• Tentang Kami
Sunday, October 18, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Pendidikan Kita, Pasar Mereka: Memaknai Hari Pendidikan Nasional dalam Pusaran Geopolitik

Dr Muna Madrah by Dr Muna Madrah
May 2, 2025
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Muna Yastuti Madrah

Muna Yastuti Madrah. Foto: dok. pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muna Yastuti Madrah
Dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung

Setiap 2 Mei, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional. Upacara diadakan, baliho dipasang, dan pidato tentang kemajuan dibacakan. Tapi di balik semua itu, pernahkah kita bertanya: untuk siapa sebenarnya pendidikan kita dibangun? Apakah untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan dan ketidakadilan? Atau justru untuk memenuhi kebutuhan pasar global yang bahkan tak dapat kita kendalikan?

BACA JUGA

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

Dalam beberapa dekade terakhir, wajah pendidikan di Indonesia berubah drastis. Kampus bukan lagi sekadar ruang pencarian ilmu, tetapi menjadi pusat perebutan akreditasi, branding institusi, dan persaingan masuk peringkat dunia. Gelar guru besar semakin dikejar, meski kualitas “menjadinya” sering dilewatkan. Kampus didorong mengejar kuota mahasiswa asing sebagai bentuk internasionalisasi. Di permukaannya tampak menjanjikan, tapi mari kita jujur: pendidikan kita kini makin disesuaikan dengan kebutuhan pasar mereka, bukan kebutuhan rakyat kita.

Melihat dari Perspektif Geopolitik: Mengapa Pendidikan Terdampak?

Geopolitik adalah cara pandang yang melihat bagaimana lokasi geografis dan kekuatan politik saling memengaruhi dalam perebutan pengaruh global. Dalam konteks pendidikan, geopolitik berperan besar: negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Tiongkok tidak hanya bersaing dalam tarif dagang dan teknologi, tetapi juga dalam penyebaran nilai, model pendidikan, dan dominasi pengetahuan.

Kita bisa lihat dari derasnya beasiswa luar negeri, kampus asing yang membuka cabang di negara berkembang, hingga standarisasi internasional yang diselipkan lewat kerja sama pendidikan. Kedengarannya bagus. Tapi ada yang harus kita kritisi: ketika standar global itu lebih mencerminkan kepentingan ekonomi dan politik negara kuat, apakah kita sedang mendidik untuk merdeka atau justru melanggengkan ketergantungan?

Dampak dari arus geopolitik itu nyata terasa dalam kebijakan pendidikan di dalam negeri. Standar global yang dibawa masuk lewat kerja sama internasional sering kali diadopsi tanpa proses kontekstualisasi. Alih-alih memperkuat karakter dan kemandirian pendidikan nasional, kita justru tergoda meniru segala yang berbau internasional—mulai dari model kurikulum, cara berpikir, hingga gaya manajemen pendidikan. Dalam banyak kasus, institusi pendidikan terjebak dalam obsesi terhadap “citra global” alih-alih menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Sebagai gambaran, mari cermati maraknya berbagai pilihan model pencapaian gelar akademik. Ada yang reguler, kelas karyawan, hingga program akselerasi. Kampus berlomba membuka prodi kekinian yang mudah dijual, sementara bidang-bidang ilmu yang dianggap “tidak marketable” dipinggirkan. Riset dituntut menghasilkan paten, bukan solusi. Bahkan, sekolah dasar pun kini diserbu tren digitalisasi tanpa memperhatikan kesiapan guru atau kebutuhan kontekstual siswa.

Ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, misalnya, tidak hanya berdampak pada ekspor-impor barang, tetapi juga pada aliran teknologi, kebijakan beasiswa, hingga program-program pendidikan tinggi lintas negara. Indonesia yang berada di kawasan Indo-Pasifik menjadi wilayah strategis yang tak luput dari pengaruh ini. Banyak kampus didorong untuk menjalin kerja sama dengan lembaga asing, kadang lebih karena pertimbangan politik dan akses pendanaan ketimbang kebutuhan akademik yang berbasis lokal. Dalam banyak kasus, kerja sama internasional ini membawa agenda yang bersifat asimetris—di mana pihak Indonesia menjadi penerima model, bukan pencipta kebijakan. Hal ini memperkuat posisi pendidikan Indonesia sebagai konsumen pengetahuan, bukan produsen ide-ide baru.

Kurikulum pun demikian. Banyak yang dibentuk untuk menyiapkan anak-anak kita agar “kompetitif” di pasar global. Tapi pasar siapa? Untuk pekerjaan macam apa? Jika sebagian besar lulusan akhirnya menjadi buruh migran, pekerja lepas di platform digital, atau pelayan dalam industri pariwisata asing—maka di mana letak visi kemandirian bangsa?

Pendidikan Islam Juga Tak Kebal: Sebuah Refleksi Kritis

Sebagai pengajar politik pendidikan Islam, saya tidak menutup mata. Dunia pendidikan Islam pun tak kebal dari tarik-menarik geopolitik dan pasar. Lembaga pendidikan Islam kadang terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan jargon moderasi, kurikulum internasional, dan digitalisasi simbolik—namun kehilangan arah dalam membangun kesadaran kritis.

Padahal Islam memiliki warisan intelektual besar yang mampu membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan. Konsep seperti tauhid, adab, dan rahmatan lil alamin semestinya bukan hanya jargon brosur kampus, tetapi ditanamkan sebagai kesadaran sosial-politik: bahwa belajar adalah tindakan pembebasan, bukan penyesuaian.

Sayangnya, banyak lembaga pendidikan Islam justru menjadi tempat lahirnya kepasifan. Bukannya mengkritisi struktur global yang timpang, kita malah sibuk meniru model kampus luar, mengidolakan ranking QS, dan menjadikan beasiswa luar negeri sebagai puncak prestasi, tanpa mempertanyakan konsekuensi sosialnya.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak sekadar dirayakan dengan simbol dan selebrasi. Ia harus dijadikan momen untuk mengoreksi arah. Kita butuh pendidikan yang berpihak—pada rakyat, pada keadilan sosial, dan pada masa depan yang berdaulat. Pendidikan yang tidak hanya mengejar akreditasi, tapi membentuk karakter warga negara yang berpikir kritis, solutif, dan merdeka dari hegemoni pasar global.

Sebagai pendidik, pembuat kebijakan, atau orang tua, kita semua memiliki peran dalam membentuk arah pendidikan bangsa. Mari kita pastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi alat pembebasan, bukan sekadar komoditas pasar.

Hari ini, mari kita jujur pada diri sendiri: pendidikan kita memang berkembang—namun apakah benar ia telah membebaskan? Telah memerdekakan?

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Tags: ArtikelGeopolitikHari Pendidikanhari pendidikan nasionalMuna Madrahopinipendidikan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Dr Muna Madrah

Dr Muna Madrah

Related Posts

MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan
Opini

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

by SAGOE TV
October 14, 2026
Publik dalam Bayang Militerisme Urban
Opini

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

by SAGOE TV
October 5, 2026
Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit
Opini

Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit

by SAGOE TV
October 4, 2026
Hari Pancasila dan Harapan Rakyat
Opini

Hari Pancasila dan Harapan Rakyat

by SAGOE TV
October 1, 2026
Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan Langkah Berikutnya bagi MACS di USK
Opini

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan: Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

by SAGOE TV
September 30, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

October 13, 2026
Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

October 16, 2026
Arsip tabloid asAsi

asAsi: Nyawöung dalam Wujud Lain

October 16, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

October 14, 2026
Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

October 15, 2026
Persiraja vs Semen Padang Nama Besar Kabau Sirah Tak Bikin Laskar Rencong Gentar

Total Denda Rp100 Juta, Persiraja dan Faris Adit Disanksi Usai Laga Kontra Sumsel United

October 14, 2026
Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

October 11, 2026
Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

October 11, 2026
Baun Thoib Soaloon Kepala Kantor Bahasa Kepri

Mendikdasmen Lantik 162 Pejabat, Baun Thoib Soaloon Jabat Kepala Kantor Bahasa Kepri

October 17, 2026

EDITOR'S PICK

Eks Panglima GAM Sabang Harap Tengku Jamaica Wakili Aceh di Kementerian

Eks Panglima GAM Sabang Harap Tengku Jamaica Wakili Aceh di Kementerian

February 8, 2026
Universitas Syiah Kuala USK Aceh

USK Buka 35 Persen Kuota Mahasiswa Baru lewat Jalur SMMPTN-Barat 2025

April 25, 2025
Jaga Kawasan Wisata, Banda Aceh Kini Punya 2 Pos Pengawasan Syariat Islam

Jaga Kawasan Wisata, Banda Aceh Kini Punya 2 Pos Pengawasan Syariat Islam

October 5, 2026
Koalisi Masyarakat Sipil Desak Presiden Tetapkan Darurat Bencana Nasional untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar

Koalisi Masyarakat Sipil Desak Presiden Tetapkan Darurat Bencana Nasional untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar

November 29, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.