Oleh: M Syukur Hasbi
Dosen Luar Biasa UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Sekitar 1386 tahun lalu, tepatnya pada 10 Muharram (Asyura) 61 Hijriah, telah terjadi tragedi kamanusiaan berupa pembantaian Husein bin Ali bin Abi Thalib beserta keluarga dan para sahabat setianya. Peristiwa pembantaian terburuk dalam sejarah ini telah menjadi madrasah yang mengajarkan kita makna pengorbanan, kesabaran, keberanian, dan keteguhan hati cucu Rasulullah Saw.
Peristiwa ini dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap kezaliman dan pembelaan terhadap kebenaran. Bagi umat Islam, Asyura harus menjadi hari perenungan tentang pengorbanan demi prinsip keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tragedi ini bukan sekadar tentang pembantaian, tapi tentang pengorbanan suci untuk membela nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Imam Husain rela kehilangan segalanya, termasuk keluarga dan nyawanya sendiri, demi mempertahankan ajaran kakeknya dan menyelamatkan Islam dari kehancuran di bawah tirani.
Saat itu, Imam Husain beserta keluarga dan sahabat setianya sekitar 72 orang dikepung oleh sekitar 30.000 tentara Yazid bin Muawiyah. Setelah beberapa hari tanpa air minum karena blokade sungai Efrat, pasukan Yazid mulai melakukan pembantaian. Satu persatu sahabat, keluarga Imam Husain syahid di padang gersang karbala. Terakhir, cawan kesyahidan juga diteguk oleh cucu kesayangan Rasulullah Saw. Kepala Imam Husain dipenggal dan diarak ke Irak hingga Damaskus bersama para tawanan wanita.
Sebagaimana disebutkan, setiap hari adalah asyura setiap bumi adalah karbala. Tragedi kemanusian sekarang juga masih terjadi di Gaza Palestina. Puluhan ribu warga Gaza yang didominasi oleh wanita dan anak-anak dibantai dengan sadis oleh rezim penindas zionis Israel. Namun pertanyaan yang muncul adalah, siapa pemenang atas perang tak berimbang ini? Baik Karbala maupun Gaza, kemenangan adalah milik kebenaran. Kemenangan yang diperoleh oleh Husain cucu Rasulullah dari pengorbanannya ini terus menyebar ke seluruh penjuru dunia. Madrasah perlawanan yang diajarkan putra Fatimah Azzahra ini tidak bisa dipadamkan oleh kekuatan musuh apapun. Ini berbeda jauh dengan sejarah penzalim. Siapapun yang melakukan kezaliman dan kebatilan, pasti akan hancur. Ia akan dilupakan sejarah atau diingat sebagai terzalim sepanjang sejarah.
Seperti Gaza hari ini, kekuatan militer zionis yang selalu mendapat sokongan peralatan perang dari Amerika tidak mampu memenangkan perang tak seimbang ini. Hingga kini, keberhasilan militer zionis di Gaza hanya membunuh warga yang didominasi oleh anak-anak dan wanita. Sementara target perang yang didengungkan, berupa pembebasan tawanan israel dan pelucutan senjata pejuang Palestina di Gaza hingga kini masih gagal dilakukan. Artinya, kekuatan militer canggih yang dimiliki zionis bila dibandingkan dengan kekuatan militer pejuang Palestina, menunjukkan bahwa kekalahan demi kekalahan terus dialami Israel.
Benar, bahwa Israel mampu membunuh beberapa tokoh sentral gerakan perlwanan di Palestina, Libanon, hingga Iran. Walaupun demikian, mereka tidak mampu mengalahkan gerakan perlawanan. Sebab, gerakan perlawanan ini bukan hanya gerakan militer, tapi ia adalah madarasah yang menanamkan ide, epik dan semangat perlawanan heroik ini dibawah panji Islam.
Mereka inilah pejuang-pejuang Islam, hasil didikan madrasah karbala. Banyak sekali pesan-pesan pantang hina dan kerinduan akan kematian dapat dipetik dari madrasah asyura ini. Imam Husain di antara pesannya sebelum tragedi asyura mengatakan bahwa jika kezaliman sudah tidak mungkin lagi dicegah, hendaklah seseorang merindukan pertemuan dengan Tuhannya.
“Tidakkah kalian melihat bahwa kebenaran tidak diamalkan, dan kebatilan tidak dicegah? Dalam keadaan seperti ini, seorang mukmin hendaklah merindukan pertemuan dengan Tuhannya dalam keadaan benar. Sesungguhnya aku tidak memandang kematian kecuali sebagai kebahagiaan, dan aku tidak memandang hidup bersama orang-orang zalim kecuali sebagai kehinaan,” kata Imam Husein jelang tragedi Asyura. []



















