BANDA ACEH | SAGOE TV — Di ruang Teater Mini Adnan Ganto, Gedung Perpustakaan Universitas Syiah Kuala (USK), Darussalam, Kota Banda Aceh, Sabtu (14/2/2026), sebuah forum diskusi terfokus (FGD) berkembang menjadi refleksi serius tentang masa depan seni di kampus berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) tersebut. Tema yang diangkat—Penguatan Literasi dan Peneguhan Seni sebagai Aset Akademik—sejak awal memperlihatkan bahwa pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang evaluasi mendasar: di mana sebenarnya posisi seni dalam struktur universitas hari ini?
Suasana forum dibuka oleh testimoni mahasiswa tingkat akhir Program Studi Pendidikan Seni, Naura Atkiya. Pengalamannya sederhana, namun merepresentasikan cara pandang sosial yang lebih luas. Sejak kecil hingga SMA, ia mengenal seni melalui drum band dan peran sebagai mayoret. Ketika memilih kuliah, lingkungannya menyederhanakan keputusan itu: karena “dari dulu nari-nari saja”, maka “ya sudah, sendratasik saja.” Stigma tersebut, menurutnya, masih kerap melekat—seolah pendidikan seni identik dengan keterampilan tampil, bukan proses intelektual.
“Padahal Sendratasik bukan sekadar menari,” ujar Naura Atkiya.
“Kami belajar memahami seni sebagai ilmu.” tambahnya.
Pernyataan itu menjadi semacam pintu masuk emosional sekaligus epistemik: persoalan seni bukan hanya struktural, tetapi juga menyangkut cara pandang yang telah mengakar.
Gagasan tersebut kemudian diperluas oleh Ari Palawi, Ph.D., penggagas forum. Dalam pengantarnya, Ari memetakan latar historis Prodi Pendidikan Seni yang tumbuh di bawah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Posisi ini berjasa besar melahirkan guru seni di Aceh. Namun dalam konteks universitas umum—terlebih dengan status PTN-BH yang menuntut diferensiasi dan daya saing global—orientasi tunggal sebagai pencetak guru dinilai tidak lagi memadai.
Menurut Ari, seni di universitas bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan perangkat epistemik. Ia menegaskan bahwa universitas umum memiliki mandat untuk memikirkan, menguji, dan memproduksi pengetahuan—termasuk melalui praktik artistik. Dalam lanskap PTN-BH, setiap unit akademik dituntut memperlihatkan kontribusi strategisnya. Jika seni terus ditempatkan sebagai pelengkap kegiatan seremonial, ia akan sulit memperoleh legitimasi struktural.
Kerangka kebijakan ini kemudian diperdalam melalui paparan Pemantik I, Dr. (Cand). Nurlaili, M.Pd. (Kepala Pusat Pengembangan Audit dan Penjaminan Mutu USK), yang dalam forum dirangkum dan disampaikan oleh Ari. Sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu universitas, Nurlaili menyoroti persoalan dari sudut tata kelola. Di era PTN-BH, universitas dituntut akuntabel melalui Indikator Kinerja Utama (IKU), akreditasi, serta standar mutu nasional dan internasional. Dalam sistem tersebut, karya seni belum sepenuhnya diposisikan setara dengan artikel ilmiah atau paten teknologi.
Di sinilah tantangan mendasar muncul: bagaimana menjadikan praktik artistik sebagai luaran akademik yang sah dan terukur? Nurlaili menegaskan bahwa penguatan seni tidak cukup melalui narasi identitas kultural. Ia harus dirancang melalui roadmap yang jelas, kurikulum berbasis riset, serta sistem evaluasi yang kompatibel dengan regulasi pendidikan tinggi. Usulan pembukaan Program Magister Seni, dalam kerangka ini, bukan semata ambisi ekspansi program studi, melainkan langkah strategis agar riset berbasis praktik (practice-based research) memiliki payung akademik yang kuat.
Setelah fondasi struktural diletakkan, forum bergerak ke horizon global melalui Pemantik II, Dr. Feriyal Amal Aslam, cendekiawan, seniman independen dan dosen luar biasa bidang Integrated Arts (IA) UNPAR. Akademisi yang meneliti relasi Islam, gender, dan seni pertunjukan itu memulai paparannya dengan refleksi pengalaman lapangan. Dalam interaksi awalnya dengan komunitas seni di Aceh, ia menemukan dinamika yang menurutnya jarang terbaca dalam literatur internasional: peran perempuan dalam seni pertunjukan Islam yang aktif, adaptif, dan memiliki daya negosiasi sosial.
Bagi Feriyal, Aceh bukan ruang kosong yang membutuhkan legitimasi luar, melainkan ekosistem yang sudah hidup—namun belum terdokumentasi secara sistematis dalam bahasa akademik global. Ia mengajukan pertanyaan strategis: bagaimana keunggulan lokal dapat diterjemahkan ke dalam publikasi, kolaborasi, dan riset lintas negara tanpa kehilangan akar?
Ia menekankan pentingnya dokumentasi, penulisan, dan pembentukan jejaring internasional. Namun ia juga realistis. Transformasi tidak selalu harus dimulai dari struktur besar. Ia menyarankan pembentukan kelompok kerja kecil berbasis minat—working groups—yang konsisten melakukan riset, diskusi, dan publikasi. “Tidak perlu banyak orang untuk menyalakan lampu. Cukup beberapa yang menjaga energi,” ujarnya.
Energi forum kemudian berubah ketika Pemantik III, budayawan Sutanto atau Mas Tanto Mendut — yang juga dikenal global sebagai pendiri sekaligus pemimpin Komunitas Lima Gunung ini, mengambil alih ruang diskusi. Jika Nurlaili berbicara dalam bahasa tata kelola dan Feriyal dalam bahasa akademik global, berbicara dalam bahasa kebudayaan yang langsung dan menggugat.
Ia mengkritik kecenderungan universitas yang terlalu sibuk mencari legitimasi eksternal—baik melalui ranking, sertifikasi, maupun pengakuan lembaga internasional—tanpa terlebih dahulu mempercayai kekuatan tradisi masyarakatnya sendiri. “Jangan terlalu sibuk menunggu pengakuan,” tegasnya.
Menurutnya, seni hidup di tubuh dan tradisi masyarakat sebelum negara modern dan sistem akreditasi lahir. Universitas seharusnya menjadi ruang yang merawat keberanian kreatif, bukan sekadar mengadministrasikannya. Ia bahkan mengingatkan bahaya ketika logika teknokratis terlalu dominan dalam pembangunan, sehingga mengabaikan intuisi ekologis dan estetik. Dalam pandangannya, seni bukan pelengkap, melainkan instrumen kesadaran sosial.
Setelah paparan para pemantik, sesi diskusi memperlihatkan resonansi lintas disiplin. Dr. Teuku Alvisyahrin, dosen seniordari Fakultas Pertanian USK, melihat seni sebagai bagian dari fitrah manusia dan proses akal dalam memaknai kehidupan. Tanpa seni, generasi hanya cakap secara teknis tetapi miskin kebijaksanaan.
Masdar Djamaluddin, dosen senior ilmu arsitektur dan fotografi dari Fakultas Teknik USK, memperluas kritik tersebut dengan menyoroti dominasi paradigma STEM yang deterministik. Menurutnya, sains tanpa kepekaan estetik dan etis dapat melahirkan krisis ekologis dan sosial. Pendidikan tinggi, katanya, membutuhkan keseimbangan antara rasionalitas dan rasa.
Sementara itu, suara alumni Prodi Sendratasik USK muncul melalui Rauzatul Jannah. Ia mengisahkan realitas pahit seorang gitaris klasik berbakat yang akhirnya bekerja sebagai teknisi elektronik demi bertahan hidup. Di sekolah tempat ia mengajar, seni kerap diperlakukan sekadar formalitas kurikulum tanpa standar capaian yang jelas. Kesaksiannya menegaskan bahwa problem seni bukan abstraksi teoretis, melainkan realitas ekosistem kerja.
Menanggapi diskusi tersebut, Feriyal kembali menekankan pentingnya konsistensi kolektif dan dokumentasi sebagai langkah konkret. Mas Tanto, dalam respons akhirnya, mengingatkan agar keberanian kultural tidak dikerdilkan oleh ketakutan administratif.
Forum ditutup oleh Keuchik Yasser, Ketua Pengurus Yayasan Geunta Seni Jauhari, yang menegaskan bahwa roadmap penguatan seni yang telah dirancang sebenarnya sudah cukup jelas. Tantangan berikutnya adalah keberanian mengeksekusi. Seni USK, menurutnya, membutuhkan identitas yang terdefinisi dan daya tawar yang nyata.
FGD tersebut memang tidak menghasilkan keputusan formal. Namun ia memunculkan kesadaran kolektif: seni di Universitas Syiah Kuala sedang berada di persimpangan—antara bertahan sebagai pendidikan keterampilan, atau bertransformasi menjadi ekosistem pengetahuan yang relevan dalam struktur PTN-BH.
Di tengah tuntutan indikator dan akreditasi, forum ini mengingatkan bahwa universitas bukan hanya mesin administrasi, melainkan ruang produksi makna. Jika kelak Program Magister Seni terwujud dan karya berbasis praktik diakui sebagai pengetahuan yang sah, diskusi di Gedung Perpustakaan itu mungkin akan dikenang sebagai titik awal ketika seni di jantung Darussalam Banda Aceh mulai dibaca ulang—secara serius, strategis, dan berani. []



















