Oleh: Ari J. Palawi
Aneuk Mukim Kayee Adang, Kota Banda Aceh
Dua puluh satu tahun setelah MoU Helsinki, Aceh perlu mengajukan pertanyaan yang lebih jauh. Bukan hanya bagaimana menjaga perdamaian, tetapi juga apa yang kita wariskan kepada generasi yang lahir setelah konflik berakhir?
Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Kesepakatan itu membuka jalan bagi penyelesaian konflik secara damai, menyeluruh, berkelanjutan, dan bermartabat. Proses tersebut berlangsung tidak lama setelah gempa dan tsunami 26 Desember 2004Â yang mengubah kehidupan masyarakat Aceh.
Dua peristiwa itu menjadi bagian penting dari sejarah Aceh modern. Namun perdamaian tidak selesai ketika para pihak menandatangani kesepakatan. Masyarakat harus terus merawatnya melalui pendidikan, kebudayaan, kehidupan sosial, ekonomi, dan ruang publik.
Karena itu, merawat perdamaian juga menjadi pekerjaan kebudayaan.
Salah satu ikhtiar kecil untuk menjawab tantangan tersebut hadir melalui SPS Revival di Banda Aceh. SPS Revival tumbuh dari perjumpaan orang-orang dengan latar belakang, komunitas, profesi, dan generasi yang beragam.
Kegiatan setiap Sabtu kemudian berkembang. Ia tidak lagi hanya menjadi ruang pertunjukan. Ia menjadi ruang untuk bertemu, belajar, berkarya, berbagi pengetahuan, dan membangun kolaborasi.
Kegiatan Sabtu itu kini menggunakan identitas SPS Inclusive Stage. Siapa pun dapat menjadi kontributor karya kreatif. Musik, puisi, tarian, murni rupa, film, teater, rap, fesyen, beatbox, breaking, kriya, kerajinan, monolog, dan berbagai bentuk ekspresi dapat hadir.
Inclusive Stage bukan arena perlombaan. Ia memberi kesempatan kepada orang untuk mencoba. Anak muda dapat belajar menyiapkan karya, bekerja dalam tim, tampil di depan publik, menerima tanggapan, dan mengevaluasi hasilnya.
Perkembangan SPS kemudian melahirkan kebutuhan baru. SPS membutuhkan Meunasah atau Kesekretariatan Bersama SPS.
Remaja Meunasah SPSÂ (penggerak kesekretariatan bersama) akan membantu mengelola administrasi, database, dokumentasi, penulisan, publikasi, desain, teknologi informasi, program, serta hubungan dengan komunitas dan mitra.
Meunasah menjadi simpul kerja bersama yang menghubungkan orang, komunitas, lembaga, pengetahuan, karya, dan peluang tanpa harus meleburkan identitas masing-masing.
Dari jejaring yang terus tumbuh itu, ‘The Aceh Society’ dapat dipahami bukan sebagai organisasi baru, melainkan sebagai infrastruktur sosial Aceh: sebuah cara untuk membuat berbagai kekuatan yang sudah ada saling menemukan, saling menguatkan, dan lebih mudah bekerja bersama.
Jika SPS Revival adalah ruang perjumpaannya, maka The Aceh Society adalah jejaring yang membuat perjumpaan itu terus terhubung melampaui satu kegiatan, satu komunitas, atau satu generasi.
Prinsipnya jelas. Setiap pihak dapat mempertahankan identitas dan kemandiriannya. Pada saat yang sama, mereka dapat bekerja untuk kepentingan yang lebih luas.
Dari perkembangan tersebut, SPS mulai mengembangkan beberapa fungsi yang saling melengkapi.
Poliseni menjadi ruang pembelajaran seni dan kreativitas berbasis praktik. Poliseni bukan sekolah seni formal. Siapa pun dapat belajar, bekerja bersama, mencoba, dan menghasilkan karya.
Darud Dunia menjadi ruang pengetahuan, dokumentasi, dan arsip.
Kebutuhannya sangat nyata. Banyak sejarah kebudayaan Aceh masih tersimpan dalam ingatan para pelakunya. Sebagian belum terdokumentasikan dengan baik.
Kita tahu bahwa skateboard pernah berkembang di Aceh. Breakdance juga pernah tumbuh. Berbagai komunitas musik dan seni pernah memainkan peran penting. Namun kita belum selalu memiliki catatan yang cukup tentang siapa yang memulai, bagaimana perkembangannya, dan apa yang dapat kita pelajari.
Ketika pelaku senior tidak lagi kita temui dan pengalamannya tidak kita catat, sebagian pengetahuan ikut hilang.
Darud Dunia ingin mencegah hal itu. Ia dapat mengumpulkan cerita, karya, pengalaman, foto, rekaman, dan pengetahuan para pelaku kebudayaan. Semua itu dapat menjadi sumber belajar bagi generasi berikutnya.
Pertemuan seniman senior dengan generasi muda juga dapat memperkuat proses tersebut. Reuni, percakapan, atau pertunjukan bersama bukan sekadar nostalgia. Kegiatan itu dapat memindahkan pengetahuan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
UNESCO juga semakin menempatkan pendidikan budaya, partisipasi inklusif, dokumentasi, transformasi digital, keberlanjutan ekosistem budaya, dan perdamaian dalam satu kerangka kebijakan. Global Report on Cultural Policies 2025Â menunjukkan hubungan erat antara bidang-bidang tersebut.
SPS kemudian menghadapi persoalan berikutnya: bagaimana menjaga keberlanjutan sumber daya?
Dari kebutuhan tersebut muncul Komite Dana Abadi Ekosistem Kreatif Aceh atau DAEKA.
DAEKA tidak sekadar mencari uang. DAEKA ingin membangun budaya kontribusi dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Kontribusi dapat berbentuk uang. Namun kontribusi juga dapat berupa ruang, peralatan, buku, keahlian, waktu, jaringan, atau tenaga sukarela.
Orang dapat membantu karena ingin memberi ruang belajar bagi anak muda. Orang lain mungkin ingin menyelamatkan sejarah seni Aceh. Ada pula yang ingin membantu ruang publik tetap hidup atau mendukung lahirnya karya baru.
Sebagian orang mungkin juga ingin meneruskan manfaat yang pernah mereka rasakan dari SPS. Bagi mereka yang meyakini nilai keagamaan dalam berbagi, kontribusi tersebut dapat diniatkan sebagai amal.
Logika ini berbeda dari sponsorship. Sponsorship biasanya mengatur imbal balik tertentu. Filantropi kreatif lebih bertumpu pada kepercayaan terhadap manfaat yang akan lahir.
Namun kepercayaan membutuhkan akuntabilitas. DAEKA harus mencatat kontribusi, mengelolanya secara tertib, membuka informasi yang diperlukan, dan menunjukkan dampaknya.
Dengan kerangka tersebut, SPS tidak perlu menjalankan program secara acak. Program utamanya mencakup SPS Talks, Learning Lab, Inclusive Stage, Screen, Collab, Experience, Social Action, dan Creative Market.
SPS Talks membuka percakapan. Learning Lab menghadirkan pembelajaran berbasis praktik. Inclusive Stage memberi ruang untuk tampil. Screen mempertemukan publik dengan karya. Collab memperluas kerja sama.
Experience memberi pengalaman belajar langsung. Social Action menghubungkan kreativitas dengan kebutuhan masyarakat. Creative Market mempertemukan karya dengan peluang ekonomi.
SPS juga dapat mengembangkan program pendukung. Bentuknya antara lain podcast, jurnal, review, residency, fellowship, creative award, proyek arsip, publishing, produksi rekaman, dan dokumenter.
SPS tidak harus menjalankan semuanya sekaligus. Setiap program harus menghasilkan sesuatu yang jelas. Bisa berupa pengetahuan, keterampilan, karya, pengalaman, jejaring, kesempatan, dokumentasi, atau manfaat sosial.
Dari sini muncul satu siklus kerja:

Meunasah membantu mengorganisasi kerja bersama. Poliseni mengembangkan kapasitas manusia. Inclusive Stage memberi ruang tampil. Darud Dunia menjaga pengetahuan. DAEKA menjaga keberlanjutan sumber daya. SPS Revival mempertemukan semuanya.
Pertanyaan akhirnya kembali kepada generasi setelah perdamaian.
Mereka lahir setelah 2005. Sebagian besar tidak mengalami langsung konflik yang melatarbelakangi MoU Helsinki. Mereka juga tidak mengalami seluruh proses rekonstruksi Aceh setelah tsunami.
Namun mereka menerima hasil dari perjalanan sejarah tersebut.
Karena itu, generasi sebelumnya perlu menyediakan pengetahuan dan ruang belajar. Generasi muda juga perlu mengambil tanggung jawab. Mereka perlu menciptakan karya, mencatat pengalaman, membangun komunitas, mengembangkan keterampilan, dan ikut menentukan masa depan Aceh.
Baca juga: Mengapa pendidikan di Aceh perlu mengajarkan soal kesepakatan damai dan rekonsiliasi
Semangat itu kemudian diteruskan dalam SPS Inclusive Stage volume 13, Sabtu, 15 Agustus 2026. Bertepatan dengan 21 tahun MoU Helsinki, Peusijuek dipilih sebagai tema untuk menengok apa yang telah tumbuh sekaligus meneguhkan langkah berikutnya. Bila di volume 10 sebelumnya bertema Ranup Sigapue sebagai salam perjumpaan. Meutaloe merawat hubungan, dan Meuseuraya mengajak bekerja serta berkarya bersama. Peusijuek menjadi ruang untuk meneguhkan nilai yang telah dibangun dan membuka perjalanan baru bersama.
Perdamaian telah memberi Aceh kesempatan. Kini masyarakat perlu mengisinya dengan pendidikan, kebudayaan, pengetahuan, kreativitas, dan kerja bersama.
Keberhasilan perdamaian tidak hanya terlihat dari berakhirnya kekerasan. Ia juga terlihat dari kemampuan masyarakat membangun kehidupan yang lebih terbuka, produktif, berpengetahuan, dan memberi ruang kepada generasi berikutnya.
Perdamaian memberi kesempatan. Generasi berikutnya menentukan apa yang dilakukan dengan kesempatan tersebut.




















