BANDA ACEH | SAGOE TV – Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Ekoteologi dalam Perspektif Multidisipliner Ushuluddin” pada Kamis, 29 Januari 2026, bertempat di Ruang Rapat Rektor UIN Ar-Raniry. Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga selesai dan diikuti oleh dosen, akademisi, mahasiswa, serta masyarakat umum dari berbagai latar belakang.
Seminar internasional ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor I UIN Ar-Raniry, Prof. Muhammad Yasir Yusuf. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk menghadirkan solusi keilmuan atas persoalan krisis lingkungan yang semakin kompleks, terlebih Aceh dalam beberapa bulan terakhir kerap menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Hadir sebagai narasumber utama tamu internasional, Prof. Madya Dr. Abdul Hanis Bin Embong dari Universiti Malaysia Terengganu, yang memandang ekoteologi sebagai jembatan antara nilai-nilai teologis, kesadaran etis, dan tanggung jawab manusia terhadap keberlanjutan alam. Ia menekankan pentingnya penguatan kajian ayat-ayat Al-Qur’an melalui metodologi tafsir yang relevan dan kontekstual, agar pesan-pesan ekologis Al-Qur’an tidak berhenti pada tataran normatif, tetapi mampu diwujudkan dalam sikap dan praksis kehidupan. Menurutnya, diskursus ekoteologi di lingkungan perguruan tinggi Islam memiliki peran strategis dalam membangun peradaban yang lebih ramah lingkungan.
Dari kalangan pemateri internal, Prof. Lukman Hakim. menegaskan bahwa manusia sebagai khalīfatullāh fī al-arḍ dituntut menjaga sistem ekologi dalam paradigma tawāzun (keseimbangan). Ia menekankan bahwa manusia harus membangun harmoni dengan alam, karena ketika hukum-hukum alam (sunnatullah) diabaikan, maka alam akan “menjawab” melalui berbagai krisis ekologis. Oleh karena itu, perilaku ekosida harus dihentikan atas dasar kesadaran terhadap pesan-pesan ilahiyah.
Dr. Mawardi mengulas konsep perubahan iklim dalam perspektif Islam dengan menyoroti dimensi moral sebagai akar krisis lingkungan. Menurutnya, kerusakan alam tidak terlepas dari penyimpangan manusia dalam menyikapi anugerah Allah berupa energi, air, dan sumber daya alam lainnya. Nikmat tersebut semestinya direspons dengan rasa syukur, namun praktik eksploitasi berlebihan justru mencerminkan pengingkaran terhadap amanah sebagai khalifah, sebagaimana diperingatkan Allah dalam QS. Ar-Rūm ayat 41.
Sementara itu, Dr. Muhammad Zaini menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki pendekatan yang kuat dalam membangun kesadaran ekologis manusia. Pertama, melalui metode targhīb, yakni dorongan dan janji kebaikan bagi mereka yang memelihara lingkungan (QS. Ṣād: 27). Kedua, metode tarhīb, berupa ancaman bagi siapa saja yang melakukan kerusakan di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 205).
Ia menambahkan bahwa Al-Qur’an juga menegaskan alam sebagai ruang hidup yang disediakan bagi seluruh makhluk (QS. Al-Baqarah: 29) dan sumber kenyamanan bagi manusia (QS. Luqmān: 20). Namun, kenyamanan tersebut hanya dapat terjaga apabila manusia mematuhi sunnatullah. Ketika hukum-hukum alam dilanggar, maka alam berpotensi berubah menjadi ruang yang tidak lagi ramah bagi kehidupan (QS. Ar-Rūm: 41).
Dari perspektif sosial dan kebijakan publik, Fatimahsyam, M.Si. menyoroti bencana ekologis sebagai akumulasi dari perusakan lingkungan, ketimpangan pembangunan, serta kegagalan negara dalam melindungi lingkungan hidup dan keselamatan rakyat. Ia menekankan bahwa pembiaran ekspansi perkebunan, aktivitas logging, serta lemahnya pengawasan Hak Guna Usaha (HGU) menjadi faktor struktural yang memperparah krisis ekologis.
Penguatan etika ekologis Islam juga disampaikan oleh Lazuardi Muhammad Latif, Ph.D. melalui penjelasan hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad tentang perintah menanam tunas meskipun hari kiamat telah dekat. Hadis ini, menurutnya, mengajarkan optimisme, tanggung jawab, dan komitmen keberlanjutan, bahwa menjaga kehidupan tetap bernilai bahkan dalam kondisi paling genting sekalipun.
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Prof. Salman Abdul Muthalib menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar ini dan antusiasme peserta. Ia berharap diskursus ekoteologi dapat terus dikembangkan sebagai kontribusi nyata Ushuluddin dalam menjawab tantangan global dan lokal. Seminar ini dipandu oleh moderator Musdawati, M.A., yang mengarahkan diskusi secara dinamis dan interaktif. []



















