• Tentang Kami
Sunday, October 18, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

SAGOE TV by SAGOE TV
July 13, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Sufri Eka Bhakti, M.A., PhD. Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dan Alumnus S3, University of Kent, Inggris. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Sufri Eka Bhakti, M.A., PhD
Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dan Alumnus S3, University of Kent, Inggris

Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba mengajukan pertanyaan sederhana kepada sejumlah generasi muda Aceh:

“Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar nama Kota Lhokseumawe?”

BACA JUGA

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

Jawabannya hampir selalu sama.

“Kota petrodollar”

Saya kemudian melanjutkan pertanyaan berikutnya:

“Selain petrodollar, apa lagi yang melekat pada Kota Lhokseumawe?”

Tidak banyak yang menyebut Samudera Pasai. Tidak banyak pula yang menghubungkan Lhokseumawe dengan sejarah perdagangan internasional atau peradaban maritim terbesar di Asia Tenggara.

Mengapa identitas kota Lhokseumawe begitu lekat dengan istilah “petrodollar”, sementara sejarah yang jauh lebih tua dan panjang perlahan-lahan semakin pudar dari ingatan kolektif masyarakat Aceh?

Padahal jauh sebelum LNG Arun ditemukan pada tahun 1971, wilayah ini telah menjadi bagian penting dari peradaban besar di Nusantara, yaitu Samudera Pasai.

Berabad-abad sebelum kapal-kapal tanker LNG berlayar dari Arun menuju Singapura, Jepang, dan Korea Selatan, kapal-kapal dagang dari Arab, Persia, India, dan Tiongkok telah lebih dulu singgah di wilayah ini. Jauh sebelum kota Lhokseumawe menjadi kota energi, kawasan ini telah menjadi simpul perdagangan dunia, pusat intelektual Islam, serta pintu masuk peradaban dunia ke Nusantara.

Jika Arun menghubungkan Lhokseumawe dengan ekonomi global abad ke-20, maka Samudera Pasai telah menghubungkannya dengan dunia internasional sejak abad ke-13.

Hari ini, ketika generasi muda Aceh menyebut kota Lhokseumawe, yang pertama kali muncul adalah kilang gas dan kejayaan petrodollar pada masa lalu. Kota ini seolah direduksi menjadi fungsi tunggal, kota penghasil gas.

Di sinilah saya mulai melihat bahwa istilah “petrodollar” mungkin tidak sesederhana yang selama ini kita bayangkan.

Istilah tersebut memang terdengar positif. Istilah petrodollar menghadirkan gambaran tentang kemakmuran, pembangunan, dan modernisasi. Namun pada saat yang sama, ia juga menyederhanakan identitas sebuah kota menjadi sekadar fungsi ekonominya saja karena dalam narasi petrodollar, kota Lhokseumawe difahami terutama sebagai ruang ekstraksi.

Nilai sebuah kota akhirnya hanya diukur dari apa yang dapat diambil dari tanahnya, bukan dari sejarahnya, manusianya, atau pengetahuan yang lahir darinya.

Fenomena ini mengingatkan kita pada pola kolonial di mana wilayah pinggiran dihargai bukan karena tamadun dan sejarahnya, tetapi karena komoditas yang dimilikinya.

Dahulu Aceh dipandang penting karena lada, rempah-rempah, dan posisinya di jalur perdagangan dunia. Hari ini komoditas itu berubah menjadi minyak dan gas. Yang berubah hanyalah barang yang diekstraksi; logika kolonial yang mendasarinya sering kali tetap sama.

Dalam kajian dekolonial, kondisi ini disebut sebagai coloniality of power, ketika pola relasi kolonial terus bertahan meskipun kolonialisme formal telah lama berakhir. Sebuah wilayah tetap ditempatkan sebagai periferi ekonomi, di mana nilainya lebih banyak ditentukan oleh sumber daya alamnya, daripada oleh sejarah, masyarakat atau pengetahuan yang lahir darinya.

Dalam konteks inilah istilah “petrodollar Aceh” menjadi problematis dan semakin tidak relevan.

Dalam ilmu komunikasi, bahasa memang tidak pernah netral. Setiap istilah membawa perspektif, kepentingan, dan relasi kekuasaan. Ketika institusi, akademisi dan masyarakat terus-menerus memproduksi istilah tersebut tanpa refleksi kritis, maka secara tidak langsung telah ikut mempertahankan cara pandang bahwa nilai utama Kota Lhokseumawe terletak pada kemampuannya menghasilkan sumber daya alam.

Edward Said mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui dominasi ekonomi dan politik, tetapi juga melalui representasi. Ketika Lhokseumawe berulang kali direpresentasikan sebagai “kota petrodollar”, sejarah, kebudayaan, dan masyarakatnya berisiko tersisihkan oleh identitas ekonomi yang lebih sempit.

Padahal sebuah kota tidak pernah dibangun hanya oleh sumber daya alamnya. Kota Lhokseumawe dibangun oleh manusianya, oleh sejarahnya, oleh memori kolektifnya, dan oleh pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Apakah kota Lhokseumawe akan terus mendefinisikan dirinya melalui sumber daya alam yang telah habis, atau melalui warisan peradaban yang telah bertahan selama berabad-abad?

Dalam perspektif dekolonial, tantangannya bukan sekadar mengganti istilah, melainkan mengubah cara kita memproduksi pengetahuan dan merepresentasikan sebuah kota. Dekolonialisasi berarti memindahkan pusat narasi dari industri dan pasar ke sejarah dan kebudayaan lokal itu sendiri.

Barangkali, sudah saatnya kita mengingat kembali bahwa sebelum menjadi kota gas, Lhokseumawe terlebih dahulu merupakan bagian dari peradaban Samudera Pasai.

Dan mungkin, masa depan kota ini akan lebih kokoh jika dibangun di atas ingatan sejarah tersebut, bukan semata-mata di atas euforia kejayaan gas yang suatu hari memang ditakdirkan untuk habis, tetapi juga di atas warisan peradaban yang telah bertahan selama berabad-abad.[]

Tags: AcehDekolonialKota LhokseumaweKota PetrodollarLGN ArunLhokseumaweSufri Eka Bhakti
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan
Opini

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

by SAGOE TV
October 14, 2026
Publik dalam Bayang Militerisme Urban
Opini

Bukan Antisains, Prabowo Justru Antisaintis

by SAGOE TV
October 5, 2026
Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit
Opini

Saman dan Ruang Hidup Negeri Seribu Bukit

by SAGOE TV
October 4, 2026
Hari Pancasila dan Harapan Rakyat
Opini

Hari Pancasila dan Harapan Rakyat

by SAGOE TV
October 1, 2026
Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan Langkah Berikutnya bagi MACS di USK
Opini

Dari Percakapan, Respons, ke Ujian Kelembagaan: Langkah Berikutnya bagi MACS di USK

by SAGOE TV
September 30, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

Sagoetv.com Diduga Diretas Usai Terbitkan Berita Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran

October 13, 2026
Arsip tabloid asAsi

asAsi: Nyawöung dalam Wujud Lain

October 16, 2026
Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

Luna Maya Kunjungi MIN 4 Aceh Besar, Beri Pesan untuk Siswa dan Guru

October 16, 2026
MACS Membuka Pintu, Membangun Jalan

MACS: Membuka Pintu, Membangun Jalan

October 14, 2026
Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

Nama Punggung Ilham Udin Tak Sesuai Registrasi, Persiraja Didenda Rp20 Juta

October 15, 2026
Persiraja vs Semen Padang Nama Besar Kabau Sirah Tak Bikin Laskar Rencong Gentar

Total Denda Rp100 Juta, Persiraja dan Faris Adit Disanksi Usai Laga Kontra Sumsel United

October 14, 2026
Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

Dari Simbiosis Fotografi ke Ekosistem Seni: Membaca Kembali Cultural Nuances

October 11, 2026
Baun Thoib Soaloon Kepala Kantor Bahasa Kepri

Mendikdasmen Lantik 162 Pejabat, Baun Thoib Soaloon Jabat Kepala Kantor Bahasa Kepri

October 18, 2026
Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

Dek Fadh Hadiri Peusijuek 3 Putra Aceh yang Mengemban Amanah di Tingkat Nasional

October 11, 2026

EDITOR'S PICK

sulaiman tripa

Kecamatan Ala Aceh

March 24, 2025
Mualem dan DPR Aceh Kompak Kawal Revisi UUPA, Optimis Diterima Presiden Prabowo

Mualem dan DPR Aceh Kompak Kawal Revisi UUPA, Optimis Diterima Presiden Prabowo

May 19, 2025
Abu Madinah Meninggal Dunia, Pj Gubernur Aceh Sampaikan Dukacita Mendalam

Abu Madinah Meninggal Dunia, Pj Gubernur Aceh Sampaikan Dukacita Mendalam

December 17, 2024
USK Wisuda 1.383 Lulusan, Termasuk Mahasiswa Internasional dari Australia

USK Wisuda 1.383 Lulusan, Termasuk Mahasiswa Internasional dari Australia

May 27, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.