• Tentang Kami
Saturday, May 2, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Bencana Aceh: Inkompetensi Birokrasi adalah Kejahatan Kemanusiaan

SAGOE TV by SAGOE TV
December 3, 2025
in BENCANA SUMATERA 2025, Opini
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Bencana Aceh; Tambang Ilegal dan Hutan Berubah Sawit
Share on FacebookShare on Twitter

Catatan: Ahmad
Lamgugob, Banda Aceh.

Bencana banjir dan longsor di Aceh masih berlalu. Di saat Aceh luluh lantak, Sumatera Barat dan Sumatera Utara juga mengalami musibah serupa. Namun yang mengherankan, Pemerintah Pusat tidak menunjukkan rencana sedikitpun untuk menetapkan situasi ini sebagai bencana nasional.

BACA JUGA

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

Seolah-olah negara ini hanya menghabiskan anggarannya untuk MBG dan gaji birokrasinya, ASN dan militer. Dalam negeri semacam ini, yang hidup sejahtera hanyalah dua kelompok: pengusaha dan pejabat (ASN-militer). Padahal mereka adalah pelayan rakyat. Tapi rakyat tetap miskin turun temurun. Profesi lain tetap berada di bawah garis kemapanan. Pendidikan tinggi pun tidak menjamin kesejahteraan; yang penting licik, jago lobi, dan dekat dengan orang dalam—kompetensi tidak lagi menjadi ukuran.

Kondisi seperti inilah yang terjadi di Aceh hari ini. Aceh telah melewati rangkaian bencana kemanusiaan: masa Daerah Operasi Militer (DOM), Tsunami 2004, dan kini banjir serta longsor besar.

Pada masa DOM, birokrasi Aceh masih bekerja dengan kompetensi dan integritas. Mereka adalah aparatur lulusan kampus ternama, memiliki jaringan, serta memiliki tekad untuk membantu rakyat—baik korban kekerasan militer maupun dampak konflik.

Saat Tsunami melanda, Plt Gubernur, Sekda, dan para kepala dinas bekerja tanpa kenal lelah. Politisi dan birokrat berkolaborasi, hingga dalam hitungan hari pemerintah pusat menetapkan Aceh sebagai bencana nasional. Keputusan ini membuka akses bantuan dunia internasional dari segala penjuru.

Kini, situasinya sangat berbeda. Banjir besar, longsor, jembatan putus, wilayah terisolasi, bahkan ada kampung yang hilang disapu arus. Listrik padam hingga lima hari, internet terputus total. Desa, kecamatan, bahkan kabupaten seperti mati. Tapi apa yang dilakukan dinas-dinas terkait di bawah kepemimpinan Muzakir Manaf, Fadhlullah, dan Sekda Nasir? Tidak ada aksi nyata yang terlihat.

Baca Juga:  Perjuangan Cup Jilid 2 Dimulai, 26 Tim Basket Berlaga Perebutkan Hadiah Rp30 Juta

DPR Aceh pun sama saja. Ironisnya, anggaran BTT (Bantuan Tidak Terduga) sangat minim, lebih banyak alokasi anggaran untuk renovasi rumah dinas mereka. Ngeri nggak? Namun masyarakat tidak bisa sepenuhnya menyalahkan DPR Aceh, sebab para wakil itu dipilih sendiri oleh rakyat—kadang hanya dengan imbalan seratus ribu per suara/per kepala.

Hari ini birokrasi Pemerintah Aceh dipenuhi orang-orang yang tidak memiliki kompetensi memadai untuk menjalankan pemerintahan. Minim narasi, minim intelektualitas, minim empati, dan minim jaringan. Inkompetensi seperti ini bukan sekadar kelemahan—ini adalah kejahatan kemanusiaan.

Jika ragu dengan asumsi saya, lihat saja kualitas para kepala dinas. Banyak yang menjabat bukan karena kapasitas, tapi karena kedekatan dengan Muzakir Manaf, Fadhlullah, dan Nasir. Akhirnya, masyarakatlah yang menanggung akibatnya saat bencana datang seperti ini. Apakah sepenuhnya salah mereka? Tidak, yang bersalah adalah masyarakat Aceh sendiri yang memberi kesempatan kepada para pemimpin yang enggan mau belajar meningkatkan kapasitas kepemimpinan. Tok karena ingin berkuasa. Berkuasa seperti cita-cita tak peduli apakah mampu atau tidak.

Uang berlimpah, rakyat tetap miskin. Orang ingin membantu Aceh, tetapi data korban saja tidak tersedia. Bagaimana bantuan bisa masuk? Inilah wajah Aceh hari ini.

Pada akhirnya, masyarakat kembali bekerja sendiri: membersihkan rumah, jalan, dan kampung tanpa dukungan berarti dari pemerintah Aceh. Sepuluh bulan dari sekarang, ketika bencana telah mereda, para pemilik modal akan kembali naik ke gunung-gunung, melanjutkan tambang, dan menanam sawit. Masyarakat setempat kelak tetap menjadi buruh di tanah mereka sendiri—dan itu disebut sebagai pemberdayaan masyarakat sekitar.

Selamat menyaksikan siklus ini terus berulang. Inkompetensi adalah kejahatan baru di Aceh. []

Tags: acehBanjirbencanaBencana AcehBencana Sumatera 2025BirokrasiKemanusiaan
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?
Opini

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

by Anna Rizatil
April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh
Opini

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

by SAGOE TV
April 26, 2026
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan
Opini

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

by Anna Rizatil
April 25, 2026
Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan
Opini

Mahasiswa Baru dan Tupoksi yang Terlupakan

by Anna Rizatil
April 20, 2026
Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global
Opini

Berhitung Ulang Manuver Prabowo di Kancah Global

by Anna Rizatil
April 17, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

April 26, 2026
Pengelola Perpustakaan di Langsa Dilatih Otomasi Berbasis Inlislite

64 Pengelola Perpustakaan di Langsa Dilatih Otomasi Berbasis Inlislite

May 1, 2026
Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

April 25, 2026
94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

April 29, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Hardiknas 2026 Universitas Syiah Kuala Gelar Diskusi Nasional Pendidikan Seni

Hardiknas 2026: USK Gelar Diskusi Nasional Pendidikan Seni

May 1, 2026
Pemerintah Aceh Perpanjang Status Transisi Pemulihan Pascabencana hingga Juli 2026

Pemerintah Aceh Perpanjang Status Transisi Pemulihan Pascabencana hingga Juli 2026

April 28, 2026
Idrus Marham Pimpin IKA PTKIN, Rektor UIN Ar-Raniry Harus Jadi Kekuatan Strategis

Idrus Marham Pimpin IKA PTKIN, Rektor UIN Ar-Raniry: Harus Jadi Kekuatan Strategis

April 26, 2026

EDITOR'S PICK

Menjaga Keistiqamahan Ibadah Pasca Ramadhan

Menjaga Keistiqamahan Ibadah Pasca Ramadhan

April 2, 2025
Wali Kota Banda Aceh Larang ASN Merokok di Kawasan Tanpa Rokok

Wali Kota Banda Aceh Larang ASN Merokok di Lokasi KTR

April 14, 2025
Aiyub Abbas Ditunjuk Jadi Sekjen Partai Aceh, Ini Harapan Tgk Muharuddin

Aiyub Abbas Ditunjuk Jadi Sekjen Partai Aceh, Ini Harapan Tgk Muharuddin

April 16, 2025
sulaiman tripa

Mencari Lagi Nurdin Abdurrahman

March 15, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.