• Tentang Kami
Friday, June 5, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Event, Seni, dan Masalah Standar

SAGOE TV by SAGOE TV
February 1, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Event, Seni, dan Masalah Standar

Ari J Palawi, Ph.D. Foto: dokumen pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi Kuratorial & Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Kemegahan yang tidak ditopang oleh standar berpikir hanyalah bentuk lain dari kemalasan intelektual yang dilembagakan.

Aceh hari ini tidak kekurangan event. Kalender kegiatan kian padat, panggung berdiri silih berganti, baliho dan layar digital menyala hampir tanpa jeda. Di permukaan, semua tampak bergerak dan hidup. Namun di balik keramaian itu, ada pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara serius: apa yang sebenarnya kita bangun melalui event-event tersebut? Apakah ia memperkaya cara kita berpikir dan belajar sebagai masyarakat, atau sekadar menyibukkan kita dengan rangkaian acara yang cepat berlalu dan mudah dilupakan?

BACA JUGA

Dari Meja yang Sama

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Pengalaman panjang bergiat dalam berbagai bentuk kerja kuratorial—di ruang seni, forum publik, hingga pertemuan lintas sektor—menunjukkan bahwa event bukan sekadar soal program dan jadwal. Ia adalah cara sebuah masyarakat berbicara kepada dirinya sendiri tentang arah yang hendak dituju. Karena itu, setiap event pada dasarnya adalah pilihan nilai. Ia selalu membawa pesan tentang apa yang dianggap penting, siapa yang diberi ruang, dan standar apa yang digunakan untuk menilai kemajuan.

Event sebagai Instrumen Standar

Di banyak tempat, event telah lama dipahami sebagai instrumen kepemimpinan publik. Melalui event, negara dan institusi membentuk orientasi kolektif, menguji relasi sosial, serta memperkenalkan cara pandang baru. Dalam konteks Aceh—dengan sejarah konflik, pengalaman damai yang terus dirawat, serta tantangan ekologis dan sosial yang berulang—fungsi ini menjadi semakin krusial. Tidak ada event yang netral. Setiap panggung adalah pernyataan nilai, disadari atau tidak.

Sayangnya, standar keberhasilan event kita masih terlalu rendah. Selama acara terlaksana, aman, dan terdokumentasi, ia dianggap selesai. Pendekatan ini mungkin cukup secara administratif, tetapi miskin secara substansi. Event berhenti sebagai rutinitas tahunan, bukan sebagai proses pembelajaran sosial yang berkelanjutan. Ketika ukuran keberhasilan hanya bersifat teknis, yang tumbuh bukan kedewasaan kolektif, melainkan kelelahan publik.

Dalam situasi seperti ini, event mudah berubah menjadi formalitas yang dipoles. Tampak megah, tetapi tidak meninggalkan pengaruh berarti dalam cara berpikir institusi maupun masyarakat yang terlibat.

Kuratorial, Kuasa, dan Cerita yang Dibangun

Di sinilah persoalan kuratorial menjadi kunci. Kuratorial kerap dipersempit sebagai urusan artistik atau teknis pemilihan konten, padahal sesungguhnya ia menyangkut kepemimpinan gagasan: siapa yang merumuskan pertanyaan, menentukan tema, dan menyusun pengalaman publik. Kuratorial adalah soal tata kuasa makna—bagaimana sebuah cerita kolektif dibangun dan diarahkan.

Dalam praktik sehari-hari, orientasi cerita sebuah event sering kali lebih banyak ditentukan oleh logika birokrasi, sponsor, atau vendor penyelenggara. Akibatnya, substansi publik dikelola secara aman dan seragam. Event menjadi rapi secara visual, tetapi miskin keberanian intelektual. Tema berganti, dekorasi diperindah, dan nama-nama pembicara silih berganti, tetapi cara berpikir tidak bergerak.

Tanpa kepemimpinan gagasan yang jelas, event mudah terjebak dalam pengulangan simbol. Ia tampak sibuk, tetapi tidak maju. Ramai, tetapi tidak menajamkan orientasi bersama.

Seni yang Direduksi dan Etika yang Terpinggirkan

Realitas lain yang perlu diakui secara jujur adalah cara kita memperlakukan seni. Terlalu sering, kesenian ditempatkan sebagai selingan—untuk memeriahkan acara, menyambut pejabat, atau mengukuhkan simbol kekuasaan. Seni hadir, tetapi dijinakkan. Ia diharapkan indah, aman, dan tidak mengganggu kenyamanan.

Bersamaan dengan itu, kesenian didorong masuk ke dalam logika komoditas. Ia dinilai dari seberapa mudah dipasarkan, seberapa cepat diproduksi, dan seberapa efektif melayani kebutuhan acara. Dalam ekosistem seperti ini, banyak pelaku seni berada pada posisi sulit: menjaga integritas substansi atau menyesuaikan diri agar tetap mendapat ruang. Tidak sedikit yang memilih jalan sunyi, karena sikap kritis sering berujung pada tersingkirnya mereka dari lingkaran event resmi.

Masalah ini bukan soal individu, melainkan soal struktur produksi dan pendanaan yang belum memberi tempat layak bagi seni sebagai ruang refleksi, etika publik, dan pengetahuan sosial. Ketika seni direduksi menjadi hiburan semata, yang hilang bukan hanya kedalaman budaya, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk bercermin dan belajar dari dirinya sendiri.

Dari Spektakel ke Substansi

Jika event dimaksudkan sebagai alat untuk mengarahkan orientasi kolektif, maka ukurannya tidak boleh berhenti pada hari pelaksanaan. Yang perlu diuji adalah apa yang tersisa setelah panggung dibongkar: percakapan apa yang berlanjut, relasi apa yang terbentuk, dan pengetahuan apa yang benar-benar diproduksi. Tanpa itu, event hanya menjadi rutinitas visual—ramai, terdokumentasi, lalu hilang tanpa jejak dalam cara berpikir publik.

Event perlu dipahami sebagai rangkaian proses yang utuh: pembacaan konteks sebelum acara, pertukaran gagasan selama berlangsung, dan tindak lanjut yang terukur setelahnya. Logika ini menuntut pergeseran cara kerja—dari sekadar menyelenggarakan acara menuju mengelola pengetahuan dan relasi. Tanpa fase pasca-event yang jelas, energi publik hanya menguap menjadi ingatan sesaat, bukan kapasitas sosial yang bertumbuh.

Dalam kerangka ini, spektakel tidak selalu identik dengan keramaian massal. Ia dapat dimaknai sebagai intensitas: pertemuan yang megah dalam gagasan, ketat dalam standar, dan eksklusif dalam kedalaman. Elitis di sini bukan soal akses sosial, melainkan disiplin berpikir dan keberanian intelektual. Yang diuji bukan berapa banyak orang hadir, melainkan seberapa padat pertukaran yang terjadi dan seberapa jauh ia menggeser cara pandang para pesertanya.

Tanpa standar semacam ini, kemegahan hanya menjadi pembenaran bagi kemalasan intelektual yang dilembagakan.

Ruang Aceh Hari Ini

Dengan orientasi substansi tersebut, event perlu diarahkan ke ruang-ruang strategis yang selama ini jarang disentuh pendekatan kuratorial: kantor pemerintahan, lembaga swasta, sekolah, kampus, hingga institusi profesional lainnya. Di ruang-ruang yang bersifat terbatas atau tertutup inilah percakapan strategis dapat berlangsung lebih fokus dan berdampak, karena langsung bersinggungan dengan praktik kerja, pengambilan keputusan, dan pembentukan kebijakan.

Publik tetap perlu dihadirkan, tetapi secara terkurasi. Melalui dokumentasi yang serius, diskusi lanjutan, atau partisipasi terbatas, pengetahuan yang dihasilkan tidak berhenti sebagai konsumsi internal, melainkan mengalir kembali ke ruang publik dalam bentuk wacana, rujukan kebijakan, atau praktik baru. Dengan cara ini, eksklusivitas bukan menjadi penghalang, melainkan mekanisme pendalaman.

Di Aceh hari ini, ukuran keberhasilan event seharusnya tidak lagi ditentukan oleh kemegahan panggung, deretan tamu kehormatan, atau kepadatan audiens, melainkan oleh standar berpikir dan praktik institusional yang ia tinggalkan—termasuk sejauh mana generasi muda dilibatkan sebagai pencatat, peneliti, atau produsen pengetahuan, bukan sekadar penonton yang dikondisikan untuk kagum.

Di ruang-ruang Aceh—dari kantor pemerintah hingga kampus dan simpul-simpul urban—event semestinya bekerja seperti meusyawarah: tidak sekadar ramai, tetapi meninggalkan jejak keputusan, tanggung jawab, dan arah yang bisa dipegang bersama.[]

Tags: acehBudayaEventIndonesiaSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Dari Meja yang Sama
SENI

Dari Meja yang Sama

by SAGOE TV
June 3, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu
SENI

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

by SAGOE TV
May 25, 2026
Tribute to Nyawöung Penghormatan untuk Legenda Musik Aceh Setelah 26 Tahun
SENI

Tribute to Nyawöung: Penghormatan untuk Legenda Musik Aceh Setelah 26 Tahun

by SAGOE TV
May 21, 2026
Apakah Seni Harus Dibisniskan? Dari Inkubator Seni USK, Kampus Mulai Membaca Kreativitas Secara Lebih Serius
SENI

Apakah Seni Harus Dibisniskan? Dari Inkubator Seni USK, Kampus Mulai Membaca Kreativitas Secara Lebih Serius

by Anna Rizatil
May 21, 2026
Menggunting dalam Lipatan
SENI

Menggunting dalam Lipatan

by Anna Rizatil
May 16, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 3, 2026
IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

June 4, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

June 3, 2026
Dari Meja yang Sama

Dari Meja yang Sama

June 3, 2026
Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

September 12, 2025
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

May 25, 2026
12.648 Peserta UTBK SNBT 2026 Ikuti Ujian di USK, Rektor Ingatkan Jangan Salah Lokasi

3.886 Peserta Lulus SNBT 2026 di USK, Ini Daftar Prodi Paling Diminati

May 26, 2026

EDITOR'S PICK

Begini Kondisi Anak-Anak Aceh di Tengah Bencana: Cerita dari Lapangan

Begini Kondisi Anak-Anak Aceh di Tengah Bencana: Cerita dari Lapangan

December 27, 2025
Piala Presiden 2025, Rahmad Darmawan Pimpin Tim Liga Indonesia All Star

Piala Presiden 2025, Rahmad Darmawan Pimpin Tim Liga Indonesia All Star

June 30, 2025
Logo Persiraja Banda Aceh

Persiraja Dukung Penerapan VAR di Liga 2 2025/26

May 14, 2025
Pandai Merasa Bukan Merasa Pandai

Hukum dalam Permainan Tata Bahasa

March 20, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.