• Tentang Kami
Saturday, August 29, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Menulis Cepat, Berpikir Dangkal?

SAGOE TV by SAGOE TV
May 14, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Muna Madrah_Menulis Cepat Berpikir Dangkal

Muna Madrah, Sosiolog dan Dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung. Foto: Arsip Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muna Madrah
Sosiolog dan Dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung

Beberapa kegelisahan lahir bukan dari ruang seminar besar, melainkan dari percakapan sederhana di kelas.

BACA JUGA

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

Seorang mahasiswa bertanya kepada saya, “Bu, bolehkah saya menulis artikel dengan menggunakan AI?”

Saya menjawab pelan, “Bagaimana anda menggunakan AI?”

Ia menjelaskan bahwa ia cukup memasukkan judul atau topik penelitian, lalu sistem AI akan membuatkan artikel lengkap beserta kesimpulannya. Saya tersenyum kecil. Saya tahu dari mana imajinasi itu datang: media sosial hari ini dipenuhi iklan tentang bagaimana menulis artikel dalam satu jam, menyelesaikan skripsi dalam semalam, atau menghasilkan publikasi ilmiah secara instan dengan bantuan kecerdasan buatan.

Saya tidak ingin menjawabnya sebagai sebuah fenomena benar atau salah. Sebab persoalannya memang tidak sesederhana “boleh” atau “tidak boleh”. AI adalah teknologi. Dan seperti teknologi lainnya, ia bisa menjadi alat bantu yang berguna, tetapi juga bisa menjadi jalan pintas yang menumpulkan daya pikir.

Saya kemudian mengatakan kepada mahasiswa itu, bahwa AI memang bisa membantu menulis artikel dalam hitungan menit. Bahkan mungkin lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan oleh manusia dalam menyusun kerangka berpikirnya sendiri. Tetapi pengetahuan tidak pernah lahir secara instan. Pengetahuan dibangun melalui proses panjang: membaca, mengalami kebingungan, merasakan kegelisahan, melakukan perenungan, membiarkan gagasan mengendap, sampai perlahan muncul pemahaman yang lebih jernih.

Di situlah letak kegelisahan saya sebagai dosen hari ini.

Masalah terbesar pendidikan kita mungkin bukan mahasiswa yang tidak bisa menulis, tetapi mahasiswa yang tidak lagi sabar berpikir.

Di era digital, kecepatan telah menjadi standar baru hampir dalam segala hal. Kita hidup di tengah budaya yang memuja efisiensi. Segala sesuatu harus cepat: informasi cepat, respons cepat, hasil cepat, bahkan gelar dan publikasi pun diharapkan cepat. Dalam logika seperti ini, berpikir perlahan sering dianggap tidak produktif.

Kampus perlahan ikut terseret dalam logika yang sama. Dosen dituntut produktif, mahasiswa dituntut cepat lulus, publikasi diukur dengan angka, sementara proses membaca dan berpikir mendalam semakin kehilangan ruang. Dalam situasi seperti itu, teknologi akhirnya tidak lagi dipandang sebagai alat bantu intelektual, tetapi sebagai cara mempercepat produksi akademik.

Padahal berpikir justru merupakan pekerjaan yang lambat.

Saya teringat Socrates. Filsuf Yunani itu membangun pendidikan bukan dengan memberikan jawaban kepada murid-muridnya, melainkan dengan mengajukan pertanyaan yang membuat mereka ragu terhadap apa yang mereka kira sudah mereka pahami. Bagi Socrates, justru kesadaran bahwa kita belum benar-benar tahu adalah awal dari pencarian pengetahuan yang sesungguhnya.

Pendidikan, dalam pandangan itu, bukan soal mengisi kepala dengan jawaban. Melainkan melatih manusia untuk bertanya, meragukan, dan terus menguji.

Dan proses seperti itu, baik dulu maupun sekarang, tidak pernah bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.

Ia membutuhkan ketekunan membaca, keberanian meragukan jawaban sendiri, kesediaan merevisi gagasan, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum benar-benar memahami sesuatu. Proses intelektual bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan membangun kedalaman cara pandang terhadap dunia.

Di era AI, situasi bergerak sebaliknya. Mahasiswa sering datang bukan dengan pertanyaan, tetapi dengan keinginan memperoleh jawaban secepat mungkin. Akibatnya, proses intelektual perlahan kehilangan ruang untuk kebingungan, keraguan, dan kontemplasi, padahal dari situlah kedalaman berpikir biasanya lahir.

Hari ini kita menyaksikan perubahan yang cukup mengkhawatirkan. Banyak mahasiswa merasa cukup “mengetahui” sesuatu hanya karena mampu menghasilkan ringkasan cepat dari AI. Mereka tampak memahami konsep, padahal sesungguhnya baru berada di permukaan. Mereka mampu menyusun kalimat akademik, tetapi belum tentu mampu membangun argumentasi secara matang.

Kita akhirnya berhadapan dengan ironi pendidikan modern: tulisan semakin banyak, tetapi proses berpikir semakin tipis.

Tentu saya tidak sedang mengajak mahasiswa memusuhi teknologi. Saya sendiri menggunakan AI dalam beberapa pekerjaan akademik. Teknologi dapat membantu memetakan ide, merapikan struktur tulisan, mencari kemungkinan perspektif, bahkan mempercepat pekerjaan teknis tertentu. Dalam banyak hal, AI sangat membantu.

Namun, ada garis yang perlu dijaga dengan hati-hati: jangan sampai AI menggantikan nalar manusia.

AI seharusnya membantu kita menyusun gagasan, bukan menggantikan proses pembentukan gagasan itu sendiri. Sebab jika seluruh proses berpikir diserahkan kepada mesin, maka yang hilang bukan hanya kemampuan menulis, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan secara lebih mendalam.

Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar soal menghasilkan output akademik. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu berpikir reflektif, kritis, dan sadar terhadap dunia di sekitarnya.

Jangan-jangan di tengah kemajuan teknologi hari ini, yang perlahan hilang bukan kemampuan menulis manusia, melainkan kesabaran manusia untuk berpikir. Wallahualam.

Tags: AIBerpikirManusiaMenulisMuna Madrahopinipendidikan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Dek Din Syamsuddin
Opini

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

by SAGOE TV
August 23, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi
Opini

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

by SAGOE TV
August 21, 2026
Dek Din Syamsuddin
Opini

Menjaga Jiwa Kota: Dilema Tata Ruang Banda Aceh, Gampong Kopelma Darussalam, dan Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional

by SAGOE TV
August 20, 2026
Sesudah Damai, Apa Lagi Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh_Muhammad Akmal
Opini

Sesudah Damai, Apa Lagi? Pelajaran Ibnu Khaldun untuk Aceh

by SAGOE TV
August 18, 2026
21 Tahun Damai Refleksi dan Koreksi untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Opini

Glorifikasi Munafik Ini Dibangun dengan Sengaja: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan

by SAGOE TV
August 17, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

Tabina Tour Travel Kembali Memberangkatkan Dua Kloter Jamaah Umrah

August 27, 2026
Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Berakhir, Pesan untuk Generasi Muda: Kenali Sejarah

August 25, 2026
Remaja Aceh di Persimpangan NKRI, Merdeka, dan Ruang Kosong Tokoh Idola_Irwandi

Remaja Aceh di Persimpangan: NKRI, “Merdeka”, dan Ruang Kosong Tokoh Idola

August 21, 2026
SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

SPS Revival: Setelah Lima Belas Volume, Apa yang Harus Berubah?

August 24, 2026
MEUGOE Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

MEUGOE: Ketika Sebuah Skatepark Menjadi Sekolah Kehidupan

August 27, 2026
Dek Din Syamsuddin

Menyoroti Site Plan PSN yang Mengabaikan Aspel Sosial Masyarakat di Kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh

August 23, 2026
21 Tahun Damai Aceh, Unhan RI dan BRA Bahas Strategi Memperkuat Perdamaian

21 Tahun Damai Aceh, Unhan RI dan BRA Bahas Strategi Memperkuat Perdamaian

August 27, 2026
M. Azril Ihksan

Makna Rindu, Antara Majnun dan Hamzah Fansuri

August 26, 2026

EDITOR'S PICK

Dr Sulaiman Tripa

Malam Puasa 13, Memikirkan Musala di Tempat Berbuka

March 12, 2025
Wali Nanggroe di AFPC 2025 Dunia Bisa Belajar dari Perdamaian Aceh dan Kepercayaan yang Dibangun

Wali Nanggroe di AFPC 2025: Dunia Bisa Belajar dari Perdamaian Aceh dan Kepercayaan yang Dibangun

October 6, 2025
Refleksi Dua Dekade Damai dan Tsunami Aceh: Aman tapi Tak Nyaman?

Refleksi Dua Dekade Damai dan Tsunami Aceh: Aman tapi Tak Nyaman?

March 10, 2025
Indonesia Pamerkan Arah Baru Energi Nasional di ADIPEC 2025, BPMA Promosikan Potensi Migas Aceh

Indonesia Pamerkan Arah Baru Energi Nasional di ADIPEC 2025, BPMA Promosikan Potensi Migas Aceh

November 7, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.