• Tentang Kami
Wednesday, May 13, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Fatwa Radikal

Sehat Ihsan Shadiqin by Sehat Ihsan Shadiqin
March 20, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Fatwa Radikal

Dr. Sehat Ihsan Shadiqin. Foto: Doc Pribadi.

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dr. Sehat Ihsan Shadiqin.
Dosen Prodi Sosiologi Agama, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Teman baik saya, seorang Sosiolog dari Universitas Malikussaleh Lhokseumawe bercerita tentang sebuah desa yang pernah menjadi tempat penelitiannya. Saya tidak sebutkan desa apa. Katanya, desa itu sudah lama menjadi pusat peredaran sabu. Pertama kali dibawa oleh seorang perantau asal desa itu dari Malaysia. Ia membangun jaringan yang sangat rapi dengan jaringan Malaysia dan jaringan lokal Aceh, sehingga bisnisnya berjalan lancar. Banyak anak muda desa yang direkrut menjadi agen kecil, tua-muda, laki-perempuan, bahkan anak-anak. Jadinya, desa itu sudah dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai “gampong sabe.”

BACA JUGA

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

Kata teman itu, predikat “gampong sabe” memang layak diterima desa itu. Kalau kita jalan di sana, pemandangan orang sakaw sangat lumrah. Transaksi dilakukan terang-terangan, tidak bersembunyi di belakang kandang ayam atau pakai sandi. Di pinggir jalan, di depan warung, di kedai kopi, biasa saja.

Akibatnya banyak orang di sana terjerumus pada tindakan kriminal. Mereka perlu mendapatkan uang cepat dan banyak untuk membeli sabu. Pencurian, perampokan, penodongan sering dilakukan. Bahkan banyak anak gadis menjajakan tubuhnya pada lelaki nakal dengan bayaran receh demi sabu. Ini benar-benar gila! Kita hampir tidak percaya itu ada di Aceh.

Apakah di sana ada camat? Ada! Apakah di sana ada koramil? Ada! Ada kapolsek? Lengkap. Apakah kampung itu ada keuchik? Tidak ada yang kurang, semua posisi jabatan ada orangnya. Tapi mereka semua angkat tangan. Di sana ada invisible hand yang bermain, kuat tapi tak terlihat.

Baca Juga:  Warga Aceh Perlu Tahu, Tol Fungsional Padang Tiji-Seulimeum Diperpanjang

Pada satu waktu, pindah seorang teungku ke desa itu. Ia melihat fenomena rusaknya strata sosial masyarakat karena sabu. Ia bertanya pada keuchik, petua, imum, mengapa ini dibiarkan terjadi. Semua angkat tangan dan berkata: hana mungken tapeuglah, teungku!

Sang teungku berfikir keras, bagaimana menyelesaikan masalah yang sudah mengakar ini. Ia membaca lagi kitab-kitab agama untuk menemukan referensi yang tepat. Ia bertanya lagi kepada gurunya, kepada orang yang paham. Beberapa bulan kemudian ia mengeluarkan fatwa radikal: “Mati karena memerangi agen narkoba adalah mati syahid!”

Banyak orang yang sudah putus asa dengan hidupnya karena pengaruh narkoba melihat fatwa ini sebagai peluang bagus mengakiri hidup. Kehidupannya selama ini sudah dapat dipastikan akan berakir tragis: di dunia maupun akirat. Dengan adanya peluang pahala “syahid” maka semua dapat berakir baik. Meskipun tidak bahagia di dunia, setidaknya bahagia di akirat. Kebahagiaan itu nampak sangat nyata, hanya satu tarikan nafas saja. Hari ini membunuh agen narkoba, ditembak, besok sudah masuk surga. Bukankah sebuah peluang bagus?

Agen narkoba lantas diburu. Siapa saja yang datang ke sana  membawa narkoba dikejar ramai-ramai oleh orang kampung. Agen narkoba merasa orang akan membunuhnya. Di sisi lain orang-orang ingin dibunuh oleh agen narkoba agar mendapatkan pahala syahid. Tapi itu tidak terjadi sebab agen narkoba justru lari menghilang ketakutan. Ini terjadi lagi esok harinya, lusa, dan berbulan-bulan kemudian. Agen narkoba sama sekali tidak berani lagi masuk desa, orang desa juga tidak ada yang tewas karena ditembak oleh agen narkoba. Yang terjadi justru hal yang diinginkan teungku: kampung itu bebas narkoba! Sekarang kampung itu sudah jadi pusat produksi kepiting lunak terkenal di Aceh.

Baca Juga:  Respon Muslim Terhadap Perayaan Imlek

Saat birokrat dan aparat tidak mampu menyelesaikan masalah, teungku dengan satu fatwa menuntaskannya. Ia tidak digaji, tidak pakai seragam, tidak diangkat dengan SK, tidak ada senjata, tanda tangannya tidak menentukan apapun. Namun ucapannya pada satu malam setelah magrib mengubah wajah desa untuk selamanya.

Inilah yang kita sebut dengan otoritas keagamaan dalam masyarakat muslim di Aceh. Tidak ada yang lebih dipercaya oleh masyarakat selain teungku. Bukan hanya di desa itu, hampir seluruh daerah di Aceh meyakini pada satu kalimat: “kiban kheun teungku!”

Tidak selamanya baik, tentu saja. Dalam banyak kasus teungku yang diberkan otoritas oleh masyarakat justru menggunakannya untuk meraih kekuasaan politik dan menguasai sumber daya yang lebih banyak. Ada juga yang provokatif menggerakkan pengikut untuk melakukan kekerasan. Namun dalam kasus di atas, ia telah melakukan sebuah langkah yang radikal yang menyelesaikan masalah di desa itu.

Hal yang sama terjadi di sebuah provinsi. Saat covid-19 semakin mengganas, pemerintahnya nampak kelimpungan menangani masalah ini. Dari presiden, gubernur, camat, keuchik, semuanya tidak memiliki satu pandangan yang sama dalam menyelesaikan pandemi. Saboh hue u barat, saboh hue u timu. Apalagi ada masalah internal yang merusak program kampanye dan penanganan covid, termasuk korupsi dana yang berjumlah triliyunan.

Kondisi ini berdampak pada sikap masyarakat yang abai dengan prokes. Setiap hari kita menyaksikan nyaris tidak ada kesan takut dengan pandemi. Pasar ramai, warung kopi penuh, pusat belanja gaduh, perkantoran lengkap. Statistik korban yang semakin menanjak, kematian yang bertambah, stok obat yang menipis, ruang perawatan yang semakin terbatas, sama sekali tidak  menjadi pelajaran. Lage na aju. Kahancuran di depan mata.

Baca Juga:  Dunia Semakin Miskin Keteladanan

Masyarakat lebih suka mendengarkan “fatwa media sosial” yang tidak jelas milik siapa. Bukan hanya masyarakat awam, tapi kalangan terdidik. Bahkan nakes! Bit pungo. Saya melihat sendiri banyak akademisi hobi menyebarkan hoax pandemi ini. Aparat pemerintah menganggap sepele pandemi. Nakes meremehkan vaksin. Share sana share sini tanpa saringan. Prinsip-prinsip kecendiaan, memiliki integritas pada ilmu pengetahuan, menyampaikan pendapat berbasis data, melakukan klarifikasi atas fakta yang ada, membaca data dengan kristis, sama sekali diabaikan. Banyak diantara mereka berebut posisi pertama mempublikasi berita hoax di media sosial seolah sebuah pertandingan dengan hadiah milyaran.

Lalu muncullah seorang teungku yang menjadi pahlawan. Ia memberikan beberapa  fatwa Radikal yang membuat pemerintah sungguh-sungguh menangani covid, penyebaran hoax keok, nakes semangat, dan masyarakat peduli dengan prokes. Akir tahun semua aspek kehidupan menjadi lebih baik. Alhamdulillah.

Saya tidak tahu apa bunyi fatwa yang dikeluarkan Teungku itu. Sebab itu belum terjadi.[]

Tags: acehcovid-19DesapenelitianSosiologi
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Sehat Ihsan Shadiqin

Sehat Ihsan Shadiqin

Sehat Ihsan Shadiqin adalah Dosen, Peneliti dan Penulis Buku.

Related Posts

Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh Fakta yang Jarang Diketahui!
Artikel

Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh: Fakta yang Jarang Diketahui!

by SAGOE TV
July 3, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031

May 10, 2026
Inkubasi Seni sebagai Praktik Publik: Membangun Ekosistem Hidup Seni, Pengetahuan, dan Ruang Kampus

Inkubasi Seni sebagai Praktik Publik: Membangun Ekosistem Hidup Seni, Pengetahuan, dan Ruang Kampus

May 6, 2026
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Mualem Gelar Silaturahmi dengan Ulama

Mualem Gelar Silaturahmi dengan Ulama

May 9, 2026
Pewarta Foto Aceh Chaideer Mahyuddin Raih APFI 2026 lewat Foto Cerita “The Last Hope”

Pewarta Foto Aceh Chaideer Mahyuddin Raih APFI 2026 lewat Foto Cerita “The Last Hope”

May 9, 2026
Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

Minim Komunikasi Antarprofesi, Keselamatan Pasien Bisa Terancam

May 7, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Dari Banda Aceh, Pendidikan Seni Dibaca Ulang sebagai Infrastruktur Kemanusiaan

Dari Banda Aceh, Pendidikan Seni Dibaca Ulang sebagai Infrastruktur Kemanusiaan

May 3, 2026
Hubbika House Creative Gelar Kelulusan Kidspreneurclub 3 dan Launching Produk Siswa

Hubbika House Creative Gelar Kelulusan Kidspreneurclub 3 dan Launching Produk Siswa

May 11, 2026

EDITOR'S PICK

Jelang Ramadhan, Pemerintah Aceh Percepat Pemulihan Distribusi Logistik dan Stabilkan Harga

Jelang Ramadhan, Pemerintah Aceh Percepat Pemulihan Distribusi Logistik dan Stabilkan Harga

January 13, 2026
Kemenag Bersinergi dengan Pemkab Pidie Jaya, Aceh Tengah, dan Aceh Utara Tingkatkan Pendidikan Inklusif

Kemenag Bersinergi dengan Pemkab Pidie Jaya, Aceh Tengah, dan Aceh Utara Tingkatkan Pendidikan Inklusif

September 5, 2025
KKJ Aceh Hukum Pelaku Kekerasan terhadap Jurnalis Ismed di Pidie Jaya

KKJ Aceh: Hukum Pelaku Kekerasan terhadap Jurnalis Ismed di Pidie Jaya

March 20, 2025
2 Bocah di Aceh Besar Ditemukan Meninggal Tenggelam di Sungai

2 Bocah di Aceh Besar Ditemukan Meninggal di Sungai

March 19, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.