• Tentang Kami
Thursday, April 30, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera

Anna Rizatil by Anna Rizatil
February 6, 2026
in SENI
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera

Ari J. Palawi. Musisi dan Akademisi Seni Aceh. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Musisi dan Akademisi Seni Aceh

Kata pemulihan terdengar menenangkan. Ia seolah menjanjikan bahwa sesuatu yang rusak akan kembali utuh, bahwa luka baik ekologis maupun kultural akan disembuhkan dengan penuh tanggung jawab. Namun, justru di titik inilah kritik perlu dimulai: apa yang sesungguhnya dipulihkan ketika negara berbicara tentang Pemulihan Ekosistem Kebudayaan? Apakah ekosistem yang memang runtuh, atau justru ekosistem yang sejak awal tak pernah benar-benar dipahami dan dirawat?

BACA JUGA

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

Dalam berbagai pengumuman Kementerian Kebudayaan terkait program pemulihan kebudayaan pascabencana termasuk yang menyasar wilayah-wilayah terdampak banjir dan longsor di Sumatera kita melihat pola yang berulang. Judul megah, tema heroik, dan citra kepedulian yang kuat di media sosial. Tetapi ketika ditelusur lebih jauh, substansi kebijakan sering berhenti pada pertanyaan teknis: apa kegiatannya, di mana lokasinya, kapan dilaksanakan. Pertanyaan yang lebih mendasar mengapa program ini diperlukan, siapa subjek utamanya, bagaimana proses rekrutmen dilakukan, dan apa jaminan keberlanjutannya sering kali dibiarkan menggantung.

Di sinilah persoalan kejujuran konseptual muncul. Istilah pemulihan mengandaikan bahwa sebelum bencana, ekosistem kebudayaan di wilayah tersebut telah berjalan dengan baik, lalu hancur oleh peristiwa alam, dan kini dipulihkan oleh intervensi negara. Padahal, dalam banyak kasus di Aceh, Sumatera Barat, Jambi, dan wilayah Sumatra lainnya, ekosistem kebudayaan telah lama mengalami degradasi struktural: ruang hidup menyempit, komunitas seni terpinggirkan, transmisi pengetahuan lokal terputus, dan seni direduksi menjadi event seremonial.

Jika ekosistemnya memang sudah rapuh jauh sebelum banjir dan longsor datang, maka yang kita saksikan hari ini bukanlah pemulihan, melainkan proyek kultural temporer yang dibungkus dengan bahasa krisis.

Baca Juga:  Di Antara Mesin dan Jiwa: Menyiapkan Fondasi Kreatif di Era AI

Antara Solidaritas dan Ilusi Pemulihan
Tak dapat disangkal, respons solidaritas publik terhadap bencana patut diapresiasi. Konser amal, penggalangan dana, dan kampanye budaya seperti konser kolaboratif para musisi nasional telah menggerakkan empati dan donasi dalam skala besar. Ini penting. Tetapi solidaritas sosial tidak otomatis identik dengan pemulihan ekosistem.

Pendekatan negara yang terlalu administratif-prosedur pendataan cagar budaya, penyaluran bantuan, atau dukungan terhadap event amal sering kali berhenti pada pemulihan proyek, bukan pemulihan kehidupan. Pemulihan kebudayaan yang sejati tidak terjadi melalui panggung sesaat atau perbaikan fisik benda semata, melainkan melalui pemulihan kemampuan kolektif masyarakat untuk hidup, berkesenian, bercerita, berkreasi, dan menegosiasikan nilai secara berkelanjutan.

Kajian kebudayaan dan bencana secara global menunjukkan hal ini dengan jelas. Oliver-Smith (1996) menegaskan bahwa bencana bukan hanya peristiwa alam, tetapi peristiwa sosial-budaya yang mengungkap kerentanan struktural. Berkes dan Folke (1998) menunjukkan bahwa ketahanan (resilience) masyarakat sangat ditentukan oleh keberlanjutan pengetahuan lokal dan praktik budaya. Dalam konteks ini, seni dan budaya bukan aksesori pascabencana, melainkan bagian dari infrastruktur ketahanan itu sendiri.

Ekosistem Kebudayaan: Siapa Subjeknya?
Masalah mendasar dari banyak program pemulihan kebudayaan adalah posisi pelaku budaya. Mereka kerap diperlakukan sebagai objek program, bukan subjek utama. Rekrutmen tidak transparan, mekanisme partisipasi tidak jelas, dan keputusan teknis sering diambil oleh birokrasi yang menganggap dirinya sebagai eksekutor tunggal hingga ke level paling teknis.

Kesan yang muncul di lapangan sering kali seperti ini: sebuah program dilempar ke ruang publik layaknya keju, lalu diperebutkan oleh siapa yang paling kuat jejaring, pengaruh, atau kedekatan. Kompetensi menjadi urusan sekunder. Keberlanjutan nyaris tak dibicarakan. Setelah program selesai, komunitas kembali pada kondisi semula atau bahkan lebih lelah.

Baca Juga:  Puisi Jangan Ajari Kami Cara Menjaga Alam

Tanpa pelibatan pelaku budaya lokal sebagai pengambil keputusan, tanpa proses pendampingan yang mempersiapkan mereka secara jangka panjang, dan tanpa jaminan keberlanjutan pasca-anggaran, yang terjadi hanyalah rotasi proyek, bukan regenerasi ekosistem.

Seni sebagai Infrastruktur Pencegahan
Dalam konteks Aceh dan dataran tinggi Gayo, kritik ini menemukan landasan yang lebih dalam. Seperti telah saya tulis sebelumnya, tradisi Didong, Saman, Seudati, dan Hikayat bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan sistem pengetahuan hidup yang bekerja sebagai mekanisme pencegahan krisis.

Penelitian Amris Albayan (2017) menunjukkan bahwa Didong berfungsi sebagai ruang koreksi sosial dan ekologis. Margaret Kartomi menegaskan bahwa Saman adalah institusi disiplin kolektif yang melatih sinkronisasi dan akuntabilitas. Raseuki (1993) membaca Seudati sebagai latihan keberanian moral publik. Hikayat menyimpan ingatan panjang tentang sebab–akibat antara pelanggaran nilai dan kehancuran sosial.

Ketika seni-seni ini direduksi menjadi tontonan atau event pascabencana, kita memotong fungsinya yang paling penting: sebagai sistem peringatan dini sosial-ekologis. Maka tak heran jika bencana terus berulang, sementara kita terus terkejut.

Dari Pemulihan Proyek ke Pemulihan Kehidupan
Kritik ini bukan penolakan terhadap peran negara. Justru sebaliknya: ini adalah seruan agar negara bekerja lebih bermartabat dan lebih cerdas. Pemulihan ekosistem kebudayaan mensyaratkan hal-hal yang jauh lebih menantang daripada menyelenggarakan event:

1. Pelibatan pelaku budaya lokal sebagai subjek utama, sejak perencanaan hingga evaluasi.
2. Rekrutmen yang transparan dan inklusif, berbasis kompetensi dan komitmen jangka panjang.
3. Integrasi kebijakan budaya dengan mitigasi bencana dan tata ruang, bukan berjalan paralel tanpa dialog.
4. Jaminan keberlanjutan, agar program tidak berhenti ketika anggaran selesai.

Tanpa itu semua, istilah pemulihan ekosistem hanya akan menjadi slogan indah di poster, rapuh di lapangan.

Baca Juga:  Meuseukat & Pho: Bukti Perempuan Aceh Tak Pernah Absen dari Sejarah Seni Islam

Akhir: Krisis Pendengaran
Barangkali krisis terbesar kita hari ini bukan sekadar krisis ekologis atau kebudayaan, melainkan krisis pendengaran. Kita sibuk berbicara tentang budaya, tetapi jarang sungguh-sungguh mendengarkannya. Seni masih dipertontonkan, tetapi semakin jarang dipercaya sebagai pengetahuan.

Selama pemulihan kebudayaan ditempatkan di hilir sebagai event, terapi, atau citra kita akan terus mengulang siklus yang sama: bencana datang, program datang, lalu lupa. Pemulihan yang bermartabat hanya mungkin terjadi jika kita berani memindahkan kebudayaan kembali ke hulu kehidupan.

Dan itu menuntut lebih dari sekadar niat baik. Ia menuntut kejujuran, keberanian, dan kerendahan hati negara untuk belajar dari mereka yang selama ini hanya dijadikan latar panggung.

Info detail tentang program yang diberitakan:
https://www.instagram.com/p/DTe9kzwkgAb/?img_index=4&igsh=MTM0YzR1NGQyODI0aw==

Tags: acehCatatan KrisisMakin Tahu IndonesiaPascabencana SumateraPemulihanProyek
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif
SENI

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif

by SAGOE TV
April 30, 2026
Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana
SENI

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

by Anna Rizatil
April 25, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan
SENI

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

by Anna Rizatil
April 18, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

by Anna Rizatil
April 16, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

by Anna Rizatil
April 11, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

April 25, 2026
Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

April 26, 2026
Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

April 24, 2026
Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

April 25, 2026
Mualem Pimpin Rapat Validasi Data JKA, Fokus Perbaiki Akses Layanan Kesehatan Aceh

Mualem Pimpin Rapat Validasi Data JKA, Fokus Perbaiki Akses Layanan Kesehatan Aceh

April 24, 2026
Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Tayang di 11 Kota Mulai 8 Mei

Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Tayang di 11 Kota Mulai 8 Mei

April 25, 2026
94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

April 29, 2026
Bagaimana KUA Darul Makmur Akhirnya Berdiri Kisah Yusni dan Peran Warga yang Menginspirasi

Bagaimana KUA Darul Makmur Akhirnya Berdiri? Kisah Yusni dan Peran Warga yang Menginspirasi

April 24, 2026

EDITOR'S PICK

Catatan Redaksi: Rangking Nasional Aceh Terpuruk

Catatan Redaksi: Rangking Nasional Aceh Terpuruk

March 24, 2025
Pageu Gampong Resmi Dihidupkan Kembali di Banda Aceh

Pageu Gampong Resmi Dihidupkan Kembali di Banda Aceh

May 17, 2025
Harga Daging Meugang di Kota Langsa Capai Rp160.000 per Kilogram

Harga Daging Meugang di Kota Langsa Capai Rp160.000 per Kilogram

February 28, 2025
Ketua TP PKK Aceh Instruksikan Pembentukan YJI di Seluruh Kabupaten Kota

Ketua TP PKK Aceh Instruksikan Pembentukan YJI di Seluruh Kabupaten Kota

April 25, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.