• Tentang Kami
Tuesday, April 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Event, Seni, dan Masalah Standar

SAGOE TV by SAGOE TV
February 1, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Event, Seni, dan Masalah Standar

Ari J Palawi, Ph.D. Foto: dokumen pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi Kuratorial & Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Kemegahan yang tidak ditopang oleh standar berpikir hanyalah bentuk lain dari kemalasan intelektual yang dilembagakan.

Aceh hari ini tidak kekurangan event. Kalender kegiatan kian padat, panggung berdiri silih berganti, baliho dan layar digital menyala hampir tanpa jeda. Di permukaan, semua tampak bergerak dan hidup. Namun di balik keramaian itu, ada pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara serius: apa yang sebenarnya kita bangun melalui event-event tersebut? Apakah ia memperkaya cara kita berpikir dan belajar sebagai masyarakat, atau sekadar menyibukkan kita dengan rangkaian acara yang cepat berlalu dan mudah dilupakan?

BACA JUGA

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Pengalaman panjang bergiat dalam berbagai bentuk kerja kuratorial—di ruang seni, forum publik, hingga pertemuan lintas sektor—menunjukkan bahwa event bukan sekadar soal program dan jadwal. Ia adalah cara sebuah masyarakat berbicara kepada dirinya sendiri tentang arah yang hendak dituju. Karena itu, setiap event pada dasarnya adalah pilihan nilai. Ia selalu membawa pesan tentang apa yang dianggap penting, siapa yang diberi ruang, dan standar apa yang digunakan untuk menilai kemajuan.

Event sebagai Instrumen Standar

Di banyak tempat, event telah lama dipahami sebagai instrumen kepemimpinan publik. Melalui event, negara dan institusi membentuk orientasi kolektif, menguji relasi sosial, serta memperkenalkan cara pandang baru. Dalam konteks Aceh—dengan sejarah konflik, pengalaman damai yang terus dirawat, serta tantangan ekologis dan sosial yang berulang—fungsi ini menjadi semakin krusial. Tidak ada event yang netral. Setiap panggung adalah pernyataan nilai, disadari atau tidak.

Baca Juga:  Memberi Ruh pada Mesin: Navigasi Baru Sarjana Seni Aceh

Sayangnya, standar keberhasilan event kita masih terlalu rendah. Selama acara terlaksana, aman, dan terdokumentasi, ia dianggap selesai. Pendekatan ini mungkin cukup secara administratif, tetapi miskin secara substansi. Event berhenti sebagai rutinitas tahunan, bukan sebagai proses pembelajaran sosial yang berkelanjutan. Ketika ukuran keberhasilan hanya bersifat teknis, yang tumbuh bukan kedewasaan kolektif, melainkan kelelahan publik.

Dalam situasi seperti ini, event mudah berubah menjadi formalitas yang dipoles. Tampak megah, tetapi tidak meninggalkan pengaruh berarti dalam cara berpikir institusi maupun masyarakat yang terlibat.

Kuratorial, Kuasa, dan Cerita yang Dibangun

Di sinilah persoalan kuratorial menjadi kunci. Kuratorial kerap dipersempit sebagai urusan artistik atau teknis pemilihan konten, padahal sesungguhnya ia menyangkut kepemimpinan gagasan: siapa yang merumuskan pertanyaan, menentukan tema, dan menyusun pengalaman publik. Kuratorial adalah soal tata kuasa makna—bagaimana sebuah cerita kolektif dibangun dan diarahkan.

Dalam praktik sehari-hari, orientasi cerita sebuah event sering kali lebih banyak ditentukan oleh logika birokrasi, sponsor, atau vendor penyelenggara. Akibatnya, substansi publik dikelola secara aman dan seragam. Event menjadi rapi secara visual, tetapi miskin keberanian intelektual. Tema berganti, dekorasi diperindah, dan nama-nama pembicara silih berganti, tetapi cara berpikir tidak bergerak.

Tanpa kepemimpinan gagasan yang jelas, event mudah terjebak dalam pengulangan simbol. Ia tampak sibuk, tetapi tidak maju. Ramai, tetapi tidak menajamkan orientasi bersama.

Seni yang Direduksi dan Etika yang Terpinggirkan

Realitas lain yang perlu diakui secara jujur adalah cara kita memperlakukan seni. Terlalu sering, kesenian ditempatkan sebagai selingan—untuk memeriahkan acara, menyambut pejabat, atau mengukuhkan simbol kekuasaan. Seni hadir, tetapi dijinakkan. Ia diharapkan indah, aman, dan tidak mengganggu kenyamanan.

Bersamaan dengan itu, kesenian didorong masuk ke dalam logika komoditas. Ia dinilai dari seberapa mudah dipasarkan, seberapa cepat diproduksi, dan seberapa efektif melayani kebutuhan acara. Dalam ekosistem seperti ini, banyak pelaku seni berada pada posisi sulit: menjaga integritas substansi atau menyesuaikan diri agar tetap mendapat ruang. Tidak sedikit yang memilih jalan sunyi, karena sikap kritis sering berujung pada tersingkirnya mereka dari lingkaran event resmi.

Baca Juga:  Gempa M5,0 Guncang Sabang, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami, Tercatat 8 Aftershock

Masalah ini bukan soal individu, melainkan soal struktur produksi dan pendanaan yang belum memberi tempat layak bagi seni sebagai ruang refleksi, etika publik, dan pengetahuan sosial. Ketika seni direduksi menjadi hiburan semata, yang hilang bukan hanya kedalaman budaya, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk bercermin dan belajar dari dirinya sendiri.

Dari Spektakel ke Substansi

Jika event dimaksudkan sebagai alat untuk mengarahkan orientasi kolektif, maka ukurannya tidak boleh berhenti pada hari pelaksanaan. Yang perlu diuji adalah apa yang tersisa setelah panggung dibongkar: percakapan apa yang berlanjut, relasi apa yang terbentuk, dan pengetahuan apa yang benar-benar diproduksi. Tanpa itu, event hanya menjadi rutinitas visual—ramai, terdokumentasi, lalu hilang tanpa jejak dalam cara berpikir publik.

Event perlu dipahami sebagai rangkaian proses yang utuh: pembacaan konteks sebelum acara, pertukaran gagasan selama berlangsung, dan tindak lanjut yang terukur setelahnya. Logika ini menuntut pergeseran cara kerja—dari sekadar menyelenggarakan acara menuju mengelola pengetahuan dan relasi. Tanpa fase pasca-event yang jelas, energi publik hanya menguap menjadi ingatan sesaat, bukan kapasitas sosial yang bertumbuh.

Dalam kerangka ini, spektakel tidak selalu identik dengan keramaian massal. Ia dapat dimaknai sebagai intensitas: pertemuan yang megah dalam gagasan, ketat dalam standar, dan eksklusif dalam kedalaman. Elitis di sini bukan soal akses sosial, melainkan disiplin berpikir dan keberanian intelektual. Yang diuji bukan berapa banyak orang hadir, melainkan seberapa padat pertukaran yang terjadi dan seberapa jauh ia menggeser cara pandang para pesertanya.

Tanpa standar semacam ini, kemegahan hanya menjadi pembenaran bagi kemalasan intelektual yang dilembagakan.

Ruang Aceh Hari Ini

Dengan orientasi substansi tersebut, event perlu diarahkan ke ruang-ruang strategis yang selama ini jarang disentuh pendekatan kuratorial: kantor pemerintahan, lembaga swasta, sekolah, kampus, hingga institusi profesional lainnya. Di ruang-ruang yang bersifat terbatas atau tertutup inilah percakapan strategis dapat berlangsung lebih fokus dan berdampak, karena langsung bersinggungan dengan praktik kerja, pengambilan keputusan, dan pembentukan kebijakan.

Baca Juga:  Nyanyian 3.400 Tahun yang Masih Bisa Mengajarkan Aceh

Publik tetap perlu dihadirkan, tetapi secara terkurasi. Melalui dokumentasi yang serius, diskusi lanjutan, atau partisipasi terbatas, pengetahuan yang dihasilkan tidak berhenti sebagai konsumsi internal, melainkan mengalir kembali ke ruang publik dalam bentuk wacana, rujukan kebijakan, atau praktik baru. Dengan cara ini, eksklusivitas bukan menjadi penghalang, melainkan mekanisme pendalaman.

Di Aceh hari ini, ukuran keberhasilan event seharusnya tidak lagi ditentukan oleh kemegahan panggung, deretan tamu kehormatan, atau kepadatan audiens, melainkan oleh standar berpikir dan praktik institusional yang ia tinggalkan—termasuk sejauh mana generasi muda dilibatkan sebagai pencatat, peneliti, atau produsen pengetahuan, bukan sekadar penonton yang dikondisikan untuk kagum.

Di ruang-ruang Aceh—dari kantor pemerintah hingga kampus dan simpul-simpul urban—event semestinya bekerja seperti meusyawarah: tidak sekadar ramai, tetapi meninggalkan jejak keputusan, tanggung jawab, dan arah yang bisa dipegang bersama.[]

Tags: acehBudayaEventIndonesiaSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan
SENI

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

by Anna Rizatil
April 18, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

by Anna Rizatil
April 16, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

by Anna Rizatil
April 11, 2026
Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan
SENI

Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan

by SAGOE TV
April 4, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Skate Park Stage: Praktik yang Tidak Lagi Hilang, Melainkan Bekerja

by SAGOE TV
March 30, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

April 16, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

April 18, 2026
UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

UIN Ar-Raniry Peringkat 1 Nasional Scimago 2026, Lampaui UI dan UGM di Bidang Riset

April 20, 2026
MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

MagangHub Kemnaker Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku

April 19, 2026
Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

Imeum Mukim Tungkop Peusijuek 48 Calon Jamaah Haji

April 20, 2026
Prof Eka Srimulyani kuliah tamu di Seoul National University, Korea Selatan, membahas riset generasi muda Muslim dan pengaruh budaya K-Pop.

Prof Eka Srimulyani Kuliah Tamu di Seoul National University, Bahas Generasi Muda Muslim dan K-Pop

April 18, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

April 17, 2026
Pemain Persiraja Banda Aceh

Persiraja vs Garudayaksa FC Malam Ini: Dek Gam Tekankan Harga Diri, Pemain Wajib Fight

April 19, 2026
6 Universitas Sepakat Kembangkan Riset Konservasi Gajah Sumatra di Lansekap Peusangan

6 Universitas Sepakat Kembangkan Riset Konservasi Gajah Sumatra di Lansekap Peusangan

April 17, 2026

EDITOR'S PICK

Tokoh Banda Aceh Tolak Rotasi Jabatan Eselon II oleh Pj Wali Kota

Tokoh Banda Aceh Tolak Rotasi Jabatan Eselon II oleh Pj Wali Kota

February 21, 2025
sulaiman tripa

Dunia Semakin Miskin Keteladanan

March 15, 2025
Perpustakaan Gampong di Aceh Besar Capai 120 Unit Hingga 2024

Perpustakaan Gampong di Aceh Besar Capai 120 Unit Hingga 2024

February 8, 2025
Wakil Bupati Syukri A Jalil Hadiri Konfercab ke-13 PCNU Aceh Besar

Wakil Bupati Syukri A Jalil Hadiri Konfercab ke-13 PCNU Aceh Besar

February 15, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.