• Tentang Kami
Tuesday, April 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Inovasi yang Tergesa, Akar yang Terlupa

SAGOE TV by SAGOE TV
July 29, 2025
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Inovasi yang Tergesa, Akar yang Terlupa

Rauzatul Jannah. (Foto: dokumentasi pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Rauzatul Jannah

Di atas panggung seni hari ini, kita disuguhi cahaya gemerlap, gerak yang bebas, dan kostum yang memikat mata. Semuanya tampak menghibur. Namun, saat tepuk tangan reda dan lampu padam, yang tertinggal hanyalah sunyi. Dalam diam itulah muncul pertanyaan: untuk siapa semua ini ditampilkan? Dan apa sebenarnya yang ingin kita sampaikan?

Inovasi memang penting. Ia menandakan bahwa seni terus tumbuh dan merespons zamannya. Tapi tanpa pijakan pada akar, inovasi bisa kehilangan arah. Akar bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan ruh yang memberi makna pada setiap gerak, bunyi, dan bentuk. Di tengah derasnya arus zaman, mari kita bertanya: masihkah seni menyentuh rasa? Ataukah ia hanya menjadi tontonan gemerlap tanpa jiwa? Sebab tanpa arah dan akar, seni hanya jadi pemandangan yang mudah dilupakan.

Salah satu fenomena yang mencolok dalam pergeseran nilai budaya di Aceh hari ini adalah perubahan bentuk pelaminan adat. Dahulu, pelaminan Aceh tampil khas dengan penggunaan warna-warna simbolik yang sarat makna. Merah melambangkan keberanian dan kekuatan. Kuning mencerminkan kemuliaan dan kehormatan. Hijau melambangkan kesuburan dan kesejukan hati. Hitam menunjukkan keteguhan dan ketegasan. Keempat warna tersebut bukan sekadar soal estetika, melainkan warisan filosofi yang menyimpan harapan dan doa. Setiap hiasan pada pelaminan adat Aceh dulunya dirancang sebagai bentuk penghormatan terhadap pernikahan sebagai peristiwa sakral, bukan sekadar seremoni.

BACA JUGA

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Kini, pelaminan adat perlahan bergeser. Banyak pernikahan di Aceh yang mengadopsi konsep internasional, mendominasi warna putih dan pastel, dipadukan dengan bunga artifisial, tirai tinggi ala ballroom, serta tata cahaya modern. Pelaminan yang dulu penuh makna kini tampil mewah dan Instagramable, sayangnya kehilangan ruh lokal yang membentuk identitasnya. Yang lebih mengkhawatirkan, perubahan ini sering tidak melalui perbincangan adat atau pemahaman nilai, melainkan sekadar mengikuti selera pasar dan tren media sosial. Maka pelaminan adat bukan lagi simbol penghormatan, melainkan sekadar latar foto.

Baca Juga:  Jemaah Haji Aceh Kloter 9 Raih Predikat Terbaik dari Garuda Indonesia

Kita tentu tidak anti terhadap keindahan atau pembaruan. Tapi yang patut dipertanyakan: masihkah pelaminan ini mencerminkan nilai yang hidup dalam masyarakat Aceh? Atau sekadar tampil sebagai kulit luar yang dibalut nama adat, namun isinya sudah berganti? Jika perubahan bentuk tidak dibarengi dengan kesadaran makna, maka yang terjadi adalah pelunturan simbol. Kita menjadi peniru tanpa akar, pencipta tanpa fondasi. Ketika arus terlalu deras, akar ikut tercabut—meninggalkan tradisi sebagai formalitas yang kehilangan jiwa.

Satu contoh lain yang cukup mengusik datang dari pertunjukan tari Ranup Lampuan, tarian penyambutan khas Aceh yang lekat dengan nilai kesopanan dan kesakralan. Dalam tradisi aslinya, tarian ini dibawakan oleh perempuan dengan gerakan halus dan anggun yang melambangkan kehalusan budi, penghormatan kepada tamu, dan kehangatan dalam penyambutan. Gerakannya tidak dibuat-buat, melainkan lahir dari kesadaran tubuh yang tumbuh bersama nilai adat. Namun kini, makna itu mulai tergeser. Dalam sebuah video yang ramai beredar di TikTok dan Instagram, Ranup Lampuan ditampilkan oleh sekelompok anak-anak, namun yang menjadi “ratu” dalam tarian tersebut adalah anak laki-laki yang tampil gemulai secara berlebihan. Gerakan itu tidak lagi mencerminkan ruh asli tarian, melainkan menampilkan versi karikatural yang mendekati hiburan jenaka ketimbang penghormatan.

Penampilan itu berhasil menghibur sebagian penonton, bahkan viral. Tapi kita perlu bertanya lebih dalam: apa yang sedang terjadi dengan makna tari ini? Ketika simbol budaya yang sakral diubah konteksnya tanpa pemahaman nilai, kita tidak sedang berinovasi—kita sedang mempermainkan warisan. Ini bukan soal apakah laki-laki boleh menari atau tidak. Perubahan peran dan ekspresi dalam seni yang sarat makna semestinya disertai kesadaran akan ruh dan konteksnya. Tanpa itu, tradisi bisa berubah menjadi parodi. Jika kebiasaan ini terus berkembang tanpa kritik dan refleksi, kita sedang membuka jalan menuju pemutusan akar—di mana bentuk boleh tetap ada, tetapi jiwanya telah kosong.

Akar bukan penghalang inovasi. Ia justru pondasi yang membuat inovasi tidak sekadar menjadi bentuk baru yang kosong, tetapi pertumbuhan yang berjiwa. Ketika kita mengejar bentuk tanpa menimbang makna, yang tersisa hanyalah kulit seni—nampak indah di luar tapi hampa di dalam. Tanpa akar, seni kehilangan orientasi. Ia menjadi mudah dibelokkan oleh selera sesaat dan lupa pada esensi.

Baca Juga:  Membersihkan Sampah di Jalan, Mencuci Kotoran di Pikiran

Dalam seni Aceh, akar adalah kompas; penunjuk arah yang memberi makna pada bentuk, membingkai gerak, dan menghidupkan bunyi. Ia hadir dalam berbagai media seni seperti musik, hikayat, tari, bahkan rupa sebagai penanda jati diri. Dalam musik, akar bersemayam dalam suara rapa’i, geundrang, dan seurune kalee. Bukan sekadar pengiring, melainkan penyampai pesan kehidupan. Lirik-lirik dalam syair, rateb, dan didong bukan hanya untaian kata, tetapi media pendidikan rasa, etika, dan iman yang menyentuh lebih dalam daripada ceramah.

Dalam hikayat, akar menjadi arsip hidup yang mengandung kisah kepahlawanan, petuah adat, sejarah perlawanan, hingga kearifan spiritual. Ia bukan hanya cerita untuk didengar, melainkan cermin nilai-nilai luhur masyarakat Aceh—yakni berani, setia, religius, dan bermartabat. Dalam tari, akar tercermin dalam gerakan yang serempak, ritmis, dan bersahaja. Gerak komunal dan repetitif mengandung pesan tentang kebersamaan dan harmoni. Sementara posisi tubuh yang rendah, duduk bersila, menyiratkan kerendahan hati dan spiritualitas. Tarian bukan sekadar tontonan visual, melainkan pengalaman batin yang menghimpun rasa dan iman dalam satu irama. Dalam seni rupa, akar terlihat jelas dalam motif pinto Aceh, pucok rebung, bungoeng jeumpa, dan awan berarak. Setiap pola bukan sekadar hiasan, tetapi doa yang dijahit dalam benang, ukiran, dan warna. Ia hadir dalam songket, bordiran baju adat, dinding meunasah, dan perlengkapan ritual yang mengikat manusia dengan tanah, sejarah, dan Sang Pencipta.

Saya percaya inovasi sangat penting bagi seni. Tapi inovasi yang baik tidak lahir dari pemutusan, melainkan dari dialog—dengan tradisi, dengan para maestro, dan dengan nilai-nilai yang mendasari. Inovasi sejati tentu bertanya: dari mana saya bergerak? Kepada siapa saya bicara? Nilai siapa yang saya bawa? Bentuk seni bisa diperbarui tanpa mengorbankan maknanya. Kita bisa belajar dari generasi sebelumnya, lalu meracik ulang dengan cara kita sendiri. Terpenting adalah yang muda memberi energi, yang tua menjaga arah. Di situlah inovasi menjadi proses yang berakar, bukan sekadar hasil instan.

Baca Juga:  Sambut Ramadhan, UIN Ar-Raniry Salurkan 1.300 Paket Daging Meugang dari Uni Emirat Arab

Saya tidak menolak warna-warna baru. Justru saya ingin melihat seni yang tumbuh, berubah, dan menjangkau lebih luas. Setiap zaman tentu membawa rasa dan bentuknya sendiri. Namun, dalam setiap warna baru yang ditambahkan, motif lama harus tetap terbaca—karena motif itu adalah akar tempat kita berpijak dan kembali. Tanpa akar, seni kehilangan arah. Ia mungkin tampil indah di permukaan, tapi tak lagi menyimpan kedalaman. Ia bisa viral, tapi tak lagi membekas. Maka inovasi yang sejati bukanlah yang memutus, melainkan yang menyambung, memperbarui tanpa melupakan, dan yang menambah tanpa menghapus.

Seni adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan, yang mengikat tradisi dengan semangat zaman. Tugas generasi saya adalah memastikan jembatan itu tidak patah di tengah jalan. Kami ingin melangkah maju, tapi tidak dengan menginjak yang lama. Kami ingin terbang tinggi, tapi tetap tahu akar yang menumbuhkan kami. Karena hanya dengan begitu, seni bisa terus hidup. Tidak hanya menjadi tontonan yang memikat mata, tetapi juga menjadi ruang penjemputan yang menyentuh rasa. Ia akan terus tumbuh—bukan sekadar karena bentuknya berubah, tapi karena maknanya tetap terjaga. Dan di situlah seni menjadi utuh: tidak hanya indah, tetapi juga bermakna. []

Tentang Penulis

Rauzatul Jannah adalah lulusan Pendidikan Seni Universitas Syiah Kuala. Ia aktif dalam dunia musik dan teater, dan kini membagikan ilmunya melalui kelas privat gitar klasik dan akustik untuk pemula hingga tingkat menengah di Banda Aceh dan Aceh Besar. Dengan pendekatan pembelajaran yang bertahap dan jadwal yang fleksibel, les ini terbuka untuk semua usia—mewujudkan ruang belajar musik yang tidak hanya teknis, tetapi juga menyentuh rasa dan makna. Instagram: @rauzatuljannah.22

Tags: acehArtikelBudayaGenerasi ZopiniSeniSeni Budaya
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan
SENI

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

by Anna Rizatil
April 18, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

by Anna Rizatil
April 16, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

by Anna Rizatil
April 11, 2026
Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan
SENI

Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan

by SAGOE TV
April 4, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Skate Park Stage: Praktik yang Tidak Lagi Hilang, Melainkan Bekerja

by SAGOE TV
March 30, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

April 16, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

April 18, 2026
UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

April 20, 2026
MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

April 19, 2026
Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

April 20, 2026
Prof Eka Srimulyani kuliah tamu di Seoul National University, Korea Selatan, membahas riset generasi muda Muslim dan pengaruh budaya K-Pop.

Prof Eka Srimulyani Kuliah Tamu di Seoul National University, Bahas Generasi Muda Muslim dan K-Pop

April 18, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

April 17, 2026
Pemain Persiraja Banda Aceh

Persiraja vs Garudayaksa FC Malam Ini: Dek Gam Tekankan Harga Diri, Pemain Wajib Fight

April 19, 2026
6 Universitas Sepakat Kembangkan Riset Konservasi Gajah Sumatra di Lansekap Peusangan

6 Universitas Sepakat Kembangkan Riset Konservasi Gajah Sumatra di Lansekap Peusangan

April 17, 2026

EDITOR'S PICK

Persiraja vs PSPS Pekanbaru: Miftahul Hamdi Ajak Suporter Penuhi SHB

Persiraja vs PSPS Pekanbaru: Miftahul Hamdi Ajak Suporter Penuhi Stadion Harapan Bangsa

March 14, 2025
Petani Tanoh Abee Harapkan Bantuan Perbaikan Tanggul dari Bupati Aceh Besar

Petani Tanoh Abee Harapkan Bantuan Perbaikan Tanggul dari Bupati Aceh Besar

February 8, 2026
Warga Aceh Utara Serahkan 2 Senjata Api Sisa Konflik ke Polisi

Warga Aceh Utara Serahkan 2 Senjata Api Sisa Konflik ke Polisi

October 22, 2024
Mualem Antar Dua Truk Bantuan untuk Warga Aceh Selatan dan Subulussalam Terdampak Banjir

Mualem Antar Dua Truk Bantuan untuk Warga Aceh Selatan dan Subulussalam Terdampak Banjir

December 11, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.