• Tentang Kami
Tuesday, October 20, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Event, Seni, dan Masalah Standar

SAGOE TV by SAGOE TV
February 1, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Event, Seni, dan Masalah Standar

Ari J Palawi, Ph.D. Foto: dokumen pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi Kuratorial & Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Kemegahan yang tidak ditopang oleh standar berpikir hanyalah bentuk lain dari kemalasan intelektual yang dilembagakan.

Aceh hari ini tidak kekurangan event. Kalender kegiatan kian padat, panggung berdiri silih berganti, baliho dan layar digital menyala hampir tanpa jeda. Di permukaan, semua tampak bergerak dan hidup. Namun di balik keramaian itu, ada pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara serius: apa yang sebenarnya kita bangun melalui event-event tersebut? Apakah ia memperkaya cara kita berpikir dan belajar sebagai masyarakat, atau sekadar menyibukkan kita dengan rangkaian acara yang cepat berlalu dan mudah dilupakan?

BACA JUGA

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

Pengalaman panjang bergiat dalam berbagai bentuk kerja kuratorial—di ruang seni, forum publik, hingga pertemuan lintas sektor—menunjukkan bahwa event bukan sekadar soal program dan jadwal. Ia adalah cara sebuah masyarakat berbicara kepada dirinya sendiri tentang arah yang hendak dituju. Karena itu, setiap event pada dasarnya adalah pilihan nilai. Ia selalu membawa pesan tentang apa yang dianggap penting, siapa yang diberi ruang, dan standar apa yang digunakan untuk menilai kemajuan.

Event sebagai Instrumen Standar

Di banyak tempat, event telah lama dipahami sebagai instrumen kepemimpinan publik. Melalui event, negara dan institusi membentuk orientasi kolektif, menguji relasi sosial, serta memperkenalkan cara pandang baru. Dalam konteks Aceh—dengan sejarah konflik, pengalaman damai yang terus dirawat, serta tantangan ekologis dan sosial yang berulang—fungsi ini menjadi semakin krusial. Tidak ada event yang netral. Setiap panggung adalah pernyataan nilai, disadari atau tidak.

Sayangnya, standar keberhasilan event kita masih terlalu rendah. Selama acara terlaksana, aman, dan terdokumentasi, ia dianggap selesai. Pendekatan ini mungkin cukup secara administratif, tetapi miskin secara substansi. Event berhenti sebagai rutinitas tahunan, bukan sebagai proses pembelajaran sosial yang berkelanjutan. Ketika ukuran keberhasilan hanya bersifat teknis, yang tumbuh bukan kedewasaan kolektif, melainkan kelelahan publik.

Dalam situasi seperti ini, event mudah berubah menjadi formalitas yang dipoles. Tampak megah, tetapi tidak meninggalkan pengaruh berarti dalam cara berpikir institusi maupun masyarakat yang terlibat.

Kuratorial, Kuasa, dan Cerita yang Dibangun

Di sinilah persoalan kuratorial menjadi kunci. Kuratorial kerap dipersempit sebagai urusan artistik atau teknis pemilihan konten, padahal sesungguhnya ia menyangkut kepemimpinan gagasan: siapa yang merumuskan pertanyaan, menentukan tema, dan menyusun pengalaman publik. Kuratorial adalah soal tata kuasa makna—bagaimana sebuah cerita kolektif dibangun dan diarahkan.

Dalam praktik sehari-hari, orientasi cerita sebuah event sering kali lebih banyak ditentukan oleh logika birokrasi, sponsor, atau vendor penyelenggara. Akibatnya, substansi publik dikelola secara aman dan seragam. Event menjadi rapi secara visual, tetapi miskin keberanian intelektual. Tema berganti, dekorasi diperindah, dan nama-nama pembicara silih berganti, tetapi cara berpikir tidak bergerak.

Tanpa kepemimpinan gagasan yang jelas, event mudah terjebak dalam pengulangan simbol. Ia tampak sibuk, tetapi tidak maju. Ramai, tetapi tidak menajamkan orientasi bersama.

Seni yang Direduksi dan Etika yang Terpinggirkan

Realitas lain yang perlu diakui secara jujur adalah cara kita memperlakukan seni. Terlalu sering, kesenian ditempatkan sebagai selingan—untuk memeriahkan acara, menyambut pejabat, atau mengukuhkan simbol kekuasaan. Seni hadir, tetapi dijinakkan. Ia diharapkan indah, aman, dan tidak mengganggu kenyamanan.

Bersamaan dengan itu, kesenian didorong masuk ke dalam logika komoditas. Ia dinilai dari seberapa mudah dipasarkan, seberapa cepat diproduksi, dan seberapa efektif melayani kebutuhan acara. Dalam ekosistem seperti ini, banyak pelaku seni berada pada posisi sulit: menjaga integritas substansi atau menyesuaikan diri agar tetap mendapat ruang. Tidak sedikit yang memilih jalan sunyi, karena sikap kritis sering berujung pada tersingkirnya mereka dari lingkaran event resmi.

Masalah ini bukan soal individu, melainkan soal struktur produksi dan pendanaan yang belum memberi tempat layak bagi seni sebagai ruang refleksi, etika publik, dan pengetahuan sosial. Ketika seni direduksi menjadi hiburan semata, yang hilang bukan hanya kedalaman budaya, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk bercermin dan belajar dari dirinya sendiri.

Dari Spektakel ke Substansi

Jika event dimaksudkan sebagai alat untuk mengarahkan orientasi kolektif, maka ukurannya tidak boleh berhenti pada hari pelaksanaan. Yang perlu diuji adalah apa yang tersisa setelah panggung dibongkar: percakapan apa yang berlanjut, relasi apa yang terbentuk, dan pengetahuan apa yang benar-benar diproduksi. Tanpa itu, event hanya menjadi rutinitas visual—ramai, terdokumentasi, lalu hilang tanpa jejak dalam cara berpikir publik.

Event perlu dipahami sebagai rangkaian proses yang utuh: pembacaan konteks sebelum acara, pertukaran gagasan selama berlangsung, dan tindak lanjut yang terukur setelahnya. Logika ini menuntut pergeseran cara kerja—dari sekadar menyelenggarakan acara menuju mengelola pengetahuan dan relasi. Tanpa fase pasca-event yang jelas, energi publik hanya menguap menjadi ingatan sesaat, bukan kapasitas sosial yang bertumbuh.

Dalam kerangka ini, spektakel tidak selalu identik dengan keramaian massal. Ia dapat dimaknai sebagai intensitas: pertemuan yang megah dalam gagasan, ketat dalam standar, dan eksklusif dalam kedalaman. Elitis di sini bukan soal akses sosial, melainkan disiplin berpikir dan keberanian intelektual. Yang diuji bukan berapa banyak orang hadir, melainkan seberapa padat pertukaran yang terjadi dan seberapa jauh ia menggeser cara pandang para pesertanya.

Tanpa standar semacam ini, kemegahan hanya menjadi pembenaran bagi kemalasan intelektual yang dilembagakan.

Ruang Aceh Hari Ini

Dengan orientasi substansi tersebut, event perlu diarahkan ke ruang-ruang strategis yang selama ini jarang disentuh pendekatan kuratorial: kantor pemerintahan, lembaga swasta, sekolah, kampus, hingga institusi profesional lainnya. Di ruang-ruang yang bersifat terbatas atau tertutup inilah percakapan strategis dapat berlangsung lebih fokus dan berdampak, karena langsung bersinggungan dengan praktik kerja, pengambilan keputusan, dan pembentukan kebijakan.

Publik tetap perlu dihadirkan, tetapi secara terkurasi. Melalui dokumentasi yang serius, diskusi lanjutan, atau partisipasi terbatas, pengetahuan yang dihasilkan tidak berhenti sebagai konsumsi internal, melainkan mengalir kembali ke ruang publik dalam bentuk wacana, rujukan kebijakan, atau praktik baru. Dengan cara ini, eksklusivitas bukan menjadi penghalang, melainkan mekanisme pendalaman.

Di Aceh hari ini, ukuran keberhasilan event seharusnya tidak lagi ditentukan oleh kemegahan panggung, deretan tamu kehormatan, atau kepadatan audiens, melainkan oleh standar berpikir dan praktik institusional yang ia tinggalkan—termasuk sejauh mana generasi muda dilibatkan sebagai pencatat, peneliti, atau produsen pengetahuan, bukan sekadar penonton yang dikondisikan untuk kagum.

Di ruang-ruang Aceh—dari kantor pemerintah hingga kampus dan simpul-simpul urban—event semestinya bekerja seperti meusyawarah: tidak sekadar ramai, tetapi meninggalkan jejak keputusan, tanggung jawab, dan arah yang bisa dipegang bersama.[]

Tags: AcehBudayaEventIndonesiaSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances
SENI

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

by SAGOE TV
October 11, 2026
Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara
SENI

Pameran Seni Internasional di USK Hadirkan Karya Seniman dari Belasan Negara

by SAGOE TV
October 10, 2026
Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda
SENI

Kenduri Sastra Aceh 2026 Hidupkan Kembali Karya Maestro hingga Ali Hasjmy untuk Generasi Muda

by SAGOE TV
September 28, 2026
SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH
SENI

SPS Revival Perkuat Jejaring Kreatif Aceh, Jajaki Kolaborasi dengan Yayasan AMANAH

by SAGOE TV
September 22, 2026
Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga
SENI

Festival Nipah 2026 Digelar di Suak Timah, Angkat Budaya dan Ekonomi Warga

by SAGOE TV
September 11, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Arsip tabloid asAsi

asAsi: Nyawöung dalam Wujud Lain

October 16, 2026
Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

October 16, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

October 14, 2026
Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

October 15, 2026
Persiraja vs Semen Padang Nama Besar Kabau Sirah Tak Bikin Laskar Rencong Gentar

Total Denda Rp100 Juta, Persiraja dan Faris Adit Disanksi Usai Laga Kontra Sumsel United

October 14, 2026
Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

October 13, 2026
Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

Dek Fadh Sambut Pangdam Iskandar Muda yang Baru, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi

October 18, 2026
Baun Thoib Soaloon Kepala Kantor Bahasa Kepri

Mendikdasmen Lantik 162 Pejabat, Baun Thoib Soaloon Jabat Kepala Kantor Bahasa Kepri

October 18, 2026
Ismail Rasyid Jadi Orang Tua Asuh, Bantu Mahasiswa Kurang Mampu di USK Lanjut Kuliah

Ismail Rasyid Jadi Orang Tua Asuh, Bantu Mahasiswa Kurang Mampu di USK Lanjut Kuliah

October 16, 2026

EDITOR'S PICK

Seabad Mahathir Mohamad, UIN Ar-Raniry Persembahkan Buku Khusus Hubungan Aceh-Malaysia

Seabad Mahathir Mohamad, UIN Ar-Raniry Persembahkan Buku Khusus Hubungan Aceh-Malaysia

July 7, 2025
Kasus Pemerkosaan Meningkat di Aceh, Revisi Qanun Jinayat Mandeg

Kasus Pemerkosaan Meningkat di Aceh, Revisi Qanun Jinayat Mandeg

August 28, 2024
Pentingnya Peran Keluarga dan Pemerintah dalam Mengatasi Kemerosotan Moral

Pentingnya Peran Keluarga dan Pemerintah dalam Mengatasi Kemerosotan Moral

March 26, 2025
sulaiman tripa

Siapakah yang akan Menanggung Beban Lingkungan Kita?

April 22, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.