• Tentang Kami
Tuesday, April 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Pendidikan Kita, Pasar Mereka: Memaknai Hari Pendidikan Nasional dalam Pusaran Geopolitik

Dr Muna Madrah by Dr Muna Madrah
May 2, 2025
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Muna Yastuti Madrah

Muna Yastuti Madrah. Foto: dok. pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muna Yastuti Madrah
Dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung

Setiap 2 Mei, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional. Upacara diadakan, baliho dipasang, dan pidato tentang kemajuan dibacakan. Tapi di balik semua itu, pernahkah kita bertanya: untuk siapa sebenarnya pendidikan kita dibangun? Apakah untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan dan ketidakadilan? Atau justru untuk memenuhi kebutuhan pasar global yang bahkan tak dapat kita kendalikan?

BACA JUGA

Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

Dalam beberapa dekade terakhir, wajah pendidikan di Indonesia berubah drastis. Kampus bukan lagi sekadar ruang pencarian ilmu, tetapi menjadi pusat perebutan akreditasi, branding institusi, dan persaingan masuk peringkat dunia. Gelar guru besar semakin dikejar, meski kualitas “menjadinya” sering dilewatkan. Kampus didorong mengejar kuota mahasiswa asing sebagai bentuk internasionalisasi. Di permukaannya tampak menjanjikan, tapi mari kita jujur: pendidikan kita kini makin disesuaikan dengan kebutuhan pasar mereka, bukan kebutuhan rakyat kita.

Melihat dari Perspektif Geopolitik: Mengapa Pendidikan Terdampak?

Geopolitik adalah cara pandang yang melihat bagaimana lokasi geografis dan kekuatan politik saling memengaruhi dalam perebutan pengaruh global. Dalam konteks pendidikan, geopolitik berperan besar: negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Tiongkok tidak hanya bersaing dalam tarif dagang dan teknologi, tetapi juga dalam penyebaran nilai, model pendidikan, dan dominasi pengetahuan.

Kita bisa lihat dari derasnya beasiswa luar negeri, kampus asing yang membuka cabang di negara berkembang, hingga standarisasi internasional yang diselipkan lewat kerja sama pendidikan. Kedengarannya bagus. Tapi ada yang harus kita kritisi: ketika standar global itu lebih mencerminkan kepentingan ekonomi dan politik negara kuat, apakah kita sedang mendidik untuk merdeka atau justru melanggengkan ketergantungan?

Baca Juga:  Jam Belajar Siswa Disesuaikan Selama Ramadhan, Kadisdik Aceh Serukan Peran Aktif Orang Tua

Dampak dari arus geopolitik itu nyata terasa dalam kebijakan pendidikan di dalam negeri. Standar global yang dibawa masuk lewat kerja sama internasional sering kali diadopsi tanpa proses kontekstualisasi. Alih-alih memperkuat karakter dan kemandirian pendidikan nasional, kita justru tergoda meniru segala yang berbau internasional—mulai dari model kurikulum, cara berpikir, hingga gaya manajemen pendidikan. Dalam banyak kasus, institusi pendidikan terjebak dalam obsesi terhadap “citra global” alih-alih menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Sebagai gambaran, mari cermati maraknya berbagai pilihan model pencapaian gelar akademik. Ada yang reguler, kelas karyawan, hingga program akselerasi. Kampus berlomba membuka prodi kekinian yang mudah dijual, sementara bidang-bidang ilmu yang dianggap “tidak marketable” dipinggirkan. Riset dituntut menghasilkan paten, bukan solusi. Bahkan, sekolah dasar pun kini diserbu tren digitalisasi tanpa memperhatikan kesiapan guru atau kebutuhan kontekstual siswa.

Ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, misalnya, tidak hanya berdampak pada ekspor-impor barang, tetapi juga pada aliran teknologi, kebijakan beasiswa, hingga program-program pendidikan tinggi lintas negara. Indonesia yang berada di kawasan Indo-Pasifik menjadi wilayah strategis yang tak luput dari pengaruh ini. Banyak kampus didorong untuk menjalin kerja sama dengan lembaga asing, kadang lebih karena pertimbangan politik dan akses pendanaan ketimbang kebutuhan akademik yang berbasis lokal. Dalam banyak kasus, kerja sama internasional ini membawa agenda yang bersifat asimetris—di mana pihak Indonesia menjadi penerima model, bukan pencipta kebijakan. Hal ini memperkuat posisi pendidikan Indonesia sebagai konsumen pengetahuan, bukan produsen ide-ide baru.

Kurikulum pun demikian. Banyak yang dibentuk untuk menyiapkan anak-anak kita agar “kompetitif” di pasar global. Tapi pasar siapa? Untuk pekerjaan macam apa? Jika sebagian besar lulusan akhirnya menjadi buruh migran, pekerja lepas di platform digital, atau pelayan dalam industri pariwisata asing—maka di mana letak visi kemandirian bangsa?

Baca Juga:  Saatnya Banyak Orang Bergerak: Refleksi atas Masalah Aceh yang Terlalu Banyak

Pendidikan Islam Juga Tak Kebal: Sebuah Refleksi Kritis

Sebagai pengajar politik pendidikan Islam, saya tidak menutup mata. Dunia pendidikan Islam pun tak kebal dari tarik-menarik geopolitik dan pasar. Lembaga pendidikan Islam kadang terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan jargon moderasi, kurikulum internasional, dan digitalisasi simbolik—namun kehilangan arah dalam membangun kesadaran kritis.

Padahal Islam memiliki warisan intelektual besar yang mampu membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan. Konsep seperti tauhid, adab, dan rahmatan lil alamin semestinya bukan hanya jargon brosur kampus, tetapi ditanamkan sebagai kesadaran sosial-politik: bahwa belajar adalah tindakan pembebasan, bukan penyesuaian.

Sayangnya, banyak lembaga pendidikan Islam justru menjadi tempat lahirnya kepasifan. Bukannya mengkritisi struktur global yang timpang, kita malah sibuk meniru model kampus luar, mengidolakan ranking QS, dan menjadikan beasiswa luar negeri sebagai puncak prestasi, tanpa mempertanyakan konsekuensi sosialnya.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak sekadar dirayakan dengan simbol dan selebrasi. Ia harus dijadikan momen untuk mengoreksi arah. Kita butuh pendidikan yang berpihak—pada rakyat, pada keadilan sosial, dan pada masa depan yang berdaulat. Pendidikan yang tidak hanya mengejar akreditasi, tapi membentuk karakter warga negara yang berpikir kritis, solutif, dan merdeka dari hegemoni pasar global.

Sebagai pendidik, pembuat kebijakan, atau orang tua, kita semua memiliki peran dalam membentuk arah pendidikan bangsa. Mari kita pastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi alat pembebasan, bukan sekadar komoditas pasar.

Hari ini, mari kita jujur pada diri sendiri: pendidikan kita memang berkembang—namun apakah benar ia telah membebaskan? Telah memerdekakan?

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Tags: ArtikelGeopolitikHari Pendidikanhari pendidikan nasionalMuna Madrahopinipendidikan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Dr Muna Madrah

Dr Muna Madrah

Related Posts

Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan
Opini

Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan

by Anna Rizatil
April 20, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global
Opini

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

by Anna Rizatil
April 17, 2026
Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz
Opini

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

by Anna Rizatil
April 10, 2026
Bagaimana Memahami Kemenangan Iran
Opini

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

by Anna Rizatil
April 8, 2026
Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran
Opini

Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran

by SAGOE TV
April 5, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

April 16, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

April 18, 2026
UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

April 20, 2026
MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

April 19, 2026
Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

April 20, 2026
Prof Eka Srimulyani kuliah tamu di Seoul National University, Korea Selatan, membahas riset generasi muda Muslim dan pengaruh budaya K-Pop.

Prof Eka Srimulyani Kuliah Tamu di Seoul National University, Bahas Generasi Muda Muslim dan K-Pop

April 18, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

April 17, 2026
Pemain Persiraja Banda Aceh

Persiraja vs Garudayaksa FC Malam Ini: Dek Gam Tekankan Harga Diri, Pemain Wajib Fight

April 19, 2026
6 Universitas Sepakat Kembangkan Riset Konservasi Gajah Sumatra di Lansekap Peusangan

6 Universitas Sepakat Kembangkan Riset Konservasi Gajah Sumatra di Lansekap Peusangan

April 17, 2026

EDITOR'S PICK

Siswa SMA Asal Lubuk Pakam Sumut Antusias Berkunjung ke UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Siswa SMA Asal Lubuk Pakam Sumut Antusias Berkunjung ke UIN Ar-Raniry Banda Aceh

January 16, 2025
Komisi X DPR RI Ungkap Kendala Mendasar Sekolah Terdampak Bencana di Aceh Utara

Komisi X DPR RI Ungkap Kendala Mendasar Sekolah Terdampak Bencana di Aceh Utara

January 27, 2026
Persiraja Duduki Puncak Klasemen Sementara Liga 2 Grup 1 Usai Kalahkan PSKC Cimahi

Persiraja Duduki Puncak Klasemen Sementara Liga 2 Grup 1 Usai Kalahkan PSKC Cimahi

October 2, 2024
Kemenag Bireuen Gelar Manasik bagi 381 Calon Jemaah Haji di Empat Lokasi

Kemenag Bireuen Gelar Manasik bagi 381 Calon Jemaah Haji di Empat Lokasi

April 14, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.