• Tentang Kami
Saturday, August 29, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 8, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa

Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Risman Rachman
CEO aceHBaru Consulting

Teungku Hasan Muhammad diTiro pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah figur yang lebih kompleks dari yang sering digambarkan. Ia bukan sekadar “separatis” sebagaimana label yang ditempelkan Jakarta. Ia adalah seorang intelektual yang berbicara tentang hak menentukan nasib sendiri (self-determination), dan Islam adalah fondasi identitas perlawanannya.

Hasan Tiro lahir dari keluarga ulama pejuang. Kakeknya, Teungku Chik di Tiro, adalah salah satu pahlawan terbesar dalam Perang Aceh melawan Belanda (1873–1904) sebuah perang yang oleh sejarawan Belanda sendiri diakui sebagai perlawanan paling sengit yang pernah mereka hadapi di Asia Tenggara.

BACA JUGA

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

Bagi Hasan Tiro, perang kakeknya belum selesai. Dalam bukunya “The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro”, ia menulis:

“Aceh tidak pernah menyerah kepada Belanda secara resmi. Dan kami tidak pernah menyerahkan kedaulatan kami kepada siapapun.”

Islam dalam pandangan Hasan Tiro bukan sekadar syariat ia adalah penanda peradaban dan martabat bangsa Aceh Yang harus dipertahankan dari segala bentuk kolonialisme, termasuk yang datang dari sesama bangsa. Ia melihat dominasi Jakarta sebagai kelanjutan logika kolonial: pusat menghisap pinggiran.

Ia mengutip tradisi jihad fisabilillah dalam konteks Aceh bukan jihad dalam pengertian terorisme modern, melainkan jihad sebagaimana dipraktikkan leluhurnya: perang mempertahankan tanah, agama, dan identitas dari penjajahan.

Penting dicatat, Hasan Tiro juga menempuh pendidikan di Barat (Columbia University, New York) dan fasih berbicara dalam bahasa hukum internasional. Ia menggabungkan bahasa HAM internasional dengan akar keislaman Aceh sebuah sintesis yang menarik. (Rujukan: Edward Aspinall, “Islam and Nation: Separatist Rebellion in Aceh, Indonesia”, Stanford University Press, 2009)

Ayatullah Khamenei: Islam sebagai Ideologi Anti-Hegemoni Global

Dari dua tokoh sebelumnya, kita bergerak ke sosok yang mungkin paling sistematis dalam merumuskan Islam Perlawanan sebagai ideologi politik global: Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.

Khamenei bukan hanya politisi. Ia adalah seorang ulama yang terdidik dalam tradisi fiqh siyasah (fiqih politik) Syiah, dan seumur hidupnya bergulat dengan pertanyaan: bagaimana Islam harus bersikap terhadap kekuatan imperialis?

Jawaban merumuskan dalam konsep “Muqawamah” (المقاومة) Perlawanan. Ini bukan sekadar strategi militer; ini adalah worldview teologis yang menyatakan bahwa berdamai dengan sistem internasional yang timpang dan dikuasai Amerika Serikat serta Israel adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam.

Konsep ini berakar pada beberapa prinsip teologis:

Pertama, Khamenei bersandar pada ayat Al-Qur’an “Wa lan yaj’alallahu lil-kafiriina ‘alal mu’miniina sabiila” (QS. An-Nisa: 141) “Allah tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” Ini ditafsirkan sebagai larangan teologis atas dominasi asing.

Kedua, ia mengembangkan konsep “Wilayatul Faqih” (pemerintahan ulama) yang dirumuskan gurunya, Imam Khomeini sebuah sistem di mana otoritas agama dan politik menyatu untuk melayani keadilan Islam.

Ketiga, Khamenei sangat dipengaruhi oleh pemikiran Ali Syariati sosiolog Islam Iran yang memadukan Islam dengan teori pembebasan ala Fanon dan Sartre. Syariati melihat Islam sebagai agama yang secara inheren memihak mustadh’afin (kaum tertindas) melawan mustakbirin (kaum arogan/penindas). (Lihat: Ali Syariati, “Hajj”, dan “Ummat wa Imamah”)

Dalam pandangan Khamenei, Amerika Serikat dan Israel adalah mustakbirin global dan seluruh kebijakan luar negeri Iran, dari dukungan terhadap Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, hingga Houthi di Yaman, dibingkai dalam narasi teologis ini: perlawanan kaum tertindas yang direstui Allah.

Ia sering mengutip kisah Nabi Musa melawan Firaun sebagai arketipe abadi di mana Firaun hari ini adalah Washington dan Tel Aviv. (Rujukan: Khamenei.ir, berbagai khutbah dan pernyataan resmi; serta Vali Nasr, “The Shia Revival”, W.W. Norton, 2006)

Benang Merah: Islam yang Tidak Duduk Diam

Apa yang menghubungkan Soekarno, Hasan Tiro, dan Khamenei bukanlah kesamaan mazhab, etnisitas, atau strategi. Yang menghubungkan mereka adalah cara baca atas Islam yang menempatkan keadilan dan perlawanan terhadap penindasan sebagai inti ajaran.

Ketiganya membaca hadis Nabi yang masyhur: “Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadihi.” “Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya” bukan hanya sebagai perintah moral personal, tetapi sebagai imperatif politik.”

Ketiganya juga menghadapi tuduhan yang mirip: dianggap “terlalu politik”, “memanipulasi agama”, atau bahkan “ekstremis” oleh kekuatan yang berkepentingan untuk membungkam perlawanan.

Namun justru dari sudut pandang sejarah, ketiganya mewakili sebuah tradisi panjang dalam peradaban Islam dari Ibnu Khaldun yang menganalisis siklus kekuasaan dan keadilan, hingga pemikir modern seperti Sayyid Qutb, Ali Syariati, dan Hassan al-Banna bahwa Islam tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi agama yang diam di hadapan kezaliman.

Dalam bahasa Soekarno: Islam adalah api, bukan abu. Dalam bahasa Hasan Tiro: Islam adalah punggung tegak, bukan lutut yang menekuk. Dalam bahasa Khamenei: Islam adalah muqawamah perlawanan yang tidak mengenal kata menyerah. []

Tags: Hasan TiroIdentitasIslamMakin Tahu Indonesiaopini
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Dek Din Syamsuddin
Opini

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

by SAGOE TV
August 23, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi
Opini

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

by SAGOE TV
August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

by SAGOE TV
August 20, 2026
Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal
Opini

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

by SAGOE TV
August 18, 2026
21 Tahun Damai Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Opini

Glorifikasi Munafik Ini Dibangun dengan Sengaja: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan

by SAGOE TV
August 17, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

August 27, 2026
Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

August 25, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

August 21, 2026
SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

August 24, 2026
Dek Din Syamsuddin

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

August 23, 2026
MEUGOE Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

MEUGOE: Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

August 27, 2026
21 Tahun Damai Aceh, Unhan RI dan BRA Bahas Strategi Memperkuat Perdamaian

21 Tahun Damai Aceh, Unhan RI dan BRA Bahas Strategi Memperkuat Perdamaian

August 27, 2026
M. Azril Ihksan

Makna Rindu, Antara Majnun dan Hamzah Fansuri

August 26, 2026

EDITOR'S PICK

Ini Dia Raja Ratu Baca Aceh 2024

Ini Dia Raja Ratu Baca Aceh 2024

August 7, 2024
GEN-A Dorong Literasi Informasi Pascabanjir Lewat Edukasi Jurnalisme Warga

GEN-A Dorong Literasi Informasi Pascabanjir Lewat Edukasi Jurnalisme Warga

February 5, 2026
Pemerintah Aceh Bahas Langkah Hibah Rumah Sakit Regional ke Pemkab Aceh Tengah

Pemerintah Aceh Bahas Langkah Hibah Rumah Sakit Regional ke Pemkab Aceh Tengah

April 14, 2025
Mualem di Rakor Satgas Dari Tanggap Darurat ke Pemulihan Aceh

Mualem di Rakor Satgas: Dari Tanggap Darurat ke Pemulihan Aceh

January 16, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.