Oleh: Musriadi Aswad
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh/Politisi Partai Amanat Nasional
Politik selalu membutuhkan harapan. Di tengah dinamika politik Aceh yang semakin kompetitif, harapan itu kini sedang dibangun oleh Partai Amanat Nasional (PAN) Aceh melalui kepemimpinan Nazaruddin Dek Gam. Target yang dicanangkan bukan target biasa. PAN Aceh ingin masuk tiga besar pada Pemilu 2029. Sebuah target yang ambisius, namun bukan sesuatu yang mustahil apabila dilihat dari semangat, konsolidasi organisasi, dan energi baru yang sedang dibangun saat ini.
Momentum pelantikan pengurus DPW dan DPD PAN se-Aceh beberapa waktu lalu menjadi penanda dimulainya babak baru perjalanan partai tersebut. Kehadiran Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, memberikan pesan yang sangat jelas kepada seluruh kader. Ia tidak menginginkan PAN Aceh berjalan setengah hati. Target tiga besar harus diperjuangkan dengan penuh keyakinan dan totalitas.
Pernyataan Zulkifli Hasan yang menyebut Dek Gam sebagai seorang petarung menarik untuk dicermati. Menurutnya, Dek Gam memiliki karakter yang sama dengannya, yakni berani bertarung dan mengeluarkan seluruh kemampuan untuk mencapai tujuan. Dalam bahasa yang sangat dekat dengan masyarakat Aceh, semangat itu diterjemahkan dalam slogan “Abeh Ube Abeh” atau habis-habisan.
Slogan tersebut sesungguhnya bukan sekadar jargon politik. Ia merupakan refleksi dari karakter perjuangan yang menghendaki kerja keras tanpa batas, pengorbanan, dan komitmen penuh terhadap cita-cita organisasi. Dalam dunia politik yang penuh persaingan, setengah langkah sering kali tidak cukup. Dibutuhkan keberanian untuk bekerja lebih keras, bergerak lebih cepat, dan hadir lebih dekat dengan masyarakat.
Dek Gam tampaknya memahami betul pesan tersebut. Sejak dipercaya memimpin PAN Aceh, ia menunjukkan keinginan kuat untuk menghidupkan kembali kejayaan PAN di Tanah Rencong. Kejayaan yang dimaksud bukan sekadar penambahan kursi legislatif, tetapi juga mengembalikan PAN sebagai salah satu kekuatan politik utama yang mampu memengaruhi arah pembangunan Aceh.
Jika menoleh ke belakang, PAN pernah memiliki posisi yang sangat strategis dalam peta politik Aceh. Partai ini pernah menjadi bagian penting dari dinamika pemerintahan daerah dan memiliki representasi kuat di tingkat nasional melalui anggota DPR RI dari daerah pemilihan Aceh. Pengalaman sejarah tersebut menjadi bukti bahwa PAN memiliki modal politik yang cukup kuat untuk kembali bangkit.
Namun politik tidak pernah hidup dari romantisme masa lalu. Keberhasilan masa lalu hanya akan menjadi cerita apabila tidak diikuti dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Di sinilah salah satu kekuatan utama PAN Aceh saat ini terlihat.
Dek Gam menyebut bahwa sekitar 80 persen kepengurusan PAN Aceh diisi oleh wajah-wajah baru. Komposisi tersebut menunjukkan keberanian melakukan regenerasi secara besar-besaran. Regenerasi bukan hanya soal pergantian orang, tetapi juga pergantian cara berpikir, cara bekerja, dan cara membangun komunikasi politik dengan masyarakat.
Kehadiran generasi muda dalam struktur partai memberikan harapan baru. Mereka tumbuh di era digital, memahami perubahan perilaku pemilih, serta memiliki kemampuan membangun komunikasi yang lebih cepat dan efektif. Dalam konteks Pemilu 2029, keberadaan generasi muda menjadi sangat penting karena pemilih milenial dan generasi Z masih akan menjadi kelompok pemilih dominan.
Politik masa depan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan baliho, spanduk, atau rapat umum. Politik masa depan juga ditentukan oleh kemampuan membangun narasi, menciptakan kepercayaan, serta menghadirkan solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, kehadiran kader-kader muda dalam PAN Aceh dapat menjadi modal besar untuk menjawab tantangan tersebut.
Optimisme terhadap masa depan PAN Aceh juga menemukan momentumnya dalam pidato politik yang disampaikan Dek Gam pada pelantikan Pengurus DPW dan DPD PAN se-Aceh di Balai Meuseuraya Aceh. Pidato tersebut bukan sekadar rangkaian kata-kata seremonial, melainkan sebuah orasi politik yang sarat pesan, energi, dan motivasi.
Disampaikan tanpa teks, pidato itu mengalir dengan penuh keyakinan dan menunjukkan penguasaan materi yang kuat. Setiap gagasan yang disampaikan terasa hidup, komunikatif, dan mampu membangun kedekatan emosional dengan para kader serta simpatisan yang hadir. Tidak mengherankan jika beberapa kali pidatonya disambut tepuk tangan meriah dari peserta yang memadati arena pelantikan.
Dalam pidatonya, Dek Gam tidak hanya berbicara tentang target politik, tetapi juga membangun optimisme kolektif bahwa PAN Aceh memiliki peluang besar untuk kembali menjadi kekuatan utama di Tanah Rencong. Salah satu bagian yang paling menarik adalah ketika ia menegaskan semangat pantang menyerah yang menjadi karakter masyarakat Aceh. Semangat itulah yang kemudian dirangkum dalam ungkapan “Abeh Ube Abeh”, sebuah filosofi perjuangan yang mengajak seluruh kader untuk bekerja secara total demi mencapai tujuan bersama.
Hal lain yang patut diapresiasi adalah kemampuannya menggunakan analogi sepak bola dalam menjelaskan strategi politik. Sebagai sosok yang memiliki pengalaman panjang di dunia olahraga, Dek Gam mampu menerjemahkan konsep politik yang kompleks menjadi mudah dipahami. Ia menjelaskan bahwa dalam politik, sebagaimana dalam sepak bola, setiap pemain harus mengetahui kapan saatnya menyerang dan kapan saatnya bertahan. Strategi, disiplin, kerja sama tim, dan kemampuan membaca situasi menjadi faktor utama untuk meraih kemenangan.
Analogi tersebut terasa sederhana, namun memiliki makna yang mendalam. Politik tidak dapat dijalankan hanya dengan semangat semata. Politik membutuhkan strategi, kesabaran, dan kemampuan membaca momentum. Sebagaimana sebuah tim sepak bola yang ingin menjadi juara, partai politik juga memerlukan kekompakan, kepemimpinan, dan kerja kolektif yang terorganisir dengan baik.
Meski demikian, target tiga besar tentu tidak akan tercapai hanya dengan semangat dan pidato yang inspiratif. Diperlukan kerja organisasi yang terukur dan berkelanjutan. PAN Aceh harus mampu membangun struktur partai yang solid hingga tingkat gampong, memperkuat kaderisasi, serta memastikan seluruh pengurus bekerja dalam satu irama yang sama.
Soliditas internal menjadi kunci utama. Banyak partai politik gagal berkembang bukan karena kekurangan tokoh, melainkan karena tidak mampu menjaga kekompakan di dalam organisasi. Sebaliknya, partai yang memiliki struktur kuat dan kader yang loyal biasanya mampu bertahan bahkan berkembang dalam berbagai situasi politik.
Selain soliditas internal, PAN Aceh juga harus mampu membaca kebutuhan masyarakat secara tepat. Rakyat Aceh saat ini menghadapi berbagai persoalan, mulai dari lapangan kerja, kemiskinan, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Partai politik yang mampu menawarkan solusi konkret terhadap persoalan-persoalan tersebut akan mendapatkan tempat di hati rakyat.
Karena itu, perjuangan menuju tiga besar tidak boleh hanya berfokus pada agenda elektoral semata. PAN harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kader-kader PAN harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi rakyat. Politik pelayanan harus lebih diutamakan daripada politik pencitraan.
Dalam konteks ini, semangat “Abeh Ube Abeh” menemukan maknanya yang sesungguhnya. Habis-habisan bukan hanya dalam berkampanye, tetapi juga habis-habisan dalam melayani masyarakat. Habis-habisan dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Habis-habisan dalam menjaga kepercayaan publik. Sebab pada akhirnya, kemenangan politik bukan ditentukan oleh seberapa keras partai berbicara, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
Menuju 2029, perjalanan PAN Aceh tentu masih panjang. Banyak tantangan yang akan dihadapi. Persaingan dengan partai nasional maupun partai lokal akan semakin ketat. Dinamika politik juga dapat berubah sewaktu-waktu. Namun setiap target besar selalu lahir dari keberanian untuk bermimpi besar.
Optimisme yang dibangun hari ini setidaknya menunjukkan bahwa PAN Aceh tidak ingin menjadi penonton dalam panggung politik daerah. Partai ini ingin kembali menjadi pemain utama. Target tiga besar bukan sekadar angka, melainkan simbol kebangkitan, konsolidasi, dan semangat baru yang sedang tumbuh di tubuh PAN Aceh.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat apakah target tersebut berhasil diwujudkan atau tidak. Namun satu hal yang pasti, keberanian menetapkan target tinggi merupakan langkah awal yang penting. Dan ketika semangat itu dipadukan dengan kerja keras, kaderisasi, soliditas organisasi, serta kedekatan dengan rakyat, maka peluang untuk mewujudkan PAN Aceh sebagai partai tiga besar pada Pemilu 2029 akan semakin terbuka.
Dari podium Balai Meuseuraya Aceh, Dek Gam menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi juga kemampuan membangkitkan keyakinan. Ia tampil bukan sekadar sebagai ketua partai, melainkan sebagai seorang petarung yang mampu menggerakkan semangat dan harapan. Karena itulah, optimisme menuju tiga besar bukan lagi sekadar target politik, melainkan sebuah ikhtiar kolektif yang sedang diperjuangkan bersama.
Semangat itu kini terangkum dalam satu kalimat sederhana yang terus digaungkan oleh Dek Gam dan seluruh kader PAN Aceh: Abeh Ube Abeh.




















