• Tentang Kami
Thursday, August 13, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Setelah 21 Tahun Damai, Aceh Mau Mewariskan Apa?

SAGOE TV by SAGOE TV
August 13, 2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Ari J. Palawi

Ari J. Palawi. Foto: Arsip Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Aneuk Mukim Kayee Adang, Kota Banda Aceh

Dua puluh satu tahun setelah MoU Helsinki, Aceh perlu mengajukan pertanyaan yang lebih jauh. Bukan hanya bagaimana menjaga perdamaian, tetapi juga apa yang kita wariskan kepada generasi yang lahir setelah konflik berakhir?

Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Kesepakatan itu membuka jalan bagi penyelesaian konflik secara damai, menyeluruh, berkelanjutan, dan bermartabat. Proses tersebut berlangsung tidak lama setelah gempa dan tsunami 26 Desember 2004 yang mengubah kehidupan masyarakat Aceh.

BACA JUGA

Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

Dua peristiwa itu menjadi bagian penting dari sejarah Aceh modern. Namun perdamaian tidak selesai ketika para pihak menandatangani kesepakatan. Masyarakat harus terus merawatnya melalui pendidikan, kebudayaan, kehidupan sosial, ekonomi, dan ruang publik.

Karena itu, merawat perdamaian juga menjadi pekerjaan kebudayaan.

Salah satu ikhtiar kecil untuk menjawab tantangan tersebut hadir melalui SPS Revival di Banda Aceh. SPS Revival tumbuh dari perjumpaan orang-orang dengan latar belakang, komunitas, profesi, dan generasi yang beragam.

Kegiatan setiap Sabtu kemudian berkembang. Ia tidak lagi hanya menjadi ruang pertunjukan. Ia menjadi ruang untuk bertemu, belajar, berkarya, berbagi pengetahuan, dan membangun kolaborasi.

Kegiatan Sabtu itu kini menggunakan identitas SPS Inclusive Stage. Siapa pun dapat menjadi kontributor karya kreatif. Musik, puisi, tarian, murni rupa, film, teater, rap, fesyen, beatbox, breaking, kriya, kerajinan, monolog, dan berbagai bentuk ekspresi dapat hadir.

Inclusive Stage bukan arena perlombaan. Ia memberi kesempatan kepada orang untuk mencoba. Anak muda dapat belajar menyiapkan karya, bekerja dalam tim, tampil di depan publik, menerima tanggapan, dan mengevaluasi hasilnya.

Perkembangan SPS kemudian melahirkan kebutuhan baru. SPS membutuhkan Meunasah atau Kesekretariatan Bersama SPS.

Remaja Meunasah SPS (penggerak kesekretariatan bersama) akan membantu mengelola administrasi, database, dokumentasi, penulisan, publikasi, desain, teknologi informasi, program, serta hubungan dengan komunitas dan mitra.

Meunasah menjadi simpul kerja bersama yang menghubungkan orang, komunitas, lembaga, pengetahuan, karya, dan peluang tanpa harus meleburkan identitas masing-masing.

Dari jejaring yang terus tumbuh itu, ‘The Aceh Society’ dapat dipahami bukan sebagai organisasi baru, melainkan sebagai infrastruktur sosial Aceh: sebuah cara untuk membuat berbagai kekuatan yang sudah ada saling menemukan, saling menguatkan, dan lebih mudah bekerja bersama.

Jika SPS Revival adalah ruang perjumpaannya, maka The Aceh Society adalah jejaring yang membuat perjumpaan itu terus terhubung melampaui satu kegiatan, satu komunitas, atau satu generasi.

Prinsipnya jelas. Setiap pihak dapat mempertahankan identitas dan kemandiriannya. Pada saat yang sama, mereka dapat bekerja untuk kepentingan yang lebih luas.

Dari perkembangan tersebut, SPS mulai mengembangkan beberapa fungsi yang saling melengkapi.

Poliseni menjadi ruang pembelajaran seni dan kreativitas berbasis praktik. Poliseni bukan sekolah seni formal. Siapa pun dapat belajar, bekerja bersama, mencoba, dan menghasilkan karya.

Darud Dunia menjadi ruang pengetahuan, dokumentasi, dan arsip.

Kebutuhannya sangat nyata. Banyak sejarah kebudayaan Aceh masih tersimpan dalam ingatan para pelakunya. Sebagian belum terdokumentasikan dengan baik.

Kita tahu bahwa skateboard pernah berkembang di Aceh. Breakdance juga pernah tumbuh. Berbagai komunitas musik dan seni pernah memainkan peran penting. Namun kita belum selalu memiliki catatan yang cukup tentang siapa yang memulai, bagaimana perkembangannya, dan apa yang dapat kita pelajari.

Ketika pelaku senior tidak lagi kita temui dan pengalamannya tidak kita catat, sebagian pengetahuan ikut hilang.

Darud Dunia ingin mencegah hal itu. Ia dapat mengumpulkan cerita, karya, pengalaman, foto, rekaman, dan pengetahuan para pelaku kebudayaan. Semua itu dapat menjadi sumber belajar bagi generasi berikutnya.

Pertemuan seniman senior dengan generasi muda juga dapat memperkuat proses tersebut. Reuni, percakapan, atau pertunjukan bersama bukan sekadar nostalgia. Kegiatan itu dapat memindahkan pengetahuan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

UNESCO juga semakin menempatkan pendidikan budaya, partisipasi inklusif, dokumentasi, transformasi digital, keberlanjutan ekosistem budaya, dan perdamaian dalam satu kerangka kebijakan. Global Report on Cultural Policies 2025 menunjukkan hubungan erat antara bidang-bidang tersebut.

SPS kemudian menghadapi persoalan berikutnya: bagaimana menjaga keberlanjutan sumber daya?

Dari kebutuhan tersebut muncul Komite Dana Abadi Ekosistem Kreatif Aceh atau DAEKA.

DAEKA tidak sekadar mencari uang. DAEKA ingin membangun budaya kontribusi dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Kontribusi dapat berbentuk uang. Namun kontribusi juga dapat berupa ruang, peralatan, buku, keahlian, waktu, jaringan, atau tenaga sukarela.

Orang dapat membantu karena ingin memberi ruang belajar bagi anak muda. Orang lain mungkin ingin menyelamatkan sejarah seni Aceh. Ada pula yang ingin membantu ruang publik tetap hidup atau mendukung lahirnya karya baru.

Sebagian orang mungkin juga ingin meneruskan manfaat yang pernah mereka rasakan dari SPS. Bagi mereka yang meyakini nilai keagamaan dalam berbagi, kontribusi tersebut dapat diniatkan sebagai amal.

Logika ini berbeda dari sponsorship. Sponsorship biasanya mengatur imbal balik tertentu. Filantropi kreatif lebih bertumpu pada kepercayaan terhadap manfaat yang akan lahir.

Namun kepercayaan membutuhkan akuntabilitas. DAEKA harus mencatat kontribusi, mengelolanya secara tertib, membuka informasi yang diperlukan, dan menunjukkan dampaknya.

Dengan kerangka tersebut, SPS tidak perlu menjalankan program secara acak. Program utamanya mencakup SPS Talks, Learning Lab, Inclusive Stage, Screen, Collab, Experience, Social Action, dan Creative Market.

SPS Talks membuka percakapan. Learning Lab menghadirkan pembelajaran berbasis praktik. Inclusive Stage memberi ruang untuk tampil. Screen mempertemukan publik dengan karya. Collab memperluas kerja sama.

Experience memberi pengalaman belajar langsung. Social Action menghubungkan kreativitas dengan kebutuhan masyarakat. Creative Market mempertemukan karya dengan peluang ekonomi.

SPS juga dapat mengembangkan program pendukung. Bentuknya antara lain podcast, jurnal, review, residency, fellowship, creative award, proyek arsip, publishing, produksi rekaman, dan dokumenter.

SPS tidak harus menjalankan semuanya sekaligus. Setiap program harus menghasilkan sesuatu yang jelas. Bisa berupa pengetahuan, keterampilan, karya, pengalaman, jejaring, kesempatan, dokumentasi, atau manfaat sosial.

Dari sini muncul satu siklus kerja:

Meunasah membantu mengorganisasi kerja bersama. Poliseni mengembangkan kapasitas manusia. Inclusive Stage memberi ruang tampil. Darud Dunia menjaga pengetahuan. DAEKA menjaga keberlanjutan sumber daya. SPS Revival mempertemukan semuanya.

Pertanyaan akhirnya kembali kepada generasi setelah perdamaian.

Mereka lahir setelah 2005. Sebagian besar tidak mengalami langsung konflik yang melatarbelakangi MoU Helsinki. Mereka juga tidak mengalami seluruh proses rekonstruksi Aceh setelah tsunami.

Namun mereka menerima hasil dari perjalanan sejarah tersebut.

Karena itu, generasi sebelumnya perlu menyediakan pengetahuan dan ruang belajar. Generasi muda juga perlu mengambil tanggung jawab. Mereka perlu menciptakan karya, mencatat pengalaman, membangun komunitas, mengembangkan keterampilan, dan ikut menentukan masa depan Aceh.

Baca juga: Mengapa pendidikan di Aceh perlu mengajarkan soal kesepakatan damai dan rekonsiliasi

Semangat itu kemudian diteruskan dalam SPS Inclusive Stage volume 13, Sabtu, 15 Agustus 2026. Bertepatan dengan 21 tahun MoU Helsinki, Peusijuek dipilih sebagai tema untuk menengok apa yang telah tumbuh sekaligus meneguhkan langkah berikutnya. Bila di volume 10 sebelumnya bertema Ranup Sigapue sebagai salam perjumpaan. Meutaloe merawat hubungan, dan Meuseuraya mengajak bekerja serta berkarya bersama. Peusijuek menjadi ruang untuk meneguhkan nilai yang telah dibangun dan membuka perjalanan baru bersama.

Perdamaian telah memberi Aceh kesempatan. Kini masyarakat perlu mengisinya dengan pendidikan, kebudayaan, pengetahuan, kreativitas, dan kerja bersama.

Keberhasilan perdamaian tidak hanya terlihat dari berakhirnya kekerasan. Ia juga terlihat dari kemampuan masyarakat membangun kehidupan yang lebih terbuka, produktif, berpengetahuan, dan memberi ruang kepada generasi berikutnya.

Perdamaian memberi kesempatan. Generasi berikutnya menentukan apa yang dilakukan dengan kesempatan tersebut.

Tags: AcehAri J. PalawiDamaidamai acehMoU HelsinkiopiniPerdamaian
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan_Risnawati Ridwan
Opini

Pengadilan Digital dan Krisis Literasi Ketenagakerjaan

by SAGOE TV
August 3, 2026
Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi
Opini

Memutus Mata Rantai Korupsi dari Hulu Demokrasi

by SAGOE TV
August 1, 2026
LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh
Opini

LGBT dan Cermin Penegakan Syariat di Aceh

by SAGOE TV
July 29, 2026
Putri Saleh ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Bidang perlindungan Khusus Anak.
Opini

Jangan Biarkan Masa Depan Anak Berjalan Sendiri

by SAGOE TV
July 30, 2026
Risnawati Ridwan ASN Pada Dinas Sosial Kota Banda Aceh
Opini

Film Teach You a Lesson: Sebab yang Perlu Dididik Kadang Bukan Anak, tetapi Orang Dewasa

by SAGOE TV
July 21, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

Ketika Banyak Orang Mengeluh, SPS Revival Memilih Membangun

August 7, 2026
Calvin Ho

Paradoks Aceh: Mengapa Kekayaan Alam Tidak Menjadi Kemakmuran?

August 7, 2026
Kemiskinan di Aceh Naik Jadi 12,34 Persen, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 10.400 Orang

Kemiskinan di Aceh Naik Jadi 12,34 Persen, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 10.400 Orang

August 6, 2026
MTsN 2 Banda Aceh Luncurkan Tujuh Buku Karya Siswa dan Guru, Cetak Generasi Penulis Sejak Dini

MTsN 2 Banda Aceh Luncurkan Tujuh Buku Karya Siswa dan Guru, Cetak Generasi Penulis Sejak Dini

August 8, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Prodi Ekonomi Syariah UIA Jalani Asesmen LAMEMBA, Dorong Peningkatan Mutu Dosen dan Lulusan

Prodi Ekonomi Syariah UIA Jalani Asesmen LAMEMBA, Dorong Peningkatan Mutu Dosen dan Lulusan

August 11, 2026
USK Jajaki Kolaborasi dengan Mubadala Energy, Fokus Pengembangan SDM dan Mahasiswa

USK Jajaki Kolaborasi dengan Mubadala Energy, Fokus Pengembangan SDM dan Mahasiswa

August 7, 2026
Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

Makna Cinta, di Antara Cut Nyak Dhien & Kahlil Gibran

August 6, 2026
Pengangguran di Aceh Capai 157 Ribu Orang

Pengangguran di Aceh Capai 157 Ribu Orang

August 8, 2026

EDITOR'S PICK

Presiden Prabowo Bangga dengan Mualem Jadi Gubernur Aceh

Presiden Prabowo Bangga dengan Mualem Jadi Gubernur Aceh

February 15, 2025
Ihwal Belajar Mengenali Negara Malaysia

Ihwal Belajar Mengenali Negara Malaysia

March 24, 2025
Pj Gubernur Aceh; Rumput Stadion H Dimurthala Bagus

Pj Gubernur Aceh; Rumput Stadion H Dimurthala Bagus

February 8, 2026
Gubernur Aceh Muzakir Manaf Hadiri Rapat Kerja APPSI, Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah

Gubernur Aceh Muzakir Manaf Hadiri Rapat Kerja APPSI, Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah

July 17, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.