• Tentang Kami
Wednesday, February 25, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
KIRIM TULISAN
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Di Antara Ramadhan dan Riuh Zaman: Catatan Kecil tentang Seni yang Sedang Kita Rawat

Anna Rizatil by Anna Rizatil
February 23, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Di Antara Ramadhan dan Riuh Zaman: Catatan Kecil tentang Seni yang Sedang Kita Rawat

Ari J. Palawi, Musisi dan Akademisi Seni Aceh. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari Palawi
Akademisis Seni Univeristas Syiah Kuala

Ramadhan sudah memasuki minggu pertamanya. Ritme kota berubah perlahan. Orang-orang berjalan sedikit lebih pelan menjelang magrib. Percakapan terasa lebih tertahan. Ada hening yang berbeda bukan hanya karena puasa, tetapi mungkin karena kita semua sedang menyimpan banyak hal di dalam kepala.

BACA JUGA

Membaca Ulang Seni di Jantung Darussalam Banda Aceh: Dari Pendidikan Keterampilan Menuju Ekosistem Pengetahuan

Seni, Universitas, dan Keberanian Membaca Masa Depan

Di luar itu, ruang publik tetap riuh. Kritik terhadap kebijakan negara terdengar di berbagai tempat. Suara mahasiswa kembali menguat. Percakapan tentang ekonomi tidak pernah benar-benar reda tentang biaya hidup yang terasa makin berat, tentang pekerjaan yang tidak selalu memberi kepastian, tentang rasa cemas yang sulit dijelaskan. Ada pula diskusi panjang mengenai penegakan hukum dan kepercayaan terhadap institusi. Sebagian orang marah. Sebagian lelah. Sebagian memilih diam.

Sebagai tenaga pendidik seni di Universitas Syiah Kuala, dan sebagai bagian dari masyarakat yang ikut merasakan situasi ini, saya sering bertanya pada diri sendiri: di tengah semua ini, apa sebenarnya peran seni?

Apakah ia sekadar jeda?
Apakah ia pelengkap?
Ataukah ia ruang untuk memproses kegelisahan yang tidak selesai di ruang-ruang lain?

Forum diskusi 14 Februari lalu tentang “Seni, Universitas, dan Masa Depan Aceh” mungkin terlihat seperti agenda akademik biasa. Namun bagi saya, ia terasa seperti upaya kecil untuk membaca ulang posisi seni di tengah perubahan zaman yang cepat dan kadang membingungkan.

Di sana ada suara yang menegaskan bahwa karya bukan hanya pertunjukan, tetapi juga pengetahuan. Ada yang mengingatkan agar kita tidak terjebak pada obsesi pengakuan luar. Ada yang menyoroti bagaimana sistem belum sepenuhnya memberi ruang setara bagi praktik kreatif. Ada pula cerita tentang jarak antara idealisme pendidikan dan kenyataan di lapangan.

Baca Juga:  Pekan Apresiasi Seni, Sains, dan Olahraga XIII SMA 10 Fajar Harapan Resmi Dimulai

Tidak ada kesimpulan besar yang diumumkan. Tidak ada keputusan yang langsung mengubah keadaan. Yang muncul justru kesadaran bahwa persoalan kita bukan semata soal bakat atau kreativitas.

Aceh tidak kekurangan talenta. Kita memiliki tradisi tubuh, suara, dan narasi yang panjang. Kita punya anak-anak muda yang berani tampil. Kita punya guru dan dosen yang setia membimbing. Kita punya komunitas yang terus bergerak.

Yang belum sepenuhnya kita miliki adalah ekosistem yang membuat semua itu saling menguatkan dan berkelanjutan. Ekosistem yang tidak hanya fokus pada penciptaan karya, tetapi juga pada pencatatan dan penelitian. Yang tidak hanya menggelar pementasan, tetapi juga membiasakan diskusi dan penulisan. Yang tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga merawat kepekaan. Yang tidak hanya menyelenggarakan acara, tetapi juga memikirkan tata kelola dan kesinambungan.

Mungkin terdengar sederhana. Namun membangun kebiasaan tidak pernah benar-benar sederhana. Di tengah kritik sosial dan politik yang kian mengeras, kerja-kerja kecil seperti diskusi rutin, klinik karya, atau dokumentasi mungkin tampak tidak signifikan. Tetapi saya mulai bertanya: apakah benar ia tidak berarti? Ataukah justru dari kebiasaan kecil yang konsisten itulah daya tahan kultural tumbuh pelan, tidak gaduh, tetapi bertahan lama?

Ramadhan selalu menjadi waktu untuk menahan diri dan menata ulang niat. Dalam suasana seperti ini, saya merasa seni tidak perlu menjadi semakin bising. Ia tidak harus menjadi alat propaganda. Ia juga tidak perlu menjadi penghibur yang membuat kita lupa pada realitas.

Barangkali seni cukup menjadi ruang berpikir jernih.
Ruang untuk menguji asumsi.
Ruang untuk saling mendengar tanpa tergesa menyimpulkan.
Ruang untuk mengakui bahwa kita pun bagian dari persoalan yang kita kritik.

Baca Juga:  Musik, Syariat, dan Ruang Publik: Mengapa Aceh Perlu Menata, Bukan Menolak

Kelanjutan dari forum Februari lalu kini bergerak ke arah yang lebih sederhana: membangun pertemuan kecil yang konsisten. Tidak besar. Tidak formal berlebihan. Tidak mengejar sensasi. Hanya mencoba menghubungkan lima hal yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri mencipta, menyajikan, meneliti, mengajar, dan mengelola.

Saya tidak menyebut ini sebagai solusi. Ia belum tentu berhasil. Bisa saja berhenti di tengah jalan. Bisa saja kita kehilangan energi. Namun mungkin yang lebih berisiko adalah jika kita membiarkan jarak antara wacana dan praktik semakin jauh.

Di tengah kegelisahan publik yang terus tumbuh, kemarahan memang dapat dipahami. Tetapi kemarahan tanpa ruang refleksi sering kali hanya menjadi gema. Ia perlu diolah, diberi bentuk, diberi makna agar tidak habis sebagai ledakan sesaat.

Seni tidak akan mengubah kebijakan dalam semalam. Ia tidak serta-merta menyelesaikan persoalan ekonomi. Ia tidak otomatis memperbaiki sistem hukum. Namun ia bisa menjaga agar kita tidak kehilangan kepekaan dan kemampuan untuk merenung bersama. Dalam masyarakat yang sedang mencari arah, itu bukan perkara kecil.

Ramadhan masih panjang. Kita sedang belajar menahan diri, menimbang kata, dan menata ulang niat. Mungkin ini juga waktu yang baik untuk menata ulang cara kita memandang seni bukan sebagai pelengkap, bukan sebagai simbol, melainkan sebagai proses yang pelan-pelan membentuk cara kita membaca zaman.

Jawabannya mungkin belum ada hari ini. Dan mungkin memang tidak perlu segera ada.
Yang penting, ruangnya tetap kita rawat. []

Tags: CatatanMakin Tahu IndonesiaopiniRamadhanSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Membaca Ulang Seni di Jantung Darussalam Banda Aceh: Dari Pendidikan Keterampilan Menuju Ekosistem Pengetahuan
SENI

Membaca Ulang Seni di Jantung Darussalam Banda Aceh: Dari Pendidikan Keterampilan Menuju Ekosistem Pengetahuan

by SAGOE TV
February 18, 2026
Seni dan Universitas: Keberanian Membaca Masa Depan
SENI

Seni, Universitas, dan Keberanian Membaca Masa Depan

by Anna Rizatil
February 6, 2026
Di Antara Ramadhan dan Riuh Zaman: Catatan Kecil tentang Seni yang Sedang Kita Rawat
SENI

Belajar dari Inisiatif Mandiri Seni–Budaya dalam Konteks Bencana di Sumatra

by Anna Rizatil
January 27, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera

by Anna Rizatil
February 6, 2026
Puisi Jangan Ajari Kami Cara Menjaga Alam
SENI

Puisi Jangan Ajari Kami Cara Menjaga Alam

by Anna Rizatil
January 5, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

February 20, 2026
Bandar Publishing Terbitkan Buku Wakil Ketua DPRK Banda Aceh

Bandar Publishing Terbitkan Buku Wakil Ketua DPRK Banda Aceh

February 19, 2026
Di Antara Ramadhan dan Riuh Zaman: Catatan Kecil tentang Seni yang Sedang Kita Rawat

Di Antara Ramadhan dan Riuh Zaman: Catatan Kecil tentang Seni yang Sedang Kita Rawat

February 23, 2026
Pesantren Jurnalistik AJI Banda Aceh Kembali Dibuka Selama Ramadhan, Siswa dan Komunitas Bisa Daftar

Pesantren Jurnalistik AJI Banda Aceh Kembali Dibuka Selama Ramadhan, Siswa dan Komunitas Bisa Daftar

February 20, 2026
Mental Pengemis, Sogok Menyogok dan Empati Sosial

Mental Pengemis, Sogok Menyogok dan Empati Sosial

February 23, 2026
Membaca Ulang Seni di Jantung Darussalam Banda Aceh: Dari Pendidikan Keterampilan Menuju Ekosistem Pengetahuan

Membaca Ulang Seni di Jantung Darussalam Banda Aceh: Dari Pendidikan Keterampilan Menuju Ekosistem Pengetahuan

February 18, 2026
Donasi 500 Ton Warga Aceh di Malaysia Siap Dipulangkan, KBRI Tekankan Skema NGO to NGO

Donasi 500 Ton Warga Aceh di Malaysia Siap Dipulangkan, KBRI Tekankan Skema NGO to NGO

February 6, 2026
Pendidikan Aceh Setelah Banjir Bandang: Antara Lumpur dan Harapan

Pendidikan Aceh Setelah Banjir Bandang: Antara Lumpur dan Harapan

February 24, 2026
Tempat Buka Puasa Gratis di Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Sediakan 2.000 Paket Iftar Setiap Hari

Tempat Buka Puasa Gratis di Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Sediakan 2.000 Paket Iftar Setiap Hari

February 24, 2026

EDITOR'S PICK

Buku Catatan Dari Ombudsman Aceh Diluncurkan

Buku Catatan Dari Ombudsman Aceh Diluncurkan

October 9, 2022
Artificial Intelligence dan Krisis Akal Manusia: Antara Alat Bantu dan Ancaman Peradaban

Artificial Intelligence dan Krisis Akal Manusia: Antara Alat Bantu dan Ancaman Peradaban

February 6, 2026
Jelang Meugang Ramadhan dan Idulfitri, BULOG Aceh Jamin Pasokan Beras Aman

Jelang Meugang Ramadhan dan Idulfitri, BULOG Aceh Jamin Pasokan Beras Aman

January 19, 2026
Prof Yasir Yusuf: Bank Syariah Harus Teguh pada Prinsip Syariah

Prof Yasir Yusuf: Bank Syariah Harus Teguh pada Prinsip Syariah

January 13, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.