• Tentang Kami
Tuesday, October 13, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 8, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa

Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Risman Rachman
CEO aceHBaru Consulting

Teungku Hasan Muhammad diTiro pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah figur yang lebih kompleks dari yang sering digambarkan. Ia bukan sekadar “separatis” sebagaimana label yang ditempelkan Jakarta. Ia adalah seorang intelektual yang berbicara tentang hak menentukan nasib sendiri (self-determination), dan Islam adalah fondasi identitas perlawanannya.

Hasan Tiro lahir dari keluarga ulama pejuang. Kakeknya, Teungku Chik di Tiro, adalah salah satu pahlawan terbesar dalam Perang Aceh melawan Belanda (1873–1904) sebuah perang yang oleh sejarawan Belanda sendiri diakui sebagai perlawanan paling sengit yang pernah mereka hadapi di Asia Tenggara.

BACA JUGA

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit

Bagi Hasan Tiro, perang kakeknya belum selesai. Dalam bukunya “The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro”, ia menulis:

“Aceh tidak pernah menyerah kepada Belanda secara resmi. Dan kami tidak pernah menyerahkan kedaulatan kami kepada siapapun.”

Islam dalam pandangan Hasan Tiro bukan sekadar syariat ia adalah penanda peradaban dan martabat bangsa Aceh Yang harus dipertahankan dari segala bentuk kolonialisme, termasuk yang datang dari sesama bangsa. Ia melihat dominasi Jakarta sebagai kelanjutan logika kolonial: pusat menghisap pinggiran.

Ia mengutip tradisi jihad fisabilillah dalam konteks Aceh bukan jihad dalam pengertian terorisme modern, melainkan jihad sebagaimana dipraktikkan leluhurnya: perang mempertahankan tanah, agama, dan identitas dari penjajahan.

Penting dicatat, Hasan Tiro juga menempuh pendidikan di Barat (Columbia University, New York) dan fasih berbicara dalam bahasa hukum internasional. Ia menggabungkan bahasa HAM internasional dengan akar keislaman Aceh sebuah sintesis yang menarik. (Rujukan: Edward Aspinall, “Islam and Nation: Separatist Rebellion in Aceh, Indonesia”, Stanford University Press, 2009)

Ayatullah Khamenei: Islam sebagai Ideologi Anti-Hegemoni Global

Dari dua tokoh sebelumnya, kita bergerak ke sosok yang mungkin paling sistematis dalam merumuskan Islam Perlawanan sebagai ideologi politik global: Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.

Khamenei bukan hanya politisi. Ia adalah seorang ulama yang terdidik dalam tradisi fiqh siyasah (fiqih politik) Syiah, dan seumur hidupnya bergulat dengan pertanyaan: bagaimana Islam harus bersikap terhadap kekuatan imperialis?

Jawaban merumuskan dalam konsep “Muqawamah” (المقاومة) Perlawanan. Ini bukan sekadar strategi militer; ini adalah worldview teologis yang menyatakan bahwa berdamai dengan sistem internasional yang timpang dan dikuasai Amerika Serikat serta Israel adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam.

Konsep ini berakar pada beberapa prinsip teologis:

Pertama, Khamenei bersandar pada ayat Al-Qur’an “Wa lan yaj’alallahu lil-kafiriina ‘alal mu’miniina sabiila” (QS. An-Nisa: 141) “Allah tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” Ini ditafsirkan sebagai larangan teologis atas dominasi asing.

Kedua, ia mengembangkan konsep “Wilayatul Faqih” (pemerintahan ulama) yang dirumuskan gurunya, Imam Khomeini sebuah sistem di mana otoritas agama dan politik menyatu untuk melayani keadilan Islam.

Ketiga, Khamenei sangat dipengaruhi oleh pemikiran Ali Syariati sosiolog Islam Iran yang memadukan Islam dengan teori pembebasan ala Fanon dan Sartre. Syariati melihat Islam sebagai agama yang secara inheren memihak mustadh’afin (kaum tertindas) melawan mustakbirin (kaum arogan/penindas). (Lihat: Ali Syariati, “Hajj”, dan “Ummat wa Imamah”)

Dalam pandangan Khamenei, Amerika Serikat dan Israel adalah mustakbirin global dan seluruh kebijakan luar negeri Iran, dari dukungan terhadap Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, hingga Houthi di Yaman, dibingkai dalam narasi teologis ini: perlawanan kaum tertindas yang direstui Allah.

Ia sering mengutip kisah Nabi Musa melawan Firaun sebagai arketipe abadi di mana Firaun hari ini adalah Washington dan Tel Aviv. (Rujukan: Khamenei.ir, berbagai khutbah dan pernyataan resmi; serta Vali Nasr, “The Shia Revival”, W.W. Norton, 2006)

Benang Merah: Islam yang Tidak Duduk Diam

Apa yang menghubungkan Soekarno, Hasan Tiro, dan Khamenei bukanlah kesamaan mazhab, etnisitas, atau strategi. Yang menghubungkan mereka adalah cara baca atas Islam yang menempatkan keadilan dan perlawanan terhadap penindasan sebagai inti ajaran.

Ketiganya membaca hadis Nabi yang masyhur: “Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadihi.” “Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya” bukan hanya sebagai perintah moral personal, tetapi sebagai imperatif politik.”

Ketiganya juga menghadapi tuduhan yang mirip: dianggap “terlalu politik”, “memanipulasi agama”, atau bahkan “ekstremis” oleh kekuatan yang berkepentingan untuk membungkam perlawanan.

Namun justru dari sudut pandang sejarah, ketiganya mewakili sebuah tradisi panjang dalam peradaban Islam dari Ibnu Khaldun yang menganalisis siklus kekuasaan dan keadilan, hingga pemikir modern seperti Sayyid Qutb, Ali Syariati, dan Hassan al-Banna bahwa Islam tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi agama yang diam di hadapan kezaliman.

Dalam bahasa Soekarno: Islam adalah api, bukan abu. Dalam bahasa Hasan Tiro: Islam adalah punggung tegak, bukan lutut yang menekuk. Dalam bahasa Khamenei: Islam adalah muqawamah perlawanan yang tidak mengenal kata menyerah. []

Tags: Hasan TiroIdentitasIslamMakin Tahu Indonesiaopini
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Publik dalam Bayang Militerisme Urban
Opini

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

by SAGOE TV
October 5, 2026
Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit
Opini

Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit

by SAGOE TV
October 4, 2026
Hari Pancasila dan Harapan Rakyat
Opini

Hari Pancasila dan Harapan Rakyat

by SAGOE TV
October 1, 2026
Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan Langkah Berikutnya bagi MACS di USK
Opini

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan: Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

by SAGOE TV
September 30, 2026
Dari Percakapan ke Meja Ngopi Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK
Opini

Dari Percakapan ke Meja Ngopi: Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK

by SAGOE TV
September 25, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Nasir Djamil: Warung Kopi di Aceh Bisa Jadi Ruang Diskusi Buku

Nasir Djamil: Warung Kopi di Aceh Bisa Jadi Ruang Diskusi Buku

October 10, 2026
Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

October 13, 2026
Mahasiswa KPI STAIN Meulaboh Tuntut Kejelasan Penanganan Dugaan Kekerasan Seksual

Mahasiswa KPI STAIN Meulaboh Tuntut Kejelasan Penanganan Dugaan Kekerasan Seksual

October 6, 2026
LPS bayar klaim nasabah BPRS Aceh

LPS Bayar Rp46,80 Miliar Klaim Nasabah 4 BPRS di Aceh

October 8, 2026
Mahasiswa UIA Juara 1 Lomba Melukis HUT ke-27 Bireuen

Mahasiswa UIA Juara 1 Lomba Melukis HUT ke-27 Bireuen

October 5, 2026
Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

October 11, 2026
Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

October 11, 2026
PORA XV Aceh Jaya Diundur ke Mei 2027

PORA XV Aceh Jaya Diundur ke Mei 2027

October 8, 2026
Kisah Cut Sitti Kamila, Lulus dari 2 Kampus dengan IPK 3,80 dan 3,78

Kisah Cut Sitti Kamila, Lulus dari 2 Kampus dengan IPK 3,80 dan 3,78

October 6, 2026

EDITOR'S PICK

Komisi VI DPRA Minta Sekolah dan Dayah Awasi Jajanan Siswa dan Santri

Komisi VI DPRA Minta Sekolah dan Dayah Awasi Jajanan Siswa dan Santri

February 8, 2026
Menag: Arab Saudi Siap Beri Perhatian Khusus Jemaah Haji Indonesia

Menteri Agama: Alhamdulillah, Tambahan Kuota Petugas Haji Sudah Masuk E-Hajj

April 13, 2025
Wujudkan Ekonomi Sirkular, Tim FEB Unimal Edukasi Warga Lancang Garam Kelola Sampah Berkelanjutan

Wujudkan Ekonomi Sirkular, Tim FEB Unimal Edukasi Warga Lancang Garam Kelola Sampah Berkelanjutan

November 4, 2025
Revisi UUPA Jangan Sampai Korbankan Kekhususan Aceh

Revisi UUPA Jangan Sampai Korbankan Kekhususan Aceh

September 15, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.