• Tentang Kami
Friday, September 18, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Anna Rizatil by Anna Rizatil
April 29, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Muna Madrah. Sosiolog dan Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muna Madrah
Sosiolog dan Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung

Ada satu pertanyaan yang belakangan mengusik: ketika negara mulai berbicara tentang penutupan program studi yang “tidak relevan dengan industri”, apakah kita sedang membicarakan efisiensi , atau sedang mendefinisikan ulang makna pendidikan itu sendiri?

Wacana ini, di satu sisi, tampak masuk akal. Dunia kerja berubah cepat, industri menuntut keterampilan spesifik, dan perguruan tinggi diharapkan tidak sekadar menjadi menara gading yang terputus dari kenyataan. Dalam logika ini, pendidikan tinggi diposisikan sebagai penyedia human capital, mesin pencetak tenaga kerja terampil demi menggerakkan ekonomi. Namun justru di titik inilah kegelisahan itu muncul: apakah pendidikan memang tidak lebih dari itu?

BACA JUGA

Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir

Sejarah memberi pelajaran yang perlu kita ingat. Sejak Revolusi Industri, institusi pendidikan tidak pernah benar-benar netral. Ia tumbuh seiring perubahan struktur ekonomi. Sekolah modern lahir bukan semata untuk membentuk manusia yang utuh, melainkan untuk mencetak manusia yang disiplin, patuh pada waktu, dan mampu bekerja dalam sistem produksi yang terstandar. Ruang kelas, dalam banyak hal, adalah cermin logika pabrik.

Dalam tradisi pemikiran kritis, pendidikan justru dipahami sebagai ruang pembebasan. Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan bisa menjadi alat domestikasi, ketika ia sekadar melatih manusia untuk menyesuaikan diri dengan sistem yang ada. Namun demikian pendidikan juga bisa menjadi praksis pembebasan, ketika ia membuka ruang untuk mempertanyakan sistem itu sendiri. Di sini, pendidikan bukan soal keterampilan semata, tetapi soal kesadaran.

Konteks Indonesia memperumit ketegangan ini. Berbeda dengan negara-negara yang telah lebih dulu membangun pendidikan sebagai ruang pembentukan kesadaran kritis, Indonesia masih bergulat dengan problem dasar: ketimpangan akses, mutu yang belum merata, dan tradisi belajar yang lebih mengandalkan kepatuhan daripada refleksi. Dalam banyak ruang kelas, pengetahuan masih mengalir satu arah , bukan sebagai dialog, melainkan sebagai instruksi.

Di titik inilah kita berhadapan dengan sebuah paradoks. Di satu sisi, kita belum berhasil menjadikan pendidikan sebagai ruang pembentukan kesadaran. Di sisi lain, kita sudah didorong untuk menyesuaikan diri dengan logika industri global yang menuntut efisiensi, kecepatan, dan relevansi ekonomi. Pendidikan kita seperti dipaksa melompat dari sistem yang belum matang secara reflektif, langsung menuju sistem yang serba instrumentalis.

Ketika program studi dinilai semata-mata dari relevansinya terhadap industri, ukuran nilai ilmu menjadi semakin sempit. Filsafat, sosiologi, studi agama Adalah contoh ilmu-ilmu yang tidak langsung menghasilkan keuntungan ekonomi. Perlahan ilmu-ilmu yang demikian akan dianggap kurang penting, bahkan tidak perlu. Padahal justru dari ruang-ruang inilah lahir kemampuan berpikir kritis, membaca kekuasaan, dan menjaga arah moral sebuah masyarakat.

Perlu juga kita jujur: tidak semua kritik terhadap kebijakan ini berarti menolak perubahan. Ada program studi yang memang perlu berbenah, kurikulumnya usang, tidak adaptif, dan gagal menjawab kebutuhan zaman. Tetapi solusinya tidak sesederhana menutupnya. Sebab persoalan yang lebih mendasar bukan pada “relevansi” semata, melainkan pada cara kita mendefinisikan relevansi itu sendiri. Apakah relevansi hanya diukur dari seberapa cepat lulusan terserap pasar kerja? Atau relevansi juga mencakup kemampuan membentuk manusia yang mampu berpikir, merasakan, dan bertanggung jawab terhadap masyarakatnya?

Jika pendidikan sepenuhnya tunduk pada logika pasar, kita berisiko kehilangan fungsi reflektifnya, bahkan sebelum fungsi itu sempat tumbuh. Kampus akan berubah menjadi pabrik: efisien, produktif, tetapi miskin makna. Ia akan menghasilkan pekerja, tetapi belum tentu menghasilkan warga negara yang sadar.

Di tengah arus global yang semakin pragmatis, kehati-hatian justru sangat diperlukan. Kita tidak sekadar mengejar ketertinggalan dari negara lain, tetapi memastikan bahwa arah yang kita tuju tidak mengorbankan pondasi yang belum selesai kita bangun. Jika semua ilmu harus relevan dengan industri, siapa yang akan mengkritik industri itu sendiri? Jika semua pendidikan diarahkan untuk memasuki sistem, siapa yang akan mempertanyakan ke mana sistem itu melaju?

Mungkin di sinilah kita perlu sejenak berhenti. Bukan untuk menolak perubahan, tetapi untuk memastikan bahwa dalam upaya menjadi “relevan”, pendidikan tidak kehilangan jiwanya. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang menyiapkan manusia untuk bekerja. Ia adalah tentang menyiapkan manusia untuk menjadi manusia.[]

Tags: Makin Tahu IndonesiaopinipendidikanPeradabanProgam Studi Tidak Relevan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari
Opini

Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

by SAGOE TV
September 15, 2026
Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir
Opini

Hari Literasi, AI, dan Cara Berpikir

by SAGOE TV
September 9, 2026
Lulusan Seni 2026-2030 Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh
Opini

Lulusan Seni 2026-2030: Menghubungkan Pendidikan, Profesi, dan Kebudayaan Aceh

by SAGOE TV
September 7, 2026
Risnawati Ridwan
Opini

Desil di Atas Kertas, Akses Pendidikan dan Kesehatan menjadi Taruhan

by SAGOE TV
September 6, 2026
Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026
Opini

Sekolah Gratis, Bersekolah Tidak: Refleksi Hardikda 2026

by SAGOE TV
September 2, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

Dari Harvard ke UIN Ar-Raniry, Reza Idria Kini Jadi Wakil Rektor

September 11, 2026
67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

67 Pejabat UIN Ar-Raniry Dilantik, Reza Idria Jadi Wakil Rektor dan Hendra Kurniawan Plt Dekan Kedokteran

September 11, 2026
Mahasiswa PKK USK Belajar Pendidikan Kuliner dan Pariwisata dari Akademisi Malaysia

Mahasiswa PKK USK Belajar Pendidikan Kuliner dan Pariwisata dari Akademisi Malaysia

September 12, 2026
Prof Teuku Zulfikar Jadi Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Ini Fokus yang Akan Diperkuat

Prof Teuku Zulfikar Jadi Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Ini Fokus yang Akan Diperkuat

September 12, 2026
Mujiburrahman Terpilih Jadi Ketua ICMI Aceh, Unggul 13 Suara dalam Muswil VIII

Mujiburrahman Terpilih Jadi Ketua ICMI Aceh, Unggul 13 Suara dalam Muswil VIII

September 12, 2026
Jejak Syekh Yusuf al-Makassari di Aceh dan Jaringan Samudra Hindia Dibahas UIN Ar-Raniry

Jejak Syekh Yusuf al-Makassari di Aceh dan Jaringan Samudra Hindia Dibahas UIN Ar-Raniry

September 14, 2026
104 Calon Mahasiswa Ikuti Seleksi Perdana Kedokteran UIN Ar-Raniry

104 Calon Mahasiswa Ikuti Seleksi Perdana Kedokteran UIN Ar-Raniry

September 15, 2026
Dari Blang Padang hingga 7 Desa di TNGL, Ini Persoalan Tanah Aceh yang Dibawa ke DPR RI

Dari Blang Padang hingga 7 Desa di TNGL, Ini Persoalan Tanah Aceh yang Dibawa ke DPR RI

September 15, 2026
AISZAWA 2026 di UIN Ar-Raniry, Rektor: Zakat dan Wakaf Harus Berdampak pada Masyarakat

AISZAWA 2026 di UIN Ar-Raniry, Rektor: Zakat dan Wakaf Harus Berdampak pada Masyarakat

September 17, 2026

EDITOR'S PICK

Kekerasan Perempuan dan Anak di Aceh Meningkat, MaTA Dorong Reformasi Kebijakan dan Anggaran

Kekerasan Perempuan dan Anak di Aceh Meningkat, MaTA Dorong Reformasi Kebijakan dan Anggaran

June 21, 2025
Tarif Penyeberangan dan Angkutan di Daerah Bencana Diminta Tidak Memberatkan Masyarakat

Tarif Penyeberangan dan Angkutan di Daerah Bencana Diminta Tidak Memberatkan Masyarakat

December 10, 2025
Sekda Aceh dan Wali Kota Illiza Bahas Penataan Akses Jalan untuk Dukung Integrasi Pelayanan RSUDZA

Sekda Aceh dan Wali Kota Illiza Bahas Penataan Akses Jalan untuk Dukung Integrasi Pelayanan RSUDZA

August 21, 2025
Ketua Komisi VII DPRA: Santripreneur, Pilar Ekonomi Baru Aceh

Ketua Komisi VII DPRA: Santripreneur, Pilar Ekonomi Baru Aceh

March 26, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.