• Tentang Kami
Thursday, June 18, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

SAGOE TV by SAGOE TV
June 18, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya. (Ilustrasi AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Tarmizi
Direktur Eksekutif The Aceh Institute

Tulisan Ramadhan Al-Faruq yang mengangkat persoalan banyaknya lulusan SMA yang menganggur dan usulan melibatkan BPSDM untuk memberikan pelatihan keterampilan adalah pengingat yang sangat tepat. Namun jika kita menelisik lebih dalam, persoalan ini tidak sekadar soal kurangnya tambahan pelatihan. Ia mengungkapkan kelemahan mendasar dari sistem pendidikan yang telah berjalan puluhan tahun, yang tanpa disadari justru menjadi salah satu penyebab berlanjutnya lingkaran kemiskinan di Aceh.

Secara desain resmi, Sekolah Menengah Atas (SMA) dibangun untuk mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sedangkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diarahkan untuk kesiapan memasuki dunia kerja. Perbedaan tujuan ini tercermin jelas dalam kurikulumnya: SMA lebih banyak menekankan penguasaan teori, konsep, dan daya pikir analitis, sementara SMK seharusnya memberikan porsi praktik yang lebih besar. Namun data di lapangan membuktikan desain ini tidak berjalan sebagaimana mestinya.

BACA JUGA

Banda Aceh: Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

Berdasarkan data Sakernas BPS Aceh Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka di kalangan lulusan perguruan tinggi mencapai 8,68 persen, lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA sebesar 6,92 persen dan lulusan SMK sebesar 8,66 persen. Lebih mencengangkan lagi, penelitian ILO dan Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan hanya sekitar 30 hingga 35 persen lulusan perguruan tinggi yang bekerja sesuai dengan bidang yang dipelajari selama kuliah. Sisanya terserap di luar keahlian akademiknya atau bahkan tidak bekerja sama sekali. Fakta ini membuktikan satu hal: tinggi rendahnya jenjang pendidikan tidak otomatis menjamin kesempatan kerja maupun kesesuaiannya dengan kebutuhan pasar.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada tujuan hakiki pendidikan dan cara sistem ini mengukur keberhasilan. Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan nasional bertujuan meningkatkan derajat kemanusiaan, membentuk akhlak mulia, serta mengembangkan potensi diri. Tujuan ini mulia, namun sering kali terjebak dalam pelaksanaan yang hanya berfokus pada administrasi semata. Sistem kita menilai keberhasilan seseorang dari seberapa lama ia duduk di bangku sekolah, bukan dari apa yang sebenarnya ia kuasai.

Seorang siswa harus menempuh waktu 12 tahun dari SD hingga SMA sebelum mendapatkan pengakuan resmi. Selama periode yang panjang ini, mereka berada dalam masa yang tidak produktif secara ekonomi: hanya mengonsumsi biaya pendidikan, kebutuhan hidup, dan sepenuhnya bergantung pada penghasilan orang tua. Laporan Bank Dunia menyebutkan bahwa rumah tangga di Indonesia menanggung sekitar 60 persen dari total biaya pendidikan, yang bagi keluarga berpenghasilan rendah di Aceh dapat mencapai sepertiga dari seluruh pengeluaran bulanan. Logikanya sederhana: jika dalam satu keluarga hanya dua orang yang bekerja untuk membiayai lima orang anggota yang masih sekolah, sakit, atau belum mampu berkarya, maka beban ekonomi itu akan terasa sangat berat dan berpotensi menjerumuskan atau mempertahankan keluarga dalam kondisi miskin.

Realitas ini diperparah oleh cara penghitungan statistik resmi. Menurut standar BPS, pelajar dan mahasiswa tidak dimasukkan dalam kelompok angkatan kerja, sehingga tidak tercatat sebagai pengangguran. Akibatnya, semakin banyak anak muda yang disekolahkan, angka pengangguran resmi akan terlihat semakin kecil. Namun ini hanyalah penundaan masalah, bukan penyelesaiannya. Begitu mereka tamat sekolah tanpa bekal keterampilan yang memadai, mereka langsung masuk ke dalam antrean pencari kerja yang panjang.

Bukti paling nyata bahwa sistem ini berbasis waktu, bukan kemampuan, terlihat dari jalur pendidikan kesetaraan. Melalui Program Paket A, B, dan C, seseorang dapat memperoleh ijazah yang setara dengan SD, SMP, hingga SMA hanya dalam waktu satu tahun saja. Ini membuktikan bahwa materi dasar yang seharusnya dikuasai tidak membutuhkan waktu 12 tahun untuk dipelajari. Ijazah yang kita hargai saat ini lebih berfungsi sebagai bukti “sudah menghabiskan waktu selama sekian tahun”, bukan bukti nyata tentang kompetensi, keterampilan, atau integritas diri. Bahkan janji pembentukan karakter pun sering kali terasa kosong: banyak pejabat dan pemimpin yang memiliki gelar pendidikan tinggi justru terlibat dalam penyalahgunaan wewenang dan menghabiskan sumber daya negara selama bertahun-tahun.

Dalam konteks ini, usulan memberikan pelatihan tambahan bagi siswa SMA adalah langkah yang baik namun belum cukup menyentuh akar persoalan. Solusi jangka panjang harus dimulai dengan mengubah paradigma: memberikan pengakuan dan ijazah berdasarkan kompetensi, bukan berdasarkan lamanya waktu sekolah. Siapa pun yang mampu membuktikan penguasaan ilmu dan keterampilan—baik melalui jalur formal, pelatihan, maupun proses belajar langsung di lapangan atau learning by doing—harus mendapatkan penghargaan yang setara.

Di Aceh, lembaga seperti BPSDM dan Dinas Pendidikan memegang peran kunci. Selain melanjutkan program beasiswa, mereka perlu membuka akses pengakuan keterampilan, menyelaraskan pelatihan dengan sektor unggulan daerah seperti kelautan, pertanian, dan pariwisata, serta mempersingkat masa transisi menuju kemandirian ekonomi.

Pembangunan sumber daya manusia yang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa banyak lembar ijazah yang dicetak, melainkan dari seberapa cepat setiap warga negara dapat menjadi produktif, memutus rantai ketergantungan, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah. Jika tidak, sistem pendidikan justru akan terus menjadi beban, bukan solusi bagi masa depan Aceh.[]

Tags: acehIjazahopinipendidikanpengangguranTarmizi
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Banda Aceh Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City
Opini

Banda Aceh: Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

by SAGOE TV
June 17, 2026
Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki
Opini

Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

by SAGOE TV
June 16, 2026
Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh
Opini

Setelah Dilestarikan, Lalu Apa?

by SAGOE TV
June 16, 2026
Musriadi: Hardikda 2025 Momentum Tingkatkan Mutu Pendidikan dan Karakter Siswa Aceh
Opini

Dek Gam Sang Petarung, PAN Aceh Menuju Tiga Besar 2029

by SAGOE TV
June 15, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan
Opini

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

by SAGOE TV
June 13, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 7, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

June 13, 2026
Banda Aceh Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

Banda Aceh: Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

June 17, 2026
Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia: Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

June 10, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Dari Meja yang Sama

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

June 13, 2026
Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

June 16, 2026
Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Meninggal Dunia, Dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman

Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Meninggal Dunia, Dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman

June 15, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025

EDITOR'S PICK

Memahami Kebangkitan Ilmu Sosial di Barat

Memahami Kebangkitan Ilmu Sosial di Barat

March 24, 2025
Timnas Indonesia Satu Grup dengan Malaysia di ASEAN U-23 Championship 2025

Timnas Indonesia Satu Grup dengan Malaysia di ASEAN U-23 Championship 2025

May 30, 2025
Hardiknas 2025 di USK, Prof Agussabti: Pendidikan Jantung Peradaban

Hardiknas 2025 di USK, Prof Agussabti: Pendidikan Jantung Peradaban

May 2, 2025
Untuk Pertama Kalinya, Pesawat Tempur TNI AU Mendarat di Jalan Tol Indonesia

Untuk Pertama Kalinya, Pesawat Tempur TNI AU Mendarat di Jalan Tol

February 12, 2026
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.