• Tentang Kami
Thursday, May 14, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Menulis Cepat, Berpikir Dangkal?

SAGOE TV by SAGOE TV
May 14, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Muna Madrah_Menulis Cepat Berpikir Dangkal

Muna Madrah, Sosiolog dan Dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung. Foto: Arsip Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muna Madrah
Sosiolog dan Dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung

Beberapa kegelisahan lahir bukan dari ruang seminar besar, melainkan dari percakapan sederhana di kelas.

BACA JUGA

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

Seorang mahasiswa bertanya kepada saya, “Bu, bolehkah saya menulis artikel dengan menggunakan AI?”

Saya menjawab pelan, “Bagaimana anda menggunakan AI?”

Ia menjelaskan bahwa ia cukup memasukkan judul atau topik penelitian, lalu sistem AI akan membuatkan artikel lengkap beserta kesimpulannya. Saya tersenyum kecil. Saya tahu dari mana imajinasi itu datang: media sosial hari ini dipenuhi iklan tentang bagaimana menulis artikel dalam satu jam, menyelesaikan skripsi dalam semalam, atau menghasilkan publikasi ilmiah secara instan dengan bantuan kecerdasan buatan.

Saya tidak ingin menjawabnya sebagai sebuah fenomena benar atau salah. Sebab persoalannya memang tidak sesederhana “boleh” atau “tidak boleh”. AI adalah teknologi. Dan seperti teknologi lainnya, ia bisa menjadi alat bantu yang berguna, tetapi juga bisa menjadi jalan pintas yang menumpulkan daya pikir.

Saya kemudian mengatakan kepada mahasiswa itu, bahwa AI memang bisa membantu menulis artikel dalam hitungan menit. Bahkan mungkin lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan oleh manusia dalam menyusun kerangka berpikirnya sendiri. Tetapi pengetahuan tidak pernah lahir secara instan. Pengetahuan dibangun melalui proses panjang: membaca, mengalami kebingungan, merasakan kegelisahan, melakukan perenungan, membiarkan gagasan mengendap, sampai perlahan muncul pemahaman yang lebih jernih.

Di situlah letak kegelisahan saya sebagai dosen hari ini.

Masalah terbesar pendidikan kita mungkin bukan mahasiswa yang tidak bisa menulis, tetapi mahasiswa yang tidak lagi sabar berpikir.

Di era digital, kecepatan telah menjadi standar baru hampir dalam segala hal. Kita hidup di tengah budaya yang memuja efisiensi. Segala sesuatu harus cepat: informasi cepat, respons cepat, hasil cepat, bahkan gelar dan publikasi pun diharapkan cepat. Dalam logika seperti ini, berpikir perlahan sering dianggap tidak produktif.

Baca Juga:  Agresi Militer, Kontribusi Sosiawan dan Penataan Kesejahteraan

Kampus perlahan ikut terseret dalam logika yang sama. Dosen dituntut produktif, mahasiswa dituntut cepat lulus, publikasi diukur dengan angka, sementara proses membaca dan berpikir mendalam semakin kehilangan ruang. Dalam situasi seperti itu, teknologi akhirnya tidak lagi dipandang sebagai alat bantu intelektual, tetapi sebagai cara mempercepat produksi akademik.

Padahal berpikir justru merupakan pekerjaan yang lambat.

Saya teringat Socrates. Filsuf Yunani itu membangun pendidikan bukan dengan memberikan jawaban kepada murid-muridnya, melainkan dengan mengajukan pertanyaan yang membuat mereka ragu terhadap apa yang mereka kira sudah mereka pahami. Bagi Socrates, justru kesadaran bahwa kita belum benar-benar tahu adalah awal dari pencarian pengetahuan yang sesungguhnya.

Pendidikan, dalam pandangan itu, bukan soal mengisi kepala dengan jawaban. Melainkan melatih manusia untuk bertanya, meragukan, dan terus menguji.

Dan proses seperti itu, baik dulu maupun sekarang, tidak pernah bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.

Ia membutuhkan ketekunan membaca, keberanian meragukan jawaban sendiri, kesediaan merevisi gagasan, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum benar-benar memahami sesuatu. Proses intelektual bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan membangun kedalaman cara pandang terhadap dunia.

Di era AI, situasi bergerak sebaliknya. Mahasiswa sering datang bukan dengan pertanyaan, tetapi dengan keinginan memperoleh jawaban secepat mungkin. Akibatnya, proses intelektual perlahan kehilangan ruang untuk kebingungan, keraguan, dan kontemplasi, padahal dari situlah kedalaman berpikir biasanya lahir.

Hari ini kita menyaksikan perubahan yang cukup mengkhawatirkan. Banyak mahasiswa merasa cukup “mengetahui” sesuatu hanya karena mampu menghasilkan ringkasan cepat dari AI. Mereka tampak memahami konsep, padahal sesungguhnya baru berada di permukaan. Mereka mampu menyusun kalimat akademik, tetapi belum tentu mampu membangun argumentasi secara matang.

Baca Juga:  Menjadi Pemimpin Totalitas

Kita akhirnya berhadapan dengan ironi pendidikan modern: tulisan semakin banyak, tetapi proses berpikir semakin tipis.

Tentu saya tidak sedang mengajak mahasiswa memusuhi teknologi. Saya sendiri menggunakan AI dalam beberapa pekerjaan akademik. Teknologi dapat membantu memetakan ide, merapikan struktur tulisan, mencari kemungkinan perspektif, bahkan mempercepat pekerjaan teknis tertentu. Dalam banyak hal, AI sangat membantu.

Namun, ada garis yang perlu dijaga dengan hati-hati: jangan sampai AI menggantikan nalar manusia.

AI seharusnya membantu kita menyusun gagasan, bukan menggantikan proses pembentukan gagasan itu sendiri. Sebab jika seluruh proses berpikir diserahkan kepada mesin, maka yang hilang bukan hanya kemampuan menulis, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan secara lebih mendalam.

Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar soal menghasilkan output akademik. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu berpikir reflektif, kritis, dan sadar terhadap dunia di sekitarnya.

Jangan-jangan di tengah kemajuan teknologi hari ini, yang perlahan hilang bukan kemampuan menulis manusia, melainkan kesabaran manusia untuk berpikir. Wallahualam.

Tags: AIBerpikirManusiaMenulisMuna Madrahopinipendidikan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031
Opini

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

by SAGOE TV
May 10, 2026
Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam
Opini

Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

by SAGOE TV
May 7, 2026
Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?
Opini

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

by Anna Rizatil
April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh
Opini

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

by SAGOE TV
April 26, 2026
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan
Opini

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

by Anna Rizatil
April 25, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

May 10, 2026
Hubbika House Creative Gelar Kelulusan Kidspreneurclub 3 dan Launching Produk Siswa

Hubbika House Creative Gelar Kelulusan Kidspreneurclub 3 dan Launching Produk Siswa

May 11, 2026
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Mualem Gelar Silaturahmi dengan Ulama

Mualem Gelar Silaturahmi dengan Ulama

May 9, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Kuah Beulangong Khas Aceh Jadi Menu Andalan di Lampoh Kemang Jakarta

Kuah Beulangong Khas Aceh Jadi Menu Andalan di Lampoh Kemang Jakarta

May 13, 2026
Inkubasi Seni sebagai Praktik Publik: Membangun Ekosistem Hidup Seni, Pengetahuan, dan Ruang Kampus

Inkubasi Seni sebagai Praktik Publik: Membangun Ekosistem Hidup Seni, Pengetahuan, dan Ruang Kampus

May 6, 2026
Pewarta Foto Aceh Chaideer Mahyuddin Raih APFI 2026 lewat Foto Cerita “The Last Hope”

Pewarta Foto Aceh Chaideer Mahyuddin Raih APFI 2026 lewat Foto Cerita “The Last Hope”

May 9, 2026
USK Buka Jalur Prestasi Berdasarkan Talenta, Perluas Akses Pendidikan Berkualitas

SNBP 2026: 2.967 Peserta Lulus di USK, Cek Jadwal Verifikasi hingga Daftar Ulang

April 1, 2026

EDITOR'S PICK

FKPT Aceh Gelar FGD Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

FKPT Aceh Gelar FGD Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

May 1, 2025
Menaker Siapkan Talenta Muda Jadi Inovator dan Pencipta Lapangan Kerja di Era AI

Menaker Siapkan Talenta Muda Jadi Inovator dan Pencipta Lapangan Kerja di Era AI

May 11, 2026
Pelajar dan Komunitas di Aceh Dibekali Workshop Menulis Cerita Sastra dan Bahasa

Pelajar dan Komunitas di Aceh Dibekali Workshop Menulis Cerita Sastra dan Bahasa

September 29, 2024
Harga Gabah Kering di  Aceh Besar Meningkat

Harga Gabah Kering di Aceh Besar Meningkat

August 27, 2024
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.