Oleh: Rita Khathir
Bencana hidrometeorologi Aceh 2025 secara nyata memberikan dampak yang sangat dahsyat. Jumlah korban meninggal dan hilang semakin meningkat. Begitu juga dengan kerugian harta benda. Total warga terdampak langsung dipastikan akan sangat besar. Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Kabupaten Aceh Tamiang menyebutkan bahwa 70% rumah hilang disapu banjir bandang dengan ketinggian 3-4 meter (2/12/2025). Warga Aceh yang meninggal akibat musibah ini juga sudah tercatat di atas 240 orang dengan laporan orang hilang di atas 200 orang.
Selain itu, sebagian masyarakat juga mendapatkan dampak tidak langsung, berupa ketiadaan akses listrik dan internet yang membawa kerugian cukup besar di tingkat rumah tangga dan industri. Dapat disimpulkan bahwa 100% masyarakat Aceh merasakan dampak dari bencana ini. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama seia sekata dalam segala tindakan untuk saling bersinergi mengurai permasalahan yang ada.
Dalam setiap renungan, mari kita berdoa kepada Allah SWT., mendekatkan diri kepada-Nya dan memohon perlindungan-Nya. Selanjutnya mari kita berupaya semampu kita untuk berkontribusi dalam penanggulangan pascabencana, melindungi diri dan keluarga, serta masyarakat. Bukan berupaya semampus kita, di sini kita perlu pemikiran yang bijaksana, pemikiran yang sehat dan tepat. Seringkali kita terjebak dalam badai emosional sehingga menenggelamkan ilmu dan logika.
Saya melakukan pemantauan perkembangan situasi di Harian Serambi Indonesia, terutama melalui channel siaran WhatsApp Serambinews.com. Sebagian besar keluarga saya berada di Kabupaten Aceh Tamiang, tepatnya di Kecamatan Manyak Payed, tanah kelahiran ayah saya. Sampai saat ini, saya belum bisa mendapatkan informasi dari ahli keluarga karena putuskan jaringan komunikasi seluler. Dengan meningkatkan rasa tawakal kepada Allah, saya mengirimkan doa agar mereka dalam lindungan Allah SWT. Mari kita saling mendoakan, dan tidak bising dengan saling menghujat, semoga Rahmat Allah datang kepada kita, Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Tim BNPB (Pemerintah Pusat), Pemerintah Aceh, TNI, dan berbagai elemen masyarakat telah bergerak dengan berbagai daya upaya. Pasokan logistik dan obat-obatan jalur udara telah dikirim, jalur transportasi darat sedang diperbaiki, dan jalur transportasi laut juga sudah dibuka. Pihak PLN juga sedang bekerja keras memperbaiki tower saluran udara tegangan tinggi (SUTT) untuk menormalkan pasokan energi listrik.
Kendala utama yang dihadapi dalam perbaikan sarana prasarana adalah rusaknya jalur transportasi darat, sehingga proses pendistribusian material harus dilakukan melalui jalur udara, yaitu menggunakan helikopter. Kita harus sadar bahwa biaya transportasi udara merupakan biaya termahal yang mau tidak mau harus diupayakan dalam kondisi darurat penanggulangan bencana ini.
Ok, sampai di sini, apa yang harus kita lakukan? Yuk kita tekan tombol sinkronisasi. Sinkronisasi adalah proses menyelaraskan 2 atau lebih hal atau keadaan. Proses ini sangat penting agar kita tidak melihat sesuatu secara parsial, tetapi dapat melihatnya secara keseluruhan. Kesempurnaan penilaian yang kita lakukan sangat penting untuk menentukan tindak lanjutan yang tepat dan bijaksana. Dalam dunia nyata, sinkronisasi ini merujuk kepada koordinasi peristiwa atau kegiatan.
Kelemahan kita adalah seringnya tidak melakukan sinkronisasi. Entah karena lupa, atau karena malas, atau karena merasa bahwa sinkronisasi atau koordinasi ini bukan merupakan hal penting. Padahal kondisi yang tidak sinkron justeru akan memperparah situasi.
Sebagai contoh kecil, sebuah kampus meliburkan mahasiswanya selama periode 2 minggu dengan alasan sebagai respon terhadap situasi darurat bencana. Lalu di saat yang sama membuka dapur umum untuk membantu mahasiswa terdampak dengan makan siang. Saya melihat situasi ini tidak tersinkronisasi dengan baik. Mahasiswa diliburkan untuk apa? Saya terpikir mungkin untuk memberikan kesempatan pada mereka pulang kampung memastikan situasi keluarganya. Namun, kenyataan mahasiswa tidak dapat pulang karena jalan terputus, mahasiswa tidak tahu kondisi orang tuanya karena komunikasi seluler terputus. Kemudian, berapa persen mahasiswa terdampak sehingga semua diliburkan? Sampai saat ini saya belum punya data terkait itu.
Lalu, timbul pertanyaan lanjutan ketika mahasiswa diliburkan untuk bisa pulang kampung, untuk apa dapur umum dibuka? Apakah untuk memberi makan mahasiswa yang sedang liburan? Dalam literatur Islam, ibnu sabil adalah istilah untuk seseorang yang sedang aktif menuntut ilmu pengetahuan. Jadi merujuk definisi tersebut, mahasiswa yang sedang liburan bukanlah ibnu sabil.
Selain itu, kegiatan pembelajaran sangat kompleks, yang terdiri dari kegiatan seminar dan sidang. Multi tafsir pun terjadi seperti meliburkan perkuliahan saja dengan tetap melaksanakan seminar atau sidang yang telah dijadwalkan sebelumnya. Adalagi sistem absen perkuliahan yang tidak tersinkronisasi sehingga tidak diubah masih sesuai jadwal lama. Ini adalah satu bukti nyata tidak adanya sinkronisasi.
Sebagai perbandingan, sebuah kampus lain mengeluarkan SE memperkenankan mahasiswa terdampak untuk izin kuliah sekaligus mendata mereka yang terdampak untuk kebijakan lanjutan memberikan bantuan/keringanan. Saya menilai kebijakan ini lebih tepat dan bijaksana mempertimbangkan bahwa bukan 100% mahasiswa atau dosen terdampak langsung dengan bencana, sehingga kegiatan belajar mengajar semestinya tetap berlangsung secara normal.
Fenomena lain, seseorang turun ke lapangan menyampaikan bantuan, namun mendapatkan caci maki dari masyarakat dan mendapatkan rasa kecewa mendalam. Saya dapat menyampaikan analisis seperti ini, ketika kita turun ke lapangan untuk membawa bantuan khusus untuk sanak saudara sendiri maka ini bisa disebut dengan pulang kampung, dan sangat wajar kalau kita mengalami hujatan atau bahkan jarahan oleh massa yang sedang kelaparan. Inilah yang saya maksudkan di awal perbedaan antara tindakan emosional dan tindakan logikal. Mari kita mengubah cara pikir dan bertindak, menghindari sejauh mungkin ketidakadilan di lapangan, dan berniat membantu semua orang. Kita membutuhkan sinkronisasi dengan aliran bantuan ke kawasan di mana saudara kita berada, barulah kita berupaya berkontribusi di dalamnya.
Semakin banyak elemen dengan jenjang berbeda yang terlibat, akan semakin kompleks lah suatu sistem sinkronisasi atau koordinasi. Namun ia tetap penting dan harus dilakukan. Saya berharap dalam hal ini, Pemerintah Aceh dapat melakukan sinkronisasi sebaik mungkin dalam penanggulangan darurat pascabencana sampai tahapan rehab-rekon nantinya, yang dapat dilakukan dengan sinkronisasi secara periodik. Penelusuran informasi penanggulangan bencana Aceh adalah upaya saya melakukan sinkronisasi secara mandiri. Setiap kita harus menekan tombol sinkronisasi mandiri.
Sendai Framework 2015-2030 menargetkan adanya pembangunan menjadi lebih baik pascabencana. Kita berada di tahun 2025, semoga setelah badai berlalu kita semua menjadi lebih baik, yuk jangan lupa tekan tombol sinkronisasi setiap hari. []
Prof. Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc, Profesor bidang Teknologi Pascapanen, Dosen Prodi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala



















