• Tentang Kami
Friday, September 4, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Apakah Aceh Berani Istimewa?

SAGOE TV by SAGOE TV
May 15, 2025
in Analisis
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Aceh Dua Dekade Damai: Seremoni Berlimpah, Substansi Terlupa

Ari J. Palawi. (Foto: dokumentasi pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari Palawi

Ada yang sedang tumbuh diam-diam dari janji negara. Program indah yang digagas Presiden Prabowo untuk memanusiakan manusia, terutama anak-anak dan remaja desa, tampak mulai mengakar sebagai niat baik yang perlu kita kawal bersama. Jika benar diniatkan untuk memuliakan hidup, bukan sekadar proyek atau pengulangan dari skema pembangunan lama, maka inilah momen langka yang seharusnya menyentuh nadi keistimewaan Aceh yang sesungguhnya. Tapi pertanyaannya, apakah Aceh berani istimewa?

BACA JUGA

Membongkar Utang Indonesia dan Ilusi “Masih Aman”

Paradoks Aceh: Mengapa Kekayaan Alam Tidak Menjadi Kemakmuran?

Yang dimaksud “berani istimewa” bukan hanya soal status administratif sebagai daerah otonomi khusus, tapi tentang keberanian moral dan intelektual untuk membedakan diri secara prinsipil dari arus besar penyeragaman sistemik nasional yang sering kali gagal menjawab kebutuhan lokal.

Momentum Sekolah Rakyat: Kesempatan untuk Menyimpang dengan Bijak

Program Sekolah Rakyat yang kini mulai dirancang dan disebarluaskan ke berbagai daerah, termasuk mungkin di Aceh, adalah titik awal penting. Ia bisa menjadi jalan baru untuk keluar dari kemelut pendidikan dasar-menengah yang selama ini diseragamkan dari Sabang sampai Merauke, namun terus melahirkan masalah-masalah baru: kekeringan makna, keterputusan dengan realitas lokal, dan pendidikan yang lebih menekankan hafalan daripada pengasahan akal dan empati.

Aceh, dengan segala kekhasan sejarah, budaya, dan spiritualitasnya, memiliki tanggung jawab dan peluang untuk menjadikan Sekolah Rakyat bukan sebagai kloning dari pusat, melainkan sebagai antitesis yang sehat dari model pendidikan nasional yang terlalu administratif dan teknokratis. Model yang sering gagal mendidik manusia utuh—yang berpikir, merasa, dan berbuat dalam relasi yang manusiawi dengan sesama dan alam.

Memurnikan Tujuan: Bukan Untuk Ormas, Tapi Untuk Anak Negeri

Yang perlu digarisbawahi sejak awal adalah bahwa sekolah ini bukan milik ormas mana pun. Ia milik rakyat. Milik anak-anak yang kerap dipinggirkan karena tinggal jauh dari kota, atau dianggap hanya sebagai angka statistik dari program-program penanggulangan kemiskinan. Anak-anak yang selama ini hidup dalam bayang-bayang trauma konflik, bencana, atau ketidakpastian masa depan.

Karena itu, pendekatan homogen, terpusat, dan seragam justru berbahaya. Ia menghilangkan konteks. Padahal pendidikan yang baik lahir dari kedekatan dengan bumi tempat ia tumbuh: dari bahasa ibu, dari kisah-kisah lokal, dari tradisi belajar yang tidak harus selalu bernama “kelas”, tapi bisa berbentuk meunasah, bale, atau tumpukan batu di bawah pohon yang rimbun, di mana anak-anak bisa belajar membaca alam, mengenal diri, dan menghargai hidup.

Kalau Aceh sungguh-sungguh mau berani istimewa, maka inilah saatnya untuk tidak tunduk pada model cetak biru dari pusat, apalagi jika model itu menanggalkan nilai-nilai keacehan yang penuh hikmah. Kita butuh lebih dari sekadar sekolah; kita butuh taman kehidupan, tempat anak tumbuh sebagai manusia, bukan sebagai mesin atau pemilih suara di masa depan.

Taman Pengetahuan, Bukan Ladang Politisasi

Sudah cukup lama pendidikan kita dirampas dari marwahnya. Sekolah menjadi tempat menggiring, bukan membimbing. Ia dibangun bukan untuk mencerdaskan, tapi untuk mendisiplinkan, membungkam, atau—pada titik paling kejamnya—mencetak anak-anak untuk kepentingan politik elektoral.

Kini, saat Sekolah Rakyat dirancang kembali, Aceh harus punya nyali untuk tidak menjadikannya perpanjangan tangan dari partai politik atau organisasi tertentu yang ingin mendominasi ruang-ruang sosial. Ini bukan panggung pengaruh, ini adalah ruang kehidupan. Dan kita tahu, sekali ruang kehidupan dijajah oleh kepentingan politik jangka pendek, maka hancurlah generasi yang akan datang.

Sekolah Rakyat di Aceh harus kembali kepada akar: menumbuhkan akal sehat yang merdeka, menjunjung tinggi keberadaban, serta memperkuat jati diri yang selama ini diwariskan para endatu. Di sinilah pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tapi soal keberanian untuk menyusun hidup dengan bijak, berani, dan manusiawi.

Tanggung Jawab Kolektif: Anak Cucu Adalah Masa Kini yang Belum Bernama

Kita semua adalah penjaga masa depan. Dan masa depan itu bukan milik siapa-siapa kecuali anak cucu kita yang belum bisa memilih, belum bisa bersuara. Kalau kita diam saat arah pendidikan mereka diseret ke dalam proyek-proyek politik atau program pembangunan yang tak berpijak pada realitas mereka, maka kitalah yang sedang menyiapkan kubur bagi martabat mereka.

Aceh adalah tanah yang penuh kisah. Tapi kisah itu tak akan ada artinya kalau kita tak mampu menyambungnya dengan masa depan. Dan masa depan itu, kini, berada dalam ruang yang bernama Sekolah Rakyat—yang bisa menjadi pintu cahaya, atau jebakan baru yang lebih tersamar.

Maka pertanyaan itu kembali: Apakah Aceh berani istimewa?

Berani memilih jalan yang berbeda.

Berani melindungi anak-anaknya dari penyeragaman yang memiskinkan.
Berani meneguhkan pendidikan sebagai jalan kehidupan, bukan alat kekuasaan.

Jawabannya bukan ada di tangan pemerintah saja.

Jawabannya ada pada kita semua. []

Penulis adalah dosen seni pertunjukan di Universitas Syiah Kuala. Ia menulis, meneliti, dan mencipta karya yang menghubungkan penciptaan artistik, pengabdian budaya, dan kebijakan publik. Fokusnya banyak pada wilayah-wilayah non-sentral dan suara komunitas.

Tags: AcehAnalisisGenerasiPemerintahPemerintah AcehpendidikanPresiden PrabowoSekolah Rakyat
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Calvin Ho
Analisis

Membongkar Utang Indonesia dan Ilusi “Masih Aman”

by SAGOE TV
August 16, 2026
Calvin Ho
Analisis

Paradoks Aceh: Mengapa Kekayaan Alam Tidak Menjadi Kemakmuran?

by SAGOE TV
August 7, 2026
Calvin Ho
Analisis

Pariwisata Tanpa Kedaulatan: Skandal Struktural dari Bali dan Pelajaran bagi Aceh

by SAGOE TV
July 30, 2026
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa
Analisis

Soekarno, Hasan Tiro, Ayatullah Khamenei, dan Islam Perlawanan

by SAGOE TV
March 8, 2026
Sulaiman Tripa
Analisis

Apa Pentingnya Cara Pandang Bencana?

by Anna Rizatil
February 2, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

Lulus Tanpa Skripsi dan Tesis di USK, Publikasi Jurnal Jadi Jalan hingga Wisuda

August 28, 2026
Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

Kabar Baru untuk Calon Dokter di Aceh, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Prodi Kedokteran

September 2, 2026
Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

Haji Uma Minta RUU Migas Tak Geser Kewenangan Aceh dalam Pengelolaan Migas

August 31, 2026
Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

Bank Aceh Syariah Rombak Direksi, Syahrul Diberhentikan dari Jabatan Direktur Operasional

September 3, 2026
9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

9 Ulama Terpilih Jadi AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Rais Syuriyah PWNU Aceh

August 31, 2026
Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

Merdeka Versi Wirausaha Muda, Hubbika House Creative Ajak Pelajar Banda Aceh Belajar Bisnis

August 31, 2026
SPS Revival Usung Meutaloe Ketika Bunyi, Manusia, dan Gagasan Saling Menaut

SPS Revival Diversifikasi Program lewat SPS Talk #1: Membaca Seni di Ruang Publik

August 31, 2026
Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

Bahasa Aceh Terancam Kehilangan Ruang di Kalangan Generasi Muda, Pemerintah Aceh Perkuat Pelestarian

August 12, 2026
Setelah Dislokasi Epistemik Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK

Setelah Dislokasi Epistemik: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pendidikan Seni USK?

August 31, 2026

EDITOR'S PICK

Komisi XII DPR RI Dorong Pengelolaan Migas Aceh Profesional, Transparan, dan Berkelanjutan

Komisi XII DPR RI Dorong Pengelolaan Migas Aceh Profesional, Transparan, dan Berkelanjutan

September 14, 2025
Dari Kelompok Diskusi Hingga Migrasi ke Politik: Potret OMS Aceh

Dari Kelompok Diskusi Hingga Migrasi ke Politik: Potret OMS Aceh

March 15, 2025
Bahaya Stunting Bagi Tumbuh Kembang Anak

Bahaya Stunting Bagi Tumbuh Kembang Anak

March 14, 2025
Ulama Muda Aceh Soroti Serial Bid’ah Asal Malaysia, Dinilai Menyimpang dan Cemarkan Simbol Keislaman

Ulama Muda Aceh Soroti Serial Bid’ah Asal Malaysia, Dinilai Menyimpang dan Cemarkan Simbol Keislaman

April 17, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.