Oleh: Mukhlisuddin Ilyas
Dosen Pascasarjana Universitas Almuslim dan Founder Bandar Publishing.
Ayah saya seorang petani. Ia meninggal ketika saya masih duduk di kelas enam sekolah dasar, usia ketika seorang anak belum benar-benar paham apa arti kehilangan, tapi mulai belajar tentang tanggungjawab sebagai anak tertua.
Ibu seorang guru SD. Ketika diangkat menjadi PNS di Banda Aceh, ayah ikut mendampingi. Tahun 1981 saya lahir di kota itu, dari cinta dua orang insan yang tak pernah bermimpi besar, kecuali ingin hidup layak dan saling menjaga.
Beberapa tahun kemudian, ayah mulai merayu ibu, sekali, dua kali, hingga berkali-kali, agar bersedia pindah ke kampung, agar ayah bisa menjadi petani, penggarap sawah dan tambak keluarganya. Ibu akhirnya mengalah. Belakangan, ketika kami berkeliling tempat-tempat lama di Banda Aceh, ibu bercerita, almarhum ayah sesungguhnya sangat menikmati hidup sebagai petani dan petambak.
Ketika pindah dari Banda Aceh ke Samalanga, Bireun, Aceh. Mereka belum punya rumah. Kami tinggal di rumah orang tua ibu, rumah Abusyik. Sebuah rumah Aceh yang artistik, kayunya didatangkan dari Padang Tiji, Pidie, dari murid-murid Abusyik di Gogo. Rumah itu indah, penuh ukiran dan sejarah. Tapi bagi ayah, hidup menumpang, walau di rumah mertuanya selalu menyisakan perasaan kecil yang tak pernah ia ucapkan.
Karena itu, kami sempat pindah ke rumah dinas sekolah dasar, tinggal disana beberapa tahun. Dua bangunan sederhana yang khusus disediakan untuk guru. Saya masih ingat betul masa itu. Setiap akhir bulan, ayah membonceng ibu dengan kereta merahnya, mengambil beras catu. Beras catu adalah dimana beras tersebut memiliki kualitas yang tidak terlalu bagus dari produk beras lainnya. Saya duduk di rumah menunggu, menghitung waktu dengan perut lapar dan hati yang entah kenapa selalu tenang.
Waktu berjalan lambat. Terlalu lama rasanya kami tinggal di rumah orang tua dan di mes sekolah. Baru ketika saya kelas lima SD, ayah mulai membangun rumah sendiri. Tanahnya dibeli dari orang tua ibu, Abu Syik yang namanya sama dengan ayah, Ilyas, letak tanahnya masih satu kampung, hanya berbeda lorong.
Ayah adalah laki-laki pekerja keras. Saya tak pernah mendengar cerita ia bermalasan atau duduk santai. Hidupnya hanya kerja, kerja, kerja di sawah dan tambak.
Ia juga memelihara kerbau untuk membajak sawahnya. Sejak kelas tiga hingga kelas enam SD, saya menjadi tangan kecil yang membantu ayah, memberi makan kerbau, menjaga, dan menjemputnya setiap sore ketika dilepas ke hamparan sawah pascapanen. Ketika kelas satu hingga kelas dua sekolah dasar, saya tumbuh bersama syik, ibunya ayah.
Kerbau itu binatang jinak, patuh dan asyik. Kadang saya naik di punggungnya saat pulang ke kandang. Ayah mengurus potong rumput hingga ke gung glee meudong. Saya mengurus teknis. Kini, jika dikenang, semuanya terasa indah, seperti lukisan masa kecil yang damai. Tapi saat itu, rasanya berat, lelah, kadang pesimis memaknai hidup masa depan. Terlalu dini bagi seorang anak untuk memahami kerja dan lelah.
Ayah punya obsesi, membangun rumah sendiri. Bukan rumah mewah, tapi rumah yang “keren” menurut ukurannya. Ia dibantu seorang kerabat, Cek Sob, seorang guru yang jago desain dan sering menjadi kepala tukang. Rumah beton itu dirancang 4 kamar, dengan gaya sederhana yang kini saya tahu mirip Skandinavia, bersih, tegas, dan bertumbuh.
Di sela bekerja di sawah dan tambak, ayah ikut mengaduk semen, mengangkat bata. Tak pernah saya melihatnya mengeluh. Ketika dinding rumah impiannya mulai berdiri, setiap malam setelah magrib dan mengaji, ayah sering mengajak saya melihat progres rumah itu. Sambil bercerita apa saja.
Mengaji setelah magrib selalu menjadi ritual wajib. Ayah mengajarkan dengan suara keras. Salah saya baca sedikit, bentakan datang. Jurus terakhir saya hanya satu, menangis. Tangisan adalah tanda mengaji selesai.
Ayah perokok berat, merek rokonya ardath. Hampir setiap malam ia duduk di rumah setengah jadi itu, merokok, menatap dinding bata yang belum diplester. Seperti sedang berbincang diam-diam dengan dinding tentang masa depan istri dan anak-anaknya.
Pondasi rumah itu dibuat tinggi, sekitar satu setengah meter dari jalan desa. Bertahun kemudian ibu bercerita, ayah sengaja membuatnya demikian agar rumah itu selamat dari banjir. Warga kampung ikut heran ketika itu, kenapa Teungku Ilyas membuat pondasi rumahnya terlalu tinggi.
Ketika atap selesai, dinding diplester, dan lantai disemen, ayah memaksa Ibu dan anak-anaknya segera pindah. Ibu sangat patuh dengan Ayah, apalagi kalau nada suara ayah meninggi. Suara ayah memang besar, ciri petani yang hidup di sawah dan tambak, dekat laut.
Ayah bahkan menginap sendirian hampir sebulan di rumah itu. Jendelanya ditutup triplek, lampunya redup. Ia seperti tak sabar hidup di rumah yang ia bangun dengan seluruh hidupnya.
Tahun 1993, rumah itu resmi menjadi milik kami, bertumbuh. Rumah dengan dilengakpi televisi bewarna. Rumah yang setiap malam didatangi warga untuk menonton sinetron dan siaran dunia dalam berita. Rumah yang hidup dan selalu ramai dari warga beragam usia.
Setahun kemudian, tahun 1994, saya pulang sekitar jam 11.30 selesai mengikuti hari kedua EBTANAS dengan sepeda. Orang-orang ramai di rumah. Ayah terbaring di ruang tamu. Untuk selamanya.
Ia meninggal mendadak. Tidak sakit. Pergi untuk selamanya, meninggalkan seorang istri yang setia hingga tuanya tak meninggalkan rumah lama-lama, kecuali berhaji dan umrah. Ayah meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil, meninggalkan ibunya dan adik-adiknya. Karena ia laki-laki pertama dari keluarganya. Ayah meninggal, tak memberi tanda-tanda kepada mereka. Walau Ayah sudah tiada, keluarga ayah selalu memperhatikan saya dan adik-adik. Setiap hari meugang dan lebaran mereka gantian mengirim daging dan sembako. Setiap selesai panen di sawah, mereka selalu menitip jajan ke rumah yang dibuat Ayah.
Bagi kami anak-anaknya, dan rumah yang di bangun Ayah sebagai warisan paling nyata dari cintanya kepada Ibu dan anaknya. Rumah yang hanya ditempait tak lebih dari dua tahun.
Puluhan tahun berlalu. Rumah itu tak pernah banjir, meski hanya berjarak sekitar 50 meter dari aliran Sungai Batee Iliek Samalanga. Setiap kali kampung dilanda banjir, ibu selalu tenang. Rumah yang dibuat ayah terlalu tangguh dan tinggi untuk ditaklukkan air.
Hingga 26 November 2025. Saat ibu sudah pensiun. Saat anak-anaknya telah berkeluarga. Saat delapan cucu memanggilnya “Nyak Syik”. Banjir akhirnya masuk ke rumah itu. Air membawa lumpur, dan lumpur merayap hingga ke kamar almarhum ayah.
Ibu adalah orang terakhir yang keluar mengungsi di kampung itu. Ia baru pergi setelah dibujuk anak ketiga dan adik bungsunya. Rumah ayah, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tak lagi aman. Takluk dari air banjir dan lumpur.
Makam ayah, hanya lima meter dari rumah, ikut tenggelam lumpur. Hanya tanda dengan rangkaian ujung bunga yang masih terlihat.
Sebulan pascabencana, rumah itu mulai dibersihkan. Anak-anaknya datang silih berganti. Tak ada yang menunggu diminta. Puluhan juta dikeluarkan, membersihkan lumpur, menyewa ekskavator. Mandiri tanpa berharap kemana-mana. Walau rumah itu tak akan pernah kembali seperti dulu. Namun ibu selalu tegar, bahwa ini musibah. Ditempat orang lebih parah, kita harus bersyukur katanya.
Saya sedikit emosi, ketika mendengar cerita adik, di hulu Sungai Batee Iliek sedang ada pembukaan lahan sawit dan eksplorasi SDA yang dimiliki oleh seorang politisi partai lokal dan pejabat DPR Aceh dan beberapa birokrat.
Ibu mengingatkan, ini musibah, dan ibu tetap tak mau jauh dari rumah itu, saya mengajaknya ke Banda Aceh, dengan alasan untuk berobat mata sekalipun, hanya bertahan 3 malam. Setelah itu, kami dibuat kalah oleh alasannya.
Barangkali Ibu tak mau jauh dengan rumah dan makam ayah. Rumah itu adalah kebaikan seorang suami dan ayah yang tak pernah sempat mengajarkan banyak hal, kecuali satu: bekerja, belajar, bertahan, dan mencintai sesama. Dan lumpur, betapapun tebalnya, tak akan pernah bisa mengubur itu semua.[]



















