• Tentang Kami
Thursday, April 30, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Malam Hari Raya, Menuju Kemenangan yang Berkelanjutan

Sulaiman Tripa by Sulaiman Tripa
March 30, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
A A
0
sulaiman tripa

Dr Sulaiman Tripa

Share on FacebookShare on Twitter

Soal waktu berhari raya, tahun ini juga ada perbedaan. Jamaah di Nagan Raya, sudah berhari raya kemarin. Sebagian masyarakat juga berhari raya pada hari ini. Sejumlah negara, juga diumumkan memperingati 1 Syawal 1446 hari ini. Pemerintah, mengumumkan 1 Syawal jatuh besok. Organisasi Muhammadiyah, sudah dua minggu sebelumnya mengumumkan besok.

Perbedaan waktu, sesungguhnya menarik. Satu waktu, saya pernah menulis dengan cara pandang awam. Bagaimana bisa, misalnya, Indonesia merayakan 1 Syawal lebih lambat dari Arab Saudi, yang dengan cara pikir awam, seharusnya Indonesia lebih cepat. Saat itu, ada rumus cara menentukan waktu, sebagaimana dipelajari dalam fikih. Saya tidak memiliki kemampuan mapan untuk menjelaskan itu.

Kapan pun kita memperingati 1 Syawal –peringatan yang berlandaskan yakin dan ada dasar—ada pertanyaan penting, apakah kita termasuk pada golongan dari visi besar Puasa, la’allakum tattaqun? Visi ini telah ditempuh dengan misi selama sebulan penuh. Misi yang dituntun oleh visi, idealnya akan berhasil memandu kita pada posisi kemenangan.

BACA JUGA

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

Bagaimana mengukur kemenangan itu? Ibadah, tentu bukan kita yang ukur. Namun seperti saat hendak kita lakukan akreditasi sesuatu, semuanya memiliki standar. Ibadah demikian juga. Makanya dikenal yang namanya syarat dan rukun. Paling tidak, ia menjadi standar bagaimana sesuatu itu dilakukan. Akreditasi yang dilakukan terhadap berbagai lembaga, ada standar tertentu yang dibuat oleh manusia. Mengapa ada standar? Karena dengan batasan itu apa yang dilakukan memenuhi hal yang paling tidak tercukupi. Sekiranya tidak memenuhi, maka sesuatu itu akan dipertanyakan kualitasnya.

Saya kira pada batasan inilah ibadah juga harus dipenuhi. Bukan ibadah suka-suka. Orang-orang yang berharap ibadahnya akan sampai ke tujuan, setelah batasan minimal itu sudah berusaha dicapai.

Baca Juga:  Gempa Goyang Nagan Raya saat Waktu Makan Sahur

Banyak orang menangis walau batasan minimal sudah dicapai. Bukan apa-apa, tetap berharap apa yang dilakukan akan mendapat keridhaan. Tidak semua orang bisa menangis. Kita bisa membayangkan apa kurangnya Muhammad Rasul Allah, yang telah dijamin masuk surga, namun kakinya sampai bengkak beribadah malam.

Idealnya, orang yang menangis itu bukan sesuatu yang berlebihan. Ketika saya masih tinggal di rumah mertua, saya sering melihat orang tua menangis. Bahkan banyak anak muda yang menangis hebat, ketika akhir bulan puasa. Mereka benar-benar menangis. Bukan tangis yang memperdengarkan suara hidung semata. Seperti orang pilek.

Waktu itu, malam-malam akhir Puasa, saya menyaksikan hampir seisi masjid menangis –benar-benar menangis. Hal ini umumnya terlihat ketika puasa memasuki 10 hari terakhir –khususnya menjelang detik-detik terakhir puasa. Malah ada satu masjid yang saya sering shalat isya dan tarawih di sana, pada 10 malam terakhir secara bersahaja menyambut siapa saja yang datang untuk beriktikaf atau beribadah malam. Sehingga dari banyak kawasan, ketika mendekati isya, merapat ke sini dengan membawa bekal.

Sebenarnya panitia masjid juga menyediakan secara khusus makanan ala kadar, terutama untuk sahur para jamaah. Namun banyak jamaah yang sepertinya juga tidak ingin merepotkan. Syukur bila ada persediaan, tetapi mereka dari rumah juga membawa makanan ala kadarnya. Fenomena itu bagi saya sangat dahsyat. Dukanya adalah saya belum berpengalaman ibadah malam (selain tarawih dan witir) di masjid ini. Padahal jumlah jamaahnya yang datang ke sini mencapai ratusan. Memang sejumlah masjid lain juga banyak jamaah, terutama yang di kota. Untuk masjid yang terletak di pinggiran kota, bagi saya ini sangat luar biasa.

Sekarang terlihat sejumlah tempat, orang berkumpul untuk shalat malam. Sejumlah masjid di kota hidup, dengan jamaah yang menyesaki masjid. Mudah-mudahan keadaan ini akan berimplikasi positif kepada peradaban.

Baca Juga:  Rubrik Seni Sagoe TV

Di samping itu, fenomena lain yang tampak adalah status sosial jamaah. Tidak selamanya jamaah yang beribadah malam itu mereka yang berstatus sosial rendah. Di halaman masjid sering saya saksikan ratusan mobil pribadi yang terparkir, yang menandakan bahwa jamaah di dalam masjid itulah yang pemiliknya. Mereka sengaja datang untuk memakmurkan masjid sejak dari shalat isya, hingga sampai ke shalat subuh. Datang ke sini khusus untuk beribadah malam, bukan untuk membuat –istilah para anak muda—pos ronda, kondisi dimana orang banyak berkumpul tetapi tujuannya tidak lebih dari saling berbicara satu sama lain. Apa yang dibicarakan juga tidak jelas. Nah, keberadaan orang yang datang ke masjid ini bukan untuk tujuan itu, melainkan benar-benar untuk beribadah.

Di sinilah saya sering melihat orang-orang yang bersusun bersaf-saf mengikuti shalat dalam kondisi terisak. Kondisi menuju detik-detik malam terakhir biasanya semakin ramai. Dengan dipimpin oleh hafidz yang khusus diundang, membuat kondisi malam semakin syahdu yang terasa ke relung batin. Apalagi bagi yang mendapat tempat pada saf depan, biasanya akan menyaksikan betapa banyak air mata yang tertumpah. Tidak bisa saya jelaskan lebih detail bagaimana perasaan mereka menangis. Dugaan saya bisa jadi mereka merasakan betapa bulan yang meninggalkan kita, sedangkan kita sama sekali belum berbuat apa-apa.

Hanya secuil manusia yang menyadari ini. Ada kesadaran bahwa betapa banyak hikmah bulan Puasa yang tidak kita petik –bahkan mungkin ada orang yang tidak memetiknya sama sekali. Sungguh sayang. Sedangkan mereka yang merasa penuh hikmah, ingin menjemput hingga detik-detik terakhir. Bahkan hingga saat demikian pun, terasa betapa minimnya menjemput hikmah demikian.

Orang-orang yang berusaha menjemputnya dengan berbagai cara, tentu akan merasakan perubahan hidup yang luar biasa bagi diri dan keluarnya. Orang-orang yang berhasil adalah mereka yang mendapatkan kondisi hidupnya ke arah yang lebih baik.

Baca Juga:  Andai Sabang Seperti Hawaii

Potret rombongan yang satu. Bisa dibandingkan dengan rombongan lain yang menyambut akhir bulan ini dengan cara yang lain lagi. Ketika memasuki menit-menit akhir, penuh sesak orang berkerumun di pasar –yang beberapa di antaranya justru berada tidak jauh dari masjid. Ketika berada dalam lorong-lorong pasar dengan pengeras suara penjaja pakaian, terkalahkan kerasnya suara imam shalat dari masjid di sekitarnya.

Pada hari-hari terakhir, seolah ada pertanyaan penting terwakilkan lewat wajah dan ekspresi, apakah kita sudah memperoleh kemenangan yang dijanjikan? Ataukah kita justru tidak melakukan apa-apa untuk mencapai kemenangan itu? Lebih ironis ketika kita pun tak melakukan apa-apa dalam menyambut kemenangan yang sangat dahsyat?

Kemenangan tidak melalui proses hitung-hitungan. Kemenangan adalah berhasil membawa perubahan drastis dalam kehidupan kita yang lebih baik, menapaki waktu-waktu sesudah Puasa, yang insya Allah jika ada umur panjang, kebaikan itu yang terus berlangsung hingga bulan Puasa berikutnya.

Tadi subuh, saya mendengar ceramah akhir Puasa di masjid Limpok, diisi oleh Dr. Muhammad Adli Abdullah, dosen FH USK, mantan sekretaris Panglima Laot, yang dulu pernah meudagang di Dayah Abu Lueng Ie. Satu pesan pentingnya –yang sejumlah kesempatan saya dengar juga dari penceramah lain—supaya kita tidak menyembah bulan Puasa. Hanya Allah yang patut disembah. Makanya, apa yang dilakukan selama bulan Puasa, seyogianya juga terus berlanjut walau bulan Puasa ini telah berlalu. Mudah-mudahan kita termasuk dalam golongan yang senantiasa menghidupkan suasana dan semangat bulan Puasa sepanjang hidup.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

[es-te, Ahad, 30 Puasa 1446, 30 Maret 2025]

Tags: ArtikelDr Sulaiman TripaHari RayaIdulfitriMalamPuasaRamadhan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa adalah analis sosial legal dan kebudayaan. Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

Related Posts

Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh Fakta yang Jarang Diketahui!
Artikel

Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh: Fakta yang Jarang Diketahui!

by SAGOE TV
July 3, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

April 25, 2026
Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

April 26, 2026
Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

April 24, 2026
Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

April 25, 2026
Mualem Pimpin Rapat Validasi Data JKA, Fokus Perbaiki Akses Layanan Kesehatan Aceh

Mualem Pimpin Rapat Validasi Data JKA, Fokus Perbaiki Akses Layanan Kesehatan Aceh

April 24, 2026
Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Tayang di 11 Kota Mulai 8 Mei

Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Tayang di 11 Kota Mulai 8 Mei

April 25, 2026
94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

April 29, 2026
Bagaimana KUA Darul Makmur Akhirnya Berdiri Kisah Yusni dan Peran Warga yang Menginspirasi

Bagaimana KUA Darul Makmur Akhirnya Berdiri? Kisah Yusni dan Peran Warga yang Menginspirasi

April 24, 2026

EDITOR'S PICK

Mahasiswa USK Turun ke Lampahan Timur, Bangun Ketangguhan Bencana Berbasis IoT dan Geospasial

Mahasiswa USK Turun ke Lampahan Timur, Bangun Ketangguhan Bencana Berbasis IoT dan Geospasial

February 10, 2026
Ketua Umum KONI Pusat Tinjau Kesiapan Venue Rugby untuk PON XXI

Ketua Umum KONI Pusat Tinjau Kesiapan Venue Rugby untuk PON XXI

August 27, 2024
2 Bocah Asal Meulaboh Tenggelam di Pantai Lhoknga, Basarnas Banda Aceh Lakukan Pencarian

2 Bocah Asal Meulaboh Tenggelam di Pantai Lhoknga, Basarnas Lakukan Pencarian

June 29, 2025
Jembatan Bailey di Bukit Resmi Dibuka, Akses Transportasi Pulih

Jembatan Bailey di Bukit Resmi Dibuka, Akses Transportasi Pulih

February 3, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.