• Tentang Kami
Tuesday, April 14, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Nyanyian 3.400 Tahun yang Masih Bisa Mengajarkan Aceh

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 8, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Nyanyian 3.400 Tahun yang Masih Bisa Mengajarkan Aceh

Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
praktisi seni, etnomusikolog, dan akademisi Universitas Syiah Kuala

Tiga setengah ribu tahun lalu, di kota kuno Ugarit, seseorang menuliskan sebuah lagu di atas tablet tanah liat. Ia bukan lagu perang, bukan lagu pesta kerajaan, tetapi doa sederhana kepada dewi kesuburan agar keluarga diberkahi anak dan masyarakat tetap bertahan. Tablet itu kini dikenal sebagai Hurrian Hymn No. 6, nyanyian tertua yang masih memiliki teks dan notasi musik lengkap.

Bagi saya, lagu ini bukan sekadar catatan sejarah musik. Ia merekam cara manusia memahami kehidupan bersama, bagaimana solidaritas menjadi fondasi peradaban, dan bagaimana setiap individu dianggap penting bagi keberlangsungan komunitas.

BACA JUGA

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan

Seorang penonton rekonstruksi lagu di YouTube menulis:

“The oldest song for which we have written both lyrics and musical notation is a prayer for the creation of new people and families… What a world we could have if we didn’t see this as a command to outcompete one another, but instead to cherish every person who lives.”

Komentar ini menekankan satu hal yang selalu saya amati dalam budaya: manusia sejak awal bertahan bukan karena persaingan, tapi karena kerja sama. Gagal panen, penyakit, bencana alam semua ancaman itu mengajarkan satu hal sederhana: setiap orang yang lahir berharga bagi kelompok.

Komentar lain datang dari Turki:

“…It is astonishing to hear how the Hurrians, a civilization that lived 3500 years ago, used the same melodies and emotions we use today… Geography itself creates the music. We just listen and play.”

Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa musik bukan sekadar bunyi yang dibuat manusia. Ia lahir dari interaksi antara manusia, lingkungan, dan pengalaman sosial. Dari perspektif ini, tradisi musik Aceh dari rapa’i hingga saman bukan hanya hiburan, tetapi juga cerminan cara masyarakat memahami ruang, waktu, dan kebersamaan.

Baca Juga:  Ketika Anak-Anak Dilupakan dalam Hiruk Pikuk Kreativitas Orang Dewasa

Aceh memiliki sejarah panjang dalam membangun dan merawat nilai sosial. Meunasah, dayah, dan ruang komunitas bukan hanya tempat ibadah atau belajar; ia adalah arena interaksi yang membentuk solidaritas. Generasi sebelumnya mengajarkan bahwa menjaga adat, saling membantu, dan menghargai sesama adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya seremoni.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, perubahan sosial dan modernisasi menghadirkan tantangan. Tradisi yang dulu hidup dalam keseharian kampung kini sering muncul hanya dalam bentuk seremoni. Pengetahuan lokal tentang lingkungan, pola sosial, maupun nilai budaya perlahan dianggap kurang relevan oleh generasi muda yang dibesarkan dalam ritme cepat dan budaya instan.

Hal serupa terlihat pada tata kelola publik. Banyak masyarakat menyaksikan praktik birokrasi yang tidak selalu mencerminkan profesionalisme dan tanggung jawab. Jabatan yang diisi tanpa kompetensi dan keputusan yang diambil tanpa akuntabilitas berdampak tidak hanya pada pelayanan publik, tetapi juga pada kualitas kehidupan sosial dan budaya. Keteladanan publik menjadi penting karena ia menentukan bagaimana nilai-nilai dasar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi dari nyanyian Hurrian ini jelas: masyarakat yang ingin bertahan dan maju harus menempatkan kepentingan komunitas di atas kepentingan sempit individu atau kelompok. Kemajuan yang bertahan lama bukan hanya soal ekonomi atau infrastruktur, tetapi soal kualitas etika sosial dan kemampuan merawat nilai.

Aceh memiliki modal sosial dan budaya yang besar. Tradisi intelektual dan keagamaan yang panjang, ditambah generasi muda yang aktif dalam bidang kreatif dari produksi film independen, musik digital, hingga konten budaya menunjukkan potensi kebangkitan kultural tetap ada. Tantangannya adalah memastikan inovasi modern tetap berpijak pada nilai dasar: kejujuran, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap kehidupan bersama.

Baca Juga:  Putra Aceh Teuku Faisal Fathani Gantikan Dwikorita, Ingin Jadikan BMKG Pusat Data dan Pusat Aksi

Nyanyian dari Ugarit bertahan ribuan tahun bukan karena ia spektakuler, tetapi karena seseorang merasa penting untuk merekam dan mewariskannya. Ini mengingatkan kita bahwa jejak peradaban tidak selalu berupa bangunan megah atau catatan sejarah besar. Ia lahir dari tindakan sederhana: mendokumentasikan pengalaman, merawat tradisi, dan menghargai nilai kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan bagi masyarakat Aceh saat ini sederhana namun kritis: nilai apa yang kita rawat hari ini sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang? Apakah masyarakat masih menghargai solidaritas, kompetensi, tanggung jawab, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari? Apakah budaya lokal yang membentuk identitas Aceh tetap hidup di tengah arus modernisasi dan globalisasi?

Jika pertanyaan ini dijawab dengan kesadaran, Aceh tidak hanya akan menjadi tempat tinggal yang nyaman, tetapi juga masyarakat yang meninggalkan jejak yang dapat didengar dan dipahami oleh generasi masa depan, persis seperti nyanyian Hurrian yang masih bisa kita dengar lebih dari tiga ribu tahun setelah ditulis.

Baca juga: Hurrian Hymn No.6, Musik Tertua dalam Peradaban Dunia

Nyanyian itu sederhana, nadanya asing bagi telinga modern, tapi pesannya jelas: keberlangsungan masyarakat bergantung pada kemampuan mereka merawat satu sama lain, menghargai nilai, dan menjaga tradisi yang memperkuat kehidupan bersama. Aceh, dengan sejarah dan potensinya, memiliki kesempatan yang sama. Masa depan yang kuat lahir dari kesediaan masyarakat untuk merawat nilai yang terbukti menjaga kehidupan bersama, hari ini, untuk generasi mendatang.[]

Tags: 3.400 TahunacehMakin Tahu IndonesiaNyanyianopiniSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi
SENI

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

by Anna Rizatil
April 11, 2026
Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan
SENI

Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan

by SAGOE TV
April 4, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Skate Park Stage: Praktik yang Tidak Lagi Hilang, Melainkan Bekerja

by SAGOE TV
March 30, 2026
Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik
SENI

Literasi dan Apresiasi Seni: Menghidupkan yang Nyaris Terbiasa Dilupakan

by SAGOE TV
March 27, 2026
Memberi Ruh pada Mesin: Navigasi Baru Sarjana Seni Aceh
SENI

Memberi Ruh pada Mesin: Navigasi Baru Sarjana Seni Aceh

by SAGOE TV
March 20, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

April 10, 2026
Mualem Lantik 3 Kepala SKPA, Gamal Abdul Nasir Jabat Kepala Biro Umum Setda Aceh

Mualem Lantik 3 Kepala SKPA, Gamal Abdul Nasir Jabat Kepala Biro Umum Setda Aceh

April 10, 2026
Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

April 11, 2026
USK Gelar Skate Park Stage Vol. 2, Laboratorium Kreatif Seni Terbuka untuk Publik

USK Gelar Skate Park Stage Vol. 2, Laboratorium Kreatif Seni Terbuka untuk Publik

April 10, 2026
BMKG Surati Gubernur Aceh, Seluruh Wilayah Siaga Banjir dan Tanah Longsor

BMKG Surati Gubernur Aceh, Seluruh Wilayah Siaga Banjir dan Tanah Longsor

April 10, 2026
Bagaimana Memahami Kemenangan Iran

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

April 8, 2026
Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

April 13, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Krisis Air Bersih di Sekumur Ditangani Cepat, Satgas PRR Bangun Dua Sumur Bor

Krisis Air Bersih di Sekumur Ditangani Cepat, Satgas PRR Bangun Dua Sumur Bor

April 6, 2026

EDITOR'S PICK

Rumah Amal Masjid Jamik USK Salurkan Apresiasi Fisabilillah untuk 272 Pengabdi Umat

Rumah Amal Masjid Jamik USK Salurkan Apresiasi Fisabilillah untuk 272 Pengabdi Umat

March 14, 2026
Sundulan Connor Flynn Antar Persiraja Tekuk Persikad Depok 1-0

Sundulan Connor Flynn Antar Persiraja Tekuk Persikad Depok 1-0

February 24, 2026
Pj Gubernur Safrizal Terima Obor Api PON dari Pj Wali Kota Banda Aceh

Pj Gubernur Safrizal Terima Obor Api PON dari Pj Wali Kota Banda Aceh

February 8, 2026
Menag: Arab Saudi Siap Beri Perhatian Khusus Jemaah Haji Indonesia

Menteri Agama: Alhamdulillah, Tambahan Kuota Petugas Haji Sudah Masuk E-Hajj

April 13, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.