BANDA ACEH | SAGOE TV — Sekretariat Bersama (Remaja Meunasah) SPS Revival menempatkan SPS Talk sebagai salah satu langkah penting dalam pengembangan arah baru SPS Revival. Program ini dikembangkan untuk memperluas fungsi SPS dari yang selama ini lebih dikenal melalui pertunjukan menjadi ruang dialog, pembelajaran, pertukaran pengetahuan, dan penguatan kapasitas ekosistem seni dan kebudayaan.
Sebagai bagian dari langkah tersebut, SPS Talk #1 akan diselenggarakan pada Senin, 31 Agustus 2026, pukul 16.30 WIB hingga selesai, bertempat di Studio Syech Lah Geunta, Kampus Kreatif Inong Balee, Darussalam, Banda Aceh. Kegiatan ini merupakan kerja sama SPS Revival (Darud Dunia) dan HIMA Seni Universitas Syiah Kuala.
SPS Talk #1 mengangkat tema “Membaca Seni di Ruang Publik: Kritik, Apresiasi, dan Praktik Kebudayaan”, dengan subtema “Dari Menonton Pertunjukan Menuju Memahami Seni sebagai Praktik Sosial.” Tema tersebut dipilih untuk mengajak partisipan melihat seni tidak hanya sebagai tontonan atau produk estetis, tetapi sebagai praktik yang memiliki hubungan dengan proses kreatif, konteks budaya, ruang publik, masyarakat, dan pengalaman hidup.
Tiga pemantik diskusi akan menghadirkan perspektif yang berbeda. Cut Masyitah, S.Pd., guru dan pegiat seni; Deddy Mulia, S.Sn., musisi dan bagian dari Seuramoe Reggae; serta Ratu Silvara, mahasiswa seni USK. Keberagaman latar belakang tersebut diharapkan menghadirkan pembacaan seni dari pengalaman pendidikan, praktik bermusik, maupun perspektif generasi muda dan mahasiswa seni.

SPS Talk dirancang bukan sebagai seminar satu arah. Format kegiatan menggabungkan dialog publik, studi kasus, dan refleksi, sehingga peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak mengamati, menginterpretasi, mengkritisi, dan merefleksikan pengalaman seni yang mereka temui.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah Observe – Interpret – Critique – Reflect. Peserta diajak melihat peristiwa atau karya, membaca konteks dan maknanya, menyusun pandangan kritis berbasis argumentasi, kemudian menghubungkannya dengan pengalaman dan lingkungan sosial mereka. Pendekatan ini terutama relevan bagi mahasiswa peserta mata kuliah Kritik dan Apresiasi Seni, mahasiswa seni dan budaya, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap praktik kebudayaan.
Menurut Sekretariat Bersama SPS Revival, pengembangan SPS Talk merupakan bagian dari kebutuhan untuk melakukan diversifikasi program. SPS tidak boleh hanya dipersepsikan sebagai penyelenggara pertunjukan. Jika seluruh aktivitas SPS bergantung pada produksi pertunjukan, keberlanjutan program akan terus menghadapi tekanan produksi, baik dari sisi sumber daya manusia, pembiayaan, waktu, maupun kebutuhan teknis.
Karena itu, SPS Revival secara bertahap mengembangkan sejumlah program yang saling melengkapi, antara lain SPS Talk, SPS Learning LAB, SPS Screen, SPS Collab, SPS Experience, SPS Social Action, dan SPS Creative Market, serta berbagai program berkala seperti podcast, jurnal, review, residency, fellowship, creative award, archive project, publishing, record, dan documentary.
Diversifikasi tersebut bukan berarti mengurangi arti penting pertunjukan. Sebaliknya, pertunjukan tetap menjadi salah satu bagian dari ekosistem SPS, sementara program lain berfungsi memperkuat pengetahuan, kapasitas, jejaring, dokumentasi, kolaborasi, dan keberlanjutan. Dengan pendekatan ini, seseorang dapat terlibat dalam SPS bukan hanya sebagai penampil, tetapi juga sebagai pembelajar, peneliti, pengelola, dokumentator, kolaborator, maupun bagian dari masyarakat yang menggunakan seni sebagai medium interaksi sosial.
SPS Talk #1 sekaligus menjadi bagian dari agenda evaluasi kerja SPS Revival. Evaluasi tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa perkembangan SPS tidak hanya diukur berdasarkan frekuensi pertunjukan, tetapi juga berdasarkan seberapa jauh SPS mampu menciptakan kesempatan belajar, memperluas jejaring, meningkatkan kapasitas pelaku, menghasilkan pengetahuan, dan membuka kemungkinan kolaborasi baru.
Sehubungan dengan agenda evaluasi tersebut, SPS Inclusive Stage Vol. 17 baru kembali akan dihadirkan pada Rabu, 2 September 2026. Jeda tersebut merupakan bagian dari proses penataan dan evaluasi, bukan penghentian aktivitas SPS Revival.
Melalui SPS Talk dan program-program diversifikasi lainnya, SPS Revival ingin membangun sebuah ruang yang tetap aktif bahkan ketika tidak sedang menyelenggarakan pertunjukan. Berkumpul, belajar, berdiskusi, berkarya, berbagi, mendokumentasikan, berkolaborasi, memberdayakan, hingga mewariskan pengetahuan merupakan bagian dari ekosistem yang sedang dibangun.
Sekretariat Bersama (Remaja Meunasah) SPS Revival mengajak mahasiswa, seniman, komunitas, akademisi, praktisi kreatif, dan masyarakat untuk melihat SPS bukan semata sebagai panggung pertunjukan, tetapi sebagai ruang bersama untuk mengembangkan pengetahuan, kapasitas, dan praktik kebudayaan.[] Sekretariat Bersama (Remaja Meunasah) SPS Revival




















