bangsa Indonesia hidup dalam negara yang demokratis. Pemilu berlangsung secara berkala. Presiden berganti. Partai politik berganti koalisi. Kepala daerah dipilih. Kekuasaan dapat berpindah tangan. Semua itu merupakan capaian penting Reformasi.

Namun demokrasi belum otomatis membuat negara menjadi harapan rakyat kebanyakan. Korupsi masih terjadi. Politik uang masih menjadi persoalan. Biaya politik semakin mahal. Kepentingan kekuasaan sering bertabrakan dengan kepentingan publik. Kebijakan dapat berubah ketika pemerintahan berganti.

Bangsa Indonesia bahkan sering menyaksikan paradoks yang melelahkan: begitu banyak energi digunakan untuk mendapatkan kekuasaan, tetapi setelah kekuasaan diperoleh, energi yang sama tidak selalu terlihat dalam menyelesaikan persoalan rakyat.

KPK pernah mengingatkan bahwa mahalnya biaya politik dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong korupsi. Ketika ongkos memperoleh jabatan terlalu tinggi, muncul persoalan tentang sumber pembiayaan dan bagaimana modal politik tersebut dikembalikan setelah kekuasaan diperoleh.

Di titik ini, kekuasaan menjadi sesuatu yang berbahaya jika diperlakukan seperti investasi. Investasi membutuhkan keuntungan. Sementara jabatan publik seharusnya merupakan amanah.

Inilah salah satu persoalan yang patut direnungkan pada Hari Pancasila. Sila keempat berbicara tentang kerakyatan dan kebijaksanaan. Tetapi apakah politik benar-benar memberi tempat utama kepada rakyat, atau rakyat hanya menjadi sangat penting ketika surat suara mereka sedang dibutuhkan?

Pertanyaan itu mungkin terasa pahit. Namun rakyat tidak hanya hidup pada hari pemilu. Rakyat hidup setiap hari. Mereka mencari pekerjaan setiap pagi. Membayar biaya pendidikan anak. Mengurus kesehatan. Membeli kebutuhan rumah tangga. Mengantre pelayanan administrasi. Menghadapi jalan rusak. Menghadapi harga yang berubah. Mengirim anak ke sekolah terbaik dengan harapan kehidupan mereka kelak akan lebih baik.

Bagi rakyat biasa, negara tidak dinilai dari banyaknya baliho politik. Negara dinilai dari apakah kehidupan menjadi lebih layak.

Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah negara semestinya tidak berhenti pada berapa banyak pemilu yang berhasil diselenggarakan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah pemilu selesai negara tetap bekerja.

Pendidikan membutuhkan waktu yang panjang. Membangun kualitas manusia membutuhkan generasi. Membenahi birokrasi membutuhkan konsistensi. Membangun ekonomi membutuhkan kebijakan yang tidak mudah berubah mengikuti kepentingan politik sesaat.

Namun politik sering bergerak siklus lima tahunan. Pemilu datang. Kekuasaan berganti. Program baru muncul. Istilah baru diperkenalkan. Pejabat berganti. Lalu bangsa Indonesia kembali memasuki siklus yang sama. Padahal negara membutuhkan kesinambungan, tetapi politik sering membutuhkan kemenangan.

Di sinilah demokrasi membutuhkan kedewasaan. Demokrasi tidak boleh berhenti pada kemampuan memilih penguasa. Demokrasi harus menghasilkan pemerintahan yang mampu bekerja setelah suara rakyat dihitung.

Sebab bangsa Indonesia memiliki persoalan yang jauh lebih panjang daripada umur suatu pemerintahan.

Anak yang hari ini duduk di kelas tujuh akan menjadi tenaga kerja belasan tahun lagi. Jalan yang dibangun hari ini akan digunakan puluhan tahun. Keputusan pendidikan hari ini akan menentukan kualitas manusia beberapa dekade mendatang. Negara tidak boleh berpikir hanya sampai pemilu berikutnya.

Di sinilah Pancasila seharusnya kembali menjadi ukuran. Ketuhanan Yang Maha Esa seharusnya memberi batas moral kepada kekuasaan.

Kemanusiaan yang adil dan beradab seharusnya membuat rakyat diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar angka dalam laporan pembangunan.

Persatuan Indonesia seharusnya membuat perbedaan politik tidak berubah menjadi permusuhan.

Kerakyatan seharusnya membuat kekuasaan benar-benar mendengar kepentingan rakyat.

Dan keadilan sosial seharusnya dapat dirasakan oleh mereka yang hidup jauh dari pusat kekuasaan.

Pancasila tidak akan menjadi lebih kuat hanya karena semakin sering disebut. Pancasila menjadi berarti ketika nilai-nilainya hadir dalam keputusan pemerintah, perilaku pejabat, pelayanan publik, penegakan hukum, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Hari Pancasila seharusnya bukan hanya kesempatan untuk mengingat kembali sejarah. Ia juga kesempatan untuk bercermin.

Apakah negara yang berdiri di atas Pancasila sudah mencerminkan nilai-nilai Pancasila? Jika jawabannya belum, bangsa Indonesia tidak perlu mencari kesalahan pada Pancasila. Yang perlu diperiksa adalah manusia yang menjalankan kekuasaan atas namanya.

Sebab sebuah negara bisa memiliki konstitusi yang baik, sistem demokrasi yang terbuka, pemilu yang rutin, dan slogan yang indah. Tetapi tanpa integritas, semua itu dapat berubah menjadi prosedur tanpa jiwa.

Hari Pancasila akhirnya bukan sekadar tentang mengingat mengapa Pancasila harus dipertahankan. Hari Pancasila juga tentang keberanian melihat kenyataan.

Masih ada korupsi. Masih ada ketidakadilan. Politik masih sering gaduh. Rakyat masih menunggu banyak persoalan diselesaikan. Dan cita-cita negara yang adil dan makmur masih jauh dari harapan.

Maka pertanyaan pada 1 Oktober barangkali sederhana. Bukan apakah Pancasila masih menjadi dasar negara. Itu sudah jelas. Pertanyaannya: Apakah negara yang dibangun atas dasar Pancasila sudah menjadi negara yang diharapkan oleh rakyatnya?

Tags: HariHari Kesaktian PancasilaopiniPancasilaRakyat
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan Langkah Berikutnya bagi MACS di USK
Opini

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan: Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

by SAGOE TV
September 30, 2026
Dari Percakapan ke Meja Ngopi Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK
Opini

Dari Percakapan ke Meja Ngopi: Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK

by SAGOE TV
September 25, 2026
Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari
Opini

Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

by SAGOE TV
September 15, 2026
Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir
Opini

Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir

by SAGOE TV
September 9, 2026
Lulusan Seni 2026-2030 Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh
Opini

Lulusan Seni 2026-2030: Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh

by SAGOE TV
September 7, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Pesan Rektor UIN Ar-Raniry kepada Kaprodi Layani Mahasiswa, Jangan Persulit

Pesan Rektor UIN Ar-Raniry kepada Kaprodi: Layani Mahasiswa, Jangan Persulit

September 25, 2026
Dari Percakapan ke Meja Ngopi Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK

Dari Percakapan ke Meja Ngopi: Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK

September 25, 2026
FH USK Edukasi Hukum Pornografi bagi Siswa

FH USK Edukasi Hukum Pornografi bagi Siswa

September 23, 2026
150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

September 23, 2026
609 Peserta di Aceh Ikuti Ujian TUNAS 2026 di USK Selama Tiga Hari

609 Peserta di Aceh Ikuti Ujian TUNAS 2026 di USK Selama Tiga Hari

September 28, 2026
Siti Murtiningsih, Istri Wamen Nezar Patria Dikukuhkan Jadi Guru Besar Filsafat Pendidikan UGM

Siti Murtiningsih, Istri Wamen Nezar Patria Dikukuhkan Jadi Guru Besar Filsafat Pendidikan UGM

February 24, 2025
Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan: Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

September 30, 2026
UIA Kini Punya 2 Prodi Akreditasi Unggul, S1 Ekonomi Syariah Terbaru

UIA Kini Punya 2 Prodi Akreditasi Unggul, S1 Ekonomi Syariah Terbaru

September 28, 2026
Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda

Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda

September 28, 2026

EDITOR'S PICK

Pesawat Boeing 737 Jadi Wahana Manasik Haji dan Umrah, Aceh Perkuat Layanan Jamaah

Pesawat Boeing 737 Jadi Wahana Manasik Haji dan Umrah, Aceh Perkuat Layanan Jamaah

February 6, 2026
7.107 PPPK di Lingkungan Kanwil Kemenag Aceh Resmi Dilantik Serentak Secara Nasional

7.107 PPPK di Lingkungan Kanwil Kemenag Aceh Resmi Dilantik Serentak Secara Nasional

May 26, 2025
KIP Banda Aceh Tetapkan 172.880 Daftar Pemilih Sementara Pilkada Serentak 2024

KIP Banda Aceh Tetapkan 172.880 Daftar Pemilih Sementara Pilkada Serentak 2024

August 10, 2024
Ketua MPU Banda Aceh Hadiri Pengajian Rutin Pemuda Bersama Para Habaib

Ketua MPU Banda Aceh Hadiri Pengajian Rutin Pemuda Bersama Para Habaib

February 8, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.