• Tentang Kami
Friday, September 4, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

H-1: Kampus, Keputusan, dan Percakapan yang Perlu Dijaga

SAGOE TV by SAGOE TV
February 1, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
H-1: Kampus, Keputusan, dan Percakapan yang Perlu Dijaga

Ari J. Palawi. Foto: for sagoetv

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari Palawi, S.Sn., M.A., Ph.D.
Akademisi seni Universitas Syiah Kuala.

Sehari menjelang pemilihan rektor USK 2026–2031, kampus Darussalam berada dalam suasana yang khas. Ada kesibukan, ada ketegangan halus, ada percakapan yang pelan-pelan naik ke permukaan. Di layar, semuanya tampak tertib. Jadwal berjalan. Forum berlangsung. Visi dan misi disampaikan. Bahkan, prosesnya bisa disaksikan bersama melalui streaming.

Pada titik ini, mungkin yang paling sehat adalah menarik napas sejenak. Pemilihan rektor di PTN-BH sering dipahami sebagai simbol otonomi kampus. Negara sudah menyerahkan kewenangan. Regulasi tersedia. Mekanisme sudah lama berjalan. Secara hukum, proses ini sah dan nyaris tak menyisakan perdebatan. Dan itu penting untuk diakui sejak awal. Legalitas adalah fondasi yang membuat institusi berdiri.

BACA JUGA

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

Namun kampus bukan hanya bangunan hukum. Ia juga ruang hidup. Ruang tempat kepercayaan tumbuh, nalar diuji, dan rasa memiliki dipelihara. Karena itu, selain bertanya “apakah ini sah?”, wajar jika warga kampus juga bertanya, “apakah ini terasa sehat?”

Pertanyaan kedua ini tidak selalu muncul dalam bentuk protes. Kadang ia hadir sebagai obrolan santai di lorong, diskusi kecil di grup, atau kegelisahan yang sulit dirumuskan. Bukan karena sivitas ingin ikut menentukan hasil, tetapi karena mereka ingin memahami proses. Ingin tahu bagaimana keputusan penting itu dibentuk.

Di banyak kampus PTN-BH, termasuk USK, titik perhatian sering tertuju pada tahap asesmen calon rektor. Tahap ini disebut objektif, profesional, dan berbasis indikator. Namun bagi sebagian besar warga kampus, ruang ini terasa jauh. Instrumen penilaian jarang dibicarakan secara terbuka. Logika pembobotan tak selalu dijelaskan. Hasil hadir lebih cepat daripada cerita tentang bagaimana ia sampai ke sana.
Padahal, dalam keseharian akademik, kita diajarkan bahwa proses sama pentingnya dengan hasil. Metodologi riset dibuka agar bisa diuji. Argumen dijelaskan agar bisa diperdebatkan. Ketika prinsip ini tak sepenuhnya hadir dalam proses pemilihan pemimpin, wajar jika muncul jarak emosional. Keheningan bukan berarti setuju; sering kali ia hanya tanda belum mengerti.

Di sisi lain, kampus juga sedang bergulat dengan persoalan yang lebih luas. Soal kompetensi, misalnya. Kita hidup di zaman ketika gelar akademik semakin umum, tetapi rasa puas terhadap kualitas lulusan justru sering terdengar menurun. Banyak yang lulus, banyak yang pintar, tetapi tidak selalu banyak yang benar-benar siap berkontribusi dengan keahliannya.

Universitas pun berada di persimpangan. Di satu sisi, ia dituntut memenuhi indikator: akreditasi, peringkat, publikasi. Di sisi lain, ia diharapkan tetap menjadi ruang berpikir yang jujur dan relevan. Ketegangan ini nyata, dan tidak selalu mudah diselesaikan. Namun jika kampus terlalu sibuk mengejar angka, ada risiko makna tertinggal di belakang.

Kehadiran kecerdasan buatan memperjelas persoalan ini. AI mampu mengerjakan banyak hal yang dulu dianggap bukti belajar. Ini seharusnya bukan ancaman, melainkan cermin. Ia memaksa kita bertanya ulang: apa sebenarnya yang ingin kita ukur dari pendidikan? Jika yang dinilai hanya jawaban akhir, maka mesin akan selalu lebih cepat. Tetapi jika yang dihargai adalah proses berpikir, kejujuran intelektual, dan kemampuan memahami konteks, kampus masih punya peran yang tak tergantikan.

Dalam konteks seperti ini, kepemimpinan universitas menjadi sangat penting. Bukan sekadar soal siapa yang memimpin, tetapi bagaimana pesan nilai dikirim ke seluruh sivitas. Apakah kampus memberi sinyal bahwa kompetensi dihargai? Bahwa proses penting? Bahwa keterbukaan adalah bagian dari budaya, bukan sekadar prosedur?

Pilrek PTN-BH menjadi semacam panggung tempat semua nilai itu tampak bersamaan. Di sanalah mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan membaca arah. Bukan hanya dari hasil akhirnya, tetapi dari cara proses dijalankan. Dari seberapa jauh mereka diajak memahami, bukan sekadar diminta menerima.
Otonomi kampus sejatinya adalah kesempatan. Kesempatan untuk mengelola diri dengan lebih dewasa, lebih jujur, dan lebih bertanggung jawab. Tetapi otonomi juga menuntut kedewasaan etis. Kewenangan yang besar selalu datang bersama tanggung jawab untuk menjelaskan, mendengarkan, dan merawat kepercayaan.

H-1 ini bukan ajakan untuk mencurigai siapa pun. Juga bukan seruan untuk menolak sistem yang ada. Ia lebih mirip undangan percakapan. Percakapan tentang bagaimana kampus ingin dijalankan. Tentang jenis kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan di tengah perubahan zaman yang cepat dan kompleks.
Pada akhirnya, universitas bukan hanya milik mereka yang duduk di ruang pengambil keputusan. Ia juga milik mereka yang belajar, mengajar, meneliti, dan bekerja di dalamnya setiap hari. Menjaga kampus berarti menjaga relasi—antara legalitas dan akal sehat, antara kewenangan dan kepercayaan, antara prosedur dan makna.

Tulisan ini saya tutup di sini, sehari sebelum keputusan besar diambil. Bukan dengan kesimpulan final, tetapi dengan harapan sederhana: semoga kampus tetap menjadi ruang yang ramah bagi nalar, terbuka bagi dialog, dan cukup rendah hati untuk terus belajar dari dirinya sendiri. Karena universitas yang sehat bukan yang bebas dari kritik, melainkan yang tidak takut mendengarkan.[]

Tags: AcehIndonesiakampusMakin Tahu IndonesiaPemilihan Rektor USKUniversitas Syiah Kuala (USK)
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026
Opini

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

by SAGOE TV
September 2, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK
Opini

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

by SAGOE TV
August 31, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

by SAGOE TV
August 23, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi
Opini

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

by SAGOE TV
August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

by SAGOE TV
August 20, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

September 2, 2026
Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

August 31, 2026
Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

September 3, 2026
9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

August 31, 2026
Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

August 31, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Diversifikasi Program lewat SPS Talk #1: Membaca Seni di Ruang Publik

August 31, 2026
Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

August 12, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

August 31, 2026

EDITOR'S PICK

Beasiswa Indonesia Bangkit 2025 Segera Dibuka, Cek Syaratnya

Beasiswa Indonesia Bangkit 2025 Segera Dibuka, Cek Syaratnya

March 21, 2025
Basarnas Kerahkan KN SAR Purworejo 101 untuk Perkuat Operasi SAR Bencana Aceh

Basarnas Kerahkan KN SAR Purworejo 101 untuk Perkuat Operasi SAR Bencana di Aceh

November 30, 2025
Dari Killing Menjadi Death, Diplomasi Paranoid Menlu Sugiono

Dari Killing Menjadi Death, Diplomasi Paranoid Menlu Sugiono

April 1, 2026
Sebulan Pascabencana, Warga Rimba Raya Bener Meriah Masih Hidup Tanpa Listrik

Sebulan Pascabencana, Warga Rimba Raya Bener Meriah Masih Hidup Tanpa Listrik

December 29, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.