SUMATERA BARAT | SAGOE TV – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan evaluasi pembangunan hunian bagi masyarakat terdampak bencana di Provinsi Sumatera Barat sebagai bagian dari penyusunan masukan strategis pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Evaluasi tersebut difokuskan pada pembangunan hunian sementara (huntara) di Kabupaten Lima Puluh Kota, sekaligus peninjauan lokasi yang disiapkan untuk pembangunan hunian tetap (huntap) pada tahap pemulihan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan proses pembangunan berjalan sesuai standar teknis, kebutuhan penyintas, serta selaras dengan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Sekretaris Utama BNPB, Rustian, memimpin langsung evaluasi lapangan dengan meninjau lokasi persiapan pembangunan huntap di Kabupaten Solok. Ia menyampaikan bahwa evaluasi mencakup berbagai aspek, mulai dari progres fisik pembangunan huntara, kualitas bangunan, hingga ketersediaan sarana dan prasarana pendukung.
“Selain itu, kami juga menilai kesesuaian lokasi dengan prinsip keamanan dan kelayakan hunian, serta menyoroti koordinasi lintas sektor antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan instansi terkait lainnya,” ujar Rustian, Rabu (7/1/2026).
Berdasarkan hasil evaluasi, pembangunan huntara di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Tanah Datar secara umum telah berjalan. Namun demikian, BNPB masih mencatat sejumlah hal yang perlu segera ditindaklanjuti, di antaranya penyempurnaan fasilitas pendukung, penyesuaian desain hunian dengan kebutuhan keluarga penyintas, serta percepatan penyelesaian pembangunan di beberapa titik.
Saat ini, pembangunan huntara di Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota, ditargetkan sebanyak 60 unit pada permohonan tahap I. Sementara di Kabupaten Tanah Datar, pembangunan huntara dilakukan di Nagari Bungo Tanjuang, Kecamatan Batipuh, sebanyak 23 unit, serta di Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, sebanyak 15 unit.
Adapun lokasi huntap yang disiapkan pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi di Kabupaten Solok berada di Nagari Saniang Baka, Kecamatan X Koto Singkarak.
Seluruh temuan dan hasil evaluasi tersebut akan dirumuskan menjadi rekomendasi sebagai bahan penting dalam penyusunan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Provinsi Sumatera Barat. Dokumen R3P diharapkan menjadi pedoman komprehensif dalam penanganan pascabencana, termasuk mengawal proses peralihan dari hunian sementara menuju hunian tetap yang aman, layak, dan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak.
Pemerintah pusat melalui BNPB menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas penanganan pascabencana di Sumatera Barat melalui perencanaan yang terukur, berbasis kebutuhan masyarakat, serta mengedepankan prinsip build back better pada setiap tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi. []




















