• Tentang Kami
Tuesday, October 13, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Nyanyian 3.400 Tahun yang Masih Bisa Mengajarkan Aceh

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 8, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Nyanyian 3.400 Tahun yang Masih Bisa Mengajarkan Aceh

Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
praktisi seni, etnomusikolog, dan akademisi Universitas Syiah Kuala

Tiga setengah ribu tahun lalu, di kota kuno Ugarit, seseorang menuliskan sebuah lagu di atas tablet tanah liat. Ia bukan lagu perang, bukan lagu pesta kerajaan, tetapi doa sederhana kepada dewi kesuburan agar keluarga diberkahi anak dan masyarakat tetap bertahan. Tablet itu kini dikenal sebagai Hurrian Hymn No. 6, nyanyian tertua yang masih memiliki teks dan notasi musik lengkap.

Bagi saya, lagu ini bukan sekadar catatan sejarah musik. Ia merekam cara manusia memahami kehidupan bersama, bagaimana solidaritas menjadi fondasi peradaban, dan bagaimana setiap individu dianggap penting bagi keberlangsungan komunitas.

BACA JUGA

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

Seorang penonton rekonstruksi lagu di YouTube menulis:

“The oldest song for which we have written both lyrics and musical notation is a prayer for the creation of new people and families… What a world we could have if we didn’t see this as a command to outcompete one another, but instead to cherish every person who lives.”

Komentar ini menekankan satu hal yang selalu saya amati dalam budaya: manusia sejak awal bertahan bukan karena persaingan, tapi karena kerja sama. Gagal panen, penyakit, bencana alam semua ancaman itu mengajarkan satu hal sederhana: setiap orang yang lahir berharga bagi kelompok.

Komentar lain datang dari Turki:

“…It is astonishing to hear how the Hurrians, a civilization that lived 3500 years ago, used the same melodies and emotions we use today… Geography itself creates the music. We just listen and play.”

Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa musik bukan sekadar bunyi yang dibuat manusia. Ia lahir dari interaksi antara manusia, lingkungan, dan pengalaman sosial. Dari perspektif ini, tradisi musik Aceh dari rapa’i hingga saman bukan hanya hiburan, tetapi juga cerminan cara masyarakat memahami ruang, waktu, dan kebersamaan.

Aceh memiliki sejarah panjang dalam membangun dan merawat nilai sosial. Meunasah, dayah, dan ruang komunitas bukan hanya tempat ibadah atau belajar; ia adalah arena interaksi yang membentuk solidaritas. Generasi sebelumnya mengajarkan bahwa menjaga adat, saling membantu, dan menghargai sesama adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya seremoni.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, perubahan sosial dan modernisasi menghadirkan tantangan. Tradisi yang dulu hidup dalam keseharian kampung kini sering muncul hanya dalam bentuk seremoni. Pengetahuan lokal tentang lingkungan, pola sosial, maupun nilai budaya perlahan dianggap kurang relevan oleh generasi muda yang dibesarkan dalam ritme cepat dan budaya instan.

Hal serupa terlihat pada tata kelola publik. Banyak masyarakat menyaksikan praktik birokrasi yang tidak selalu mencerminkan profesionalisme dan tanggung jawab. Jabatan yang diisi tanpa kompetensi dan keputusan yang diambil tanpa akuntabilitas berdampak tidak hanya pada pelayanan publik, tetapi juga pada kualitas kehidupan sosial dan budaya. Keteladanan publik menjadi penting karena ia menentukan bagaimana nilai-nilai dasar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi dari nyanyian Hurrian ini jelas: masyarakat yang ingin bertahan dan maju harus menempatkan kepentingan komunitas di atas kepentingan sempit individu atau kelompok. Kemajuan yang bertahan lama bukan hanya soal ekonomi atau infrastruktur, tetapi soal kualitas etika sosial dan kemampuan merawat nilai.

Aceh memiliki modal sosial dan budaya yang besar. Tradisi intelektual dan keagamaan yang panjang, ditambah generasi muda yang aktif dalam bidang kreatif dari produksi film independen, musik digital, hingga konten budaya menunjukkan potensi kebangkitan kultural tetap ada. Tantangannya adalah memastikan inovasi modern tetap berpijak pada nilai dasar: kejujuran, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap kehidupan bersama.

Nyanyian dari Ugarit bertahan ribuan tahun bukan karena ia spektakuler, tetapi karena seseorang merasa penting untuk merekam dan mewariskannya. Ini mengingatkan kita bahwa jejak peradaban tidak selalu berupa bangunan megah atau catatan sejarah besar. Ia lahir dari tindakan sederhana: mendokumentasikan pengalaman, merawat tradisi, dan menghargai nilai kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan bagi masyarakat Aceh saat ini sederhana namun kritis: nilai apa yang kita rawat hari ini sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang? Apakah masyarakat masih menghargai solidaritas, kompetensi, tanggung jawab, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari? Apakah budaya lokal yang membentuk identitas Aceh tetap hidup di tengah arus modernisasi dan globalisasi?

Jika pertanyaan ini dijawab dengan kesadaran, Aceh tidak hanya akan menjadi tempat tinggal yang nyaman, tetapi juga masyarakat yang meninggalkan jejak yang dapat didengar dan dipahami oleh generasi masa depan, persis seperti nyanyian Hurrian yang masih bisa kita dengar lebih dari tiga ribu tahun setelah ditulis.

Baca juga: Hurrian Hymn No.6, Musik Tertua dalam Peradaban Dunia

Nyanyian itu sederhana, nadanya asing bagi telinga modern, tapi pesannya jelas: keberlangsungan masyarakat bergantung pada kemampuan mereka merawat satu sama lain, menghargai nilai, dan menjaga tradisi yang memperkuat kehidupan bersama. Aceh, dengan sejarah dan potensinya, memiliki kesempatan yang sama. Masa depan yang kuat lahir dari kesediaan masyarakat untuk merawat nilai yang terbukti menjaga kehidupan bersama, hari ini, untuk generasi mendatang.[]

Tags: AcehMakin Tahu IndonesiaNyanyianopiniSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances
SENI

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

by SAGOE TV
October 11, 2026
Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara
SENI

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

by SAGOE TV
October 10, 2026
Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda
SENI

Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda

by SAGOE TV
September 28, 2026
SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH
SENI

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH

by SAGOE TV
September 22, 2026
Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga
SENI

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

by SAGOE TV
September 11, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Nasir Djamil: Warung Kopi di Aceh Bisa Jadi Ruang Diskusi Buku

Nasir Djamil: Warung Kopi di Aceh Bisa Jadi Ruang Diskusi Buku

October 10, 2026
Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

October 13, 2026
Mahasiswa KPI STAIN Meulaboh Tuntut Kejelasan Penanganan Dugaan Kekerasan Seksual

Mahasiswa KPI STAIN Meulaboh Tuntut Kejelasan Penanganan Dugaan Kekerasan Seksual

October 6, 2026
LPS bayar klaim nasabah BPRS Aceh

LPS Bayar Rp46,80 Miliar Klaim Nasabah 4 BPRS di Aceh

October 8, 2026
Mahasiswa UIA Juara 1 Lomba Melukis HUT ke-27 Bireuen

Mahasiswa UIA Juara 1 Lomba Melukis HUT ke-27 Bireuen

October 5, 2026
Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

October 11, 2026
Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

October 11, 2026
PORA XV Aceh Jaya Diundur ke Mei 2027

PORA XV Aceh Jaya Diundur ke Mei 2027

October 8, 2026
Kisah Cut Sitti Kamila, Lulus dari 2 Kampus dengan IPK 3,80 dan 3,78

Kisah Cut Sitti Kamila, Lulus dari 2 Kampus dengan IPK 3,80 dan 3,78

October 6, 2026

EDITOR'S PICK

Dubes Rusia Temui Wali Nanggroe Aceh, Bahas Kerja Sama Multi Sektor dari Energi hingga Pendidikan

Dubes Rusia Temui Wali Nanggroe Aceh, Bahas Kerja Sama Multi Sektor dari Energi hingga Pendidikan

November 2, 2025
BNPB Umumkan Data Terkini Bencana Aceh 35 Meninggal dan 25 Warga Hilang

For-JAK Desak Presiden Prabowo Tetapkan Status Darurat Bencana Nasional untuk Banjir Sumatra

November 29, 2025
UIN Ar-Raniry dan BRA Bahas Rencana Peringatan 2 Dekade Perdamaian Aceh

UIN Ar-Raniry dan BRA Bahas Rencana Peringatan 2 Dekade Perdamaian Aceh

January 24, 2025
Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan

Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan

April 4, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.