Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry resmi meliburkan seluruh kegiatan perkuliahan mulai 1-6 Desember 2025 selama masa tanggap darurat banjir dan longsor yang melanda Aceh. Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Mujiburrahman, mendesak pemerintah pusat segera menetapkan status bencana nasional menyusul kerusakan masif dan jumlah korban yang terus bertambah di berbagai wilayah.
“Pemerintah harus segera menetapkan status darurat nasional. Kerusakan sangat parah dan sejumlah wilayah terisolasi,” ujar Mujiburrahman, Senin (1/12/2025).
Ia mengatakan indikator penetapan status bencana nasional sudah terpenuhi. “Dengan peningkatan status, penanganan akan jauh lebih maksimal karena dukungan personel, peralatan, dan anggaran bisa ditingkatkan.”
Berdasarkan data BNPB hingga Senin (1/12) pukul 17.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 604 jiwa dan 464 jiwa masih dinyatakan hilang.
Untuk Aceh sendiri, korban mencapai 156 jiwa meninggal dunia dan 181 jiwa masih hilang. Korban tersebar di Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya. Peningkatan jumlah korban hilang dipicu laporan tambahan dari masyarakat.
Jumlah pengungsi mencapai 479.300 jiwa di berbagai kabupaten/kota, dengan konsentrasi tertinggi di Kabupaten Aceh Utara sebanyak 107.305 jiwa.
Prof Mujiburrahman mengungkapkan hampir 2.000 mahasiswa UIN Ar-Raniry terdampak langsung banjir dan longsor yang terjadi sepekan terakhir.
Dalam pertemuan dengan pimpinan BTN Syariah dan Bank Syariah Nasional, ia menyebut kampus telah mengaktifkan posko darurat serta menyalurkan bantuan dasar untuk mahasiswa. “Sejak dua hari lalu kami sudah melaporkan kondisi ini kepada Menteri Agama. Posko tanggap darurat juga telah beroperasi di kampus,” katanya.
Mahasiswa terdampak berasal dari sedikitnya 18 kabupaten/kota, mulai dari Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Langsa, Lhokseumawe, Aceh Timur, Bireuen, hingga Pidie Jaya. Banyak dari mereka belum dapat berkomunikasi dengan keluarga akibat akses yang terputus.
Menurut Rektor, kondisi ekonomi mahasiswa menurun drastis karena kehabisan uang setelah terjebak di Banda Aceh selama masa bencana. “Kami mengajak sivitas akademika bergotong royong. Kemarin sudah tersalurkan bantuan Rp170 juta untuk mahasiswa terdampak,” ujarnya.
Bantuan diberikan dalam bentuk uang tunai Rp200 ribu per mahasiswa. Hingga kemarin, 1.081 mahasiswa telah diverifikasi sebagai penerima, dan jumlahnya terus bertambah.
Selain mahasiswa dari Aceh, beberapa mahasiswa asal Sumatera Utara dan Sumatera Barat juga ikut terdampak karena keluarga mereka berada di zona bencana.
Rektor menyebut bencana ini dapat memicu gelombang kemiskinan baru di Aceh. “Banyak rumah warga rusak parah. Sebagian besar dari mereka adalah orang tua mahasiswa kami.”
Kampus kini mempertimbangkan skema jangka panjang, termasuk pembebasan atau penanggungan biaya kuliah dan biaya tempat tinggal bagi mahasiswa terdampak.
Untuk menjaga kondisi psikologis mahasiswa, UIN Ar-Raniry memutuskan meliburkan kuliah selama lima hari; 1-6 Desember 2025. Namun perpustakaan tetap dibuka sebagai ruang belajar, pengisian daya gawai, dan akses internet.
“Secara psikis, banyak mahasiswa masih labil. Banyak yang menangis karena belum mengetahui kondisi keluarga,” kata Mujiburrahman.
UIN Ar-Raniry juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengantisipasi kebutuhan logistik mahasiswa setidaknya satu bulan ke depan.
Posko Ar-Raniry Peduli menjadi pusat pendataan mahasiswa terdampak. Hingga hari ini, 3.328 mahasiswa tercatat telah melapor. []





















