• Tentang Kami
Friday, June 19, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Konsep Bisnis Cina: Guanxi

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
March 24, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Relasi Pertahanan Semesta (Cosmic Defense) dengan ‘Gerobak Pengetahuan’ Lokal di Nusantara
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad.
Antropolog dan Dosen UIN Ar-Raniry, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.

KETIKA melihat jejaring pebisnis Cina lebih banyak dipelajari sejarah mereka dari keluarga atau kongsi yang dibangun masing-masing. Kekuatan keluarga ini pun yang kemudian membentuk jaringan hampir lima generasi dalam masyarakat Cina. Di dalam masyarakat Cina digambarkan oleh Baker dalam salah satu karyanya: “The ideal family consisted of some five generations living together as one unit, sharing one common purse and one common stove, and under one family head. The Chinese called this the ‘five generation family’ or ‘five generations co-residing.” Melalui jaringan persaudaraan keluarga, orang Cina mampu membangun kerajaan bisnis, hingga sukses. Karena itu, mereka mampu membangun usaha melalui azas kepercayaan dan saling melindungi antara satu sama lain. Hal ini pula yang diterapkan dalam sistem kongsi.

Karena itu, tidak mengejutkan ketika melihat perkembangan bisnis orang Cina lebih banyak dikelola oleh keluarga dan orang-orang terpercaya. Dalam penelitian Yao Souchou ditemukan bagaimana berbagai aktifitas bisnis dari tingkat paling kecil. Di situ digambarkan orang Cina menjadikan toko sebagai rumah dan rumah sebagai tempat bisnis mereka. Gambaran ini menyiratkan betapa pentingnya keluarga inti di dalam membangun kerajaan bisnis. Suami dan istri ikut serta di dalam toko. Sementara anak-anak mereka juga dibiarkan bermain-main di dalam toko yang mereka jaga bersama-sama. Gambaran kehidupan Cina ini juga dapat ditemui di berbagai toko yang dimiliki oleh orang Cina.

BACA JUGA

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Misalnya, beberapa toko orang Cina yang ditemui di Kota Banda Aceh, cenderung memperlihatkan suami istri bekerja ditambah dengan pekerja dan juga anak-anak mereka sendiri. Istri sering duduk di kasir atau memberikan perintah kepada anak buah mereka. Sedangkan suami biasanya melakukan proses pengawasan secara keseluruhan atau bahkan terlibat langsung. Di sini, aktivitas bisnis yang dilakukan oleh orang Cina di dalam kehidupan sehari-hari mereka, menurut Souchou digambarkan sebagai konsep ‘socialisation of business.’ Adapun konsep ini dijelaskan sebagai berikut;

Dalam tradisi bisnis Cina ada konsep yang dikenal sebagai guanxi. Istilah ini menggambarkan bagaimana hubungan sesama orang Cina ketika hendak dan sedang menjalani bisnis. Inilah kata kunci, dimana orang Cina membangun raya percaya pada sesama mereka sendiri.  Relasi ini dibangun atas dasar kepercayaan (xing yong), sentimen (gang qini), dan jaringan (lai wang). Disebutkan bahwa kemunculan kapitalisme orang Cina dalam era globalisasi dikarena ada jaringan khusus yang berdasarkan berbagai bentuk dari praktik guanxi. Ketiga hal tersebut yang membangun rasa persaudaraan di kalangan orang Cina, baik di dalam maupun di perantauan.

Dalam hal ini, hubungan gaunxi dapat berbentuk guoji (hubungan internasional), routi guanxi (hubungan persaudaraan), dan fuji guanxi (hubungan perkawinan). Bentuk-bentuk guanxi tersebut pada gilirannya menciptakan suasana-suasana dibalik layar yang dilakukan oleh orang Cina. Misalnya, hubungan-hubungan ini memberikan relasi yang saling menguntungkan, membantu sejawat yang sedang memerlukan bantuan, hingga praktik-praktik korupsi. Karena  itu, pada ujungnya, hubungan ini terus berkembang, sebagaimana dijelaskan berikut ini oleh (Jakob dan Lotte, 2004: 140): “As relations are constanly being expanded, they are gradually transformed into a complex network, which is not limited to the family and speech grup, but embrace strictly professional relations that are nevertheless still informal and based on trust.”

Keyakinan untuk mensukseskan diri mereka dalam dunia bisnis merupakan satu kemestian yang sejalan dengan agama yang dianut oleh orang Cina yaitu Konghucu. Pandangan ini menyiratkan bahwa mereka ingin mengagungkan keluarga dan leluhur. Inilah yang menjadi salah satu teori mengapa orang Cina memiliki spirit berbisnis sangat kuat, yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam dunia spiritual orang Cina menyembah atau berdoa kepada leluhur adalah suatu kelaziman. Mereka sangat menghormati leluhur. Karena itu, spirit yang telah pergi selalu didoakan. Bahkan, suatu perilaku yang amat buruk, jika ada yang memaki-maki para leluhur. Pemujaan terhadap leluhur ini menyiratkan bahwa keluarga orang Cina sama sekali tidak akan terputus hubungannya dengan mereka yang masih hidup.

Selanjutnya, keuletan orang Cina terlihat dari tiga hal: pengaruh pimpinan negara, keluarga, dan religi. Selain Konghucu, masih ada lagi religi di Cina yaitu Tao, Buddha, dan agama pribumi. Untuk mengikat semua keyakinan tersebut dikenal sebagai jiao. Konsep jiao lebih dimaknai sebagai ajaran-ajaran. Jiao ini tidak boleh dibawa ke ranah politik, ilmu dan agama. Konsep ini lebih merupakan: “Jiao were closely intertwined with the various forms of practical technology, mathematics, and medicine now often called ‘traditional Chinese science’” (Andrew, 2001: 34).

Saya memandang bahwa ajaran-ajaran yang dipraktikkan oleh masyarakat Cina tidak dibawa ke ranah kenegaraan atau tata kelola pemerintah. Sebab, Mao merupakan penganut komunis, dimana agama tidak boleh berperan, seperti layaknya pada awal-awal gejala sekularisme di Barat. Semua agama yang muncul dianggap sebagai ilmu-ilmu orang Cina untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, di puncak kenegaraan, orang Cina berkiblat pada pemikiran Marx, di bawa masyarakat dibiarkan untuk menghidupkan tradisi leluhur mereka dalam bidang teknologi, matematik, dan pengobatan.

Dalam konteks ini, Andrew B. Kipnis malah menyebutkan Maoisme menganut sistem teokrasi. Kipnis menjelaskan sebagai berikut: Marxism, as institutionalised in Mao’s China, had its own form of teleological history   (beginning in ‘primitive communism’ passing through the stages of feudalism, capitalism, and socialism before ending in communism), its own imagination of heaven (communism), its own sacred texts (the heavily edited collected works of Marx, Engels, Lenin, Stalin, and Mao), its own  morality, and its own experience of the numinous (Mao worship).[]

Tags: ArtikelbisnisCinaDagangKongsi
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Kamaruzzaman Bustamam Ahmad adalah Antropolog. Berdomisili di Aceh.

Related Posts

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO
Artikel

Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO

by SAGOE TV
June 11, 2026
Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 7, 2026
Banda Aceh Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

Banda Aceh: Dari Kota Syariah Menuju Halal Smart City

June 17, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Banda Aceh Kota Kolaborasi Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

Banda Aceh Kota Kolaborasi: Menyatukan Nilai Syariah, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Masa Depan

June 13, 2026
Dari Meja yang Sama

Ketika Darussalam Kehilangan Keberanian Mencari yang Terbaik

June 13, 2026
Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

Dulu Melawan, Kini Membuktikan: Blok Andaman dan Ujian Generasi Pasca-Helsinki

June 16, 2026
Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

Di Balik Ijazah dan Angka Pengangguran: Mengapa Sistem Pendidikan Perlu Diperbaiki Dasarnya

June 18, 2026
UIA Pastikan Kuliah Korban Banjir Tetap Berjalan, 42 Mahasiswa Dapat Keringanan SPP

UIA Pastikan Kuliah Korban Banjir Tetap Berjalan, 42 Mahasiswa Dapat Keringanan SPP

June 18, 2026
Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh

Ketika Warga Kota Kembali Duduk Bersama: SPS Revival dan Ikhtiar Membangun Ruang Perjumpaan di Banda Aceh

June 19, 2026

EDITOR'S PICK

Pj Gubernur Aceh Tinjau Verifikasi Pembangunan Rumah Layak Huni di Kuta Baro dan Montasik

Pj Gubernur Aceh Tinjau Verifikasi Pembangunan Rumah Layak Huni di Kuta Baro dan Montasik

January 24, 2025
Ekshibisi Lari Trail di PON XXI Aceh-Sumut Sukses Digelar, Bima Arya Target PON 2028 Jadi Cabor Resmi

Ekshibisi Lari Trail di PON XXI Aceh-Sumut Sukses Digelar, Bima Arya: Target PON 2028 Jadi Cabor Resmi

September 15, 2024
UIN Ar-Raniry dan BRA Bahas Rencana Peringatan 2 Dekade Perdamaian Aceh

UIN Ar-Raniry dan BRA Bahas Rencana Peringatan 2 Dekade Perdamaian Aceh

January 24, 2025
Orang Aceh Murka Jika 6 Hal Diganggu

Orang Aceh Murka Jika 6 Hal Diganggu

July 7, 2022
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.