Oleh: Ari Palawi
Akademisis Seni Univeristas Syiah Kuala
Ramadhan sudah memasuki minggu pertamanya. Ritme kota berubah perlahan. Orang-orang berjalan sedikit lebih pelan menjelang magrib. Percakapan terasa lebih tertahan. Ada hening yang berbeda bukan hanya karena puasa, tetapi mungkin karena kita semua sedang menyimpan banyak hal di dalam kepala.
Di luar itu, ruang publik tetap riuh. Kritik terhadap kebijakan negara terdengar di berbagai tempat. Suara mahasiswa kembali menguat. Percakapan tentang ekonomi tidak pernah benar-benar reda tentang biaya hidup yang terasa makin berat, tentang pekerjaan yang tidak selalu memberi kepastian, tentang rasa cemas yang sulit dijelaskan. Ada pula diskusi panjang mengenai penegakan hukum dan kepercayaan terhadap institusi. Sebagian orang marah. Sebagian lelah. Sebagian memilih diam.
Sebagai tenaga pendidik seni di Universitas Syiah Kuala, dan sebagai bagian dari masyarakat yang ikut merasakan situasi ini, saya sering bertanya pada diri sendiri: di tengah semua ini, apa sebenarnya peran seni?
Apakah ia sekadar jeda?
Apakah ia pelengkap?
Ataukah ia ruang untuk memproses kegelisahan yang tidak selesai di ruang-ruang lain?
Forum diskusi 14 Februari lalu tentang “Seni, Universitas, dan Masa Depan Aceh” mungkin terlihat seperti agenda akademik biasa. Namun bagi saya, ia terasa seperti upaya kecil untuk membaca ulang posisi seni di tengah perubahan zaman yang cepat dan kadang membingungkan.
Di sana ada suara yang menegaskan bahwa karya bukan hanya pertunjukan, tetapi juga pengetahuan. Ada yang mengingatkan agar kita tidak terjebak pada obsesi pengakuan luar. Ada yang menyoroti bagaimana sistem belum sepenuhnya memberi ruang setara bagi praktik kreatif. Ada pula cerita tentang jarak antara idealisme pendidikan dan kenyataan di lapangan.
Tidak ada kesimpulan besar yang diumumkan. Tidak ada keputusan yang langsung mengubah keadaan. Yang muncul justru kesadaran bahwa persoalan kita bukan semata soal bakat atau kreativitas.
Aceh tidak kekurangan talenta. Kita memiliki tradisi tubuh, suara, dan narasi yang panjang. Kita punya anak-anak muda yang berani tampil. Kita punya guru dan dosen yang setia membimbing. Kita punya komunitas yang terus bergerak.
Yang belum sepenuhnya kita miliki adalah ekosistem yang membuat semua itu saling menguatkan dan berkelanjutan. Ekosistem yang tidak hanya fokus pada penciptaan karya, tetapi juga pada pencatatan dan penelitian. Yang tidak hanya menggelar pementasan, tetapi juga membiasakan diskusi dan penulisan. Yang tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga merawat kepekaan. Yang tidak hanya menyelenggarakan acara, tetapi juga memikirkan tata kelola dan kesinambungan.
Mungkin terdengar sederhana. Namun membangun kebiasaan tidak pernah benar-benar sederhana. Di tengah kritik sosial dan politik yang kian mengeras, kerja-kerja kecil seperti diskusi rutin, klinik karya, atau dokumentasi mungkin tampak tidak signifikan. Tetapi saya mulai bertanya: apakah benar ia tidak berarti? Ataukah justru dari kebiasaan kecil yang konsisten itulah daya tahan kultural tumbuh pelan, tidak gaduh, tetapi bertahan lama?
Ramadhan selalu menjadi waktu untuk menahan diri dan menata ulang niat. Dalam suasana seperti ini, saya merasa seni tidak perlu menjadi semakin bising. Ia tidak harus menjadi alat propaganda. Ia juga tidak perlu menjadi penghibur yang membuat kita lupa pada realitas.
Barangkali seni cukup menjadi ruang berpikir jernih.
Ruang untuk menguji asumsi.
Ruang untuk saling mendengar tanpa tergesa menyimpulkan.
Ruang untuk mengakui bahwa kita pun bagian dari persoalan yang kita kritik.
Kelanjutan dari forum Februari lalu kini bergerak ke arah yang lebih sederhana: membangun pertemuan kecil yang konsisten. Tidak besar. Tidak formal berlebihan. Tidak mengejar sensasi. Hanya mencoba menghubungkan lima hal yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri mencipta, menyajikan, meneliti, mengajar, dan mengelola.
Saya tidak menyebut ini sebagai solusi. Ia belum tentu berhasil. Bisa saja berhenti di tengah jalan. Bisa saja kita kehilangan energi. Namun mungkin yang lebih berisiko adalah jika kita membiarkan jarak antara wacana dan praktik semakin jauh.
Di tengah kegelisahan publik yang terus tumbuh, kemarahan memang dapat dipahami. Tetapi kemarahan tanpa ruang refleksi sering kali hanya menjadi gema. Ia perlu diolah, diberi bentuk, diberi makna agar tidak habis sebagai ledakan sesaat.
Seni tidak akan mengubah kebijakan dalam semalam. Ia tidak serta-merta menyelesaikan persoalan ekonomi. Ia tidak otomatis memperbaiki sistem hukum. Namun ia bisa menjaga agar kita tidak kehilangan kepekaan dan kemampuan untuk merenung bersama. Dalam masyarakat yang sedang mencari arah, itu bukan perkara kecil.
Ramadhan masih panjang. Kita sedang belajar menahan diri, menimbang kata, dan menata ulang niat. Mungkin ini juga waktu yang baik untuk menata ulang cara kita memandang seni bukan sebagai pelengkap, bukan sebagai simbol, melainkan sebagai proses yang pelan-pelan membentuk cara kita membaca zaman.
Jawabannya mungkin belum ada hari ini. Dan mungkin memang tidak perlu segera ada.
Yang penting, ruangnya tetap kita rawat. []




















