• Tentang Kami
Tuesday, July 21, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Separuh Panggung yang Tak Pernah Ditempuh: Hambatan Perempuan dalam Dunia Seni Desa

SAGOE TV by SAGOE TV
August 3, 2025
in SENI
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Separuh Panggung yang Tak Pernah Ditempuh: Hambatan Perempuan dalam Dunia Seni Desa

Cut Ulan Nazli. (Foto: dokumentasi pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Cut Ulan Nazli

Tulisan ini disarikan dari proposal skripsi penulis tentang hambatan perempuan menjadi seniman di Desa Darussalam. Gagasan dan data diambil dari kerangka penelitian yang tengah dikaji, lalu ditulis ulang dalam format esai populer untuk membuka ruang dialog. Asumsinya: perempuan menghadapi hambatan berlapis—norma sosial, budaya, dan tafsir agama—yang membatasi ruang ekspresi mereka dalam seni.

Di Antara Rapai dan Norma: Seni yang Tak Ramah Perempuan

Seni di Kampung Darussalam hidup bersama ritme harian masyarakat—menggema dalam tabuhan rapai, lantunan zikir, dan alunan tradisi yang mewarnai acara keagamaan maupun adat. Tapi denyut itu tak berdetak untuk semua. Di tengah semarak budaya itu, suara perempuan nyaris tak terdengar. Bukan karena mereka tak punya minat atau bakat, tapi karena ada sekat-sekat tak kasat mata yang membatasi langkah mereka untuk turut tampil sebagai pelaku seni.

BACA JUGA

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Seperti banyak kampung lain di Aceh, Darussalam masih memegang teguh adat dan norma agama sebagai tiang utama kehidupan sosial. Nilai-nilai itu, meski menjadi sumber kebanggaan, sering kali justru menempatkan perempuan dalam posisi pinggir—terutama dalam ranah kesenian. Seni pertunjukan publik masih dianggap “kurang pantas” bagi perempuan. Bahkan, tampil di depan umum bisa dicurigai sebagai tindakan yang mencederai kesopanan.

Padahal, seni adalah ruang ekspresi kultural yang lahir dari denyut pengalaman kolektif. Ia seharusnya terbuka untuk siapa saja yang ingin mencipta dan bersuara. Tapi kenyataan berbicara lain. Laki-laki lebih mudah diterima sebagai seniman—baik sebagai penabuh rapai, pemain drama, maupun pengelola kegiatan seni. Mereka bisa berlatih di tempat terbuka, tampil dengan percaya diri, dan mendapat pengakuan sosial. Sementara itu, perempuan justru ditekan oleh ekspektasi domestik: menjaga citra keluarga, tetap berada di ranah rumah, dan tidak sering-sering muncul di ruang publik.

Dalam iklim sosial seperti ini, perempuan dihadapkan pada dilema yang pelik. Hasrat berkesenian kerap terkubur oleh ketakutan akan pandangan tetangga, komentar dari keluarga, atau bahkan cibiran dari sesama perempuan. Ruang publik bukan sekadar tempat yang tak ramah, tapi juga penuh ranjau penghakiman.

Akibatnya, potensi mereka tak pernah tumbuh utuh. Dalam banyak kasus, perempuan yang berani berkesenian dicap sebagai “terlalu bebas”, “tak tahu diri”, atau “memalukan keluarga”. Label-label sosial itu menjadi beban yang tidak hanya mematikan semangat, tetapi juga menegaskan ketimpangan struktural antara laki-laki dan perempuan dalam ruang budaya lokal.

Di Balik Sekat Tak Kasat Mata: Mengapa Perempuan Tidak Diundang?

Mengapa seni terasa begitu jauh dari jangkauan perempuan di desa? Apakah ini hanya soal kurangnya minat atau kesempatan? Atau justru karena ada mekanisme sosial yang pelan-pelan tapi pasti, mendorong perempuan menjauh dari panggung?

Di kampung, kita tumbuh dengan narasi yang nyaris sama: laki-laki dibentuk untuk tampil dan memimpin, perempuan diarahkan untuk diam dan mendampingi. Dalam banyak keluarga, anak perempuan yang ingin ikut latihan rapai akan dianggap aneh. Anak perempuan yang menari terlalu luwes bisa dicap tak tahu malu. Dan ketika seorang gadis tampil menyanyi di depan umum, bahkan jika suaranya merdu sekalipun, tetap saja ada yang bergumam, “Kok nggak malu?”

Padahal, hambatan itu bukan soal bakat. Ia soal akses—siapa yang diberi izin, siapa yang diberi ruang, dan siapa yang diberi waktu. Linda Nochlin, seorang pemikir seni dari Barat, pernah menggugat sejarah seni yang tidak pernah menyebut nama-nama besar perempuan. Dalam esainya yang terkenal, Why Have There Been No Great Women Artists?, ia menyimpulkan bahwa ketidakhadiran perempuan dalam sejarah seni bukan karena mereka tak ada, tapi karena mereka tak diberi tempat.

Itulah yang terjadi juga di kampung kita. Ruang seni bukan tidak ada, tapi tidak terbuka untuk semua. Pelan-pelan, seni berubah jadi milik laki-laki, dan perempuan sekadar penonton—atau lebih sering, hanya disebut saat membawa nasi kenduri untuk para pemain.

Dalam kajian teori sosial, peran seperti ini tidak lahir begitu saja. Teori peran sosial yang dikemukakan oleh Eagly (1987) menjelaskan bahwa masyarakat membentuk ekspektasi tertentu pada laki-laki dan perempuan. Ketika perempuan bertindak di luar “pakem” itu—misalnya tampil di atas panggung atau menari di depan publik—mereka dianggap melanggar norma, bahkan jika tindakan itu sah dan berakar pada budaya sendiri.

Tekanan sosial ini makin berat ketika dibungkus oleh tafsir agama dan adat yang konservatif. Dalam studi Nurdin (2020), tubuh perempuan di ruang publik sering dianggap sebagai sumber fitnah. Aturannya tidak selalu tertulis, tapi sangat terasa: jangan terlalu sering ke luar rumah, jangan bepergian tanpa muhrim, jangan bersuara terlalu nyaring. Maka ketika perempuan menyanyi, menari, atau tampil dalam bentuk seni apa pun, yang pertama kali dipertanyakan bukan karyanya—tapi moralnya.

Di sinilah pentingnya kita memahami pendekatan interseksionalitas. Teori ini, yang dikembangkan oleh Kimberlé Crenshaw, menjelaskan bahwa pengalaman perempuan tidak bisa dilepaskan dari identitas-identitas lain yang melekat padanya—seperti latar sosial, agama, usia, bahkan tempat tinggal. Perempuan dari kota besar mungkin bisa menari dan bernyanyi tanpa banyak hambatan. Tapi perempuan desa? Hambatannya berlapis. Mereka tak hanya perempuan, tapi juga anak dari orang baik-baik, warga dari kampung yang taat, dan bagian dari keluarga yang dijaga nama baiknya siang malam.

Maka, banyak perempuan yang memilih diam. Bukan karena tak ingin bersuara, tapi karena tahu suaranya akan dipelintir, disalahkan, dan dihakimi. Mereka tahu panggung itu ada. Tapi mereka juga tahu, panggung itu bukan untuk mereka.

Merintis Jalan Pulang ke Panggung: Harapan yang Tidak Diam-Diam

Apa yang bisa kita harapkan dari semua ini? Apakah masih ada ruang bagi perempuan di kampung seperti Darussalam untuk ikut mencipta dan tampil sebagai seniman, tanpa harus dicurigai atau dibungkam?

Jawabannya mungkin belum terlalu jelas, tapi bukan berarti tidak ada. Perubahan sosial memang tidak terjadi secepat tepuk rapai. Tapi ia bisa dimulai dari hal kecil: dari percakapan di rumah, dari sikap seorang ibu yang tidak melarang anak perempuannya bernyanyi, dari tokoh adat yang memberi tempat latihan seni untuk semua, dari guru yang tidak hanya melatih teknik tapi juga menyemai keberanian.

Satu hal yang sangat penting adalah kehadiran ruang aman. Perempuan butuh tempat untuk belajar seni tanpa takut dinilai, dilabeli, atau diawasi dengan niat mengekang. Ruang ini tidak harus besar. Bahkan bisa dimulai dari teras rumah, dari pekarangan sekolah, atau dari komunitas kecil yang saling menguatkan. Yang dibutuhkan bukan kemewahan fasilitas, tapi kesediaan untuk membuka telinga dan hati.

Seni digital juga bisa jadi celah. Seperti ditunjukkan oleh Rahmawati (2022), banyak perempuan mulai berekspresi lewat media sosial, membagikan nyanyian, tarian, atau karya visual mereka kepada dunia yang lebih luas. Meski tantangan seperti seksisme daring tetap mengintai, dunia digital membuka kemungkinan baru yang tidak bergantung sepenuhnya pada restu lokal. Dunia maya, dengan segala problemnya, kadang bisa jadi pelarian yang menyelamatkan.

Namun, kita tidak bisa berharap semua perempuan kuat menghadapi stigma hanya karena ada YouTube atau TikTok. Justru tugas masyarakatlah menciptakan dukungan sosial yang nyata. Dukungan ini bisa datang dari keluarga, dari komunitas seni, dari lembaga pendidikan, bahkan dari pemerintah desa.

Perempuan di kampung bukan tidak bisa jadi seniman. Mereka hanya belum diberikan panggung yang cukup aman untuk melangkah. Dan bahkan ketika panggung itu mulai terbuka, masih ada terlalu banyak yang harus mereka bawa sendiri—keraguan, beban sosial, dan rasa bersalah yang tak semestinya mereka pikul.

Di titik ini, kita tidak sedang bicara soal emansipasi besar-besaran. Kita hanya sedang meminta satu hal sederhana: agar perempuan juga diizinkan mencintai seni dengan utuh, dan diakui haknya untuk berkarya tanpa harus merasa salah.

Seperti ditulis oleh Suryadi (2015), seni bukan sekadar hiburan atau estetika. Ia adalah ruang negosiasi makna, identitas, dan relasi sosial. Maka ketika perempuan dibungkam dalam seni, yang hilang bukan hanya satu suara, tapi satu perspektif tentang kehidupan.

Kalau seni memang cermin budaya, kita harus jujur bertanya: apakah kita ingin terus menatap cermin yang tak pernah memantulkan wajah perempuan secara utuh?

Sudah saatnya panggung itu diberi lampu yang terang. Bukan untuk menyorot perempuan sebagai tontonan, tapi untuk memberi mereka cahaya agar bisa tampil sebagai dirinya sendiri. Mungkin mereka belum datang ke panggung itu sekarang. Tapi jika kita mulai merintis jalannya hari ini, panggung itu akan terasa lebih dekat esok pagi. []

 
Tentang Penulis
Cut Ulan Nazli adalah mahasiswi Program Studi Sendratasik Universitas Syiah Kuala yang berasal dari Darussalam, Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen. Ia tumbuh di tengah tradisi kampung yang kental dengan nilai adat dan agama, namun tak pernah berhenti menyimpan kecintaan pada seni, terutama menyanyi. Melalui tulisan ini—yang disarikan dari proposal skripsinya—ia membuka suara tentang ketimpangan yang dihadapi perempuan dalam dunia seni desa. Dengan keberanian menulis dan refleksi yang jernih, Cut Ulan berupaya menjadikan pengalaman lokalnya sebagai pintu menuju perubahan sosial yang lebih inklusif dan adil.

Kurator naskah
Ari J.Palawi

Tags: acehArtikelDesaopiniperempuanSeniSeni Budaya
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Kardo National Qualifier Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh
SENI

Kardo National Qualifier: Dari Arena Kompetisi Menuju Ruang Baru Kreativitas Anak Muda Aceh

by SAGOE TV
July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem
SENI

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

by SAGOE TV
July 15, 2026
Doa dan Kebersamaan dalam Kepemimpinan Baru USK 2026-2031
SENI

Ketika Sebuah Peradaban Kehilangan Cara Mewariskan Dirinya

by SAGOE TV
July 8, 2026
Pemulihan atau Proyek? Catatan Kritis atas Program Pemulihan Kebudayaan Pascabencana di Sumatera
SENI

Ekosistem adalah Karya Seni Terbesar Kita

by SAGOE TV
July 2, 2026
SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh
SENI

SPS Revival dan Darud Dunia Jajaki Kemitraan Bersama Disbudpar Aceh

by SAGOE TV
June 26, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

IPI Aceh Resmi Terima SK Kepengurusan Baru, Ini Agenda yang Akan Dilaksanakan Selanjutnya

July 21, 2026
Ruang Perjumpaan #001 SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

Ruang Perjumpaan #001: SPS Revival dan Darud Dunia Merawat Ruang Perjumpaan sebagai Ekosistem

July 15, 2026
Ramadhan Bulan Istimewa: Saatnya Tingkatkan Taqwa dan Produktivitas

Ketika Meu-en Batee menjadi Olahraga

February 6, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

Jejak Lumpur dan Skala Prioritas: Catatan tentang Prioritas Pascabencana Aceh

July 16, 2026
Merajut Persaudaraan Kutaraja Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

Merajut Persaudaraan Kutaraja: Membangun Banda Aceh yang Bersatu melalui Semangat Sportivitas

July 18, 2026
Dari Meja yang Sama. Ari Palawi

Tentang Media dan Perhatian Publik

July 14, 2026
Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

ACTION Dukung Pergantian 9 Nama Jalan di Blangpidie, Minta Penulisan Nama Tokoh Diluruskan

July 20, 2026

EDITOR'S PICK

Dari Kelompok Diskusi Hingga Migrasi ke Politik: Potret OMS Aceh

Dari Kelompok Diskusi Hingga Migrasi ke Politik: Potret OMS Aceh

March 15, 2025
Jadi Korban Perdagangan Orang, 3 Warga Aceh Dipulangkan dari Laos

Jadi Korban Perdagangan Orang, 3 Warga Aceh Dipulangkan dari Laos

February 20, 2025
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Jadi Keynote Speaker Seminar Internasional di UIN Sumut

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Jadi Keynote Speaker Seminar Internasional di UIN Sumut

May 18, 2026
Wakil Ketua DPRK Salurkan Pokir untuk Bangun Tiga Rumah Layak Huni

Wakil Ketua DPRK Salurkan Pokir untuk Bangun Tiga Rumah Layak Huni

April 9, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.