• Tentang Kami
Saturday, April 18, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Di Antara Ramadhan dan Riuh Zaman: Catatan Kecil tentang Seni yang Sedang Kita Rawat

Anna Rizatil by Anna Rizatil
February 23, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh

Ari J. Palawi, Musisi dan Akademisi Seni Aceh. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari Palawi
Akademisis Seni Univeristas Syiah Kuala

Ramadhan sudah memasuki minggu pertamanya. Ritme kota berubah perlahan. Orang-orang berjalan sedikit lebih pelan menjelang magrib. Percakapan terasa lebih tertahan. Ada hening yang berbeda bukan hanya karena puasa, tetapi mungkin karena kita semua sedang menyimpan banyak hal di dalam kepala.

BACA JUGA

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Di luar itu, ruang publik tetap riuh. Kritik terhadap kebijakan negara terdengar di berbagai tempat. Suara mahasiswa kembali menguat. Percakapan tentang ekonomi tidak pernah benar-benar reda tentang biaya hidup yang terasa makin berat, tentang pekerjaan yang tidak selalu memberi kepastian, tentang rasa cemas yang sulit dijelaskan. Ada pula diskusi panjang mengenai penegakan hukum dan kepercayaan terhadap institusi. Sebagian orang marah. Sebagian lelah. Sebagian memilih diam.

Sebagai tenaga pendidik seni di Universitas Syiah Kuala, dan sebagai bagian dari masyarakat yang ikut merasakan situasi ini, saya sering bertanya pada diri sendiri: di tengah semua ini, apa sebenarnya peran seni?

Apakah ia sekadar jeda?
Apakah ia pelengkap?
Ataukah ia ruang untuk memproses kegelisahan yang tidak selesai di ruang-ruang lain?

Forum diskusi 14 Februari lalu tentang “Seni, Universitas, dan Masa Depan Aceh” mungkin terlihat seperti agenda akademik biasa. Namun bagi saya, ia terasa seperti upaya kecil untuk membaca ulang posisi seni di tengah perubahan zaman yang cepat dan kadang membingungkan.

Di sana ada suara yang menegaskan bahwa karya bukan hanya pertunjukan, tetapi juga pengetahuan. Ada yang mengingatkan agar kita tidak terjebak pada obsesi pengakuan luar. Ada yang menyoroti bagaimana sistem belum sepenuhnya memberi ruang setara bagi praktik kreatif. Ada pula cerita tentang jarak antara idealisme pendidikan dan kenyataan di lapangan.

Baca Juga:  Aceh di Persimpangan Energi dan Budaya: Cerita Tentang Martabat, Pembangunan, dan Harapan Baru

Tidak ada kesimpulan besar yang diumumkan. Tidak ada keputusan yang langsung mengubah keadaan. Yang muncul justru kesadaran bahwa persoalan kita bukan semata soal bakat atau kreativitas.

Aceh tidak kekurangan talenta. Kita memiliki tradisi tubuh, suara, dan narasi yang panjang. Kita punya anak-anak muda yang berani tampil. Kita punya guru dan dosen yang setia membimbing. Kita punya komunitas yang terus bergerak.

Yang belum sepenuhnya kita miliki adalah ekosistem yang membuat semua itu saling menguatkan dan berkelanjutan. Ekosistem yang tidak hanya fokus pada penciptaan karya, tetapi juga pada pencatatan dan penelitian. Yang tidak hanya menggelar pementasan, tetapi juga membiasakan diskusi dan penulisan. Yang tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga merawat kepekaan. Yang tidak hanya menyelenggarakan acara, tetapi juga memikirkan tata kelola dan kesinambungan.

Mungkin terdengar sederhana. Namun membangun kebiasaan tidak pernah benar-benar sederhana. Di tengah kritik sosial dan politik yang kian mengeras, kerja-kerja kecil seperti diskusi rutin, klinik karya, atau dokumentasi mungkin tampak tidak signifikan. Tetapi saya mulai bertanya: apakah benar ia tidak berarti? Ataukah justru dari kebiasaan kecil yang konsisten itulah daya tahan kultural tumbuh pelan, tidak gaduh, tetapi bertahan lama?

Ramadhan selalu menjadi waktu untuk menahan diri dan menata ulang niat. Dalam suasana seperti ini, saya merasa seni tidak perlu menjadi semakin bising. Ia tidak harus menjadi alat propaganda. Ia juga tidak perlu menjadi penghibur yang membuat kita lupa pada realitas.

Barangkali seni cukup menjadi ruang berpikir jernih.
Ruang untuk menguji asumsi.
Ruang untuk saling mendengar tanpa tergesa menyimpulkan.
Ruang untuk mengakui bahwa kita pun bagian dari persoalan yang kita kritik.

Baca Juga:  Musik, Syariat, dan Ruang Publik: Mengapa Aceh Perlu Menata, Bukan Menolak

Kelanjutan dari forum Februari lalu kini bergerak ke arah yang lebih sederhana: membangun pertemuan kecil yang konsisten. Tidak besar. Tidak formal berlebihan. Tidak mengejar sensasi. Hanya mencoba menghubungkan lima hal yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri mencipta, menyajikan, meneliti, mengajar, dan mengelola.

Saya tidak menyebut ini sebagai solusi. Ia belum tentu berhasil. Bisa saja berhenti di tengah jalan. Bisa saja kita kehilangan energi. Namun mungkin yang lebih berisiko adalah jika kita membiarkan jarak antara wacana dan praktik semakin jauh.

Di tengah kegelisahan publik yang terus tumbuh, kemarahan memang dapat dipahami. Tetapi kemarahan tanpa ruang refleksi sering kali hanya menjadi gema. Ia perlu diolah, diberi bentuk, diberi makna agar tidak habis sebagai ledakan sesaat.

Seni tidak akan mengubah kebijakan dalam semalam. Ia tidak serta-merta menyelesaikan persoalan ekonomi. Ia tidak otomatis memperbaiki sistem hukum. Namun ia bisa menjaga agar kita tidak kehilangan kepekaan dan kemampuan untuk merenung bersama. Dalam masyarakat yang sedang mencari arah, itu bukan perkara kecil.

Ramadhan masih panjang. Kita sedang belajar menahan diri, menimbang kata, dan menata ulang niat. Mungkin ini juga waktu yang baik untuk menata ulang cara kita memandang seni bukan sebagai pelengkap, bukan sebagai simbol, melainkan sebagai proses yang pelan-pelan membentuk cara kita membaca zaman.

Jawabannya mungkin belum ada hari ini. Dan mungkin memang tidak perlu segera ada.
Yang penting, ruangnya tetap kita rawat. []

Tags: CatatanMakin Tahu IndonesiaopiniRamadhanSeni
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan
SENI

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

by Anna Rizatil
April 18, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

by Anna Rizatil
April 16, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

by Anna Rizatil
April 11, 2026
Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan
SENI

Skate Park Stage: Ruang yang Terus Tumbuh di Antara Proses dan Perjumpaan

by SAGOE TV
April 4, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Skate Park Stage: Praktik yang Tidak Lagi Hilang, Melainkan Bekerja

by SAGOE TV
March 30, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

April 16, 2026
Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

April 13, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

April 11, 2026
Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

April 10, 2026
PSAP Sigli Juara Liga 4 Aceh 2025/2026, Kalahkan Al Farlaky FC 2-0 di Final

PSAP Sigli Juara Liga 4 Aceh 2025/2026, Kalahkan Al Farlaky FC 2-0 di Final

April 12, 2026
Mualem Minta Dana Otsus Aceh Abadi 2,5 Persen di Hadapan Baleg DPR RI, Ini Responsnya

Mualem Minta Dana Otsus Aceh Abadi 2,5 Persen di Hadapan Baleg DPR RI, Ini Responsnya

April 17, 2026
Gempa M 5,7 Guncang Barat Daya Sinabang Aceh, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa M 5,7 Guncang Barat Daya Sinabang Aceh, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

April 12, 2026
Persiraja Tantang Pemuncak Adhyaksa FC di Banten, Laga Krusial Penentu Asa Laskar Rencong

Persiraja Tantang Pemuncak Adhyaksa FC di Banten, Laga Krusial Penentu Asa Laskar Rencong

April 12, 2026
Baleg DPR RI Sepakat Perpanjang Dana Otsus Aceh, Berlaku Lagi Setelah 2027?

Baleg DPR RI Sepakat Perpanjang Dana Otsus Aceh, Berlaku Lagi Setelah 2027?

April 16, 2026

EDITOR'S PICK

USK Raih Hibah Pengembangan Model Pembelajaran dari Kemendikbudristek

USK Raih Hibah Pengembangan Model Pembelajaran dari Kemendikbudristek

May 23, 2024
Mualem Lantik M Nasir sebagai Sekda Aceh, Tekankan Percepatan APBA dan Kawal Revisi UUPA

Mualem Lantik M Nasir sebagai Sekda Aceh, Tekankan Percepatan APBA dan Kawal Revisi UUPA

August 15, 2025
Apel Perdana Usai Lebaran, Sekda Aceh Ajak ASN Perkuat Disiplin dan Kinerja

Apel Perdana Usai Lebaran, Sekda Aceh Ajak ASN Perkuat Disiplin dan Kinerja

March 25, 2026
Kacang Koro, Harapan Baru Kemandirian Pangan Aceh Pengganti Kedelai Impor

Kacang Koro, Harapan Baru Kemandirian Pangan Aceh Pengganti Kedelai Impor

November 4, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.