JAKARTA | SAGOE TV – Provinsi Aceh kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional setelah tiga agenda budaya dan pariwisatanya resmi terpilih masuk Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, program unggulan Kementerian Pariwisata yang mengkurasi kegiatan terbaik dari seluruh Indonesia.
Bahkan, event Aceh Culinary Festival berhasil tembus jajaran 10 besar KEN 2026 sebagai salah satu kegiatan unggulan nasional terbaik.
KEN 2026 merupakan program strategis Kementerian Pariwisata yang menghadirkan 125 kegiatan terkurasi dari 38 provinsi. Program ini diarahkan untuk memperkuat kegiatan daerah sebagai daya tarik utama pariwisata nasional sekaligus mendorong pemerataan dampak ekonomi.
Adapun tiga kegiatan Aceh yang masuk dalam KEN 2026 meliputi Aceh Ramadhan Festival, Aceh Culinary Festival, serta Banda Aceh Colossal Coffee Experience. Ketiganya menampilkan kekayaan budaya, kuliner, dan kreativitas masyarakat Aceh yang dikemas dalam penyelenggaraan berstandar nasional.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan bahwa Karisma Event Nusantara merupakan instrumen penting dalam pembangunan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
“Melalui Karisma Event Nusantara 2026, kegiatan daerah kami dorong tidak hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai penggerak pariwisata dan ekonomi lokal. Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi budaya, wadah kolaborasi, sekaligus etalase kekayaan Indonesia yang berdaya saing,” ujar Widiyanti saat peluncuran KEN 2026 di Jakarta, Jumat (23/1).
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi mengatakan, capaian tersebut tetap ditempatkan dalam perspektif empati, mengingat Aceh saat ini juga tengah menghadapi bencana yang berdampak pada sebagian masyarakat.
“Masuknya tiga kegiatan Aceh dalam Karisma Event Nusantara 2026, dengan satu kegiatan berada di jajaran 10 besar nasional, merupakan pengakuan atas kekuatan budaya dan kreativitas masyarakat Aceh. Namun, capaian ini tidak menghilangkan rasa empati kami, karena Aceh saat ini juga tengah menghadapi bencana,” ujar Dedy dalam keterangannya, dikutip Ahad (25/1).
“Dalam konteks tersebut, penyelenggaraan kegiatan budaya dan pariwisata justru kami posisikan sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi dan sosial. Insyaallah, kegiatan ini menjadi ruang kebangkitan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, seniman, serta komunitas lokal, sekaligus sarana memperkuat solidaritas dan optimisme untuk bangkit bersama pascabencana,” sebutnya.
Dedy menyebut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh berkomitmen memastikan penyelenggaraan kegiatan tetap memperhatikan sensitivitas sosial serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat, sejalan dengan semangat kolaborasi dan pemulihan daerah. []




















