BANDA ACEH | SAGOE TV – Sebanyak 15 orang yang terdiri atas 14 taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati dan seorang Kepala Kamar Mesin (KKM) menjadi korban dalam insiden letupan di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan seluruh kebutuhan korban dan keluarga selama masa perawatan akan ditanggung, sembari mendukung penuh proses investigasi penyebab kejadian tersebut.
Komitmen itu disampaikan Direktur SDM dan Layanan Korporasi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Ardhy Ekapaty, saat menjenguk para korban yang masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Sabtu (13/6/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Ardhy didampingi Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, Sekretaris Dinas Perhubungan Aceh Teuku Rizki Fadhil, Kepala UPTD Penyelenggara Pelabuhan Penyeberangan Wilayah I Ulee Lheue Muhammad Al Qadri, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.
Rombongan menjenguk para korban yang dirawat di Ruang Raudhah 1 RSUDZA. Selain melihat langsung kondisi korban, mereka juga menyapa keluarga korban dan memberikan dukungan moril agar tetap kuat mendampingi proses pemulihan.
Ardhy Ekapaty menyampaikan keprihatinan dan duka mendalam atas insiden yang menimpa para taruna Poltekpel Malahayati dan Kepala Kamar Mesin (KKM) KMP Aceh Hebat 2.
“Atas nama Direksi dan seluruh jajaran ASDP, kami menyampaikan keprihatinan dan duka yang mendalam atas musibah ini. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis terbaik hingga pulih sepenuhnya,” ujar Ardhy.
Ia menegaskan bahwa ASDP berkomitmen mendukung penuh proses investigasi yang sedang dilakukan oleh pihak berwenang. Menurutnya, hasil investigasi nantinya akan menjadi landasan untuk memperkuat aspek keselamatan dan keamanan pelayaran guna melindungi seluruh pengguna jasa penyeberangan.
Sejak kejadian, kata Ardhy, seluruh langkah darurat langsung dilakukan, termasuk pelaporan kepada otoritas terkait serta pembentukan tim investigasi internal perusahaan. “Keselamatan merupakan prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional ASDP,” katanya.
Ardhy juga memastikan seluruh kebutuhan korban dan keluarga akan ditangani secara maksimal oleh ASDP. Pihaknya telah membentuk posko khusus di RSUDZA untuk memudahkan koordinasi dan pelayanan kepada keluarga korban.
“Bagi keluarga yang datang dari luar Banda Aceh dan membutuhkan bantuan akomodasi maupun kebutuhan lainnya, silakan menghubungi tim posko yang telah kami siagakan di RSUDZA. Jangan khawatir soal biaya dan kebutuhan selama mendampingi korban, semuanya akan kami tangani,” ujarnya.
Terkait operasional kapal, Ardhy menyebutkan bahwa KMP Aceh Hebat 2 untuk sementara dihentikan pengoperasiannya hingga proses investigasi selesai dilakukan.
Untuk menjaga kelancaran layanan penyeberangan lintas Ulee Lheue-Balohan, ASDP telah menyiapkan KMP BRR sebagai kapal pengganti sehingga pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal.
Salah seorang orang tua korban mengungkapkan rasa syukur atas perkembangan kondisi anaknya yang mulai menunjukkan respons positif selama menjalani perawatan.
“Alhamdulillah sudah ada respons. Saat ini yang masih menjadi perhatian adalah kondisi pernapasannya. Kami berharap anak kami segera stabil dan mendapatkan penanganan terbaik,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan dan perhatian sejak terjadinya insiden.
“Kami berharap anak-anak kami segera sembuh seperti sediakala. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan pertolongan,” katanya.
Sementara itu, Teuku Faisal menegaskan bahwa Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh terus memantau perkembangan kondisi korban dan berkoordinasi dengan ASDP, pihak rumah sakit, serta Poltekpel Malahayati untuk memastikan proses penyembuhan berjalan optimal.
“Kami sangat prihatin atas musibah yang dialami adik-adik taruna dan kru kapal. Sejak kejadian kemarin, kami terus mendampingi proses penanganan korban dan memastikan seluruh kebutuhan penanganan medis dapat terpenuhi. Pemerintah Aceh juga mendoakan agar seluruh korban segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti sediakala,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, insiden terjadi pada Jumat (12/6/2026) saat 16 taruna Poltekpel Malahayati melakukan kunjungan praktik lapangan di KMP Aceh Hebat 2 yang sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue. Saat kegiatan pengenalan peralatan berupa electro motor hydraulic pintu kedap otomatis di ruang mesin yang dipandu oleh Kepala Kamar Mesin (KKM), diduga terjadi letupan yang mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar.
Penyebab pasti kejadian masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang. []




















