Oleh: Dr. Sehat Ihsan Shadiqin.
Dosen Sosiologi Agama UIN Ar Raniry.
“Ini kiriman COD yang tidak pernah kami pesan, tapi kami harus bayar. Bukan dengan uang, tapi dengan semua yang kami miliki. Entahlah kalau barangnya bermanfaat, tapi yang datang adalah lumpur, kayu bekas, dan sampah. Siapa pun yang mengirim ini, tolong ambil dan bertanggung jawab. Kembalikan milik kami. Atau setidaknya, bantu kami melunasi ini semua.”
Kak Naini mengatakan itu dengan lirih. Suaranya keluar di antara usahanya menahan tangis.
“Lihatlah, apa yang bisa kami pakai? Semua penuh tanah. Siapa pemilik tanah ini semua? Mengapa mereka mengirimkannya kepada kami? Tolong ambil kembali,” lanjutnya.
Aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Hanya itu yang dapat aku lakukan.
Dua minggu setelah banjir melanda pada 27 November lalu, baru hari ini aku dapat berkunjung ke lokasi. Itupun yang paling dekat, Pidie Jaya, sekitar 150 kilometer dari Banda Aceh. Aku datang bersama istri dan dua anakku.
Langit mendung tipis. Angin bertiup pelan. Kami tiba menjelang siang setelah menempuh perjalanan dua jam. Dari jalan besar, kami belok ke kiri, menuju jalan desa yang tampaknya baru dikeruk dan dibersihkan. Di kiri dan kanan, rumah-rumah tertimbun tanah. Beberapa sudah dibersihkan, sebagian lain masih tertimbun hingga atap. Beberapa posko pengungsian kami lewati. Kelompok masyarakat duduk beristirahat di bawah pohon. Sekelompok anak-anak bermain mobil-mobilan di genangan air yang kotor.
Tak jauh dari situ, berdiri sebuah rumah toko yang tampaknya belum siap dibangun. Tanah menimbun bangunan itu, menyisakan sekitar 50 sentimeter pintu. Di depannya, seorang perempuan paruh baya menegur kami dengan ramah.
“Singgah, Pak. Mau ke mana?” katanya.
Aku memarkir mobil lalu turun dan menjelaskan niat kami. Kami datang untuk melihat lokasi bencana, tanpa tujuan spesifik. Kami hanya ingin memasak mie dan membagikannya kepada masyarakat. Semua peralatan kami bawa: air, kompor, kuali, piring, dan lainnya.
“Bolehkah saya buka lapak di depan rumah Kakak?” pintaku.
Ia mengizinkan. Namanya Kak Naini.
Kami pun menggelar meja, memasang kompor gas, memanaskan air, membuka bungkus mie dan bumbunya. Aku bekerja bersama istri, anak laki-lakiku yang berusia 15 tahun, dan anak perempuanku yang berusia 8 tahun. Kak Naini sempat ingin membantu, tetapi aku mencegahnya. Namun aku memintanya menjadi “sales”, menjual mi masakan kami yang entah bagaimana rasanya. Ia tertawa dan setuju.
Beberapa anak datang, lalu beberapa ibu-ibu. Seorang ibu datang dengan air mata yang belum kering. Seorang ibu muda menggendong bayi berusia sembilan bulan. Tiga anak kakak beradik mengenakan pakaian lusuh, salah satunya tanpa baju. Dua ibu lain mengenakan pakaian yang tampak lebih rapi dan bersih.
Aku mulai menghidangkan mie ke dalam wadah, sementara anakku membantu membagikan. Istriku menjadi pendengar bagi cerita para ibu. Aku ikut menyimak sambil terus memasak.
“Allahuakbar!” jerit seorang ibu ketika kuah mie tak sengaja tumpah mengenai kakinya.
“Ini mie banjir,” kataku memberi nama sekenannya. “Kuahnya agak banyak. Hati-hati.“
“Mereka bisa pulang, bisa membersihkan rumah, bisa mencari barang-barang yang tenggelam. Aku tidak punya apa-apa lagi. Rumahku habis diseret air, semuanya dibawa,” kata ibu yang air matanya belum kering.
“Rumah kami baru saja selesai dibangun. Sekarang sudah roboh dihantam kayu. Kami belum bisa masuk karena tanah menutup sampai ke atap,” kata ibu muda dengan bayinya.
Para ibu-ibu itu pergi setelah menerima mie. Lalu datang lagi bapak-bapak, orang tua, dan anak-anak lain. Aku mengisi kembali kuali dan membuka bungkusan mi berikutnya.
Seorang bapak tua, mungkin berusia 70-an, datang. Sarungnya diangkat ke pinggang, tubuhnya hanya mengenakan singlet. Kakinya berlumpur hingga lutut.
“Berikan saya empat bungkus,” katanya. “Ada orang kerja di rumah.”
Ia berdiri tidak jauh dari meja masak.
“Seumur hidup, baru sekarang air meluap setinggi ini,” katanya mulai bercerita. “Dulu, waktu saya masih muda, pernah banjir sepinggang. Setelah itu paling tinggi selutut, tidak pernah masuk rumah. Tapi hari ini? Bukan cuma air, tanah masuk sampai ke atap. Rumah kami sampai ke loteng.”
Aku menyapu pandangan ke sekitar. Tepat di depanku berdiri sebuah masjid yang dikelilingi lumpur setinggi seperempat tiang. Kata Kak Naini, itu baru saja dibersihkan oleh warga dari Padang Tiji, tetapi tanahnya masih menumpuk di luar. Di sampingnya, empat rumah tertutup tanah hingga ujung atap. Lebih jauh lagi, sebuah rumah dua lantai yang besar dan tampak megah, setengah lantai dasarnya tertimbun tanah. Beberapa orang tampak berusaha mengeluarkan tanah dari dalamnya.
“Itu punya ibu-ibu yang bajunya bersih tadi,” kata Kak Naini.
Di sisi kanan, sebuah rumah Aceh tertimbun tanah hingga ke lantai. “Dulu kita bisa berjalan di bawahnya,” kata Pak Din, pemiliknya. Di seberangnya, sebuah bangunan TK hanya menyisakan atap. Di depannya, sebuah toko tertutup tanah hingga meteran listrik. Lapangan voli di sisi kanan lapak kami juga tertimbun tanah hingga setengah jaringnya.
Kampung ini tertimbun tanah setinggi 1,5 hingga 3 meter.
“Siapa yang bisa membersihkan semua ini?” tanyaku.
“Pemerintah,” jawab Bang Yus, suami Kak Naini. “Tidak mungkin masyarakat. Membersihkan rumah mungkin bisa, tapi tanahnya mau dibuang ke mana? Ke jalan, halaman, kebun, saluran air? Siapa yang mengangkutnya? Ke mana tanah ini dibawa? Seharusnya pemerintah membantu kami.”
Namun pemerintah tampaknya enggan hadir. Mereka merasa bencana ini tidak besar, hanya besar di media sosial. Tidak perlu bantuan asing, demi menjaga martabat bangsa. Ini hanya kuasa alam biasa, bukan akibat pembalakan liar. Pemerintah provinsi dan kabupaten masih bisa mengurusnya. Masyarakat diminta bersabar. Pemerintah juga, katanya, tidak punya tongkat Nabi Musa.
“Tidak punya tongkat bagaimana?” tanya Bang Yus, emosinya meninggi. “Apa dia Fir’aun?”
Ia sambil memaku kayu untuk menjemur kain. “Tiga hari kami hidup di atas balkon masjid dan rumah besar itu. Jalan ini jadi sungai, membawa kayu entah dari mana. Setelah air surut, bukannya datang membantu, malah bilang ini bukan bencana besar. Apa yang penting bagi mereka? Pajak? Denda? Izin perkebunan? Triliunan dikorupsi dibiarkan, bantuan bencana tidak ada.”
Palu terakhirnya menghantam kayu tiga kali lebih keras.
“Indonesia ini bangsa besar,” kata bapak tua berambut setengah uban. “Tapi besar di omongan. Hebat di korupsi. Kuat dimanipulasi. Tidak mungkin mereka tidak bisa mengatasi ini kalau mau. Kenapa mereka tidak mau?”
Tanyanya seolah mau mendengarkan jawabanku, “Karena tidak ada untungnya bagi mereka.”
Aku hanya mengangguk sambil melayani anak-anak yang datang mengambil mie banjir.
“Tolong sampaikan, kami ini bukan mengemis. Kami mengingatkan pemerintah bahwa ini tugas mereka. Kalau tidak mau menjalankan tugas, serahkan ke orang lain. Kalau tidak mau juga, izinkan kami membentuk pemerintah sendiri!” katanya.
Matahari mulai condong ke barat. Deru alat berat terdengar dari ujung jalan. Ibu-ibu masih bercerita dengan istriku, tampaknya baru episode pembukaan. Aku melirik jam: 16.01.
“Ayo, kita pulang,” kataku.
Kami membongkar lapak, memasukkan peralatan ke plastik, dan mengangkutnya ke mobil. Mie dan telur yang tersisa kami tinggalkan untuk Kak Naini.
Seorang anak perempuan datang menggendong adiknya.
“Masih ada mie?” tanyanya lirih.
“Waduh, kami sudah tutup,” kataku. Aku mengambil beberapa bungkus mi dan memberikannya. Kami pamit, bersalaman, berfoto bersama, lalu pergi.
“Terima kasih sudah mendengarkan cerita kami,” kata para ibu kepada istriku. Bagi mereka, kesediaan mendengarkan lebih berarti daripada mi banjir buatanku.
Kami melewati jalan masuk tadi. Beberapa mobil berhenti, dikerumuni warga. Bapak-bapak berlumpur duduk merokok. Anak-anak muda berompi biru memotret ke sana kemari.
Di jalan besar, istriku berkata, “Kita cari warung, istirahat sebentar.”
“Tidak sempat lagi, sudah sore. Pintu tol tutup pukul 18.00 WIB,” jawabku.
Aku memacu mobil sedikit lebih cepat. Matahari menyilaukan. Bayangan kampung itu terus terlintas, lumpur, rumah, anak-anak, cerita, emosi Bang Yus, dan mie banjir yang ludes tak tersisa.
Akankah ada yang datang membayar biaya “paket COD” Kak Naini?
Entahlah.[]




















