• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Reposisi dan Evaluasi Aceh di Dalam NKRI

SAGOE TV by SAGOE TV
December 6, 2025
in Opini
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Reposisi dan Evaluasi Aceh di Dalam NKRI

Adnan Daud. Foto: Arsip Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Adnan Daud

Dalam sejarah nusantara, Aceh memiliki posisi istimewa. Sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, Aceh sudah hadir sebagai entitas politik yang kuat dan berdaulat melalui Kesultanan Aceh Darussalam. Pada abad ke-16 hingga ke-17, Aceh merupakan salah satu kekuatan regional terbesar di Asia Tenggara, disegani karena kemajuan perdagangan internasional, kemampuan militer, serta peran pentingnya dalam jaringan intelektual Islam.

BACA JUGA

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Ketika Republik Indonesia lahir, Aceh mengambil pilihan strategis untuk bergabung dalam negara yang baru dibentuk. Dukungan Aceh pada masa awal kemerdekaan sangat besar, hingga wilayah ini dijuluki “daerah modal”, merujuk pada kontribusi politik, logistik, dan finansial Aceh terhadap konsolidasi republik muda yang bernama Indonesia. Dalam perspektif historis, banyak pihak menyebut bahwa tanpa dukungan Aceh, perjalanan awal negara ini mungkin tidak akan semulus itu.

Namun, perjalanan panjang Aceh dalam NKRI tidak selalu berjalan harmonis. Berbagai kajian akademik menunjukkan adanya periode ketegangan politik, konflik bersenjata, serta kesenjangan pembangunan yang cukup signifikan. Meskipun Aceh dikaruniai kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari minyak, gas, hasil hutan, hingga potensi laut, namun kesejahteraan masyarakatnya tidak selalu sebanding dengan kekayaan tersebut. Indikator sosial-ekonomi menunjukkan bahwa Aceh berkali-kali berada dalam kategori daerah tertinggal dan termiskin di Sumatera, baik dari sisi infrastruktur, pendidikan, maupun pertumbuhan ekonomi.

Fenomena banjir besar yang terus berulang dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi tanda serius mengenai kerusakan ekologis. Banyak laporan menunjukkan bahwa kawasan hutan Aceh mengalami degradasi yang signifikan akibat perambahan, pembalakan, dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali. Dampaknya bukan hanya pada hilangnya tutupan hutan, tetapi juga kerugian ekologis yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari banjir, longsor, hingga hilangnya mata pencaharian berbasis alam.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: ke mana sebenarnya kekayaan Aceh mengalir?
Pertanyaan ini bukan untuk menggugat keberadaan negara, melainkan untuk membuka ruang refleksi kritis mengenai tata kelola sumber daya, distribusi manfaat pembangunan, serta keadilan ekonomi dalam bingkai NKRI.

Dalam perspektif ilmu sosial, wajar ketika sebuah daerah dengan sejarah panjang kedaulatan dan sumber daya besar mempertanyakan kembali nilai manfaat kebersamaan dalam sebuah negara. Bukan dalam konteks memisahkan diri, tetapi dalam kerangka evaluasi: apakah hubungan pusat-daerah berjalan setara? Apakah pembangunan berpihak pada masyarakat lokal? Apakah eksploitasi sumber daya tercermin dalam kesejahteraan rakyat?

Bagi Aceh, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting. Banyak kalangan menilai bahwa Aceh memerlukan reposisi. Baik dalam konteks kewenangan politik, ekonomi, maupun pengelolaan sumber daya alam, agar tidak terus terjebak dalam pola eksploitasi dan ketertinggalan. Bila kolonialisme masa lalu dilakukan oleh bangsa asing, maka bentuk eksploitasi modern seringkali terjadi melalui mekanisme internal yang kurang berkeadilan.

Pada akhirnya, refleksi atas perjalanan Aceh dalam bingkai NKRI bukanlah ajakan untuk konflik, melainkan sebuah upaya ilmiah untuk meninjau ulang hubungan pusat-daerah yang lebih sehat dan saling menguntungkan, lebih adil, dan lebih menghargai sejarah serta martabat masyarakat Aceh sendiri. Baik secara historis dan realitas sekarang Aceh adalah bagian penting dari Indonesia, tetapi Aceh juga memiliki hak untuk meminta hubungan kebangsaan yang lebih setara, berkeadilan, dan memberi manfaat nyata bagi rakyatnya.

“Jangan menunggu hingga orang Aceh merasa terluka dan berdarah kembali, lalu pemerintah pusat baru menyadari dan memohon permintaan maaf dengan mengumbar air mata seperti yang pernah terjadi di masa lalu.” []

Penulis adalah Diaspora Aceh yang bermukim di Denmark, dan bisa raih melalui email namuda@live.com

Tags: acehNKRIopini
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh
Opini

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

by SAGOE TV
July 21, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas
Opini

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

by SAGOE TV
July 18, 2026
Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang
Opini

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

by SAGOE TV
July 17, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh
Opini

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

by SAGOE TV
July 16, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi
Opini

Tentang Media dan Perhatian Publik

by SAGOE TV
July 14, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026

EDITOR'S PICK

Kemenag Umumkan 4.155 Calon PPPK Paruh Waktu, Ini Tahapan dan Berkas yang Harus Disiapkan

Kemenag Umumkan 4.155 Calon PPPK Paruh Waktu, Ini Tahapan dan Berkas yang Harus Disiapkan

September 21, 2025
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae

OJK: Kebijakan Perbankan Syariah di Aceh Berisiko Merugikan Secara Bisnis

March 12, 2025
PB PON Wilayah Aceh Gelar Rapat Persiapan Kepulangan Atlet PON XXI 

PB PON Wilayah Aceh Gelar Rapat Persiapan Kepulangan Atlet PON XXI 

February 8, 2026
Aceh Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional, Kak Na Soroti Peran Arsitek Pascabencana

Aceh Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional, Kak Na Soroti Peran Arsitek Pascabencana

April 18, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.