• Tentang Kami
Friday, May 1, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Belajar dari Inisiatif Mandiri Seni–Budaya dalam Konteks Bencana di Sumatra

Anna Rizatil by Anna Rizatil
January 27, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Menata Ekosistem Pengetahuan Seni di Aceh

Ari J. Palawi, Musisi dan Akademisi Seni Aceh. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ari J. Palawi
Akademisi Seni Universita Syiah Kuala.

Dalam tulisan sebelumnya, saya menyoroti kecenderungan program pemulihan kebudayaan pascabencana yang berhenti pada level proyek: tertata rapi di atas kertas, namun rapuh ketika bersentuhan dengan kehidupan nyata masyarakat. Tulisan ini merupakan kelanjutan dari refleksi tersebut. Fokusnya bukan lagi pada kritik terhadap desain program institusional semata, melainkan pada praktik-praktik kebudayaan yang tumbuh, dijalankan, dan dipertahankan oleh komunitas itu sendiri baik sebagai hasil pendampingan lembaga negara atau non pemerintah, maupun yang berlangsung sepenuhnya secara mandiri tanpa keberuntungan intervensi apa pun.

Pergeseran perhatian ini penting bukan untuk meniadakan peran negara, melainkan untuk menempatkannya secara lebih proporsional. Dalam konteks Sumatra khususnya Aceh yang berulang kali menghadapi bencana ekologis di tengah sejarah sosial yang kompleks, pertanyaan mendasarnya bukan lagi sekadar apa program yang dijalankan, melainkan bagaimana masyarakat dapat terus hidup dan pulih melalui cara mereka sendiri.

BACA JUGA

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

Pemulihan sebagai Praktek Kehidupan Sehari-hari

Dalam kajian kebencanaan, pemulihan tidak dipahami sebagai fase singkat setelah tanggap darurat, melainkan sebagai proses panjang yang berlangsung dalam keseharian (Oliver-Smith, 1996). Pemulihan psikososial, dalam kerangka ini, tidak selalu membutuhkan intervensi besar, perangkat canggih, atau skema anggaran yang rumit. Ia kerap hadir melalui aktivitas yang sederhana, berulang, dan bermakna: berkumpul, bernyanyi, bekerja bersama, bercerita, atau merayakan sesuatu yang masih bisa dirayakan.

Pendekatan berbasis komunitas menempatkan seni dan budaya bukan sebagai terapi formal, melainkan sebagai bahasa sosial yang telah lama akrab dengan masyarakat. Laporan WHO (2020) dan UNDP (2019) menunjukkan bahwa intervensi pemulihan yang paling berkelanjutan adalah yang memperkuat mekanisme koping lokal, bukan menggantikannya dengan model eksternal. Dengan kata lain, pemulihan yang tahan lama justru sering kali bekerja secara senyap, melalui praktik yang tidak selalu diberi label “program”.

Baca Juga:  YGO dan Agenda Kebudayaan Aceh di Tengah Tekanan Global

Di titik inilah, praktik seni dan budaya yang dijalankan secara mandiri oleh komunitas menjadi relevan untuk dibicarakan bukan sebagai romantisasi kearifan lokal, melainkan sebagai strategi nyata menghadapi krisis yang berulang.

Festival Lima Gunung: Ketahanan yang Tumbuh dari Dalam

Salah satu contoh paling konsisten di Indonesia adalah Festival Lima Gunung di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Festival ini tumbuh dari komunitas petani dan seniman desa di lereng Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong, dan Menoreh wilayah yang juga akrab dengan bencana alam, terutama erupsi gunung api.

Sejak awal penyelenggaraannya pada awal 2000-an, Festival Lima Gunung tidak dirancang sebagai program pemerintah atau agenda pariwisata. Ia lahir dari kebutuhan internal komunitas untuk menjaga ruang ekspresi, merawat relasi sosial, dan meneguhkan identitas kultural di tengah tekanan ekologis dan ekonomi. Pendanaan dilakukan secara swadaya, pengelolaan berbasis gotong royong, dan kurasi ditentukan oleh komunitas sendiri (The Jakarta Post, 2013).

Yang menarik dari Festival Lima Gunung bukan hanya apa yang mereka lakukan, tetapi juga apa yang mereka pilih untuk tidak lakukan. Festival ini tidak mengejar indikator keberhasilan berbasis output, tidak memburu skala nasional, dan tidak memisahkan seni dari kehidupan pertanian, ritual, serta relasi sosial sehari-hari. Seni tidak ditempatkan sebagai respons terhadap krisis semata, melainkan sebagai bagian dari siklus hidup komunitas itu sendiri.

Dalam konteks pascabencana, praktik semacam ini berfungsi sebagai infrastruktur sosial. Ia menjaga ritme kehidupan, memperkuat solidaritas, dan menyediakan ruang aman untuk menegosiasikan pengalaman traumatis secara kolektif (Berkes & Folke, 1998). Ketahanan Festival Lima Gunung justru terletak pada ketiadaan ketergantungannya pada mekanisme proyek.

Relevansi bagi Sumatra dan Aceh

Tentu saja, Aceh tidak dapat disamakan begitu saja dengan Magelang. Sejarah konflik, struktur adat, dan konteks keagamaan membentuk lanskap sosial yang berbeda. Namun, pelajaran utama dari Festival Lima Gunung tidak terletak pada bentuk acaranya, melainkan pada prinsip dasarnya: seni sebagai praktik hidup yang dijalankan oleh komunitas untuk dirinya sendiri, bukan sebagai respons sementara terhadap program.

Baca Juga:  25.767 Peserta Ikut Tes SKD CPNS Kemenag di Aceh, Ujian Digelar di 4 Titik Lokasi

Di banyak wilayah Aceh, praktik seni dan budaya seperti didong, hikayat, zikir, kerja kolektif berbasis meunasah, atau tradisi tutur sejatinya telah lama berfungsi sebagai mekanisme regulasi sosial dan emosional. Ia hadir sebagai ruang koreksi sosial, transmisi nilai, sekaligus penguat ikatan kolektif (baca: Seni sebagai Sistem Imun Sosial). Persoalannya bukan ketiadaan praktik, melainkan melemahnya ruang, kepercayaan, dan kontinuitas akibat tekanan struktural serta pendekatan pembangunan yang kerap meminggirkan pengetahuan lokal.

Ketika pemulihan pascabencana hanya hadir dalam bentuk proyek singkat, masyarakat cenderung ditempatkan sebagai peserta, bukan pelaku utama. Ketergantungan pada pendampingan eksternal pun sulit dihindari. Padahal, pengalaman global menunjukkan bahwa inisiatif berbasis komunitas memiliki daya tahan yang lebih tinggi terhadap krisis lanjutan dibandingkan intervensi yang sepenuhnya dikendalikan dari luar (UNESCO, 2017).

Menata Ulang Peran Negara dan Institusi

Di titik ini, kritik perlu diarahkan bukan pada niat, melainkan pada cara negara hadir. Negara tetap memiliki peran penting terutama dalam fase awal pascabencana namun peran tersebut seharusnya bersifat enabling, bukan substitutive. Pendampingan yang sehat adalah pendampingan yang sejak awal mempersiapkan kemandirian, bukan memperpanjang ketergantungan.

Dalam konteks seni dan budaya, hal ini berarti menggeser fokus dari penyelenggaraan kegiatan ke penguatan kapasitas komunitas untuk mengelola ruang budayanya sendiri. Dukungan dapat berupa regulasi yang fleksibel, pendanaan yang tidak mengikat bentuk, serta pengakuan terhadap praktik yang sudah ada. Integrasi kebijakan budaya dengan mitigasi bencana dan tata ruang juga menjadi krusial, agar seni tidak terus ditempatkan di hilir sebagai pelengkap, tetapi di hulu sebagai bagian dari ketahanan sosial.

Kemandirian, dalam pengertian ini, tidak identik dengan pelepasan tanggung jawab negara. Justru sebaliknya: negara dibutuhkan untuk memastikan ruang, perlindungan, dan keberlanjutan, tanpa mengambil alih inisiatif hidup masyarakat.

Baca Juga:  Meuseukat & Pho: Bukti Perempuan Aceh Tak Pernah Absen dari Sejarah Seni Islam

Pemulihan yang Tidak Mengambil Alih

Pemulihan yang bermartabat tidak mengambil alih kehidupan masyarakat, tetapi menguatkannya. Ia tidak memaksakan bentuk, melainkan memberi ruang bagi proses. Ia tidak berhenti ketika laporan selesai, tetapi berlanjut dalam praktik hidup sehari-hari.

Pengalaman Festival Lima Gunung menunjukkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi fondasi pemulihan yang mandiri, menyenangkan, dan berkelanjutan bahkan di wilayah yang akrab dengan bencana. Tantangan bagi Sumatra, khususnya Aceh, bukan meniru model tersebut, melainkan menciptakan kondisi agar praktik-praktik lokal dapat tumbuh dengan cara mereka sendiri.

Barangkali, pertanyaan terpenting bukan lagi bagaimana merancang program pemulihan, melainkan bagaimana memastikan masyarakat tidak kehilangan kemampuannya untuk pulih tanpa harus selalu diprogramkan. Di situlah makna pemulihan yang paling jujur: bukan ketika program dinyatakan berhasil, tetapi ketika masyarakat mampu terus hidup, berkarya, dan saling menguatkan dengan atau tanpa proyek yang menyertainya. []

Tags: acehBencana AcehInisiatifMakin Tahu IndonesiaPascabencana SumateraSeni Budaya
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif
SENI

Skate Park Stage USK Banda Aceh Hadirkan Eksplorasi Seni Terbuka dan Inklusif

by SAGOE TV
April 30, 2026
Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana
SENI

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

by Anna Rizatil
April 25, 2026
Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan
SENI

Skate Park Stage: Kita Sedang Mengerjakan Sesuatu, Bukan Sekadar Mengadakan

by Anna Rizatil
April 18, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman

by Anna Rizatil
April 16, 2026
Skate Park Stage Vol. 3: Melanjutkan Proses, Menata Pemahaman
SENI

Skate Park Stage Vol. 2: Ketika Ruang Diuji, Bukan Hanya Diisi

by Anna Rizatil
April 11, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

Majelis Pendidikan Aceh: Antara Struktur Elitis dan Aspirasi yang Terabaikan

April 25, 2026
Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

Pendidikan untuk Pasar atau untuk Peradaban?

April 29, 2026
Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh

Apakah JKA Masih Program Prioritas Pemerintah Aceh?

April 26, 2026
Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

Pemerintah Aceh Gelar Pasar Murah di Enam Kabupaten Mulai 27 April

April 24, 2026
Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

Bunyi Sederhana, Kerja yang Tidak Sederhana

April 25, 2026
Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Tayang di 11 Kota Mulai 8 Mei

Festival Sinema Australia Indonesia 2026 Tayang di 11 Kota Mulai 8 Mei

April 25, 2026
94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

94 Anak TK/PAUD Ramaikan Lomba Mewarnai di MIN 29 Aceh Besar, Ajang Kreativitas Sejak Dini

April 29, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Pemerintah Aceh Perpanjang Status Transisi Pemulihan Pascabencana hingga Juli 2026

Pemerintah Aceh Perpanjang Status Transisi Pemulihan Pascabencana hingga Juli 2026

April 28, 2026

EDITOR'S PICK

Reuni Alumni Jeumala 2003 di Pantai Riting: Semangat Kekompakan Tak Pernah Luntur

Reuni Alumni Jeumala 2003 di Pantai Riting: Semangat Kekompakan Tak Pernah Luntur

June 28, 2025
Aceh Peringati 1 Muharram 1447 H, Wagub Fadhlullah: Harus Lebih Baik dari Sebelumnya

Aceh Peringati 1 Muharram 1447 H, Wagub: Harus Lebih Baik dari Sebelumnya

June 27, 2025
Kapolresta Banda Aceh Bersilaturahmi dengan BKM Masjid Tgk Dianjong dan Perangkat Gampong Peulanggahan

Kapolresta Banda Aceh Bersilaturahmi dengan BKM Masjid Tgk Dianjong dan Perangkat Gampong Peulanggahan

May 9, 2025
Camat Blang Bintang Salurkan Telur Gratis ke Masyarakat Cot Geundruet

Camat Blang Bintang Salurkan Telur Gratis ke Masyarakat Cot Geundruet

January 16, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.