• Tentang Kami
Saturday, August 29, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran

SAGOE TV by SAGOE TV
April 5, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran

Ilustrasi AI

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Aishaa Akma
Analis Geopolitik 

“Kita akan mengembalikan Iran ke zaman batu.” Kalimat itu keluar dari mulut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai ancaman.

Ia bermaksud menghina, merendahkan, dan menakut-nakuti bangsa Persia. Ia ingin mengatakan bahwa Iran adalah negara primitif yang pantas dihancurkan hingga ke akar-akarnya, dikembalikan ke masa sebelum peradaban.

BACA JUGA

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

Tapi seperti kebanyakan hal yang keluar dari mulut Trump, ia tidak tahu apa yang ia katakan. Ia lupa atau mungkin tidak pernah tahu bahwa di zaman batu yang ia maksud sebagai simbol kemunduran itu, Kekuasaan Persia justru berada di puncak kejayaan dunia. Sementara Amerika Serikat belum ada, dan nenek moyangnya sendiri masih hidup di gua-gua Eropa, belum mengenal api, apalagi toilet.

Ironi ini bukan sekadar permainan kata. Ini adalah fakta sejarah yang menghancurkan seluruh logika ancaman Trump. Mari kita telusuri bersama.

Apa yang dimaksud dengan “zaman batu“? Dalam arkeologi, zaman batu adalah periode prasejarah ketika manusia masih menggunakan alat-alat dari batu. Namun peradaban manusia tidak berkembang secara linier di seluruh dunia. Ketika Eropa masih diliputi hutan belantara dan penduduknya hidup berburu meramu, di dataran tinggi Iran, peradaban telah mulai tumbuh.

Peradaban Elam, yang berpusat di Susa (barat daya Iran saat ini), sudah berdiri sejak sekitar 2700 SM—lebih dari 4.700 tahun yang lalu. Mereka memiliki sistem tulisan, arsitektur monumental, dan struktur pemerintahan yang rumit. Sementara itu, di Eropa, nenek moyang orang-orang yang kelak menjadi “Amerika” masih hidup dalam suku-suku kecil, belum mengenal pertanian, dan belum membangun kota.

Jika Trump ingin “mengembalikan Iran ke zaman batu”, ia mungkin harus kembali ke periode 10.000 SM. Tapi ironisnya, pada masa itu, wilayah yang kini disebut Iran telah dihuni oleh manusia modern yang mulai mengembangkan domestikasi hewan dan pertanian awal sementara benua Amerika masih dihubungkan oleh jembatan darat Bering, tempat manusia pertama kali masuk dari Asia. Artinya, “orang Amerika” pertama justru berasal dari Asia termasuk dari wilayah Persia Raya yang bermigrasi ribuan tahun kemudian.

Puncak Kejayaan Persia: Ketika Amerika Masih Mimpi
Mari kita lompat ke masa ketika peradaban Persia mencapai puncaknya. Kekaisaran Akhemeniyah (550–330 SM) adalah kekaisaran terbesar yang pernah ada pada masanya, membentang dari India hingga Eropa. Raja Koresh Agung mengeluarkan piagam hak asasi manusia pertama yang dikenal dalam sejarah (Silinder Koresh). Bangsa Persia membangun jalan raya kerajaan, sistem pos, mata uang standar, dan administrasi provinsi yang canggih.

Pada masa itu, di seberang lautan, benua Amerika masih dihuni oleh suku-suku Paleo-Indian yang hidup berburu mammoth dan menggunakan alat-alat batu. Mereka belum mengenal roda, belum memiliki tulisan, dan belum membangun peradaban kota. Sedangkan Persia telah memiliki istana megah di Persepolis, taman-taman gantung, dan sistem irigasi yang mengagumkan.

Jika Trump mengatakan “zaman batu” sebagai simbol keterbelakangan, ia secara tidak sadar sedang menggambarkan kondisi nenek moyangnya sendiri pada saat Persia jaya. Ironi yang luar biasa.

Silsilah keluarga Trump berasal dari Jerman dan Skotlandia. Pada masa kejayaan Persia (sekitar 500 SM), wilayah Jerman dan Skotlandia masih dihuni oleh suku-suku Jermanik dan Keltik yang hidup dalam masyarakat kesukuan, belum mengenal tulisan, dan belum memiliki struktur negara. Mereka tinggal di gubuk-gubuk kayu atau rumah-rumah batu sederhana, dan ya, belum mengenal toilet seperti yang kita kenal sekarang.

Toilet modern dengan sistem pembilasan baru dikenal di Eropa pada abad ke-19. Bahkan di Amerika Serikat, indoor plumbing baru umum pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sementara itu, di Persia kuno, sistem saluran air dan pembuangan limbah telah ditemukan di situs-situs arkeologi seperti di Persepolis dan kota-kota Elam. Bangsa Persia telah memiliki sistem sanitasi yang maju ribuan tahun sebelum kakek buyut Trump belajar menggunakan toilet.

Jadi ketika Trump mengancam akan “mengembalikan Iran ke zaman batu”, ia sedang mengancam untuk mengembalikan Iran ke era ketika nenek moyangnya sendiri masih hidup di gua dan belum mengenal peradaban. Ini bukan ancaman; ini adalah pujian tidak langsung terhadap ketahanan peradaban Persia.

Iran sebagai peradaban
Kekaisaran Persia telah lama runtuh. Alexander Agung membakar Persepolis. Arab datang dengan Islam. Mongol menghancurkan kota-kota. Inggris dan Rusia menjajah. Namun setiap kali, Persia bangkit kembali. Peradabannya tetap hidup, dalam bahasa, puisi, seni, dan spiritualitas. Rumi, Hafez, Sa’di, Ferdowsi,mereka adalah bukti bahwa peradaban Persia abadi.

Sementara itu, Amerika Serikat baru berusia kurang dari 250 tahun. Ia masih bayi dibandingkan dengan Persia. Trump mungkin tidak akan pernah mengerti bahwa kebesaran sebuah bangsa tidak diukur dari rudal atau kapal induk, tetapi dari kontribusinya terhadap peradaban manusia. Dan dalam ukuran itu, Persia telah menyumbangkan jauh lebih banyak daripada Amerika.

Pada akhirnya, sejarah akan mengingat Trump sebagai seorang presiden yang berbicara tanpa pengetahuan, yang menghina peradaban yang jauh lebih tua dan lebih kaya dari bangsanya sendiri. Dan Iran, seperti yang telah dilakukannya selama ribuan tahun, akan terus bertahan, akan terus membangun, akan terus mengajarkan dunia arti ketahanan sejati.[]

Tags: Amerika Serikat (AS)IranIran-AmerikaNarasiopiniPerangsagoetvZaman Batu
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Dek Din Syamsuddin
Opini

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

by SAGOE TV
August 23, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi
Opini

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

by SAGOE TV
August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

by SAGOE TV
August 20, 2026
Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal
Opini

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

by SAGOE TV
August 18, 2026
21 Tahun Damai Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Opini

Glorifikasi Munafik Ini Dibangun dengan Sengaja: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan

by SAGOE TV
August 17, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

August 27, 2026
Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

August 25, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

August 21, 2026
SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

August 24, 2026
Dek Din Syamsuddin

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

August 23, 2026
MEUGOE Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

MEUGOE: Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

August 27, 2026
21 Tahun Damai Aceh, Unhan RI dan BRA Bahas Strategi Memperkuat Perdamaian

21 Tahun Damai Aceh, Unhan RI dan BRA Bahas Strategi Memperkuat Perdamaian

August 27, 2026
M. Azril Ihksan

Makna Rindu, Antara Majnun dan Hamzah Fansuri

August 26, 2026

EDITOR'S PICK

Tgk Fakhruddin Lahmuddin Kembali Pimpin DMI Aceh

Tgk Fakhruddin Lahmuddin Kembali Pimpin DMI Aceh

January 12, 2025
Keindahan Ibadah Ramadhan di Masjid Jawa Bangkok

Keindahan Ibadah Ramadhan di Masjid Jawa Bangkok

March 6, 2025
Persiraja Kalah dari Adhyaksa FC di Laga Perdana, Kapten Tim Minta Maaf ke Suporter

Persiraja Kalah dari Adhyaksa FC di Laga Perdana, Kapten Tim Minta Maaf ke Suporter

September 14, 2025
Pj Gubernur Aceh Buka Konferwil PGRI, Tekankan Pentingnya Pendidikan sebagai Pilar Utama Pembangunan

Pj Gubernur Aceh Buka Konferwil PGRI, Tekankan Pentingnya Pendidikan sebagai Pilar Utama Pembangunan

January 25, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.