• Tentang Kami
Tuesday, April 14, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Perang Timur Tengah dan Tameng APBN Kita

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 8, 2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Perang Timur Tengah dan Tameng APBN Kita

Safuadi. ST., M.Sc., Ph.D

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Safuadi Harun. ST., M.Sc., Ph.D
Pengamat Ekonomi dan Pembangunan

Perang di Timur Tengah kerap terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun sejarah berulang kali menunjukkan, setiap eskalasi di kawasan itu hampir selalu berujung pada satu hal: lonjakan harga energi global. Dan ketika energi melonjak, dapur rumah tangga serta kas negara kita ikut terguncang.

Jika eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel versus Iran sampai mengganggu Selat Hormuz, harga minyak dunia berpotensi menembus 100 dolar AS per barel. Padahal dalam asumsi RAPBN 2026, Indonesia menggunakan patokan sekitar 70 dolar AS per barel. Selisih 30 dolar itu bukan angka kecil. Dalam konteks fiskal, ia bisa berubah menjadi tekanan ratusan triliun rupiah.

BACA JUGA

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

Selat Hormuz dan “Saklar” Energi Dunia
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sekitar 20 persen minyak dunia melewati selat sempit ini. Untuk LNG, angkanya juga mendekati seperlima perdagangan global. Jalur ini adalah “katup utama” sistem energi internasional.

Jika terjadi gangguan serius, dampaknya berlapis. Harga minyak mentah naik. Harga gas ikut terdorong. Biaya pengiriman melonjak. Premi asuransi kapal meningkat tajam. Bahkan sebelum pasokan benar-benar terhenti, pasar sudah menaikkan harga karena premi risiko. Inilah yang disebut sebagai efek geopolitik terhadap geo-ekonomi. Gangguan militer berubah menjadi tekanan inflasi global.

APBN sebagai Tameng
Dalam RAPBN 2026, subsidi energi dianggarkan sekitar Rp210 triliun, mencakup subsidi listrik, subsidi LPG 3 kg, serta subsidi dan kompensasi BBM seperti Pertalite dan Solar. Angka itu disusun dengan asumsi harga minyak sekitar 70 dolar AS per barel. Jika harga melonjak menjadi 100 dolar atau lebih, pemerintah menghadapi pilihan politik yang tidak sederhana: menaikkan harga energi ke masyarakat atau menahan harga dan membayar selisihnya melalui APBN.

Baca Juga:  Geliat Ekonomi Kreatif Menguat di EXSIS Ramadhan USK 2026

Selama ini Indonesia cenderung memilih opsi kedua demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli. Dalam istilah fiskal, APBN berfungsi sebagai shock absorber. Negara menyerap guncangan agar masyarakat tidak merasakannya secara langsung. Namun shock absorber memiliki batas daya tahan. Dalam praktik kebijakan, inilah yang disebut sebagai “harga ditahan”.

Apa Itu Harga Ditahan?
Harga ditahan berarti pemerintah tidak menaikkan harga jual ke konsumen meskipun harga keekonomian telah meningkat. Harga keekonomian sendiri dihitung dari harga internasional, ICP untuk minyak mentah, MOPS untuk BBM, harga LNG spot untuk gas ditambah biaya pengolahan, distribusi, margin, dan faktor nilai tukar. Jika harga keekonomian lebih tinggi dari harga jual resmi, maka selisihnya dibayar negara melalui subsidi atau kompensasi.

Sebagai ilustrasi, bila harga keekonomian BBM mencapai Rp12.500 per liter sementara harga jual tetap Rp10.000, maka terdapat selisih Rp2.500 per liter yang harus ditanggung APBN. Dengan konsumsi puluhan miliar liter per tahun, beban fiskalnya dapat mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah. Harga ditahan pada dasarnya adalah keputusan politik untuk menahan inflasi dan menjaga daya beli. Namun setiap keputusan politik memiliki konsekuensi fiskal.

Simulasi Tekanan Fiskal
Mari kita hitung secara realistis.

Jika ICP naik dari 70 dolar menjadi 100 dolar per barel, selisih harga keekonomian BBM bisa bertambah sekitar Rp2.000 hingga Rp3.500 per liter, tergantung kombinasi harga minyak, freight, asuransi, dan kurs. Dengan volume Pertalite sekitar 29 juta kiloliter dan Solar sekitar 18 juta kiloliter per tahun, tambahan beban fiskal dari BBM saja bisa mencapai:

  • Sekitar Rp95 triliun dalam skenario moderat
  • Hingga mendekati Rp170 triliun dalam skenario berat

Belum termasuk LPG 3 kg yang sangat tergantung impor. Jika harga global LPG naik 25–40 persen, subsidi LPG bisa bertambah Rp20–30 triliun. Di sektor kelistrikan, kenaikan harga gas dan BBM pembangkit akan meningkatkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik PLN. Jika tarif listrik tidak disesuaikan, selisihnya menjadi subsidi atau kompensasi tambahan yang bisa mencapai Rp10–50 triliun. Secara total, tekanan fiskal tambahan dapat berada di kisaran Rp125 hingga Rp250 triliun. Angka ini setara anggaran satu kementerian besar atau lebih dari total beberapa program prioritas nasional.

Baca Juga:  Prodi Kesejahteraan Sosial FDK UIN Ar-Raniry Kini Miliki Laboratorium Prof Ali Hasjmy

Secara total, tambahan beban fiskal dapat berada di kisaran Rp125 triliun hingga Rp250 triliun. Angka ini setara anggaran satu kementerian besar atau lebih dari total beberapa program prioritas nasional. Artinya, setiap keputusan menahan harga energi memiliki konsekuensi pada ruang fiskal pembangunan. Dengan kata lain, setiap kebijakan menahan harga energi berarti ruang fiskal pembangunan menyempit.

Ilusi Windfall Migas
Sering muncul argumen bahwa kenaikan harga minyak akan meningkatkan penerimaan migas negara. Benar, ada potensi windfall. Namun Indonesia adalah net importer minyak. Kita lebih banyak membeli daripada menjual.

Selain itu, kenaikan penerimaan tidak selalu sebanding dengan lonjakan subsidi yang dihitung per liter dan berbasis volume besar. Ada pula persoalan timing. Kompensasi harus dibayar cepat untuk menjaga arus kas Pertamina dan PLN, sementara penerimaan negara masuk secara bertahap. Dalam banyak kasus, lonjakan minyak justru membuat tekanan fiskal membesar.

Dampak Makro yang Lebih Luas
Tekanan tidak berhenti pada APBN. Harga energi yang naik mendorong inflasi. Biaya logistik meningkat. Rupiah tertekan karena kebutuhan dolar untuk impor energi bertambah. Bank Indonesia bisa terdorong menaikkan suku bunga. Yield surat utang negara meningkat. Beban bunga utang membesar. Jika situasi memburuk, pertumbuhan ekonomi melambat dan defisit transaksi berjalan melebar. Dengan kata lain, ini bukan sekadar isu subsidi. Ini isu stabilitas ekonomi nasional.

Dimensi Geo-Politik dan Geo-Ekonomi
Konflik Iran bukan hanya persoalan militer. Ia memiliki dimensi geo-ekonomi yang dalam. Iran adalah salah satu pemasok minyak signifikan bagi China. Sebagian besar ekspor minyak Iran mengalir ke pasar Asia, terutama China.

Gangguan pada Iran atau Hormuz berarti gangguan pada arsitektur energi Asia. Negara-negara besar akan memperkuat cadangan strategis, mencari jalur alternatif, dan mereposisi strategi pasokan. Dunia sedang menyaksikan bagaimana energi menjadi instrumen kekuatan geopolitik. Dan dalam sistem global yang saling terhubung, Indonesia tidak bisa berdiri di luar pusaran tersebut.

Baca Juga:  Rp2,6 Triliun Dana Bank Aceh Syariah: Simpanan Aman atau Peluang Terlewatkan?

Pilihan Kebijakan
Dalam situasi ekstrem, pemerintah memiliki tiga opsi:

  • Pertama, menahan harga dan membiarkan APBN menyerap guncangan.
  • Kedua, melakukan penyesuaian harga bertahap dengan bantalan bantuan sosial yang tepat sasaran.
  • Ketiga, mereformasi subsidi agar lebih terarah sehingga ruang fiskal tidak jebol ketika shock datang. Keputusan ini bukan semata teknis. Ia adalah keputusan politik yang menentukan arah stabilitas ekonomi.

Penutup
Jika harga minyak benar-benar menembus 100 dolar per barel dan Selat Hormuz terganggu, tekanan fiskal Indonesia bisa mencapai ratusan triliun rupiah. Dalam situasi seperti itu, APBN bukan lagi sekadar dokumen anggaran. Ia berubah menjadi tameng ekonomi nasional, dan setiap tameng memiliki batas kekuatan. Pertanyaannya bukan apakah risiko itu ada. Pertanyaannya adalah: apakah kita telah menyiapkan bantalan yang cukup kuat sebelum gelombang datang? []

Tags: APBNMakin Tahu IndonesiaPerangSelat HormuzTimu Tengah
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz
Opini

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

by Anna Rizatil
April 10, 2026
Bagaimana Memahami Kemenangan Iran
Opini

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

by Anna Rizatil
April 8, 2026
Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran
Opini

Zaman Batu dalam Perang Narasi AS-Iran

by SAGOE TV
April 5, 2026
Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia
Opini

Spiritualitas Iran Membentuk Masa Depan Dunia

by Anna Rizatil
April 4, 2026
Dari Killing Menjadi Death, Diplomasi Paranoid Menlu Sugiono
Opini

Dari Killing Menjadi Death, Diplomasi Paranoid Menlu Sugiono

by Anna Rizatil
April 1, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

Kemunafikan Singapura, Balas Budi Israel, dan Selat Hormuz

April 10, 2026
Mualem Lantik 3 Kepala SKPA, Gamal Abdul Nasir Jabat Kepala Biro Umum Setda Aceh

Mualem Lantik 3 Kepala SKPA, Gamal Abdul Nasir Jabat Kepala Biro Umum Setda Aceh

April 10, 2026
Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

April 11, 2026
USK Gelar Skate Park Stage Vol. 2, Laboratorium Kreatif Seni Terbuka untuk Publik

USK Gelar Skate Park Stage Vol. 2, Laboratorium Kreatif Seni Terbuka untuk Publik

April 10, 2026
BMKG Surati Gubernur Aceh, Seluruh Wilayah Siaga Banjir dan Tanah Longsor

BMKG Surati Gubernur Aceh, Seluruh Wilayah Siaga Banjir dan Tanah Longsor

April 10, 2026
Bagaimana Memahami Kemenangan Iran

Bagaimana Memahami Kemenangan Iran?

April 8, 2026
Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

Film Hikayatussistance Tayang di CineDocx dan Bakaba Sinema, Ini Jadwal Lengkapnya

April 13, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Krisis Air Bersih di Sekumur Ditangani Cepat, Satgas PRR Bangun Dua Sumur Bor

Krisis Air Bersih di Sekumur Ditangani Cepat, Satgas PRR Bangun Dua Sumur Bor

April 6, 2026

EDITOR'S PICK

Cegah Misinformasi, GEN-A dan MIT Foundation Edukasi Jurnalisme Warga di Takengon

Cegah Misinformasi Bencana, GEN-A dan MIT Foundation Edukasi Jurnalisme Warga di Aceh Tengah

January 31, 2026
Program Kerja Kemenag Harus Selaras dengan Visi Nasional

Program Kerja Kemenag Harus Selaras dengan Visi Nasional

January 26, 2025
Hotel, Kapitalisme dan Spiritualitas

Hotel, Kapitalisme dan Spiritualitas

September 22, 2025
Refleksi Ramadhan: Muhasabah Diri dan Pentingnya Ibadah

Refleksi Ramadhan: Muhasabah Diri dan Pentingnya Ibadah

March 16, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.