• Tentang Kami
Friday, June 5, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Santri Dulu dan Santri Sekarang

Risnawati binti Ridwan by Risnawati binti Ridwan
September 2, 2022
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Teenage Boy and Girl Standing Near Windows Khoirur El-Roziqin

Teenage Boy and Girl Standing Near Windows Foto Oleh: Khoirur El-Roziqin

Share on FacebookShare on Twitter

Si bungsu saya bertanya, “Ma, apa bedanya sekolah mama pondok dulu dengan sekolah abang sekarang?”. Saya sempat terdiam dengan pertanyaannya. Pertanyaan itu muncul saat kami sedang mengunjungi abangnya di pondok pesantren. Setelah sekian lama ada larangan mudif atau kunjungan wali santri, sekarang diperbolehkan dengan tetap menerapkan prokes secara ketat.

Saya mantan santri tahun 90an awal. Walaupun hanya sekolah di pondok selama tiga tahun pada level tsanawiyah, tapi saya telah merasakan bagaimana menjadi anak santri. Perjalanan dari rumah yang harus ditempuh selama 12 jam saya alami bersama teman-teman.

BACA JUGA

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

Orang tua saya hanya berkunjung saat mengantar pertama dan menjemput pulang. Selebihnya tidak dikunjungi karena jarak yang jauh dan adik-adik saya yang masih kecil. Tinggal di asrama, berteman dengan banyak orang yang mempunyai latar belakang yang berbeda, mengikuti peraturan dan pendisiplinan yang ketat dibandingkan dengan di rumah, dan yang paling berkesan adalah belajar memutuskan segala sesuatu secara mandiri.

Memutuskan bersekolah di pondok pada saat itu bukanlah perkara yang mudah bagi siapa saja, baik bagi si anak atau orang tuanya. Saat itu tidak banyak anak-anak yang bersekolah di pondok dan tidak banyak sekolah pondok yang tersedia. Saya mengetahui bahwa pada awalnya orang tua saya keberatan dengan keinginan saya tersebut, tetapi almarhum kakek saya sangat mendukung sehingga orang tua saya menyetujui untuk memenuhi keinginan saya bersekolah yang jauh dari rumah.

Namun berbeda dengan masa sekarang. Jumlah sekolah pondok yang tersebar di semua wilayah memudahkan untuk memenuhi keinginan anak-anak yang memilih bersekolah di pondok dan juga membantu orang tua dalam memberikan alternatif pendidikan agama kepada anak-anaknya.

Walaupun demikian, ada beberapa perbedaan antara pondok dulu dan sekarang, sehingga menimbulkan juga perbedaan santri dulu dan santri sekarang. Pertama, keinginan anak dulu dan sekarang. Dulu anak-anak yang bersekolah di pondok baik itu pondok tradisional atau modern merupakan keinginan anak-anak sendiri. Orang tua hanya memberi dukungan saja.
Sehingga jika orang tua tidak berkunjung dengan berbagai alasan maka tidak menjadi persoalan bagi si anak.

Berbeda rasanya dengan anak-anak sekarang. Anak saya saja yang sudah memasuki tahun ketiganya di pondok jika ada kesempatan berkunjung tetap menanyakan kepastian kapan kami orang tuanya berkunjung lagi. Dimana selama masa pandemi ini, peraturan di pondok melarang kunjungan terhadap anak-anak di pondok.

Pola pengasuhan dan penggemblengan yang diberikan di pondok bertujuan untuk memandirikan para santri, baik itu secara mental maupun intelektual. Kondisi pondok dulu yang masih terbatas, di tambah lagi dengan kurangnya fasilitas infrastruktur dari pondok membuat santri-santri belajar dengan fasilitas terbatas dan menjadikan mereka mampu serta kreatif dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan.

Sebagai contoh, dulu di pondok saya dan teman-teman harus mencuci baju dan menyetrika sendiri. Pada masa itu jenis setrikanya masih memakai arang. Kondisi tersebut tentunya tidak dipelajari di rumah. Walaupun di rumah orang tua masih menggunakan setrika arang, dipastikan sang ibu tidak mengijinkan anak-anaknya memakai peralatan yang beresiko tinggi seperti setrika arang tersebut.

Maka jika dibandingkan dengan anak-anak sekarang. Banyak pondok yang telah menyediakan jasa laundry bagi santri-santrinya, dengan alasan tidak cukup waktu untuk belajar jika harus melakukan pekerjaan lifeskill seperti mencuci dan menyetrika. Padahal belajar tentang ilmu pengetahuan sama pentingnya dengan belajar lifeskill, karena manfaat akan dirasakan saat santri-santri ini telah hidup dalam masyarakat sebenarnya.

Kedua, sistem lembaga pendidikan yang berbeda. Pondok pesantren dulu lebih memprioritaskan pendidikan ilmu agama. Walaupun ada beberapa pondok yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Sistem sekolah yang diterapkan pada pondok dulu berbeda dengan sistem sekolah di pondok sekarang. Jika dulu setiap perpindahan sekolah dan kenaikan tingkat, maka santri perlu mengikuti ujian persamaan agar diakui pendidikan yang didapat sebelumnya.

Selain itu status lembaga pendidikan tidak atau belum diakui untuk dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya. Pengalaman saya saat itu harus mengikuti ujian nasional di sekolah umum yang mengadakan ujian tersebut. Karena di pondok tempat saya belajar tidak dapat menyelenggarakan ujian nasional. Tetapi pondok pada masa sekarang telah mendapatkan ijin pelaksanaan pendidikan sesuai yang ditentukan oleh pemerintah pusat.

Ketiga, santri alumni pondok telah diterima dalam dunia bisnis, militer dan internasional. Jika dulu, santri tamatan dari pondok hanya diterima sebagai guru atau ustadz yang mengajar pengajian di mesjid-mesjid kampung. Tetapi sekarang, santri sudah bergerak di segala lini kehidupan. Tidak sedikit santri yang berkecimpung di dunia enterpreneur, ada juga yang masuk dalam dunia politik dan militer, bahkan banyak juga yang melakukan dakwah dengan memanfaatkan teknologi digital sesuai dengan zaman 4.0 sekarang ini.

Jika dulu, pendidikan saintis dan agama dipisahkan di dalam lembaga pendidikan, namun sekarang agama dan saintis merupakan satu kesatuan, dimana agama yang diyakini memunculkan ilmu yang juga dapat dianalisis secara ilmiah. Pondok dan santri adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sehingga keduanya saling mengikat sebagai tujuan dari pribadi muslim.

Pondok adalah salah satu pintu untuk mencetak santri yang bermartabat, berilmu, berintegritas dan mempunyai keyakinan tentang ketuhanan. Bukan sekedar bersekolah tanpa tujuan kebermanfaatan bagi umat manusia. Karena salah satu keberhasilan pondok adalah melahirkan santri yang menyadari bahwa mentransfer ilmu itu bukan pekerjaan mudah namun dibutuhkan ilmu dan mekanismte tertentu. Dan pada akhirnya, harapan menjadi santri yang mumpuni adalah cita-cita seluruh guru-guru di pondok. (RbR).

Tags: imtaqpondoksantri
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Risnawati binti Ridwan

Risnawati binti Ridwan

Penulis adalah Alumnus STKS Bandung dan Penyuluh Sosial Ahli Muda di Dinas Sosial Kota Banda Aceh

Related Posts

Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh Fakta yang Jarang Diketahui!
Artikel

Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh: Fakta yang Jarang Diketahui!

by SAGOE TV
July 3, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 3, 2026
IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

June 4, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

June 3, 2026
Dari Meja yang Sama

Dari Meja yang Sama

June 3, 2026
Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

September 12, 2025
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

May 25, 2026
12.648 Peserta UTBK SNBT 2026 Ikuti Ujian di USK, Rektor Ingatkan Jangan Salah Lokasi

3.886 Peserta Lulus SNBT 2026 di USK, Ini Daftar Prodi Paling Diminati

May 26, 2026

EDITOR'S PICK

Mendikdasmen di Munas IKAPI PR Siswa Harus Mengajak Membaca dan Menulis, Bukan Sekadar Mengerjakan Soal

Mendikdasmen di Munas IKAPI: PR Siswa Harus Mengajak Membaca dan Menulis, Bukan Sekadar Mengerjakan Soal

November 21, 2025
Bandara Point A dan Pesawat PT PGE Diresmikan, Perkuat Sektor Migas Aceh

Bandara Point A dan Pesawat PT PGE Diresmikan, Perkuat Sektor Migas Aceh

June 27, 2025
Kepala BNPT RI Lantik Dr Wiratmadinata sebagai Ketua FKPT Aceh

Kepala BNPT RI Lantik Dr Wiratmadinata sebagai Ketua FKPT Aceh

April 23, 2025
Persiraja vs Barito Putera: Tiket Mulai Rp25 Ribu, Uji Coba Penting Jelang Championship 2025/26

Persiraja vs Barito Putera: Tiket Mulai Rp25 Ribu, Uji Coba Penting Jelang Championship 2025/26

August 12, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.