• Tentang Kami
Wednesday, April 15, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Mengapa Amerika Sebenarnya Membidik China Melalui Iran dan Venezuela?

SAGOE TV by SAGOE TV
March 31, 2026
in Opini
Reading Time: 9 mins read
A A
0
Mengapa Amerika Sebenarnya Membidik China Melalui Iran dan Venezuela

Ilustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Aishaa Akma
Analis Geopolitik tentang Perang Bayangan di Era Multipolar

Dunia melihat Amerika mengebom Iran. Dunia melihat Amerika menjatuhkan sanksi bertubi-tubi kepada Venezuela. Dunia melihat Amerika meningkatkan tekanan pada Rusia melalui proxy di Ukraina. Dunia melihat Amerika membangun aliansi militer di kawasan Indo-Pasifik.

Namun apa yang dilihat dunia hanyalah gejala, bukan penyakit sesungguhnya. Apa yang dilihat dunia hanyalah front pertempuran, bukan pusat komando. Karena di balik semua konflik yang tampak terpisah-pisah itu, ada satu benang merah yang menyatukannya: China.

BACA JUGA

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

Ini bukan teori konspirasi. Ini adalah analisa struktur tentang bagaimana kekuatan besar bermain catur geopolitik di papan dunia. Iran bukan target final. Venezuela bukan target final. Rusia bukan target final. Mereka adalah bidak-bidak dalam permainan yang lebih besar permainan yang tujuannya adalah menghentikan kebangkitan China sebagai kekuatan global yang menantang hegemoni Amerika.

Babak pertama dimainkan di Timur Tengah. Babak kedua di Amerika Latin. Babak ketiga di Eropa Timur. Namun pemenang sejati akan ditentukan di Indo-Pasifik di Laut China Selatan, di Selat Taiwan, di semenanjung Korea, dan di jalur-jalur perdagangan yang menjadi urat nadi ekonomi global.

Mari kita buka peta sesungguhnya dari perang bayangan ini.

China sebagai Ancaman Eksistensial bagi Hegemoni Amerika

A. Mengapa China Bukan Sekadar Pesaing Biasa

Dalam sejarah hubungan internasional, persaingan antar kekuatan besar adalah hal biasa. Inggris dan Prancis bersaing selama berabad-abad. Amerika dan Uni Soviet bersaing selama setengah abad. Namun persaingan antara Amerika dan China memiliki karakter yang berbeda secara fundamental.

Pertama, China adalah kekuatan dengan skala yang sebanding dengan Amerika. Dengan populasi 1,4 miliar, PDB yang mendekati Amerika dalam paritas daya beli, dan militer yang modernisasi dengan kecepatan luar biasa, China adalah kekuatan pertama sejak Uni Soviet yang benar-benar bisa menyaingi Amerika di semua lini.

Kedua, China menawarkan model pembangunan alternatif yang berhasil. Selama tiga dekade, dunia diajarkan bahwa satu-satunya jalan menuju kemakmuran adalah demokrasi liberal ala Barat dan kapitalisme pasar bebas. China membuktikan bahwa ada jalan lain: negara yang kuat mengendalikan sektor-sektor strategis, partai tunggal yang stabil, dan pembangunan yang mengutamakan hasil daripada proses. Model ini menarik bagi banyak negara berkembang yang lelah dengan resep neoliberal yang gagal.

Ketiga, China membangun arsitektur global alternatif. Ketika Amerika menarik diri dari perjanjian multilateral, China mengisi kekosongan. Belt and Road Initiative (BRI) adalah tandingan dari Marshall Plan. Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) adalah tandingan dari Bank Dunia yang didominasi Amerika. BRICS adalah tandingan dari G7. Ini bukan sekadar proyek ekonomi; ini adalah pembangunan sistem global yang tidak lagi berpusat di Washington.

Keempat, China mengancam hegemoni finansial Amerika. Petrodollar sistem yang membuat Dolar menjadi mata uang cadangan dunia adalah fondasi kekuatan Amerika. Tanpa itu, Amerika tidak bisa mencetak uang tanpa batas untuk membiayai perang dan defisitnya. Dan China, bersama sekutunya, secara sistematis membangun alternatif terhadap petrodollar. Perdagangan bilateral dalam mata uang lokal, digital yuan, sistem pembayaran lintas batas alternatif semua ini adalah ancaman eksistensial bagi fondasi kekuatan Amerika.

B. Strategi Containment ala Amerika

Menghadapi ancaman eksistensial ini, Amerika melakukan apa yang selalu dilakukannya dalam sejarah: containment. Sama seperti strategi George Kennan terhadap Uni Soviet pada era Perang Dingin, Amerika berusaha mengekang ekspansi pengaruh China dengan segala cara.

Namun ada satu masalah besar: containment langsung terhadap China terlalu berisiko. Perang terbuka dengan China akan menghancurkan ekonomi global. China adalah mitra dagang utama Amerika, rantai pasok global terintegrasi dengan China, dan China memiliki kemampuan nuklir yang bisa menghancurkan Amerika.

Maka Amerika memilih strategi lain: containment tidak langsung. Alih-alih menghadapi China secara langsung, Amerika menyerang kepentingan-kepentingan China di berbagai belahan dunia. Iran adalah sekutu strategis China. Venezuela adalah mitra minyak China. Rusia adalah mitra komprehensif China. Dengan melemahkan mereka, Amerika melemahkan jaringan aliansi yang dibangun China.

Inilah esensi dari strategi Amerika: perang proxy global di mana China adalah target terselubung di balik setiap konflik yang tampak lokal.

Baca Juga:  Gaza, Tragedi Asyura yang Berulang

Iran Batu Uji di Timur Tengah

A. Mengapa Iran Begitu Penting bagi China?

Bagi pengamat biasa, Iran hanyalah satu dari sekian banyak negara di Timur Tengah yang bermasalah dengan Amerika. Namun bagi China, Iran adalah pilar strategis dalam proyek ambisiusnya.

Pertama, Iran adalah gerbang darat ke Eurasia. Dalam kerangka Belt and Road Initiative, Iran adalah simpul kunci yang menghubungkan Asia Tengah ke Timur Tengah, dan dari sana ke Eropa dan Afrika. Jalur Sutra Darat tidak akan lengkap tanpa Iran.

Kedua, Iran adalah mitra energi jangka panjang China. China adalah importir minyak terbesar dunia, dan Iran memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar. Perjanjian 25 tahun antara China dan Iran yang ditandatangani pada 2021 adalah bukti kedalaman hubungan ini. China berinvestasi miliaran dolar di Iran, dan sebagai imbalannya, Iran menjamin pasokan energi ke China dengan harga preferensial.

Ketiga, Iran adalah sekutu strategis dalam melawan hegemoni Amerika. Iran dan China sama-sama menjadi sasaran sanksi Amerika. Mereka sama-sama berkepentingan untuk membangun sistem keuangan alternatif yang tidak bergantung pada Dolar. Kerjasama mereka dalam sistem pembayaran lintas batas yang menghindari SWIFT adalah ancaman nyata bagi dominasi finansial Amerika.

B. Perang 28 Februari 2026: Menghancurkan Sekutu China

Serangan Amerika dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 bukanlah keputusan yang diambil dalam ruang hampa. Ia adalah puncak dari perhitungan strategis jangka panjang.

Dengan menghancurkan Iran atau setidaknya melemahkannya secara signifikan Amerika mencapai beberapa tujuan sekaligus:

1.⁠ ⁠Memutus jalur pasokan energi China. Jika Iran tidak stabil, pasokan minyak China terancam. China harus mencari alternatif yang lebih mahal dan kurang dapat diandalkan.
2.⁠ ⁠Mengganggu proyek Belt and Road. Investasi China di Iran yang mencapai puluhan miliar dolar terancam hangus. Reputasi China sebagai mitra yang dapat diandalkan tercoreng.
3.⁠ ⁠Menghancurkan poros perlawanan. Iran adalah poros dari jaringan perlawanan yang membentang dari Lebanon hingga Yaman, dari Suriah hingga Irak. Dengan melemahkan Iran, Amerika melemahkan seluruh jaringan yang selama ini menjadi penghalang ekspansi pengaruhnya di Timur Tengah.
4.⁠ ⁠Mengirim pesan ke China. Pesannya jelas: “Kami bisa menghancurkan sekutu-sekutumu. Jangan berpikir kami tidak akan berani melakukan hal yang sama padamu jika diperlukan.”

C. Ironi yang Tidak Disadari

Namun ada ironi besar dalam strategi Amerika ini: serangan terhadap Iran justru memperkuat poros China-Rusia-Iran. Alih-alih mengisolasi Iran, Amerika justru mendorong Iran lebih dekat ke China dan Rusia. Alih-alih menghancurkan poros perlawanan, Amerika justru memperkuat solidaritas di dalamnya.

Dunia menyaksikan bagaimana China dan Rusia segera menyatakan dukungan kepada Iran. Bagaimana mereka mengirim kapal perang ke kawasan. Bagaimana mereka mengkoordinasikan respons diplomatik di PBB. Perang yang dimaksudkan untuk memecah belah justru menyatukan lawan-lawan Amerika dalam koalisi yang lebih erat.

Inilah yang disebut sebagai “blowback” dampak balik yang tidak diinginkan dari kebijakan luar negeri yang agresif. Amerika terlalu percaya diri dengan kekuatannya, lupa bahwa dalam geopolitik, tindakan selalu memicu reaksi, dan reaksi seringkali lebih besar dari yang diperkirakan.

Venezuela
Halaman Belakang yang Jadi Front

A. Sumber Daya yang Diperebutkan

Jika Iran adalah front Timur Tengah, maka Venezuela adalah front Amerika Latin. Jauh dari sorotan media utama, pertempuran di Venezuela adalah bagian integral dari perang bayangan antara Amerika dan China.

Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia bahkan lebih besar dari Arab Saudi. Namun karena mismanajemen dan sanksi Amerika, produksinya merosot drastis. Di sinilah China masuk.

China telah mengucurkan puluhan miliar dolar ke Venezuela, dengan imbalan pasokan minyak. Venezuela adalah bagian penting dari strategi energi China: diversifikasi sumber untuk mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah yang rawan konflik.

B. Upaya Amerika Menggulingkan Maduro

Amerika, di bawah berbagai pemerintahan, telah berusaha menggulingkan Presiden Nicolas Maduro. Sanksi ekonomi, dukungan untuk oposisi, bahkan upaya kudeta semua dilakukan untuk mengganti pemerintahan Venezuela dengan pemerintahan yang pro-Amerika.

Mengapa Amerika begitu bersemangat menggulingkan Maduro? Jawaban resminya adalah “demokrasi dan hak asasi manusia.” Namun jawaban sebenarnya adalah minyak dan China.

Venezuela yang pro-Amerika berarti:

1.⁠ ⁠Pasokan minyak Amerika aman.
2.⁠ ⁠China kehilangan salah satu mitra energi utamanya.
3.⁠ ⁠Pengaruh China di Amerika Latin terputus.
4.⁠ ⁠Sinyal dikirim ke negara-negara Amerika Latin lainnya: “Berpihak pada China akan berisiko.”

Baca Juga:  Megaproyek IKN Selesai 2045, Ladang Panjang ber-KKN-ria?

C. Strategi China: Bertahan dan Membangun

Menghadapi tekanan Amerika, China tidak mengambil pendekatan konfrontatif. Sebaliknya, China memainkan strategi jangka panjang: bertahan dan membangun.

China terus memberikan dukungan ekonomi kepada Venezuela meskipun dengan syarat yang lebih ketat setelah utang Venezuela membengkak. China juga memperluas hubungan dengan negara-negara Amerika Latin lainnya Brasil, Argentina, Peru, Chili sehingga ketergantungan pada satu negara berkurang.

Hasilnya: meskipun Amerika terus menekan, pengaruh China di Amerika Latin terus tumbuh. Negara-negara Amerika Latin melihat China sebagai mitra ekonomi yang tidak menggurui, tidak memaksakan resep politik, dan tidak menjatuhkan sanksi ketika mereka tidak sependapat.

Inilah kelemahan strategi Amerika: sanksi dan tekanan hanya efektif dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, ia mendorong negara-negara target untuk mencari alternatif dan alternatif itu adalah China.

Rusia poros Utara yang Tak Terpisahkan

A. Aliansi Tanpa Batas

Hubungan China-Rusia sering digambarkan sebagai “alliance without limits” aliansi tanpa batas. Meskipun ini adalah retorika yang berlebihan, tidak bisa dipungkiri bahwa kedua negara ini semakin erat dalam menghadapi tekanan Amerika.

Perang di Ukraina, yang dimulai pada 2022, adalah ujian besar bagi aliansi ini. Amerika dan sekutunya berharap China akan ikut menekan Rusia. Namun yang terjadi sebaliknya: China justru semakin dekat dengan Rusia.

Perdagangan China-Rusia melonjak. China menjadi penyelamat ekonomi Rusia di tengah sanksi Barat. Dan yang lebih penting, kerjasama strategis mereka di bidang energi, militer, dan teknologi semakin dalam.

B. Mengapa Rusia adalah Target

Mengapa Amerika begitu ingin mengisolasi Rusia? Jawaban sederhananya: Rusia adalah sekutu terpenting China.

Tanpa Rusia, China akan:

1.⁠ ⁠Kehilangan mitra militer yang memiliki pengalaman tempur modern.
2.⁠ ⁠Kehilangan pemasok energi penting (gas alam).
3.⁠ ⁠Kehilangan suara di Dewan Keamanan PBB yang sering sejalan dengannya.
4.⁠ ⁠Kehilangan “payung strategis” di utara yang membebaskannya untuk fokus ke selatan dan timur.

Dengan melemahkan Rusia, Amerika berharap China akan sendirian dalam menghadapi tekanan di Indo-Pasifik. Namun seperti halnya Iran dan Venezuela, strategi ini mengalami blowback. Alih-alih menjauh, Rusia justru semakin dekat dengan China. Alih-alih terisolasi, Rusia dan China bersama-sama membangun blok yang semakin solid.

Mengapa Strategi Amerika Gagal

A. Kesalahan Perhitungan Fundamental

Strategi Amerika dalam menghadapi China didasarkan pada beberapa asumsi yang kini terbukti keliru:

Asumsi 1: China akan terisolasi jika sekutu-sekutunya dilemahkan.
Kenyataan: Melemahkan sekutu China justru mendorong mereka lebih dekat ke China. Iran, Venezuela, Rusia semua sekarang memiliki hubungan yang lebih erat dengan China daripada sebelumnya.

Asumsi 2: Negara-negara lain akan memihak Amerika jika diberi tekanan.
Kenyataan: Negara-negara berkembang semakin lelah dengan tekanan Amerika. Mereka melihat China sebagai alternatif yang tidak memaksa mereka memilih. Arab Saudi, Brasil, India, Indonesia semua menjaga hubungan baik dengan kedua belah pihak, dan semakin banyak yang cenderung ke China.

Asumsi 3: Kekuatan militer Amerika cukup untuk memaksakan kehendak.
Kenyataan: Perang di Afghanistan, Irak, Ukraina, dan sekarang Iran menunjukkan bahwa kekuatan militer tidak lagi bisa memaksakan kehendak seperti dulu. Perang asimetris, ketahanan nasional, dan dukungan internasional menjadi faktor penentu yang tidak bisa diabaikan.

Asumsi 4: Sistem keuangan yang didominasi Dolar tidak tergantikan.
Kenyataan: Setiap hari, sistem alternatif dibangun. BRICS, AIIB, mBridge, digital yuan semua ini adalah fondasi arsitektur keuangan baru yang tidak lagi bergantung pada Dolar dan SWIFT.

B. China Memainkan Strategi yang Lebih Cerdas

Sementara Amerika bergerak dengan kekuatan keras bom, rudal, sanksi China memainkan strategi yang lebih halus namun lebih efektif:

1.⁠ ⁠Infrastruktur sebagai alat pengaruh. China membangun pelabuhan, jalan, kereta api, dan pembangkit listrik di seluruh dunia. Ini menciptakan ketergantungan positif negara-negara membutuhkan China karena China membangun negara mereka, bukan karena takut pada China.
2.⁠ ⁠Perdagangan sebagai alat integrasi. China adalah mitra dagang utama bagi lebih dari 120 negara. Ketergantungan ekonomi ini adalah jaminan yang lebih kuat daripada aliansi militer.
3.⁠ ⁠Diplomasi tanpa syarat. China jarang memaksakan syarat politik dalam hubungan ekonominya. “No strings attached” ini adalah daya tarik besar bagi negara-negara yang lelah dengan syarat-syarat IMF dan Bank Dunia yang didominasi Amerika.
4.⁠ ⁠Kesabaran strategis. China tidak terburu-buru menggantikan Amerika. Ia membangun, menunggu, dan membiarkan Amerika membuat kesalahan sendiri. Dan Amerika, dengan arogansi kekuatannya, terus membuat kesalahan.

Baca Juga:  36 Jam Terjebak Banjir Aceh; Ini Bencana Seperti Tsunami

Implikasi bagi Indonesia

A. Posisi Indonesia di Tengah Perang Bayangan

Indonesia tidak bisa menjadi penonton dalam perang bayangan ini. Posisi geografisnyandi persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik, di sepanjang jalur perdagangan tersibuk dunia menjadikannya target yang sangat diinginkan oleh kedua belah pihak.

Amerika ingin Indonesia menjadi bagian dari strategi containment-nya. Itu sebabnya Indonesia didorong untuk:

· Bersikap keras terhadap China di Laut China Selatan.
· Menjauhkan investasi China di dalam negeri.
· Bergabung dalam aliansi militer seperti AUKUS atau Quad.

China, di sisi lain, ingin Indonesia tetap netral, atau setidaknya tidak menjadi bagian dari koalisi anti-China. China menawarkan investasi, infrastruktur, dan pasar yang luas untuk produk-produk Indonesia.

B. Dilema yang Harus Dijawab

Indonesia menghadapi dilema yang tidak mudah:

1.⁠ ⁠Dilema ekonomi: China adalah mitra dagang terbesar Indonesia. Namun ketergantungan pada China juga berisiko, terutama jika konflik pecah.
2.⁠ ⁠Dilema keamanan: Amerika adalah mitra keamanan tradisional Indonesia. Namun bergabung dengan aliansi anti-China akan mengorbankan hubungan ekonomi dengan China.
3.⁠ ⁠Dilema politik: Politik bebas aktif adalah fondasi diplomasi Indonesia. Namun dalam dunia yang terpolarisasi, netralitas menjadi semakin sulit dipertahankan.

C. Jalan Ketiga: Menjadi Penyeimbang

Indonesia memiliki pilihan untuk tidak memihak salah satu, tetapi menjadi penyeimbang. Dengan kekuatan ekonominya yang semakin besar, posisi strategisnya, dan pengalaman diplomatiknya, Indonesia bisa menjadi jembatan antara blok-blok yang bertikai.

Ini bukan sekadar romantisme. Ini adalah keniscayaan. Karena jika Indonesia memihak, ia akan kehilangan. Jika Indonesia memihak Amerika, China akan mencari alternatif dan Indonesia akan kehilangan investasi dan pasar. Jika Indonesia memihak China, Amerika akan mempersulit posisi Indonesia di forum-forum global.

Jalan ketiga adalah aktif menjaga netralitas bukan netralitas pasif yang hanya diam, tetapi netralitas aktif yang membangun koalisi dengan negara-negara lain yang juga tidak ingin terperangkap dalam konflik kekuatan besar.

Akhir dari Hegemoni, Awal dari Dunia Baru

Perang bayangan Amerika melawan China melalui Iran, Venezuela, Rusia, dan lainnya adalah tanda kepanikan kekuatan yang sedang menurun. Amerika tidak lagi percaya diri menghadapi China secara langsung, sehingga ia berusaha melemahkan China dari pinggiran.

Namun sejarah mengajarkan satu hal: strategi seperti ini tidak pernah berhasil dalam jangka panjang. Blokade terhadap Jerman tidak menghentikan kebangkitan Jerman. Containment terhadap Uni Soviet berakhir dengan runtuhnya Uni Soviet bukan karena containment, tetapi karena kontradiksi internalnya sendiri. Dan sekarang, containment terhadap China juga akan gagal bukan karena China sempurna, tetapi karena dunia tidak lagi ingin diperintah oleh satu kekuatan.

Negara-negara berkembang yang selama ini menjadi korban hegemoni Amerika melihat China sebagai alternatif yang nyata. Mereka tidak butuh kuliah tentang demokrasi dari negara yang menghancurkan demokrasi di mana pun tidak sesuai kepentingannya. Mereka tidak butuh bantuan yang datang dengan syarat-syarat yang mengikat. Mereka butuh mitra yang setara.

Dan itulah yang ditawarkan China. Bukan karena China lebih baik secara moral, tetapi karena China membutuhkan mereka sama seperti mereka membutuhkan China. Dalam hubungan yang saling menguntungkan, tidak ada dominasi satu pihak. Itulah perbedaan fundamental antara pendekatan Amerika dan pendekatan China.

Perang bayangan ini akan terus berlangsung. Namun pada akhirnya, pemenangnya bukanlah yang paling kuat, tetapi yang paling banyak memiliki teman. Dan saat ini, meskipun Amerika memiliki sekutu militer yang kuat, China memiliki mitra dagang dan pembangunan yang jauh lebih banyak.

Dunia sedang berubah. Hegemoni sedang bergeser. Dan Indonesia jika cerdas membaca arus bisa menjadi salah satu penentu arah perubahan itu, bukan sekadar korban yang terseret arus.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang zalim, nanti kamu akan disentuh api neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu penolong selain Allah.”
QS. Hud: 113

Dalam pusaran perang bayangan kekuatan besar, kebijaksanaan bukanlah memilih pihak yang lebih kuat, tetapi memihak pada kebenaran dan keadilan. Karena pada akhirnya, yang kuat akan lemah, tetapi yang benar akan tetap tegak.

Tags: Amerika SerikatChinaEnergiGeopolitikGlobalIndonesiaIranMinyakPerangVenezuela
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz
Opini

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

by Anna Rizatil
April 10, 2026
Bagaimana Memahami Kemenangan Iran
Opini

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

by Anna Rizatil
April 8, 2026
Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran
Opini

Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran

by SAGOE TV
April 5, 2026
Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia
Opini

Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia

by Anna Rizatil
April 4, 2026
Dari Killing Menjadi Death, Diplomasi Paranoid Menlu Sugiono
Opini

Dari Killing Menjadi Death, Diplomasi Paranoid Menlu Sugiono

by Anna Rizatil
April 1, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

April 10, 2026
Mualem Lantik 3 Kepala SKPA, Gamal Abdul Nasir Jabat Kepala Biro Umum Setda Aceh

Mualem Lantik 3 Kepala SKPA, Gamal Abdul Nasir Jabat Kepala Biro Umum Setda Aceh

April 10, 2026
Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

April 11, 2026
USK Gelar Skate Park Stage Vol. 2, Laboratorium Kreatif Seni Terbuka untuk Publik

USK Gelar Skate Park Stage Vol. 2, Laboratorium Kreatif Seni Terbuka untuk Publik

April 10, 2026
Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

April 13, 2026
BMKG Surati Gubernur Aceh, Seluruh Wilayah Siaga Banjir dan Tanah Longsor

BMKG Surati Gubernur Aceh, Seluruh Wilayah Siaga Banjir dan Tanah Longsor

April 10, 2026
Krisis Air Bersih di Sekumur Ditangani Cepat, Satgas PRR Bangun Dua Sumur Bor

Krisis Air Bersih di Sekumur Ditangani Cepat, Satgas PRR Bangun Dua Sumur Bor

April 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Safrizal Klarifikasi Isu Penanganan Lumpur, 39 Lokasi di Aceh Masih Dikerjakan

Safrizal Klarifikasi Isu Penanganan Lumpur, 39 Lokasi di Aceh Masih Dikerjakan

April 10, 2026

EDITOR'S PICK

Pemantauan Hilal Awal Ramadhan Aceh

Hilal Awal Ramadhan 1446 H di Aceh Penuhi Kriteria Imkanur Rukyat MABIMS

February 28, 2025
Kasus Pemerkosaan Meningkat di Aceh, Revisi Qanun Jinayat Mandeg

Kasus Pemerkosaan Meningkat di Aceh, Revisi Qanun Jinayat Mandeg

August 28, 2024
Warga Lhoknga dan Cot Lamkuweueh Peringati 21 Tahun Tsunami Aceh Berdasarkan Kalender Hijriah

Warga Lhoknga dan Cot Lamkuweuh Peringati 21 Tahun Tsunami Aceh Berdasarkan Kalender Hijriah

May 16, 2025
Pelat BL untuk Semua Kendaraan di Aceh, Solusi Agar Pajak Mengalir ke Daerah Sendiri

Pelat BL untuk Semua Kendaraan di Aceh, Solusi Agar Pajak Mengalir ke Daerah Sendiri

October 1, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.