• Tentang Kami
Wednesday, December 10, 2025
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
KIRIM TULISAN
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • DATA BENCANA ACEH 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • DATA BENCANA ACEH 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Pendidikan Kita, Pasar Mereka: Memaknai Hari Pendidikan Nasional dalam Pusaran Geopolitik

Dr Muna Madrah by Dr Muna Madrah
May 2, 2025
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Muna Yastuti Madrah

Muna Yastuti Madrah. Foto: dok. pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muna Yastuti Madrah
Dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung

Setiap 2 Mei, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional. Upacara diadakan, baliho dipasang, dan pidato tentang kemajuan dibacakan. Tapi di balik semua itu, pernahkah kita bertanya: untuk siapa sebenarnya pendidikan kita dibangun? Apakah untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan dan ketidakadilan? Atau justru untuk memenuhi kebutuhan pasar global yang bahkan tak dapat kita kendalikan?

BACA JUGA

Menjadi Pemimpin Totalitas

Jangan Kirim Kami Makanan, Kirim Saja Kain Kafan

Dalam beberapa dekade terakhir, wajah pendidikan di Indonesia berubah drastis. Kampus bukan lagi sekadar ruang pencarian ilmu, tetapi menjadi pusat perebutan akreditasi, branding institusi, dan persaingan masuk peringkat dunia. Gelar guru besar semakin dikejar, meski kualitas “menjadinya” sering dilewatkan. Kampus didorong mengejar kuota mahasiswa asing sebagai bentuk internasionalisasi. Di permukaannya tampak menjanjikan, tapi mari kita jujur: pendidikan kita kini makin disesuaikan dengan kebutuhan pasar mereka, bukan kebutuhan rakyat kita.

Melihat dari Perspektif Geopolitik: Mengapa Pendidikan Terdampak?

Geopolitik adalah cara pandang yang melihat bagaimana lokasi geografis dan kekuatan politik saling memengaruhi dalam perebutan pengaruh global. Dalam konteks pendidikan, geopolitik berperan besar: negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Tiongkok tidak hanya bersaing dalam tarif dagang dan teknologi, tetapi juga dalam penyebaran nilai, model pendidikan, dan dominasi pengetahuan.

Kita bisa lihat dari derasnya beasiswa luar negeri, kampus asing yang membuka cabang di negara berkembang, hingga standarisasi internasional yang diselipkan lewat kerja sama pendidikan. Kedengarannya bagus. Tapi ada yang harus kita kritisi: ketika standar global itu lebih mencerminkan kepentingan ekonomi dan politik negara kuat, apakah kita sedang mendidik untuk merdeka atau justru melanggengkan ketergantungan?

Baca Juga:  Wali Nanggroe (Bagian I): Menjaga Marwah Adat, Merawat Masa Depan Budaya Aceh

Dampak dari arus geopolitik itu nyata terasa dalam kebijakan pendidikan di dalam negeri. Standar global yang dibawa masuk lewat kerja sama internasional sering kali diadopsi tanpa proses kontekstualisasi. Alih-alih memperkuat karakter dan kemandirian pendidikan nasional, kita justru tergoda meniru segala yang berbau internasional—mulai dari model kurikulum, cara berpikir, hingga gaya manajemen pendidikan. Dalam banyak kasus, institusi pendidikan terjebak dalam obsesi terhadap “citra global” alih-alih menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Sebagai gambaran, mari cermati maraknya berbagai pilihan model pencapaian gelar akademik. Ada yang reguler, kelas karyawan, hingga program akselerasi. Kampus berlomba membuka prodi kekinian yang mudah dijual, sementara bidang-bidang ilmu yang dianggap “tidak marketable” dipinggirkan. Riset dituntut menghasilkan paten, bukan solusi. Bahkan, sekolah dasar pun kini diserbu tren digitalisasi tanpa memperhatikan kesiapan guru atau kebutuhan kontekstual siswa.

Ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, misalnya, tidak hanya berdampak pada ekspor-impor barang, tetapi juga pada aliran teknologi, kebijakan beasiswa, hingga program-program pendidikan tinggi lintas negara. Indonesia yang berada di kawasan Indo-Pasifik menjadi wilayah strategis yang tak luput dari pengaruh ini. Banyak kampus didorong untuk menjalin kerja sama dengan lembaga asing, kadang lebih karena pertimbangan politik dan akses pendanaan ketimbang kebutuhan akademik yang berbasis lokal. Dalam banyak kasus, kerja sama internasional ini membawa agenda yang bersifat asimetris—di mana pihak Indonesia menjadi penerima model, bukan pencipta kebijakan. Hal ini memperkuat posisi pendidikan Indonesia sebagai konsumen pengetahuan, bukan produsen ide-ide baru.

Kurikulum pun demikian. Banyak yang dibentuk untuk menyiapkan anak-anak kita agar “kompetitif” di pasar global. Tapi pasar siapa? Untuk pekerjaan macam apa? Jika sebagian besar lulusan akhirnya menjadi buruh migran, pekerja lepas di platform digital, atau pelayan dalam industri pariwisata asing—maka di mana letak visi kemandirian bangsa?

Baca Juga:  Masa Depan Industri Aceh: Peluang, Tantangan dan Jalan Menuju Kemandirian Ekonomi

Pendidikan Islam Juga Tak Kebal: Sebuah Refleksi Kritis

Sebagai pengajar politik pendidikan Islam, saya tidak menutup mata. Dunia pendidikan Islam pun tak kebal dari tarik-menarik geopolitik dan pasar. Lembaga pendidikan Islam kadang terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan jargon moderasi, kurikulum internasional, dan digitalisasi simbolik—namun kehilangan arah dalam membangun kesadaran kritis.

Padahal Islam memiliki warisan intelektual besar yang mampu membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan. Konsep seperti tauhid, adab, dan rahmatan lil alamin semestinya bukan hanya jargon brosur kampus, tetapi ditanamkan sebagai kesadaran sosial-politik: bahwa belajar adalah tindakan pembebasan, bukan penyesuaian.

Sayangnya, banyak lembaga pendidikan Islam justru menjadi tempat lahirnya kepasifan. Bukannya mengkritisi struktur global yang timpang, kita malah sibuk meniru model kampus luar, mengidolakan ranking QS, dan menjadikan beasiswa luar negeri sebagai puncak prestasi, tanpa mempertanyakan konsekuensi sosialnya.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak sekadar dirayakan dengan simbol dan selebrasi. Ia harus dijadikan momen untuk mengoreksi arah. Kita butuh pendidikan yang berpihak—pada rakyat, pada keadilan sosial, dan pada masa depan yang berdaulat. Pendidikan yang tidak hanya mengejar akreditasi, tapi membentuk karakter warga negara yang berpikir kritis, solutif, dan merdeka dari hegemoni pasar global.

Sebagai pendidik, pembuat kebijakan, atau orang tua, kita semua memiliki peran dalam membentuk arah pendidikan bangsa. Mari kita pastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi alat pembebasan, bukan sekadar komoditas pasar.

Hari ini, mari kita jujur pada diri sendiri: pendidikan kita memang berkembang—namun apakah benar ia telah membebaskan? Telah memerdekakan?

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Tags: ArtikelGeopolitikHari Pendidikanhari pendidikan nasionalMuna Madrahopinipendidikan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Dr Muna Madrah

Dr Muna Madrah

Related Posts

Menjadi Pemimpin Rita Khathir
Opini

Menjadi Pemimpin Totalitas

by SAGOE TV
December 10, 2025
Jangan Kirim Kami Makanan, Kirim Saja Kain Kafan
BENCANA SUMATERA 2025

Jangan Kirim Kami Makanan, Kirim Saja Kain Kafan

by SAGOE TV
December 9, 2025
Satu Rasa Buat Aceh dari Malaya Sriwijaya
BENCANA SUMATERA 2025

Satu Rasa Buat Aceh dari Malaya Sriwijaya

by SAGOE TV
December 7, 2025
Pemprov Aceh dan SPBU, Quo Vadis?
Opini

Pemprov Aceh dan SPBU, Quo Vadis?

by SAGOE TV
December 6, 2025
Reposisi dan Evaluasi Aceh di Dalam NKRI
Opini

Reposisi dan Evaluasi Aceh di Dalam NKRI

by SAGOE TV
December 6, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Cerita Penanganan Darurat Dua Bencana di Aceh: Tsunami 2004 dan Banjir 2025

Cerita Penanganan Darurat Dua Bencana di Aceh: Tsunami 2004 dan Banjir 2025

December 4, 2025
Update Donasi untuk Bencana Sumatera 2025 via SAGOETV

Update Donasi untuk Bencana Sumatera 2025 via SAGOETV

December 9, 2025
Satu Rasa Buat Aceh dari Malaya Sriwijaya

Satu Rasa Buat Aceh dari Malaya Sriwijaya

December 7, 2025
Memahami Pola Penyamaran dalam Dunia Spionase

Memahami Pola Penyamaran dalam Dunia Spionase

March 15, 2025
Bencana Aceh

Bencana Aceh: Benarkah ”merdeka” Sebagai Solusi?

December 5, 2025
Bencana: Tekan Tombol Sinkronisasi

Bencana: Tekan Tombol Sinkronisasi

December 4, 2025
Bupati Aceh Selatan Mirwan

Mendagri Tito Berhentikan Sementara Bupati Aceh Selatan Buntut Umrah Saat Bencana

December 9, 2025
Amnesty International Desak Pemerintah Tetapkan Darurat Nasional untuk Percepat Evakuasi Korban Banjir Sumatra

Bupati Aceh Selatan Klarifikasi Umrah di Tengah Bencana: Nazar Pribadi

December 5, 2025
Wajah Kolonial Dalam Tanggap Bencana Aceh

Wajah Kolonial Dalam Tanggap Bencana Aceh

December 3, 2025

EDITOR'S PICK

Pangdam IM Lantik Bintara Muda TNI AD dalam Upacara Penutupan Pendidikan

Pangdam IM Lantik Bintara Muda TNI AD dalam Upacara Penutupan Pendidikan

January 11, 2025
Jelang Puncak Haji, Ketua PPIH Aceh Minta Jemaah Tetap Disiplin, Sabar, dan Jaga Kesehatan

Jelang Puncak Haji, Ketua PPIH Aceh Minta Jemaah Tetap Disiplin, Sabar, dan Jaga Kesehatan

June 2, 2025
RSUD Aceh Besar Raih Penghargaan Kinerja Memuaskan BUMD & BLUD- Top 100 Choice Award 2024

RSUD Aceh Besar Raih Penghargaan Kinerja Memuaskan BUMD & BLUD- Top 100 Choice Award 2024

January 13, 2025
In Memoriam: Cek San, Relawan Sejati dari Masa Konflik hingga Tsunami

In Memoriam: Cek San, Relawan Sejati dari Masa Konflik hingga Tsunami

April 4, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.