• Tentang Kami
Saturday, June 13, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Membaca Ulang Seni di Jantung Darussalam Banda Aceh: Dari Pendidikan Keterampilan Menuju Ekosistem Pengetahuan

SAGOE TV by SAGOE TV
February 18, 2026
in SENI
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Membaca Ulang Seni di Jantung Darussalam Banda Aceh: Dari Pendidikan Keterampilan Menuju Ekosistem Pengetahuan

Dr Ari Palawi pada FGD Penguatan Literasi dan Peneguhan Seni sebagai Aset Akademik di ruang Teater Mini Adnan Ganto, Gedung Perpustakaan USK, Darussalam, Banda Aceh. Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

BANDA ACEH | SAGOE TV — Di ruang Teater Mini Adnan Ganto, Gedung Perpustakaan Universitas Syiah Kuala (USK), Darussalam, Kota Banda Aceh, Sabtu (14/2/2026), sebuah forum diskusi terfokus (FGD) berkembang menjadi refleksi serius tentang masa depan seni di kampus berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) tersebut. Tema yang diangkat—Penguatan Literasi dan Peneguhan Seni sebagai Aset Akademik—sejak awal memperlihatkan bahwa pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang evaluasi mendasar: di mana sebenarnya posisi seni dalam struktur universitas hari ini?

Suasana forum dibuka oleh testimoni mahasiswa tingkat akhir Program Studi Pendidikan Seni, Naura Atkiya. Pengalamannya sederhana, namun merepresentasikan cara pandang sosial yang lebih luas. Sejak kecil hingga SMA, ia mengenal seni melalui drum band dan peran sebagai mayoret. Ketika memilih kuliah, lingkungannya menyederhanakan keputusan itu: karena “dari dulu nari-nari saja”, maka “ya sudah, sendratasik saja.” Stigma tersebut, menurutnya, masih kerap melekat—seolah pendidikan seni identik dengan keterampilan tampil, bukan proses intelektual.

BACA JUGA

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

Dari Meja yang Sama

“Padahal Sendratasik bukan sekadar menari,” ujar Naura Atkiya.

“Kami belajar memahami seni sebagai ilmu.” tambahnya.

Pernyataan itu menjadi semacam pintu masuk emosional sekaligus epistemik: persoalan seni bukan hanya struktural, tetapi juga menyangkut cara pandang yang telah mengakar.

Gagasan tersebut kemudian diperluas oleh Ari Palawi, Ph.D., penggagas forum. Dalam pengantarnya, Ari memetakan latar historis Prodi Pendidikan Seni yang tumbuh di bawah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Posisi ini berjasa besar melahirkan guru seni di Aceh. Namun dalam konteks universitas umum—terlebih dengan status PTN-BH yang menuntut diferensiasi dan daya saing global—orientasi tunggal sebagai pencetak guru dinilai tidak lagi memadai.

Menurut Ari, seni di universitas bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan perangkat epistemik. Ia menegaskan bahwa universitas umum memiliki mandat untuk memikirkan, menguji, dan memproduksi pengetahuan—termasuk melalui praktik artistik. Dalam lanskap PTN-BH, setiap unit akademik dituntut memperlihatkan kontribusi strategisnya. Jika seni terus ditempatkan sebagai pelengkap kegiatan seremonial, ia akan sulit memperoleh legitimasi struktural.

Kerangka kebijakan ini kemudian diperdalam melalui paparan Pemantik I, Dr. (Cand). Nurlaili, M.Pd. (Kepala Pusat Pengembangan Audit dan Penjaminan Mutu USK), yang dalam forum dirangkum dan disampaikan oleh Ari. Sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu universitas, Nurlaili menyoroti persoalan dari sudut tata kelola. Di era PTN-BH, universitas dituntut akuntabel melalui Indikator Kinerja Utama (IKU), akreditasi, serta standar mutu nasional dan internasional. Dalam sistem tersebut, karya seni belum sepenuhnya diposisikan setara dengan artikel ilmiah atau paten teknologi.

Di sinilah tantangan mendasar muncul: bagaimana menjadikan praktik artistik sebagai luaran akademik yang sah dan terukur? Nurlaili menegaskan bahwa penguatan seni tidak cukup melalui narasi identitas kultural. Ia harus dirancang melalui roadmap yang jelas, kurikulum berbasis riset, serta sistem evaluasi yang kompatibel dengan regulasi pendidikan tinggi. Usulan pembukaan Program Magister Seni, dalam kerangka ini, bukan semata ambisi ekspansi program studi, melainkan langkah strategis agar riset berbasis praktik (practice-based research) memiliki payung akademik yang kuat.

Setelah fondasi struktural diletakkan, forum bergerak ke horizon global melalui Pemantik II, Dr. Feriyal Amal Aslam, cendekiawan, seniman independen dan dosen luar biasa bidang Integrated Arts (IA) UNPAR. Akademisi yang meneliti relasi Islam, gender, dan seni pertunjukan itu memulai paparannya dengan refleksi pengalaman lapangan. Dalam interaksi awalnya dengan komunitas seni di Aceh, ia menemukan dinamika yang menurutnya jarang terbaca dalam literatur internasional: peran perempuan dalam seni pertunjukan Islam yang aktif, adaptif, dan memiliki daya negosiasi sosial.

Bagi Feriyal, Aceh bukan ruang kosong yang membutuhkan legitimasi luar, melainkan ekosistem yang sudah hidup—namun belum terdokumentasi secara sistematis dalam bahasa akademik global. Ia mengajukan pertanyaan strategis: bagaimana keunggulan lokal dapat diterjemahkan ke dalam publikasi, kolaborasi, dan riset lintas negara tanpa kehilangan akar?

Ia menekankan pentingnya dokumentasi, penulisan, dan pembentukan jejaring internasional. Namun ia juga realistis. Transformasi tidak selalu harus dimulai dari struktur besar. Ia menyarankan pembentukan kelompok kerja kecil berbasis minat—working groups—yang konsisten melakukan riset, diskusi, dan publikasi. “Tidak perlu banyak orang untuk menyalakan lampu. Cukup beberapa yang menjaga energi,” ujarnya.

Energi forum kemudian berubah ketika Pemantik III, budayawan Sutanto atau Mas Tanto Mendut — yang juga dikenal global sebagai pendiri sekaligus pemimpin Komunitas Lima Gunung ini, mengambil alih ruang diskusi. Jika Nurlaili berbicara dalam bahasa tata kelola dan Feriyal dalam bahasa akademik global, berbicara dalam bahasa kebudayaan yang langsung dan menggugat.

Ia mengkritik kecenderungan universitas yang terlalu sibuk mencari legitimasi eksternal—baik melalui ranking, sertifikasi, maupun pengakuan lembaga internasional—tanpa terlebih dahulu mempercayai kekuatan tradisi masyarakatnya sendiri. “Jangan terlalu sibuk menunggu pengakuan,” tegasnya.

Menurutnya, seni hidup di tubuh dan tradisi masyarakat sebelum negara modern dan sistem akreditasi lahir. Universitas seharusnya menjadi ruang yang merawat keberanian kreatif, bukan sekadar mengadministrasikannya. Ia bahkan mengingatkan bahaya ketika logika teknokratis terlalu dominan dalam pembangunan, sehingga mengabaikan intuisi ekologis dan estetik. Dalam pandangannya, seni bukan pelengkap, melainkan instrumen kesadaran sosial.

Setelah paparan para pemantik, sesi diskusi memperlihatkan resonansi lintas disiplin. Dr. Teuku Alvisyahrin, dosen seniordari Fakultas Pertanian USK, melihat seni sebagai bagian dari fitrah manusia dan proses akal dalam memaknai kehidupan. Tanpa seni, generasi hanya cakap secara teknis tetapi miskin kebijaksanaan.

Masdar Djamaluddin, dosen senior ilmu arsitektur dan fotografi dari Fakultas Teknik USK, memperluas kritik tersebut dengan menyoroti dominasi paradigma STEM yang deterministik. Menurutnya, sains tanpa kepekaan estetik dan etis dapat melahirkan krisis ekologis dan sosial. Pendidikan tinggi, katanya, membutuhkan keseimbangan antara rasionalitas dan rasa.

Sementara itu, suara alumni Prodi Sendratasik USK muncul melalui Rauzatul Jannah. Ia mengisahkan realitas pahit seorang gitaris klasik berbakat yang akhirnya bekerja sebagai teknisi elektronik demi bertahan hidup. Di sekolah tempat ia mengajar, seni kerap diperlakukan sekadar formalitas kurikulum tanpa standar capaian yang jelas. Kesaksiannya menegaskan bahwa problem seni bukan abstraksi teoretis, melainkan realitas ekosistem kerja.

Menanggapi diskusi tersebut, Feriyal kembali menekankan pentingnya konsistensi kolektif dan dokumentasi sebagai langkah konkret. Mas Tanto, dalam respons akhirnya, mengingatkan agar keberanian kultural tidak dikerdilkan oleh ketakutan administratif.

Forum ditutup oleh Keuchik Yasser, Ketua Pengurus Yayasan Geunta Seni Jauhari, yang menegaskan bahwa roadmap penguatan seni yang telah dirancang sebenarnya sudah cukup jelas. Tantangan berikutnya adalah keberanian mengeksekusi. Seni USK, menurutnya, membutuhkan identitas yang terdefinisi dan daya tawar yang nyata.

FGD tersebut memang tidak menghasilkan keputusan formal. Namun ia memunculkan kesadaran kolektif: seni di Universitas Syiah Kuala sedang berada di persimpangan—antara bertahan sebagai pendidikan keterampilan, atau bertransformasi menjadi ekosistem pengetahuan yang relevan dalam struktur PTN-BH.

Di tengah tuntutan indikator dan akreditasi, forum ini mengingatkan bahwa universitas bukan hanya mesin administrasi, melainkan ruang produksi makna. Jika kelak Program Magister Seni terwujud dan karya berbasis praktik diakui sebagai pengetahuan yang sah, diskusi di Gedung Perpustakaan itu mungkin akan dikenang sebagai titik awal ketika seni di jantung Darussalam Banda Aceh mulai dibaca ulang—secara serius, strategis, dan berani. []

Tags: acehBanda AcehDarussalamkampuspendidikanPengetahuanSeniUSK
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
SAGOE TV

SAGOE TV

SAGOETV.com adalah platform media digital yang memberi sudut pandang mencerahkan di Indonesia, berbasis di Banda Aceh. SAGOETV.com fokus pada berita, video, dan analisis dengan berbagai sudut pandang moderat.

Related Posts

Mungkin yang kurang bukan acara Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal
SENI

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

by SAGOE TV
June 10, 2026
Dari Meja yang Sama
SENI

Dari Meja yang Sama

by SAGOE TV
June 3, 2026
Skate Park Stage Volume 1-8 Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu
SENI

Skate Park Stage Volume 1-8: Tentang Kampus, Seni, dan Ruang Bertemu

by SAGOE TV
May 25, 2026
Tribute to Nyawöung Penghormatan untuk Legenda Musik Aceh Setelah 26 Tahun
SENI

Tribute to Nyawöung: Penghormatan untuk Legenda Musik Aceh Setelah 26 Tahun

by SAGOE TV
May 21, 2026
Apakah Seni Harus Dibisniskan? Dari Inkubator Seni USK, Kampus Mulai Membaca Kreativitas Secara Lebih Serius
SENI

Apakah Seni Harus Dibisniskan? Dari Inkubator Seni USK, Kampus Mulai Membaca Kreativitas Secara Lebih Serius

by Anna Rizatil
May 21, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

Aceh Butuh Tata Kelola, Bukan Sekadar Razia: Kesenjangan Regulasi Hotel Syariah dan Jalan Keluarnya

June 10, 2026
Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

Menyelamatkan Masa Depan LKMS: Membangun Kepercayaan dan Menguatkan Ekonomi Umat

June 8, 2026
Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

Asrama Haji Aceh Siap Sambut Kepulangan Jemaah, Kloter Pertama Tiba 15 Juni 2026

June 10, 2026
Mungkin yang kurang bukan acara Catatan tentang Banda Aceh, ruang perjumpaan, dan hal-hal yang terus dimulai dari awal

Mungkin Yang Kurang Bukan Acara

June 10, 2026
3.811 Peserta UTBK SNBT 2025 Lolos di USK, Jalur Mandiri Masih Dibuka

Jalur Mandiri USK 2026 Dibuka hingga 11 Juni, Ini Kesempatan Terakhir Masuk PTN

May 5, 2026
Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU

Pelantikan PWNU Aceh 2026-2031 Akan Dihadiri Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU

June 9, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

May 27, 2025
Prabowo Kritis, Aceh Sulit?

Prabowo Kritis, Aceh Sulit?

June 6, 2026
Bukan Tentang SK

Bukan Tentang SK

June 6, 2026

EDITOR'S PICK

Apa Makna Tragedi Arakundo bagi Perdamaian Aceh? Pesan Wali Nanggroe tentang Ingatan dan Sejarah

Apa Makna Tragedi Arakundo bagi Perdamaian Aceh? Pesan Wali Nanggroe tentang Ingatan dan Sejarah

February 14, 2026
Kepala SDTQ Nurun Nabi Banda Aceh Lulus Standardisasi Dai MUI

Kepala SDTQ Nurun Nabi Banda Aceh Lulus Standardisasi Dai MUI

June 12, 2025
Lawan Persikabo 1973 di Laga Perdana Liga 2, Persiraja Bawa 23 Pemain

Lawan Persikabo 1973 di Laga Perdana Liga 2, Persiraja Bawa 23 Pemain

March 14, 2025
Sahlan Hanafiah

Elit, Rakyat dan Politik Peusakhöb

May 17, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.