• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Jangan Kirim Kami Makanan, Kirim Saja Kain Kafan

SAGOE TV by SAGOE TV
December 9, 2025
in BENCANA SUMATERA 2025, Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Jangan Kirim Kami Makanan, Kirim Saja Kain Kafan

Dampak banjir bandang di Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh. Foto: IG Muzakir Manaf

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Adnan Daud

Dalam beberapa hari terakhir, rakyat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat dicekik oleh bencana yang seharusnya bisa dicegah. Video-video yang beredar di medsos bukan lagi sekadar dokumentasi duka, tapi bukti telanjang bahwa negara ini telah gagal total. Orang-orang terperangkap, desa-desa hilang ditelan banjir, jalan putus, warga bertahan hidup dari sisa-sisa peradaban yang rubuh.

BACA JUGA

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

Ada keluarga yang tidak makan berhari-hari. Ada yang terpaksa meneguk air banjir hanya untuk memastikan tubuhnya tidak mati kering. Lumpur menenggelamkan rumah sampai pada atapnya.

Sementara itu, pemerintah masih santai berdiri di podium dan menyebut bencana ini “belum darurat nasional.”

Kita semua berhak marah. Kita semua pantas muak.

Negara ini dulu bisa bergerak cepat, tapi sekarang kenapa lumpuh?

Tahun 2004, tsunami meluluhlantakkan Aceh. Negara bergerak. Dunia bergerak. Hari ini, ketika kerusakan ekologis jauh lebih luas, ketika puluhan ribu warga kehilangan rumah, ketika tanah longsor merobek gunung dan lembah, negara justru seolah kehilangan nyali.

Jumlah korban jiwa memang tak sebanyak tsunami. Tapi apakah kemanusiaan harus dihitung seperti angka statistik? Apakah penderitaan rakyat kini dianggap diskon karena jumlah mayatnya belum “cukup banyak” untuk disebut darurat nasional?

Rakyat sedang tenggelam, pemerintah malah sibuk berenang dalam birokrasi.

Rumor yang tercium: ada yang disembunyikan?

Di tengah kepanikan publik, beredar bisik-bisik: pemerintah takut menetapkan status darurat nasional karena takut persoalan ini membesar. Takut dunia melihat akar masalahnya. Takut ketahuan siapa yang merobek hutan, menguras sungai, dan menjual masa depan rakyat demi keuntungan sekelompok elite.

Mari kita bicara apa adanya, tanpa kamuflase:

Ini bukan lagi bencana alam. Ini bencana yang lahir dari kerakusan manusia, kerakusan yang dilegalkan, dilindungi dan bahkan dipelihara.

  • Penebangan hutan yang brutal
  • Perampokan kawasan hutan oleh korporasi
  • Pembukaan lahan sawit yang tak pernah kenyang
  • Ekonomi ekstraktif yang menghisap habis tanah dan air rakyat

Para ahli sudah mengingatkan. Aktivis lingkungan sudah berteriak bertahun-tahun. Tapi negara sibuk menutup telinga dan memoles citra.

Hari ini, semua peringatan itu kembali ke wajah kita, dalam bentuk banjir yang membawa mayat, lumpur, dan bau busuk.

Pemerintah harus mengubah arah, atau mundur dari panggung

Negara ini tidak butuh pidato indah. Tidak butuh seremoni. Tidak butuh janji yang pekat aroma kebohongannya.

Negara ini butuh pemerintah yang berani mengakhiri ekonomi yang menghancurkan rakyat dari hulu ke hilir.

Sudah waktunya negara:

  • Menghentikan ekonomi ekstraktif yang menjadikan rakyat korban permanen.
  • Mencabut izin-izin rakus yang merampas hutan dan membunuh sungai.
  • Menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas tertinggi, bukan angka pertumbuhan ekonomi yang palsu.

Kalau pemerintah tidak mampu, lebih terhormat untuk mundur daripada terus berpura-pura menjadi penyelamat.

Tapi rakyat juga harus jujur, kita semua punya andil

Kemarahan pada pemerintah itu sah. Tapi kita pun tidak sepenuhnya tidak bersalah. Kita membiarkan hutan digunduli. Kita diam ketika sungai dirusak. Kita menutup mata saat gunung dan hutan kita dirampas.

Kita hanya marah ketika banjir datang,tapi kembali diam ketika alat berat masuk hutan dan menancapkan kuku-kukunya.

Kita tidak bisa membiarkan siklus kebodohan ekologis ini berulang.

Kesimpulan: jeritan itu adalah pukulan untuk wajah negara

Ketika seorang korban berkata, “Jangan kirim kami makanan, kirim saja kain kafan.” Itu bukan sekadar kalimat putus asa. Itu adalah cermin retak yang memantulkan wajah sebenarnya dari negara ini: lamban, pasif, dan kehilangan empati.

Pemerintah boleh sibuk menjaga citra.Pejabat boleh sibuk berpidato.

Tapi kebenaran tak bisa disembunyikan: Selama hutan tetap ditebang, sungai terus disumbat, dan rakyat dibiarkan berteriak tanpa didengar, kain kafan akan terus menjadi simbol masa depan bangsa ini. Sebuah bangsa yang sedang menuju kepada kehancuran. []

Penulis adalah diaspora Aceh yang bermukim di Denmark dan bisa diraih melalui email namuda@live.com

Tags: acehbencanaKain KafanMakananopini
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas
Opini

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

by SAGOE TV
July 18, 2026
Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang
Opini

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

by SAGOE TV
July 17, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh
Opini

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

by SAGOE TV
July 16, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi
Opini

Tentang Media dan Perhatian Publik

by SAGOE TV
July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti
Opini

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

by SAGOE TV
July 13, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026

EDITOR'S PICK

USK Bangun Meunasah dan Gelar Ramadhan Ceria untuk Penyintas Banjir di Pidie Jaya

USK Bangun Meunasah dan Gelar Ramadhan Ceria untuk Penyintas Banjir di Pidie Jaya

March 1, 2026
Warga Tenggulun Aceh Tamiang Tuntut Pengembalian Lahan APL

Warga Tenggulun Aceh Tamiang Tuntut Pengembalian Lahan APL

February 24, 2025
Wagub, Wali Nanggroe, dan Akademisi Temui SBY, Bahas Revisi UUPA dan 20 Tahun Perdamaian Aceh

Wagub, Wali Nanggroe, dan Akademisi Temui SBY, Bahas Revisi UUPA dan 20 Tahun Perdamaian Aceh

August 14, 2025
Akses Terputus, PLN Kejar Pemulihan Listrik di 180 Desa Aceh

Akses Terputus, PLN Kejar Pemulihan Listrik di 180 Desa Aceh

January 2, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.