Oleh: Risman Rachman
CEO aceHBaru Consulting
Tiga nama. Tiga benua. Tiga bentuk perlawanan. Namun ketiganya menarik dari sumber yang sama — sebuah bacaan atas Islam yang tidak berdamai dengan penindasan.
Soekarno, Teungku Hasan Muhammad di Tiro, dan Ayatullah Ali Khamenei hidup di zaman dan konteks yang berbeda. Namun mereka memiliki satu kesamaan yang sering luput dari perhatian: cara mereka membaca Islam bukan sebagai agama ritual semata, melainkan sebagai teologi pembebasan — sebuah pandangan dunia yang menempatkan perlawanan terhadap kezaliman sebagai kewajiban iman.
Soekarno: Islam sebagai Semangat Kemerdekaan
Soekarno bukan ulama. Ia bahkan sering dituduh terlalu “nasionalis” atau “sekuler” oleh sebagian kalangan Islam konservatif. Tapi membaca pidato dan tulisannya dengan jujur akan mengungkapkan sesuatu yang berbeda: Soekarno adalah seorang yang membaca Islam secara mendalam dan dengan cara yang sangat politis.
Dalam tulisannya yang terkenal, “Islam Sontoloyo” (1940), Soekarno memang mengkritik keras Islam yang jumud dan tidak berpihak pada rakyat. Tapi kritik itu justru lahir dari kecintaan — ia ingin Islam bangkit, bukan tertidur. Ia mengutip pemikir-pemikir pembaharu seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh yang menyerukan Islam untuk kembali menjadi kekuatan peradaban dan perlawanan terhadap imperialisme.
“Agama Islam adalah agama yang mengandung semangat revolusioner. Nabi Muhammad bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga pemimpin politik dan sosial yang menentang tatanan yang zalim.” — Soekarno, dalam berbagai pidatonya.
Soekarno membaca kisah Nabi Muhammad sebagai kisah perlawanan terhadap oligarki Quraisy — kaum kaya Mekkah yang menindas kaum lemah. Islam, baginya, lahir dari bawah, dari kalangan tertindas, dan karena itu ia secara alami adalah agama anti-penindasan.
Ia juga sangat terpengaruh oleh pemikiran Pan-Islamisme Afghani yang melihat persatuan umat Islam sebagai tameng melawan kolonialisme Barat. Dalam konteks Indonesia yang dijajah Belanda, Islam bukan hanya identitas spiritual — ia adalah identitas perlawanan.
Soekarno memadukan Islam, nasionalisme, dan Marxisme bukan karena ia bingung, melainkan karena ia melihat ketiganya sebagai kekuatan yang sama-sama menentang imperialisme kapitalis. (Lihat: Soekarno, “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”, 1926)
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Teungku Hasan Muhammad di Tiro — pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) — adalah figur yang lebih kompleks dari yang sering digambarkan. Ia bukan sekadar “separatis” sebagaimana label yang ditempelkan Jakarta. Ia adalah seorang intelektual yang berbicara tentang hak menentukan nasib sendiri (self-determination), dan Islam adalah fondasi identitas perlawanannya.
Hasan Tiro lahir dari keluarga ulama pejuang. Kakeknya, Teungku Chik di Tiro, adalah salah satu pahlawan terbesar dalam Perang Aceh melawan Belanda (1873–1904) — sebuah perang yang oleh sejarawan Belanda sendiri diakui sebagai perlawanan paling sengit yang pernah mereka hadapi di Asia Tenggara.
Bagi Hasan Tiro, perang kakeknya belum selesai. Dalam bukunya “The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro”, ia menulis:
“Aceh tidak pernah menyerah kepada Belanda secara resmi. Dan kami tidak pernah menyerahkan kedaulatan kami kepada siapapun.”
Islam dalam pandangan Hasan Tiro bukan sekadar syariat — ia adalah penanda peradaban dan martabat bangsa Acehyang harus dipertahankan dari segala bentuk kolonialisme, termasuk yang datang dari sesama bangsa. Ia melihat dominasi Jakarta sebagai kelanjutan logika kolonial: pusat menghisap pinggiran.
Ia mengutip tradisi jihad fisabilillah dalam konteks Aceh — bukan jihad dalam pengertian terorisme modern, melainkan jihad sebagaimana dipraktikkan leluhurnya: perang mempertahankan tanah, agama, dan identitas dari penjajahan.
Penting dicatat, Hasan Tiro juga menempuh pendidikan di Barat (Columbia University, New York) dan fasih berbicara dalam bahasa hukum internasional. Ia menggabungkan bahasa HAM internasional dengan akar keislaman Aceh — sebuah sintesis yang menarik. (Rujukan: Edward Aspinall, “Islam and Nation: Separatist Rebellion in Aceh, Indonesia”, Stanford University Press, 2009)
Ayatullah Khamenei: Islam sebagai Ideologi Anti-Hegemoni Global
Dari dua tokoh sebelumnya, kita bergerak ke sosok yang mungkin paling sistematis dalam merumuskan Islam Perlawanan sebagai ideologi politik global: Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.
Khamenei bukan hanya politisi. Ia adalah seorang ulama yang terdidik dalam tradisi fiqh siyasi (fikih politik) Syiah, dan seumur hidupnya bergulat dengan pertanyaan: bagaimana Islam harus bersikap terhadap kekuatan imperialis?
Jawabannya terumuskan dalam konsep “Muqawamah” (المقاومة) — Perlawanan. Ini bukan sekadar strategi militer; ini adalah worldview teologis yang menyatakan bahwa berdamai dengan sistem internasional yang timpang dan dikuasai Amerika Serikat serta Israel adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam.
Konsep ini berakar pada beberapa prinsip teologis:
Pertama, Khamenei bersandar pada ayat Al-Qur’an “Wa lan yaj’alallahu lil-kafiriina ‘alal mu’miniina sabiila” (QS. An-Nisa: 141) — “Allah tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” Ini ia tafsirkan sebagai larangan teologis atas dominasi asing.
Kedua, ia mengembangkan konsep “Wilayatul Faqih” (pemerintahan ulama) yang dirumuskan gurunya, Imam Khomeini — sebuah sistem di mana otoritas agama dan politik menyatu untuk melayani keadilan Islam.
Ketiga, Khamenei sangat dipengaruhi oleh pemikiran Ali Syariati — sosiolog Islam Iran yang memadukan Islam dengan teori pembebasan ala Fanon dan Sartre. Syariati melihat Islam sebagai agama yang secara inheren memihak mustadh’afin (kaum tertindas) melawan mustakbirin (kaum arogan/penindas). (Lihat: Ali Syariati, “Hajj”, dan “Ummat wa Imamah”)
Dalam pandangan Khamenei, Amerika Serikat dan Israel adalah mustakbirin global — dan seluruh kebijakan luar negeri Iran, dari dukungan terhadap Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, hingga Houthi di Yaman, dibingkai dalam narasi teologis ini: perlawanan kaum tertindas yang direstui Allah.
Ia sering mengutip kisah Nabi Musa melawan Firaun sebagai arketipe abadi — di mana Firaun hari ini adalah Washington dan Tel Aviv. (Rujukan: Khamenei.ir, berbagai khutbah dan pernyataan resmi; serta Vali Nasr, “The Shia Revival”, W.W. Norton, 2006)
Benang Merah: Islam yang Tidak Duduk Diam
Apa yang menghubungkan Soekarno, Hasan Tiro, dan Khamenei bukanlah kesamaan mazhab, etnisitas, atau strategi. Yang menghubungkan mereka adalah cara baca atas Islam yang menempatkan keadilan dan perlawanan terhadap penindasan sebagai inti ajaran.
Ketiganya membaca hadis Nabi yang masyhur: “Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadihi” — “Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya” — bukan hanya sebagai perintah moral personal, tetapi sebagai imperatif politik.
Ketiganya juga menghadapi tuduhan yang mirip: dianggap “terlalu politik”, “memanipulasi agama”, atau bahkan “ekstremis” oleh kekuatan yang berkepentingan untuk membungkam perlawanan.
Namun justru dari sudut pandang sejarah, ketiganya mewakili sebuah tradisi panjang dalam peradaban Islam — dari Ibnu Khaldun yang menganalisis siklus kekuasaan dan keadilan, hingga pemikir modern seperti Sayyid Qutb, Ali Syariati, dan Hassan al-Banna — bahwa Islam tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi agama yang diam di hadapan kezaliman.
Dalam bahasa Soekarno: Islam adalah api, bukan abu. Dalam bahasa Hasan Tiro: Islam adalah punggung tegak, bukan lutut yang menekuk. Dalam bahasa Khamenei: Islam adalah muqawamah — perlawanan yang tidak mengenal kata menyerah. []



















