• Tentang Kami
Tuesday, June 16, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Sedekat Mungkin dengan Bahasa Kehidupan

SAGOE TV by SAGOE TV
March 20, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
A A
0
sulaiman tripa

Dr Sulaiman Tripa

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dr. Sulaiman Tripa.
Dosen Fakultas Hukum, USK.

Beberapa kali saya dilibatkan dalam pengkajian naskah akademik sekaligus menyusun draf rancangan peraturan daerah. Lebih banyak dilibatkan para senior saya. Sejumlah kecil mendapat kesempatan karena hubungan pribadi. Tapi posisi ini tidak penting. Saya cenderung untuk melihat luaran dan prosesnya. Biasanya, apakah melalui senior atau hubungan pribadi, permintaan saya tetap sama: saya mendapat kesempatan yang nyaman untuk melaksanakan kajian empiris perihal apa yang akan diatur.

Permintaan saya bukan perkara mudah. Saya juga kadang-kadang harus memahami realitas. Senior saya pernah mengingatkan bahwa untuk kajian naskah akademik, yang akan digunakan sebagai argumen dalam menentukan isi dari qanunnya, tidaklah murah. Saya sepakat dengan itu. Bukan soal berapa honor yang harus dibayar, melainkan pada kajian secara mendalam untuk mendapatkan realitas penting dalam pengaturan sebuah qanun.

BACA JUGA

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Saya kadang-kadang trenyuh dengan anggaran penyusunan basis argumen ini dikisaran belasan juta. Basis argumen yang menjadi bahan penting dalam menyusun normanya. Tapi itulah realitas. Tidak semua sumber daya manusia di daerah memahami proses kajian ini. Mereka mereka orang yang menyiapkan naskah akademik, akan duduk di belakang meja, lalu meraba-raba sambil merangkai naskah yang secara formal dibutuhkan.

Syarat formal adalah satu hal. Dalam menyusun qanun, apa yang secara formal akan menguatkan, termasuk dalam berkomunikasi struktur antara eksekutif dan legislatif, naskah akademik akan disiapkan. Sekali lagi, kadang-kadang berhenti pada formal. Apa yang ada dalam naskah akademik, kadang-kadang malah tidak ada hubungannya dengan isi draf qanun. Bagaimana bisa?

Saya pernah berpengalaman lain. Suatu kali ditugaskan kampus untuk membahas proses pembentukan qanun di daerah. Sesampai di sana, tidak seperti yang saya bayangkan. Dari kampus, saya membawa bahan terkait bagaimana melakukan kajian yang baik. Terutama untuk basis naskah akademik. Namun sesampai di sana, kami yang hadir langsung disodorkan draf rancangan qanun yang sudah jadi. Dalam waktu setengah hari, kami difasilitasi untuk menyusun naskah akademik hingga selesai. Ada-ada saja.

Ada dua catatan penting saya waktu itu. Pertama, soal urutan proses. Draf rancangan qanun seharusnya baru bisa disusun setelah naskah akademik ada. Bukan sebaliknya. Draf rancangan qanun yang tersedia, untuk menuntun bagaimana naskah akademik disiapkan. Kedua, soal waktu bagaimana naskah akademik disusun. Sebagai sebuah proses kajian, menyiapkan naskah akademik akan membutuhkan waktu untuk mendalami sekaligus memahami realitas.

Saya beranggapan dua sebab tidak mungkin diabai. Pertama, tentu soal sumber daya manusia bidang hukum yang konsisten, tidak tersedia di semua tempat. Guru saya sering mengingatkan soal sarjana yang ternyata tidak berdampak lebih jauh dengan kesarjanaannya. Kedua, soal ketersediaan anggaran, akibat dampak sumber daya manusia yang tidak memahami kebutuhan hukum daerah. Teks hukum dipahami sebagai teks yang bisa dituliskan oleh siapa saja.

Dua masalah dan dampak ini, saya kira juga ada peran kampus di dalamnya. Selama ini kita bisa mengkritik banyak pihak di luar kampus, walau mereka sebagai lulusan bidang hukum. Kampus penghasil sarjana hukum, kadang-kadang jarang dikritik. Kini saatnya kampus hukum juga diingatkan bahwa keadaan di luar tidak selalu seperti yang diharapkan. Salah siapa? Belum tentu salah sepenuhnya di luar sana. Bisa jadi kesalahan itu ada kontribusi dari kampus. Kini saatnya kampus mengevaluasi, untuk melihat diri, dan memahami apakah semuanya sudah berjalan dengan baik.

Jalan otokritik menjadi penting dalam melihat ke dalam. Kekuatan dalam akan berimbas bagi keadaan luar. Dalam bidang hukum. Jika ruang ini ditutup, semuanya akan merasakan kemunduran pada masanya. Keadaan ini butuh peran banyak pihak untuk bersama-sama ikut membangun dan saling menguatkan.

Suatu kali, dalam suatu diskusi tidak formal, seorang teman yang terdidik menanyakan mengapa harus ada naskah akademik dalam setiap produk peraturan perundang-undangan. Pertanyaan semacam ini, bagi orang terdidik, bagi saya seperti setengah bercanda. Orang terdidik pasti memahami apa yang dimaksudkan. Hanya saja mungkin secara teknis dalam dunia legislasi memiliki rumusnya tersendiri.

Teknis dalam dunia legislasi itu tidak mutlak hanya bisa dilakukan oleh orang hukum. Tidak semua orang hukum memahami hal semacam ini. Teknis ini sendiri sesungguhnya ada dua hal. Teknis formal dan teknis substansi. Teknis formal inilah yang memungkinkan orang-orang yang tidak pernah belajar hukum pun, bisa melakukannya. Dengan pendidikan tambahan bagaimana tahapan demi tahapan dalam pembentukan suatu produk perundang-undangan, dengan mudah bisa dimengerti. Namun untuk substansi, perlu bangunan ilmu hukum yang idealnya hanya dimengerti oleh orang hukum. Dalam dunia hukum sendiri ada spesifikasi yang membahas hal ini. Ilmu khusus mengenai bagaimana pembentukan produk perundang-undangan, memiliki satu bidang tersendiri di perguruan tinggi hukum.

Intinya naskah akademik itu istilah yang dipakai dalam undang-undang tentang pembentukan peraturan perundang-undangan. Dalam dunia sehari-hari, ia bisa diganti dengan istilah hasil kajian atau hasil penelitian, yang mendasari bahwa sesuatu yang ingin dibentuk itu memiliki alasan tertentu. Ia tidak lahir karena proses suka-suka, atau hanya karena ingin terlihat targetnya tercapai. Dengan demikian, ketika pelaksanaannya, dalam susunan tim tidak mungkin hanya berisi orang hukum saja. Seyogianya ada sejumlah orang yang terlibat dari berbagai ilmu yang terkait.

Sebuah penelitian yang lengkap harus dijawab oleh berbagai keahlian. Bahkan mengatur hal yang bagi sebagian orang dianggap hal sederhana sekalipun, bisa jadi bagi mereka yang menekuni masalah tersebut, ada kompleksitas di dalamnya. Itulah yang menjadi alasan mengapa membutuhkan mereka yang memahami ilmu lain?

Pada dasarnya, pembentukan peraturan perundang-undangan itu ingin menulis persoalan-persoalan kehidupan yang lingkupnya sangat luas. Penekun sosiologi hukum memiliki pertanyaan kritis umumnya terkait dengan kemampuan produk peraturan perundang-undangan mampu menampung konteks kehidupan yang luas melalui teks-teks yang sangat terbatas.

Setidaknya ada kesenjangan yang bisa diperpendek rentangnya. Naskah akademik itulah idealnya yang mencoba mendekati persoalan kehidupan sesungguhnya dengan upaya menjangkau sejauh mungkin masalah dan daya jangkaunya. Sejumlah masalah secara langsung atau tidak yang harus dijawab: Apa masalahnya, bagaimana menyelesaikan, dan mengapa bisa berpikir dengan pengaturan akan menyelesaikan masalah itu? Ada sejumlah pertanyaan lain terkait ilmu khusus, antara lain asas apa yang akan menaungi? Kepentingan filosofis yang bagaimana yang menjadi bingkai? Kehendak yuridis yang seperti apa yang diinginkan? Daya jangkau sosiologis apa yang ingin diselesaikan.

Bagi saya demikianlah kepentingannya. Semua produk harus digarap dengan mendekati apa yang disebut dengan bahasa kehidupan. Sulit mencapai posisi bahasa kehidupan ini. Namun dengan pendekatan yang baik, ia bisa memperpendek kesenjangan yang ada. Kesenjangan terbesar adalah antara teks yang terumus dengan kenyataan konteks yang ingin dirumus. Kalimat hanya sedikit saja rumusan teks yang mampu menangkap lalu-lintas konteks yang ada dalam kehidupan kita.[]

Tags: BahasaberkualitasbermanfaatKebijakankehidupanluaranPeraturan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia: Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

June 10, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 7, 2026
Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

June 15, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

June 13, 2026
Dari Meja yang Sama

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

June 13, 2026
Mungkin yang kurang bukan acara Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

June 10, 2026
Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU

Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU

June 9, 2026
Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

June 8, 2026
Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Meninggal Dunia, Dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman

Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Meninggal Dunia, Dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman

June 15, 2026

EDITOR'S PICK

Universitas Almuslim Resmi Kantongi Izin Buka Program Studi Kedokteran dan Profesi Dokter

Universitas Almuslim Resmi Kantongi Izin Buka Program Studi Kedokteran dan Profesi Dokter

May 19, 2025
Wali Nanggroe dan Disdik Aceh Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan Singapura

Wali Nanggroe dan Disdik Aceh Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan Singapura

March 2, 2025
Seni sebagai Fondasi Peradaban Mengapa Pendidikan Seni Sama Pentingnya dengan Kedokteran dan Teknik

Seni sebagai Fondasi Peradaban: Mengapa Pendidikan Seni Sama Pentingnya dengan Kedokteran dan Teknik

May 28, 2025
Sahlan Hanafiah

Layak dan Patutkah Ulama Berpolitik?

May 17, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.