• Tentang Kami
Friday, July 31, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Malam Puasa 19, Jangan Jadikan Puasa sebagai Alasan Tidak Produktif

Sulaiman Tripa by Sulaiman Tripa
March 18, 2025
in Ramadhan
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Pandai Merasa Bukan Merasa Pandai

Dr. Sulaiman Tripa. Foto: Dok Bandar Publishing

Share on FacebookShare on Twitter

Malam ini, di masjid kampung kami, kedatangan tamu jauh. Mereka memiliki satu tempat belajar bagi anak-anak yatim untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. Hal yang penting disampaikan mereka, dari 520 anak yang ada, terdapat 130 anak yang memiliki kekurangan indera penglihatan. Ia datang ke Aceh, menurutnya, karena spirit orang Aceh terhadap agama sangat kuat. Hal lainnya, soal bagaimana orang Aceh yang dipelajari mereka, sebagai suatu masyarakat yang senantiasa merindui puasa.

Para musafir ini, bisa jadi mempelajari dari riset-riset cara beribadah orang Aceh. Akan tetapi, bagi saya itu terserah masing-masing. Namun catatannya tentang merindui puasa, itu menjadi hal yang menarik –sekaligus juga strategis.

Saya ingat dalam salah satu karya Imam Ghazali yang menyebut tingkatan orang berpuasa itu mulai dari yang biasa, hingga yang memahami hikmah tertinggi dari puasa. Imam Ghazali hidup pada abad ke-11. Kitab Ihya Ulumuddin –menghidupkan ilmu agama—menjadi salah satu karya pentingnya hingga saat ini. Beliah lahir di Khurasan dan hidup pada era Kekhalifahan Abbasiyah.

BACA JUGA

Tempat Buka Puasa Gratis di Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Sediakan 2.000 Paket Iftar Setiap Hari

Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga, Pesan Tarawih Perdana Ramadhan di Banda Aceh

Menurut Al Ghazali, ada puasa orang awam dan ada yang sudah mencapai paripurna. Orang awam, puasa itu hanya untuk menggugurkan kewajiban. Tidak lebih. Orang semacam ini –mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya—berpuasa hanya mendapat hasil berupa lapar dan dahaga.

Pada lapis kedua, orang yang tidak sebatas hanya menahan diri dari yang membatalkan puasa, melainkan dari berbagai hal yang membatalkan pahalanya. Pada lapis ketiga, sudah pada posisi orang yang melakukannya dengan penuh rasa bahagia, sehingga bisa dikategori sebagai paripurna. Orang yang disebut terakhir ini sudah pada tataran mengabdi dengan sepenuh hati, tidak setengah-setengah. Imannya sudah mantap, penyerahan diri sudah total, dan semua dilakukan dengan perasaan bahagia.

Orang yang disebut terakhir yang sepertinya selalu merindui puasa. Orang-orang yang sudah merasakan hikmah dengan segenap penyerahan jiwa dan raganya. Puasa sudah jauh dari beban ibadah. Segala sesuatu yang dilakukan sebagai makhluk dalam konteks ibadah, tidak lagi berhenti pada kewajiban, melainkan sudah pada kebutuhan.

Logika semacam ini yang seharusnya menjadi semangat kita, agar setiap momentum puasa, tidak menjadi alasan untuk mengurangi berbagai produktivitas dan kreativitas. Tidak menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malas diri yang akhirnya menurunkan semangat hidup dan berkehidupan dengan normal.

Menjaga kualitas dan kuantitas yang bahkan melampaui hari-hari biasa sangat penting, agar tidak timbul kesan bahwa setiap datangnya puasa membuat harus banyak diberikan dispensasi dalam melaksanakan berbagai kewajiban.

Masalah produktivitas dan kreativitas menjadi sangat penting dalam hidup. Momentum puasa seharusnya membuat seseorang lebih kreativitas dan produktif. Seyogianya tidak alasan bahwa karena ibadah puasa, lantas bermalas-malasan. Dengan puasa justru membuat banyak waktu bagi kita untuk merenung. Dengan demikian ada dua capaian yang berkemungkinan diperoleh. Pertama, produktivitas dan kreativitas yang meningkat. Kedua, ibadah puasa sebagai sebuah kewajiban akan terlaksana sebagaimana yang diharapkan.

Bagi orang yang berpuasa sudah pada tingkat tertentu, ibadah ini selalu menjadi penyemangat. Bahkan ketika beribadah, memiliki kemauan untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak mampu.

Saya berdiskusi dengan sejumlah penulis, yang justru mereka juga bisa merasakan beban batin yang lebih kuat ketika puasa. Perut kosong memberi pengaruh bagi energi dalam berpikir dengan baik. Melahirkan empati yang tinggi. Memunculkan nilai juang yang mapan. Mau berkorban untuk mereka yang terzalimi. Makanya sejumlah penulis tersebut, berusaha memanfaatkan waktu dengan baik ketika dalam keadaan demikian.

Sejumlah penulis yang saya kenal juga, rajin berpuasa sunat di luar bulan suci ini. Puasa, menurut mereka, memberi banyak manfaat selain nilai ibadah. Dengan berpuasa, mereka bisa mengontrol diri dengan baik. Tersebutlah kondisi lapar –bahasa lain dari perut kosong. Dari sesuatu yang serius lalu mengalir ke hal yang sederhana. Masalah lapar –hal yang merupakan hikmah agar orang-orang berpuasa juga merasakan secara lahir maupun batin dari kondisi orang yang lapar. Sebagai sebuah hikmah untuk merasakan kondisi tersebut, dipadukan sebagai kewajiban dari agama, maka melakukannya bisa dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Orang yang merasakan lapar, atau mencoba merasakan lapar, tidak selalu harus mengeluh tentang kondisi laparnya itu. Maka sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan tidak berbeban, sesuatu yang bagi sebagian orang terasa berat bisa lebih menyenangkan. Kondisi ini banyak saya dengar dari sejumlah bahwa betapa menyenangkan melakukan berbagai aktivitas dalam bulan penuh rahmat ini.

Secara khusus, saya mendapat sebuah pesan pendek yang sangat menggugah dari seorang penulis. Bahwa dirinya sangat bisa meresapi apa yang ia tulis ketika sedang merasakan lapar. Dengan kondisi itu, ia bisa merasakan betapa orang-orang yang lapar merasakan kondisi itu berwaktu-waktu –dan oleh sebagian orang di sekelilingnya dibiarkan bertahun-tahun.

Berbekal pengalaman inilah, maka seharusnya berbagai aktivitas di bulan penuh berkah ini harus selalu meningkat kualitas dan bahkan kuantitasnya. Dengan melakukan sesuatu secara kreatif, seyogianya melahirkan kebahagiaan yang berimplikasi kepada peningkatan produktivitas dan kreativitas. Mungkin terlalu berlebihan, namun bukan berarti tak ada orang yang tidak mampu menjalankan segala tugasnya secara bahagia di bulan penuh berkah ini.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

[es-te, Selasa, 18 Puasa 1446, 18 Maret 2025]

Tags: ArtikelDr Sulaiman TripaMalamPuasaRamadhan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa

Sulaiman Tripa adalah analis sosial legal dan kebudayaan. Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

Related Posts

Tempat Buka Puasa Gratis di Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Sediakan 2.000 Paket Iftar Setiap Hari
Ramadhan

Tempat Buka Puasa Gratis di Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Sediakan 2.000 Paket Iftar Setiap Hari

by Husaini
February 24, 2026
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga, Pesan Tarawih Perdana Ramadhan di Banda Aceh
Ramadhan

Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga, Pesan Tarawih Perdana Ramadhan di Banda Aceh

by SAGOE TV
February 19, 2026
sulaiman tripa
Ramadhan

Malam Puasa 30, Selesaikanlah Urusan dengan Manusia

by Sulaiman Tripa
March 29, 2025
Dr Sulaiman Tripa
Ramadhan

Malam Puasa 29, Apa yang Membekas dari Puasa Kita?

by Sulaiman Tripa
March 28, 2025
sulaiman tripa
Ramadhan

Malam Puasa 28, Belajar Mengelola Nafsu

by Sulaiman Tripa
March 27, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

Mengapa Semen dan BBM Langka di Aceh? Pemerintah Turun Tangan Telusuri Penyebabnya

July 30, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

July 29, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Setelah Panggung Dibongkar

Setelah Panggung Dibongkar

July 28, 2026
Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

July 30, 2026
Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

Ajakan Terbuka Menulis untuk Rubrik Seni SagoeTV.com

July 6, 2025
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Balai Bahasa Aceh Hadirkan Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa, Wujud Pelestarian Karya dan Penguatan Literasi

Balai Bahasa Aceh Hadirkan Pojok Buku Profesor Sulaiman Tripa, Wujud Pelestarian Karya dan Penguatan Literasi

July 31, 2026
UIA dan IKDAR Malaysia Resmi Jalin Kerja Sama, Gelar International Guest Lecture

UIA dan IKDAR Malaysia Resmi Jalin Kerja Sama, Gelar International Guest Lecture

July 28, 2026

EDITOR'S PICK

Pascabanjir Bandang, Bustanul Ulum Bener Meriah Butuh Relokasi

Pascabanjir Bandang, Bustanul Ulum Bener Meriah Butuh Relokasi

January 21, 2026
gempa

Gempa M 4,6 Guncang Sabang, Getaran Terasa hingga Banda Aceh

December 10, 2025
Bank Aceh dan BPD se-Indonesia Bersama Kemendagri Tandatangani Pelaksanaan SP2D Online

Bank Aceh dan BPD se-Indonesia Bersama Kemendagri Tandatangani Pelaksanaan SP2D Online

April 17, 2025
USK Gelar Capacity Building, RSP Disiapkan Jadi Rumah Sakit Ramah Masyarakat

USK Gelar Capacity Building, RSP Disiapkan Jadi Rumah Sakit Ramah Masyarakat

June 10, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.