Oleh: Satia Zen, PhD
Alumnus Universitas Tampere, Finlandia, dan Direktur Pendidikan Yayasan Sukma.
Siang itu waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 ketika kami sampai di lokasi MIN 05 Pidie Jaya yang terletak di daerah Meurah Dua. Di lokasi tersebut hanya ada sisa pagar bagian depan sekolah yang ditulis: ”disini titik lokasi MIN 05 Pidie Jaya yang amblas ke sungai.” Namun sekolah itu sudah tidak ada lagi wujudnya. Bersama dengan 12 rumah, dua balai pengajian dan polindes, gedung MIN 05 Pidie Jaya dibawa air banjir bandang yang menyapu daerah aliran Sungai Meureudu pada akhir November 2025 lalu.
Tidak lama kemudian, ada dua orang anak lelaki yang menaiki sepeda hendak melewati kami. Teringat dengan bungkusan snack ringan yang ada di mobil, kedua anak tersebut kami berhentikan. ”Sebentar dek, ini ada kue sedikit.” Keduanya menghentikan sepeda dan menerima bungkusan snack dengan senang. Lalu kami menanyakan, ”Dek, disini dulu ada sekolah ya? Adek sekolah disini?”. ”Iya bu, disini dulu ada sekolah kami, sudah hanyut, sekarang tinggal kenangan.” Setelah menanyakan dimana mereka mengungsi, mereka pun melanjutkan perjalanan.
Tiga minggu paska banjir, situasi pengungsi di Aceh masih sangat memprihatinkan, terutama kondisi anak-anak. Di tempat pengungsian, anak-anak terlihat duduk sendiri atau berkelompok. Ada yang bermain air banjir, ada yang bermain lumpur dan ada yang bermain di tumpukan baju-baju bekas yang dikirimkan namun ternyata tidak layak pakai. Jika ada relawan datang membawa bantuan makanan, mereka akan ikut mengerubung. Tidak jarang, pembagian bungkusan dari mobil yang berjalan pelan membuat anak-anak berlari-lari kecil untuk mendapatkannya.
Dalam situasi pasca bencana, fokus penanganan sering kali berkutat pada keselamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, air, dan pakaian; dan hal ini memang wajar. Namun ketika orang dewasa sibuk untuk mempertahankan hidup dalam kondisi darurat, kebutuhan anak-anak untuk bermain dan belajar terkadang terabaikan. Terlebih jika infrastruktur pendidikan dan sosial yang biasanya hadir memenuhi kebutuhan tersebut ikut terdampak dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Padahal kebutuhan khas anak, seperti bermain dan belajar, tidak berhenti ketika bencana datang. Justru melalui kegiatan permainan sederhana anak-anak yang terdampak bencana dapat mulai merasakan situasi normal dan mendorong pemulihan mereka. Bermain membantu anak melakukan pengaturan emosi dan berinteraksi sosial dengan positif. Kegiatan ini juga dapat membantu anak mengatasi tekanan karena mengungsi dan kehilangan tempat tinggal mereka. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, dampak jangka panjang yang lebih serius dapat terjadi.
Saya khawatir yang hanyut bersama banjir bukan hanya bangunan sekolah. Jangan-jangan yang juga ikut hanyut dibawa air adalah hak bermain dan hak belajar anak karena ketiadaan ruang hidup anak yang seharusnya identik dengan rasa aman. Sehingga dengan hanyutnya sekolah, rumah dan fasilitas publik, hanyut pula harapan anak-anak untuk kehidupan yang lebih baik.
Ruang aman untuk anak pasca bencana
Dalam kondisi darurat seperti ini, yang paling mungkin dilakukan adalah merancang sebuah Ruang Aman (safe space) bagi anak. Ruang aman disini bukan hanya sekedar area fisik, tapi juga waktu dan kegiatan yang dipandu oleh orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan anak-anak. Secara fisik, kegiatan ini dilakukan di area yang aman dari bencana, mudah diakses dan dapat dilihat oleh orang tua. Namun, rasa aman juga didapatkan dari relasi yang menghormati hak-hak anak serta interaksi sosial yang positif. Kegiatan yang rutin dan terstruktur di ruang aman juga membantu anak memiliki stabilitas dalam kondisi yang serba tidak pasti di pengungsian.
Sementara menunggu pemulihan infrastruktur pendidikan, ruang aman dapat berfungsi sebagai ruang belajar. Kegiatan belajar sederhana dapat mulai dilakukan setelah rasa aman dapat dirasakan oleh anak-anak. Sekolah darurat adalah salah satu alternatif lanjutan dari ruang aman untuk pendidikan darurat. Artinya ruang aman yang juga berfungsi menjadi ruang belajar perlu menjadi bagian dari respon darurat pasca bencana.
Menurut UNICEF, idealnya dalam waktu 6 – 8 minggu pasca bencana, pendidikan darurat sudah dapat dilaksanakan di daerah terdampak agar hak belajar anak tidak terputus. Dalam kurikulum darurat yang dikeluarkan oleh Kemendikdasmen disarankan kegiatan belajar yang fokus pada kompetensi esensial seperti numerasi dan literasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri, dan dukungan psikolosial.
Dalam implementasi Sekolah Darurat, relawan pendidikan dapat melakukan kegiatan belajar yang mengedepankan inklusivitas, fleksibilitas, kesetaraan dan relevansi dengan konteks lokal. Partisipasi dan keterlibatan komunitas menjadi penting. Orang tua dan pendidik dari komunitas perlu dijaring melalui diskusi informal dan partisipasi langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan kegiatan di sekolah darurat. Penglibatan ini dapat membantu komunitas terdampak untuk merasa berdaya Kembali. Isu pendidikan dan kesejahteraan anak memang menjadi isu bersama yang muncul pada masa pemulihan dan menumbuhkan harapan akan masa depan.
Hanyutnya sekolah bukan hanya tentang hilangnya bangunan fisik, tapi juga tentang rapuhnya pemenuhan hak anak di tengah bencana yang memiliki dampak jangka panjang. Namun dibalik kehancuran ini, kita masih punya kesempatan untuk membangun kembali—bukan hanya gedung sekolah tapi juga ruang aman yang memberi anak tempat untuk tumbuh, belajar dan bermimpi. Untuk itu, pemulihan hak anak untuk belajar dan bermain perlu dilakukan sesegera mungkin. Melalui pembuatan Ruang Aman yang inklusif, partisipatif dan setara, pemenuhan hak-hak tersebut dapat segera diakukan. Semoga hanyutnya bangunan sekolah secara fisik pasca banjir di Aceh, tidak menggadaikan masa depan anak-anak di daerah tersebut. []




















