PIDIE JAYA | SAGOE TV – Siswa korban terdampak banjir di Aceh belum sepenuhnya merasakan Proses Belajar Mengajar (PBM) secara normal. Lumpur sisa banjir masih bersarang di lingkungan sekolah, akibatnya mereka terpaksa menjalani ajaran baru semester genap dalam tenda darurat, Senin (5/1/2026).
Seperti dirasakan oleh siswa Sekolah Menegas Atas Neger (SMAN) 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay). Satu unit alat berat ekskavator masih berdiri tepat di depan pintu utama atau gerbang sekolah.
Lumpur sisa banjir masih terendap baik di jalanan akses menuju maupun dalam perkarangan sekolah, anak-anak dan guru harus berjalan hati-hati saling berpegangan demi melewati genangan air dan lumpur tersebut.
Kendati sekolah mereka belum bersih dari lumpur, para siswa tampak begitu semangat untuk memulai ajaran baru meski harus belajar dalam tenda darurat. Sebagian dari mereka ada yang berseragam lengkap dan juga pakaian biasa.
Salah seorang siswi kelas 11 SMAN 2 Meureudu, Amelia Fitri, mengaku sedih memulai ajaran baru kali ini, sebab sudah sebulan lebih pascabencana kondisi sekolahnya masih berlumpur.
“Sedih karena tidak bisa belajar seperti biasa kami. Lihat sekolah udah tertimbun lumpur,” katanya,
Amelia menginginkan lumpur di sekolahnya bisa dibersihkan segera agar mereka bisa menjalani aktivitas belajar seperti sediakala.
“Atau pun dibangun baru kalau tidak dibersihkan. Kami tidak ingin kami bodoh, kami ingin belajar agar pintar,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Sekolah SMAN 2 Pijay, M.Diah mengatakan, meski kondisi sekolahnya belum bersih dari lumpur namun pihaknya tetap memenuhi hak-hak siswa untuk belajar kendati belum semua anak-anak bisa hadir.
“Kami tetap menjalankan walaupun anak-anak belum semua bisa hadir. Mereka yang tidak mendapatkan informasi sudah kami minta kepada siswa yang hadir agar memberitahukan kepada temannya. Walaupun di tempat pengungsian tetapi sekolah sudah mulai,” katanya.
Menurut M.Diah, pembelajaran tetap harus dijalankan walaupun jumlah siswa tidak mencapai maksimal 35 orang per kelas seperti biasanya. Selain itu, dia meminta kepada pemerintah agar bisa mempercepat proses pembersihan lumpur.
“Kami mohon kepada pemerintah yang ada janganlah setiap hari kami jalan seperti ini (jalan berlumpur). Jadi sekitar seminggu atau 2 bulan enggak apa-apa, tetapi kalau setiap hari kewalahan juga kalau belajar seperti ini,” pungkasnya. []




















