• Tentang Kami
Tuesday, September 29, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Glah Transisi Pak Sakari dan Murid Imigran

Satia Zen by Satia Zen
March 24, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Satia, sagoe.id
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Satia Zen
Guru Sekolah Sukma Bangsa Bireuen-Aceh, dan Mahasiswi Program Doktoral Fakultas Pendidikan dan Budaya, Universitas Tampere, Finlandia.

Menjelang sore di musim gugur ketika dedaunan mulai menguning cerah, saya berjalan menuju sekolah Pohjois-Hervannan Koulu yang terletak di sebuah distrik bernama Hervanta.  Daerah ini terkenal dengan ragam penduduknya dari berbagai negara dan latar belakang.

Ada salah satu kampus Tampere University disini yang menjadi pemikat banyak pelajar dari berbagai penjuru dunia datang belajar teknik dan IT.  Selain itu Hervanta juga ditinggali oleh banyak pendatang dengan beragam kondisi seperti pencari suaka dan pengungsi dari daerah perang seperti Irak, Suriah, Somalia, Afganistan dan daerah lainnya.

BACA JUGA

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

Saat saya sampai di sekolah tersebut, istirahat setelah makan siang baru usai, sehingga suasana terlihat ramai dan riuh.  Sekolah ini terdiri dari sekolah dasar dan menengah, sehingga lapangan penuh dengan anak-anak beragam usia dan beragam kebangsaan bermain bersama-sama.

Ketika saya masuk kedalam melewati lorong, saya berpapasan dengan para siswa yang sedang berjalan menuju kelas masing-masing.  Mereka berkelompok dan terlihat berbicara dengan bahasa Finlandia yang sangat fasih.  Beberapa gadis berjilbab menyapa saya dengan mengucapkan ’salam’ dan tersenyum hangat.  Mereka, layaknya anak-anak dimanapun, terlihat ceria dan bercanda dengan teman-teman mereka.

Tujuan saya ke sekolah Pohjois-Hervannan Koulu, hari itu untuk menemui pak Sakari, guru glah (kelas) transisi. Pada saat saya sampai di depan kelas, saya melihat Pak Sakari masih berbicara dengan seorang murid dengan latar belakang imigran. Sembari menunggu, saya perhatikan dari luar kelas anak itu mengangguk dan mengucapkan sesuatu, kemudian membereskan bukunya dan beranjak pergi sambil mengucapkan kata selamat tinggal khas Finlandia ’heippa’. Pak Sakari membalas ’heippa’ dan tersenyum lebar.

Setelah itu Pak Sakari mempersilakah saya masuk ke kelasnya dengan ramah. Beliau mengajak saya duduk di salah satu tempat duduk yang tersedia.  Ruangan kelas Pak Sakari tidak luas, saya melihat ada sekitar 8 meja dan kursi yang disusun berjajar menghadap ke papan tulis dan satu meja untuk kerja kelompok dengan 6 kursi.

Kami pun mulai berbincang mengenai glah transisi, yang diampunya selama beberapa tahun terakhir.  Kelas ini diperuntukkan bagi anak-anak yang tidak bisa berbahasa Suomi (bahasa Finlandia), berasal dari negara lain serta memiliki kemungkinan untuk tinggal secara jangka panjang di Finlandia.

Pak Sakari memiliki sekitar 8 murid dari beragam negara seperti Irak, Suriah, Thailand dan Turki.  Selama beberapa tahun mengajar di glah transisi, Pak Sakari sudah mengajar siswa yang datang dari lebih 20 negara.  Beliau menunjuk salah satu peta di dinding kelasnya dimana nama anak-anak ditulis dan ditempelkan pada negara darimana mereka datang.  Menurut Pak Sakari, ini penting untuk mengingatkan dirinya dan anak-anak bahwa mereka berasal dari budaya dan tempat yang berbeda. Jadi mereka perlu saling sabar dan belajar dari satu sama lain.

Selain asal negara, murid di kelas ini juga umurnya berbeda-beda karena mereka memulai sekolah pada waktu yang berbeda-beda pula, tergantung waktu kepindahan mereka ke Finlandia. Dan ketika mereka memulai, mereka tidak bisa berbahasa Suomi, sedikit yang bisa berbahasa Inggris, namun fasih dalam bahasa ibu masing-masing.

Jadi bagaimana berkomunikasi dan mengajari anak-anak ini? tanya saya kebingungan.  Pak Sakari tertawa dan mengatakan bahwa anak-anak dari manapun pada dasarnya sangat ingin tahu, mereka akan mencoba berkomunikasi dengan cara apapun, untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Pak Sakari menjelaskan, ia menggunakan banyak metode seperti bahasa isyarat, gambar dan mimik untuk berkomunikasi, sambil pelan-pelan mengenalkan kosa kata dasar, melalui rangkaian kegiatan sederhana namun menggugah rasa ingin tahu siswa di kelas.  Demikian juga anak-anak, kata Pak Sakari, mereka melakukan hal yang sama untuk memberitahu keinginan mereka di kelas. Di dinding sekolah, saya melihat banyak sekali karya anak-anak dipajang, yang isinya mengandung kosakata bahasa Suomi sederhana.

Jika anak-anak menyelesaikan tugas mereka lebih cepat, sambung Pak Sakari, mereka dapat bermain ataupun membaca. Pak Sakari juga memberikan waktu yang cukup untuk anak-anak bermain bersama ketika waktu istirahat tiba.  Menurutnya, bermain itu cara paling cepat untuk anak-anak belajar apapun, termasuk belajar bahasa.  Pak Sakari juga mengajak anak-anak belajar lagu-lagu Suomi sederhana untuk belajar bahasa dan budaya. Di kelas tersebut, saya melihat berbagai permainan serta buku-buku cerita dan gitar.

Menurutnya lagi, anak-anak tidak memerlukan waktu lama untuk belajar bahasa baru, dan beliaupun ingin anak-anak dapat bertransisi (pindah) ke kelas regular jika mereka sudah siap.  Untuk itu, secara berangsur-angsur anak-anak yang mulai fasih bahasa Suomi akan mengikuti satu atau dua pelajaran di kelas reguler sesuai dengan jenjang umur mereka.  Hingga pada suatu saat nanti, anak-anak ini akan pindah ke kelas reguler sepenuhnya dan tidak lagi belajar di glah transisi.

Saat itulah menurut Pak Sakari beliau merasa betul-betul berhasil membantu anak-anak ini untuk melanjutkan kehidupan mereka. Ini penting agar anak-anak tersebut memiliki harapan baru terutama untuk mereka yang datang dari negara-negara yang dikoyak peperangan.

Namun, bukan berarti anak-anak tidak dapat lagi menggunakan bahasa ibu mereka. Kota Tampere menyediakan guru bahasa ibu sesuai dengan permintaan dan jika jumlah siswa mencukupi.  Di sekolah Hervannan Koulun tersedia kelas Bahasa Mandarin yang diadakan setiap minggunya.  Saya juga mendengar ada Kelas Bahasa Parsi, Bahasa Arab, Bahasa Thailand dan Bahasa Vietnam, yang diadakan di sekolah-sekolah berbeda untuk anak-anak yang ingin belajar bahasa ibu mereka.

Kelihatanya, keragaman budaya dan identitas bukan menjadi ancaman, tapi justru kekayaan yang perlu dilestarikan.  Menurut Pak Sakari, ketika anak-anak pindah ke Finlandia, mereka tidak berhenti menjadi orang Turki, Irak, Somalia, Afganistan ataupun Suriah. Namun mereka punya sisi lain sebagai orang Finlandia yang datang dari negara berbeda.

Hal ini mengingatkan saya akan pengungsi Rohingya yang terdampar dan telah diterima dengan tangan terbuka di Aceh. Saya melihat Aceh punya kesempatan bagus untuk membantu pengungsi dan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang layak melalui glah transisi atau apapun namanya.[]

Tags: AcehArtikelFinlandiaKelas TransisiMurid
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Satia Zen

Satia Zen

Guru Sekolah Sukma Bangsa Bireuen. Saat ini sedang menyelesaikan program doktoral di Tampere University, Finlandia.

Related Posts

Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh Fakta yang Jarang Diketahui!
Artikel

Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh: Fakta yang Jarang Diketahui!

by SAGOE TV
July 3, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Pesan Rektor UIN Ar-Raniry kepada Kaprodi Layani Mahasiswa, Jangan Persulit

Pesan Rektor UIN Ar-Raniry kepada Kaprodi: Layani Mahasiswa, Jangan Persulit

September 25, 2026
150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

150 Peserta Ikuti Bimtek Literasi Informasi di Aceh Singkil, Ini Kemampuan yang Dilatih

September 23, 2026
Dari Percakapan ke Meja Ngopi Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK

Dari Percakapan ke Meja Ngopi: Menyiapkan Magister Seni Lintas Disiplin di USK

September 25, 2026
Sjamsul Kahar Berpulang, Pendiri Serambi Indonesia dan Tokoh Pers Aceh Tutup Usia 80 Tahun

Sjamsul Kahar Berpulang, Pendiri Serambi Indonesia dan Tokoh Pers Aceh Tutup Usia 80 Tahun

September 24, 2026
FH USK Edukasi Hukum Pornografi bagi Siswa

FH USK Edukasi Hukum Pornografi bagi Siswa

September 23, 2026
UIN Ar-Raniry Kukuhkan 9 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini 65 Orang

UIN Ar-Raniry Kukuhkan 9 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini 65 Orang

September 23, 2026
Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

Aceh dan Krisis Jarak; Ketika Nilai Besar Semakin Jauh dari Kehidupan Sehari-hari

September 15, 2026
Momentum Baru bagi Universitas Syiah Kuala: Menata Kembali Tempat Seni dalam Ekosistem Akademik

Literasi dan Apresiasi Seni: Menghidupkan yang Nyaris Terbiasa Dilupakan

March 27, 2026
Siti Murtiningsih, Istri Wamen Nezar Patria Dikukuhkan Jadi Guru Besar Filsafat Pendidikan UGM

Siti Murtiningsih, Istri Wamen Nezar Patria Dikukuhkan Jadi Guru Besar Filsafat Pendidikan UGM

February 24, 2025

EDITOR'S PICK

Puisi untuk Bencana Sumatera: Tuan Katakan Dusta

Puisi untuk Bencana Sumatera: Tuan Katakan Dusta

December 20, 2025
Gas ORDAL di Tengah Bencana: Ketika Hak Publik Dikalahkan Akses Orang Dalam

Gas ORDAL di Tengah Bencana: Ketika Hak Publik Dikalahkan Akses Orang Dalam

December 19, 2025
PMI Aceh Desak Penetapan Bencana Nasional, Singgung Pernyataan Kepala BNPB

PMI Aceh Desak Penetapan Bencana Nasional, Singgung Pernyataan Kepala BNPB

November 30, 2025
Putra Aceh Teuku Faisal Fathani Gantikan Dwikorita, Ingin Jadikan BMKG Pusat Data dan Pusat Aksi

Putra Aceh Teuku Faisal Fathani Gantikan Dwikorita, Ingin Jadikan BMKG Pusat Data dan Pusat Aksi

November 5, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.