• Tentang Kami
Monday, July 20, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Revolusi Nasabah: Dari Ketergantungan ke Kesadaran Finansial Syariah

Musthafa Kamal Emje by Musthafa Kamal Emje
June 3, 2025
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Revolusi Nasabah Dari Ketergantungan ke Kesadaran Finansial Syariah

Ilustrasi pilihan bank syariah. (AI)

Share on FacebookShare on Twitter

Hari ini, Senin (2/6/2025), saya mengalami kendala yang bisa dibilang cukup menjengkelkan: aplikasi Byond milik Bank Syariah Indonesia (BSI) kembali mengalami gangguan. Saya pun mencoba beralih ke Bank Aceh, berharap bisa menyelesaikan transaksi dengan lancar, tapi sayangnya gagal juga. Pada akhirnya, saya menggunakan BCA Syariah untuk membayar belanjaan di sebuah toko.

Kejadian ini bukan yang pertama. Banyak masyarakat yang mengeluhkan betapa seringnya layanan perbankan syariah dari BSI, mengalami gangguan. Bagi sebagian besar masyarakat, terutama yang hidup di kota-kota besar, keterlambatan atau kegagalan transaksi digital bisa berdampak besar. Dari transaksi bisnis yang tertunda hingga kebutuhan pribadi yang tidak terpenuhi, semuanya berawal dari satu hal: layanan bank yang tidak maksimal.

BACA JUGA

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

Masalah ini mengingatkan saya pada satu hal penting: jangan menaruh telur di waktu yang bersamaan dalam satu keranjang yang sama. Kita hidup di era digital yang seharusnya memberikan keleluasaan dan pilihan. Tetapi ironisnya, sebagian dari kita masih bersikap seolah-olah hanya ada satu bank di dunia ini. Mirisnya lagi, hujatan juga dilontarkan kepada sistem “syariah” yang dianut oleh bank.

Bank Harusnya Melayani Nasabah, Bukan Sebaliknya

Ada fenomena menarik dalam relasi antara bank dan nasabah di Indonesia: sering kali, posisi kita sebagai pengguna layanan justru terasa seperti bawahan. Ketika bank mengalami migrasi sistem, kita yang disuruh antri panjang-panjang. Saat aplikasi error, kita yang disarankan “bersabar” tanpa kepastian. Saat kartu harus diganti, kita yang disuruh datang ke kantor cabang, meski harus berpanas-panasan dan menunggu lama.

Lalu siapa yang sebenarnya membutuhkan siapa?

Bank tanpa nasabah adalah bangunan kosong. Dana yang mereka kelola, keuntungan yang mereka raih, dan keberlangsungan bisnis mereka—semuanya bersumber dari kita, para pengguna. Jadi sudah seharusnya bank melayani nasabah, bukan memperalat atau mempermainkan kesetiaan nasabah.

Coba bayangkan skenario ini: ribuan, bahkan jutaan nasabah serentak menarik dana dari satu bank, lalu memindahkannya ke bank lain yang lebih siap secara digital dan layanan. Apa yang akan terjadi? Tentu saja bank tersebut akan kelabakan. Dalam industri yang sangat bergantung pada kepercayaan, kehilangan basis nasabah adalah kerugian besar, bisa berujung pada krisis keuangan internal.

Loyalitas Itu Perlu, Tapi Jangan Buta

Saya tidak sedang mengajak siapa pun untuk membenci BSI. Hanya berharap BSI kuat dan makin professional. Tapi saya juga tidak bisa menutup mata bahwa terlalu banyak “loyalitas buta” yang terjadi di tengah masyarakat. Ketika satu bank sering mengalami gangguan, pertanyaannya bukan hanya mengapa hal itu bisa terjadi, tapi juga mengapa kita masih tetap ngotot hanya mau menggunakan bank tersebut saja?

BSI dibentuk dengan harapan besar. Sebagai hasil merger tiga bank syariah milik negara—BRI Syariah, BNI Syariah, dan Mandiri Syariah—BSI diproyeksikan menjadi tulang punggung perbankan syariah nasional. Namun realitas di lapangan tidak selalu seindah narasi yang disampaikan. Gangguan layanan yang berulang, minimnya perbaikan signifikan, dan respon lambat terhadap keluhan nasabah membuat banyak pengguna merasa jenuh.

Khusus di Aceh, di mana sistem keuangan syariah diterapkan secara menyeluruh melalui Qanun LKS, BSI telah menjadi pemain dominan. Dominasi ini membuat banyak masyarakat berpikir bahwa tak ada pilihan lain. Padahal, itu keliru. Kita punya pilihan, dan sudah saatnya pilihan itu digunakan.

Di Aceh sendiri, sudah banyak pilihan bank syariah. Sebut saja Bank Aceh Syariah, BCA Syariah, Permata Syariah, Bank Muamalat, dan lainnya. Bahkan, di era digital saat ini, ada layanan seperti Bank Jago Syariah yang bisa diakses dari mana saja, dengan proses registrasi yang mudah, tanpa harus mengantri di kantor cabang. Bahkan kartu ATM bisa dikirim ke rumah Anda.

Jadi, alasan seperti “tidak ada kantor cabang di daerah saya” sudah tidak lagi relevan. Kini, kantor cabang terbesar justru ada di genggaman kita: smartphone. Selama ada jaringan internet, kita bisa membuka rekening, mentransfer uang, membayar tagihan, bahkan berinvestasi syariah—semuanya dari satu aplikasi.

Solusi: Gunakan Hak Kita Sebagai Nasabah

Nasabah adalah konsumen, daripada terus-menerus mengeluh tentang error-nya aplikasi bank BSI, mengapa tidak mulai mengambil tindakan nyata? Alih-alih pasrah dan marah-marah di media sosial, mari mulai menggunakan hak kita sebagai konsumen, seperti:

Diversifikasi rekening – Jangan menaruh seluruh dana di satu bank. Bukalah rekening di dua atau tiga bank yang berbeda. Gunakan sesuai kebutuhan: satu untuk transaksi harian, satu untuk tabungan, dan satu lagi untuk investasi atau simpanan jangka panjang. Dan pikirkan kembali untuk apa simpan uang banyak-banyak di bank, siapa yang akan pakai, kemana dipakai, bukannya uang banyak lebih baik dialihkan ke aset yang bernilai tambah seperti bangunan, tanah, emas, atau lainnya?

Coba layanan bank digital lain – Jangan takut mencoba bank lain yang lebih modern dan adaptif. Pengalaman membuka rekening di BCA Syariah, Permata Syariah, atau Bank Jago Syariah sangat mudah dan cepat. Anda bahkan tidak perlu keluar rumah.

Ajak orang lain ikut serta – Ketika banyak orang mulai beralih, bank-bank akan terdorong untuk meningkatkan kualitas layanan mereka. Dengan begitu, tidak hanya satu bank yang menjadi “raja”, tapi ada kompetisi sehat demi kepuasan nasabah.

Jangan Hujat Syariah, Kritisi Layanannya

Dalam polemik seperti ini, ada pula sebagian orang yang justru menyalahkan konsep “perbankan syariah”. Ini adalah kekeliruan besar. Yang bermasalah bukan sistem syariahnya, tapi implementasinya yang kurang maksimal.

Perbankan syariah, jika dijalankan dengan benar, justru membawa manfaat besar bagi umat: tidak ada bunga, lebih transparan, lebih adil secara prinsip ekonomi, dan yang paling penting, uang kita tidak diinvestasikan ke tempat-tempat yang melanggar Syariat Islam. Tapi jika dijalankan tanpa profesionalisme dan pelayanan yang baik, maka hasilnya akan seperti sekarang ini: nasabah kecewa, kepercayaan menurun.

Jadi, mari kita pisahkan antara nilai syariah dan kinerja lembaga syariah. Jangan sampai kekecewaan pada satu bank membuat kita menutup mata terhadap seluruh sistem yang sebenarnya bertujuan baik.

Sering kali, kita hanya mengeluh: “Kenapa BSI lagi-lagi bermasalah?” Tapi setelah itu, kita tetap menggunakan layanan yang sama. Ini adalah siklus yang harus diputus. Jika kita tidak puas, tinggalkan. Buka rekening lain. Gunakan bank yang benar-benar melayani. Kita bukan hanya pengguna, kita adalah pemilik dana, penopang sistem. Jangan sampai kita menjadi konsumen pasif yang hanya bisa mengeluh tapi tak mengambil keputusan.

Ketika kita ramai-ramai membuka rekening di bank syariah lain, maka:

  1. Kita mengurangi dominasi tunggal BSI di Aceh.
  2. Kita memberi sinyal kepada pasar bahwa kompetisi sehat dibutuhkan.
  3. Kita memberi peluang bagi bank lain untuk tumbuh dan membuka cabang lebih banyak di Aceh.

Jangan takut beralih. Proses pembukaan rekening kini semakin mudah. Banyak bank memungkinkan pembukaan secara online. Bahkan tanpa harus datang ke kantor cabang, kita bisa memiliki akun aktif, siap digunakan. Jikapun tak beralih, milikilah lebih dari satu rekening di bank selain BSI.

Seperti pengalaman saya bermigrasi aplikasi BCA Syariah, cukup download aplikasi, verifikasi, dihubungi melalui video call, rekening langsung aktif. Begitu juga ketika mendaftar bank Jago Syariah. Mudah.

Peran pemerintah Aceh.

Langkah berikutnya, tentu bukan hanya dari masyarakat. Pemerintah Aceh dan regulator keuangan juga punya peran penting. Jika BSI tak kunjung berbenah dan dominasi justru menciptakan ketergantungan yang merugikan, maka sudah saatnya Pemerintah Aceh mengundang lebih banyak bank syariah berkualitas untuk masuk ke Aceh.

Mengapa tidak membuka ruang bagi bank-bank syariah dari luar negeri seperti:

  • Al Rajhi Bank (Arab Saudi),
  • Dubai Islamic Bank (UAE),
  • Kuwait Finance House,
  • atau bank-bank dari Malaysia dan Brunei?

Kehadiran mereka bisa menjadi pemantik standar baru dalam pelayanan perbankan syariah di Aceh. Kita ingin syariah yang bukan hanya label, tapi juga sistem layanan yang unggul, profesional, dan memuliakan nasabah. Jangan pernah berfikir mengembalikan bank konvensional ke Aceh, cukup perkuat yang sudah ada dan undang lebih banyak bank syariah masuk Aceh.

Nasabah Juga Punya Kuasa

Sudah saatnya masyarakat menyadari bahwa nasabah bukan objek yang bisa disuruh-suruh. Kita bukan hanya pengguna, tapi juga pemilik dana yang menggerakkan roda keuangan bank. Jadi, kita berhak atas pelayanan yang baik, aplikasi yang stabil, dan sikap profesional dari setiap pegawai maupun manajemen bank.

Jika satu bank tidak memberikan itu semua, maka jangan ragu untuk berpindah. Jangan hanya mengutuk dalam hati atau marah di media sosial. Gunakan kuasa Anda sebagai nasabah. Karena pada akhirnya, bank akan berubah bukan karena tekanan regulator saja, tapi karena tuntutan dan langkah konkret dari para penggunanya.

Sebagaimana konsumen di bidang lain punya pilihan dan kuasa, kita pun sebagai nasabah harus melek hak dan tanggung jawab. Dunia perbankan berubah, kita pun harus berubah. Tidak perlu ngotot setia pada satu lembaga yang tidak memberi rasa aman. Karena kesetiaan tanpa perbaikan hanya akan membuat kita terus menjadi korban dari sistem yang buruk. []

Tags: BankBank Syariah
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Musthafa Kamal Emje

Musthafa Kamal Emje

Seorang manusia fakir ilmu yang selalu berusaha belajar dan menjadi lebih baik agar bisa berbuat sebanyak-banyaknya untuk orang banyak. Menyukai dunia Desain Grafis, Blogging, Traveling, Online Marketing, Bisnis dan Ekonomi Islam

Related Posts

Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas
Opini

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

by SAGOE TV
July 18, 2026
Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang
Opini

Biaya yang Tak Pernah Masuk APBN: Ketika Negara Membiarkan Waktu Rakyat Terbuang

by SAGOE TV
July 17, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh
Opini

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

by SAGOE TV
July 16, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi
Opini

Tentang Media dan Perhatian Publik

by SAGOE TV
July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti
Opini

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

by SAGOE TV
July 13, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
UIN Ar-Raniry Tambah 6 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini Capai 66 Orang

UIN Ar-Raniry Tambah 6 Guru Besar, Jumlah Profesor Kini Capai 66 Orang

July 14, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

July 11, 2026

EDITOR'S PICK

Peringati Nuzulul Qur’an, UIN Ar-Raniry Aceh Gelar Khataman Al-Qur’an Massal

Peringati Nuzulul Qur’an, UIN Ar-Raniry Aceh Gelar Khataman Al-Qur’an Massal

March 17, 2025
Arsip dan Sejarah

Arsip dan Sejarah

March 20, 2025
sulaiman tripa

Malam Puasa 21, Mari Mengorganisir Kebaikan

March 20, 2025
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Serukan Solidaritas untuk Iran, Kecam Agresi Israel

Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Serukan Solidaritas untuk Iran, Kecam Agresi Israel

June 21, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.