• Tentang Kami
Friday, June 5, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Serba-serbi KTT G20 Bali

Rahmat Fahlevi by Rahmat Fahlevi
March 20, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Serba-serbi KTT G20 Bali
Share on FacebookShare on Twitter

Mewujudkan perdamaian dan menghentikan perang pada dasarnya ialah dengan melakukan perdagangan internasional dan membentuk sebuah forum atau organisasi transnasional yang mengkoordinasi negara-negara di dunia.

Hal ini juga disampaikan Immanuel kant dalam “perpetual peace”.

BACA JUGA

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

Secara parsimoni, G20 adalah forum yang berusaha mempertemukan setiap negara-negara di dunia dengan standardisasi tertentu seperti ratio PDB, kepentingan ekonomi, perdamaian, energi dan afinitas lainnya yang membuat negara-negara anggota berkumpul dan mengeluarkan proposal resolusi untuk menghadapi tantangan global.

Sebagai orang berpandangan reverse causality yang mana utilitas ekonomi untuk menciptakan keadaan politik yang lebih baik saya mengutamakan urgensi ekonomi itu diatas apapun termasuk ideologi.

Forum internasional seperti ini harus senantiasa hidup dalam mengartikulasikan kepentingan dan menjawab tantangan global.

Namun, problematika global tidak hanya bertengger pada persoalan pemenuhan substitusi dan komplementer komoditas akan tetapi juga turut merecovery dan memitigasi dari aktivitas ekonomi yang dilakukan.

“Depedensi itu adalah sebuah keniscayaan”

Ada sebuah rangkaian depedensi komoditas yang di lukiskan oleh Matt ridley dalam bukunya yang berjudul “Optimis rasional”. Ia memberi eksplanasi yang cukup baik bagaimana dunia bekerja dan saling bertransaksi di ajang pencaturan politik global. Di ungkapkan secara sederhana bagaimana keseharian pagi seorang Matt ridley duduk di ruang kerja, penghangat ruangan, sepatu, laptop, memakai jam branded dan tas.

Lalu, apa yang anda lihat disini?. Mari kita sedikit berpikir apa yang tidak dipikirkan orang pada umumnya. Laptop yang dipakai oleh Ridley pastinya terdiri dari beberapa bahan baku baik dihasilkan dari domestik maupun bahan importir.

Bisa saja lithium baterai laptop tersebut di impor dari Indonesia, penghangat ruangan yang dipompa oleh gas Rusia, kulit sepatu dari Vietnam dan tas berbahan dasar dari negara-negara Eropa.

Secara tidak langsung, Ridley sudah menikmati berbagai komoditas transnasional dalam satu waktu.

Hal sesederhana yang dilakukan oleh Ridley inilah yang membuat negara-negara di dunia berkumpul dan saling melengkapi. Lalu, bagaimana jika kita konteksualkan pada persoalan yang lebih rigid seperti kebutuhan akan energi dan pangan misalnya?

Ya, tentu saja energi dan pangan merupakan hal yang paling urgen dan menjadi significant predictor bagi keberlangsungan aktivitas korporasi, masyarakat menengah maupun bawah.

G20 hadir untuk itu, para pemimpin dunia berusaha hadir secara simultan dalam sebuah forum regional, melihat komoditas yang diperlukan oleh domestiknya, mencari harga terbaik untuk menciptakan stabilitas dan proporsional di negaranya.

Tidak ada negara di dunia ini yang memiliki komoditas secara keseluruhan, jika dahulu kala imperium-imperium besar dan menengah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan melakukan peperangan dan ekspansi maka, di era modern setiap negara melakukan kerjasama secara damai dan memenuhi kesepakatan tertentu. Hal inilah yang memaksa setiap negara melakukan hubungan kerjasama luar negeri untuk komplementer dan mencari harga dan kualitas terbaik.

Dalam buku Mencari Tuhan-Tuhan Peradaban secara eksplisit saya menyebutkan bahwa “Tuhan menggilir kejayaan. Setiap negara-negara di dunia saling membutuhkan, walaupun Barat terkenal dengan kedigdayaan industri namun jika Timur tengah tidak hadir sebagai pemasok minyak maka industri akan macet dan collaps.”

Perdagangan internasional adalah sebuah kenisyaan, bahkan ia mampu menghubungkan negara-negara yang berbeda ideologi sekalipun melewati nadi komoditas. Perdagangan meruntuhkan eskalasi egosentris.

Begitulah yang diutarakan Adam smith.

“Memprioritaskan afinitas ekonomi tapi negasi terhadap kebebasan sipil”

Kita tidak dapat menutup mata bahwa banyak sekali aktivitas dari hubungan internasional terutama persoalan ekonomi apalagi bersifat ekstraktif menimbulkan dampak yang sangat signifikan terutama terhadap perubahan iklim dan pencemaran lingkungan.

Dalam mengulas perihal lingkungan, saya tidak pernah lupa mengutip salah satu teori dari ekologi ternama dari Santa barbara yaitu Garret hardin “Tragedy of commons.”

Ia memaparkan dengan baik bagaimana manusia terus melakukan eksploitasi secara besar-besaran terhadap lingkungan namun hirau terhadap konsekuensi yang ada di depan mata.

Tidak dapat dimungkiri, aktivitas pertambangan dan eksploitasi secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan atau bahkan kerakusan manusia ada hal yang dikorbankan yaitu lingkungan. Dari aktivitas yang secara kontinu dilakukan tentunya akan berdampak secara serius terutama terhadap perubahan iklim.

Banyak sekali gerakan-gerakan rejectionist, NGO internasional hingga domestik baik dilakukan secara bersama-sama ataupun seorang diri menyuarakan bahwa perubahan iklim itu nyata adanya dan menjadi tanggung jawab para pemimpin dunia untuk membahas dan memitigasinya. Perusakan dan vandalisme yang dilakukan oleh beberapa orang dengan melempar lukisan Monalisa misalnya. Hal itu dilakukan tidak lain adalah untuk menarik perhatian masyarakat dunia dan mendemonstrasikan bahwa dunia sedang dalam keadaan bahaya.

Greenpeace adalah NGO yang sangat konsisten dalam hal ini.

Mereka melakukan beberapa aksi damai yang tentunya langsung di anulir oleh pemerintah dengan berbagai alasan.

Lalu, mengapa organisasi dan gerakan seperti ini hadir? Apakah ada yang salah dengan forum regional seperti G20?.

Tentu, tidak adanya proteksi dan pengawasan yang baik oleh pemerintah terhadap iklim dan lingkungan.

Mereka hadir untuk menyuarakan sisa residu yang ditinggalkan oleh aktivitas penambangan yang tidak memperhatikan keberlangsungan makhluk hidup.

Banyak forum dunia yang memiliki antitesisnya. Seperti World economic forum misalnya, rivalnya adalah World social forum yang bermarkas di Porto alegre Brazil.

World social forum hadir untuk menandingi WEF yang terkesan kapitalistik dan hanya di isi oleh industri padat modal yang sarat kepentingan.

WSF hadir untuk menghimpun seluruh masyarakat dunia untuk mendemonstrasikan keberpihakan ekonomi terhadap masyarakat kecil dan tidak timpang yang hanya tendensius pada pemilik modal.

Ambivalensi seperti ini akan terus terjadi jika sebuah tatanan sistem tersebut tidak cukup mapan untuk menyelesaikan ataupun mengawasi apa yang sudah dimulai pada awalnya untuk mencapai tujuan.

Mereka hadir bukan untuk menghancurkan lalu menggantikan dengan kemapanan yang baru, ini adaah tautologi. Tapi berusaha menyuarakan kepada pemangku dan penerima mandat dunia agar memperhatikan urgensi perihal lingkungan.

Maka, perjuangan para kaum rejections dan NGO yang telah mewakafkan kehidupannya dan tetap setia terhadap proses patutlah di kenang sebagai pahlawan yang sebenarnya.

Tags: BaliKTT
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Rahmat Fahlevi

Rahmat Fahlevi

Rahmat Fahlevi Mahasiswa Ilmu Politik Fisip Universitas Syiah Kuala”

Related Posts

Sulaiman Tripa
Artikel

Maaf Bukan Soal Gengsi: Pelajaran Besar Idul Fitri

by SAGOE TV
March 31, 2026
Dongeng Kampus dan Kampus Merdeka Nadiem
Artikel

Aceh dan ISIS, Berkongsi Imajinasi Politik?

by Affan Ramli
February 5, 2026
Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?
Artikel

Apakah AI Dapat Disebut sebagai Revolusi Industri 5.0?

by SAGOE TV
July 19, 2025
Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Artikel

Lonjakan Kasus DBD di Banda Aceh, Apa yang Harus Kita Lakukan?

by SAGOE TV
July 5, 2025
Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh Fakta yang Jarang Diketahui!
Artikel

Misteri Lonjakan Kasus HIV di Banda Aceh: Fakta yang Jarang Diketahui!

by SAGOE TV
July 3, 2025
Load More

POPULAR PEKAN INI

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (1)

June 3, 2026
Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

Bahasa dan Jiwa Pancasila di Aceh: Empat Paradoks Kebudayaan yang Terabaikan

June 3, 2026
IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

IKAPI Aceh Tawarkan Aceh Book Fair di Konkernas

June 4, 2026
Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup

Kraton Darussalam: Ketika Kampus Berbiaya Triliunan Hanya Menjadi Istana Tertutup (2)

June 3, 2026
Dari Meja yang Sama

Dari Meja yang Sama

June 3, 2026
Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

Muniru (Kehangatan dan Keakraban) Masyarakat Gayo

September 12, 2025
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

May 25, 2026
12.648 Peserta UTBK SNBT 2026 Ikuti Ujian di USK, Rektor Ingatkan Jangan Salah Lokasi

3.886 Peserta Lulus SNBT 2026 di USK, Ini Daftar Prodi Paling Diminati

May 26, 2026

EDITOR'S PICK

Dari Wuhan Aku Belajar Toleransi

Dari Wuhan Aku Belajar Toleransi

March 24, 2025
Bertemu Sekjen Kemenkeu, Mualem Bahas Tambahan Anggaran untuk Aceh

Bertemu Sekjen Kemenkeu, Mualem Bahas Tambahan Anggaran untuk Aceh

May 15, 2026
Aceh Youth Summit 2025: Menekraf Teuku Riefky Harsya Minta Pemuda Aceh Siap Hadapi Era Digital

Aceh Youth Summit 2025: Menekraf Teuku Riefky Harsya Minta Pemuda Aceh Siap Hadapi Era Digital

November 22, 2025
Rencana Pembangunan Venue PORA 2026 di Aceh Jaya, Pj Gubernur Cek Lokasi

Rencana Pembangunan Venue PORA 2026 di Aceh Jaya, Pj Gubernur Cek Lokasi

January 20, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.