• Tentang Kami
Monday, July 13, 2026
SAGOE TV
No Result
View All Result
SUBSCRIBE
BACA TERAS.ID
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
  • Podcast
  • Bisnis
  • Analisis
  • BENCANA SUMATERA 2025
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa

Anna Rizatil by Anna Rizatil
March 8, 2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Hasan Tiro: Islam sebagai Identitas Perlawanan Bangsa

Foto: for Sagoe TV

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Risman Rachman
CEO aceHBaru Consulting

Teungku Hasan Muhammad diTiro pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah figur yang lebih kompleks dari yang sering digambarkan. Ia bukan sekadar “separatis” sebagaimana label yang ditempelkan Jakarta. Ia adalah seorang intelektual yang berbicara tentang hak menentukan nasib sendiri (self-determination), dan Islam adalah fondasi identitas perlawanannya.

Hasan Tiro lahir dari keluarga ulama pejuang. Kakeknya, Teungku Chik di Tiro, adalah salah satu pahlawan terbesar dalam Perang Aceh melawan Belanda (1873–1904) sebuah perang yang oleh sejarawan Belanda sendiri diakui sebagai perlawanan paling sengit yang pernah mereka hadapi di Asia Tenggara.

BACA JUGA

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

Bagi Hasan Tiro, perang kakeknya belum selesai. Dalam bukunya “The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro”, ia menulis:

“Aceh tidak pernah menyerah kepada Belanda secara resmi. Dan kami tidak pernah menyerahkan kedaulatan kami kepada siapapun.”

Islam dalam pandangan Hasan Tiro bukan sekadar syariat ia adalah penanda peradaban dan martabat bangsa Aceh Yang harus dipertahankan dari segala bentuk kolonialisme, termasuk yang datang dari sesama bangsa. Ia melihat dominasi Jakarta sebagai kelanjutan logika kolonial: pusat menghisap pinggiran.

Ia mengutip tradisi jihad fisabilillah dalam konteks Aceh bukan jihad dalam pengertian terorisme modern, melainkan jihad sebagaimana dipraktikkan leluhurnya: perang mempertahankan tanah, agama, dan identitas dari penjajahan.

Penting dicatat, Hasan Tiro juga menempuh pendidikan di Barat (Columbia University, New York) dan fasih berbicara dalam bahasa hukum internasional. Ia menggabungkan bahasa HAM internasional dengan akar keislaman Aceh sebuah sintesis yang menarik. (Rujukan: Edward Aspinall, “Islam and Nation: Separatist Rebellion in Aceh, Indonesia”, Stanford University Press, 2009)

Ayatullah Khamenei: Islam sebagai Ideologi Anti-Hegemoni Global

Dari dua tokoh sebelumnya, kita bergerak ke sosok yang mungkin paling sistematis dalam merumuskan Islam Perlawanan sebagai ideologi politik global: Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.

Khamenei bukan hanya politisi. Ia adalah seorang ulama yang terdidik dalam tradisi fiqh siyasah (fiqih politik) Syiah, dan seumur hidupnya bergulat dengan pertanyaan: bagaimana Islam harus bersikap terhadap kekuatan imperialis?

Jawaban merumuskan dalam konsep “Muqawamah” (المقاومة) Perlawanan. Ini bukan sekadar strategi militer; ini adalah worldview teologis yang menyatakan bahwa berdamai dengan sistem internasional yang timpang dan dikuasai Amerika Serikat serta Israel adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam.

Konsep ini berakar pada beberapa prinsip teologis:

Pertama, Khamenei bersandar pada ayat Al-Qur’an “Wa lan yaj’alallahu lil-kafiriina ‘alal mu’miniina sabiila” (QS. An-Nisa: 141) “Allah tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” Ini ditafsirkan sebagai larangan teologis atas dominasi asing.

Kedua, ia mengembangkan konsep “Wilayatul Faqih” (pemerintahan ulama) yang dirumuskan gurunya, Imam Khomeini sebuah sistem di mana otoritas agama dan politik menyatu untuk melayani keadilan Islam.

Ketiga, Khamenei sangat dipengaruhi oleh pemikiran Ali Syariati sosiolog Islam Iran yang memadukan Islam dengan teori pembebasan ala Fanon dan Sartre. Syariati melihat Islam sebagai agama yang secara inheren memihak mustadh’afin (kaum tertindas) melawan mustakbirin (kaum arogan/penindas). (Lihat: Ali Syariati, “Hajj”, dan “Ummat wa Imamah”)

Dalam pandangan Khamenei, Amerika Serikat dan Israel adalah mustakbirin global dan seluruh kebijakan luar negeri Iran, dari dukungan terhadap Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, hingga Houthi di Yaman, dibingkai dalam narasi teologis ini: perlawanan kaum tertindas yang direstui Allah.

Ia sering mengutip kisah Nabi Musa melawan Firaun sebagai arketipe abadi di mana Firaun hari ini adalah Washington dan Tel Aviv. (Rujukan: Khamenei.ir, berbagai khutbah dan pernyataan resmi; serta Vali Nasr, “The Shia Revival”, W.W. Norton, 2006)

Benang Merah: Islam yang Tidak Duduk Diam

Apa yang menghubungkan Soekarno, Hasan Tiro, dan Khamenei bukanlah kesamaan mazhab, etnisitas, atau strategi. Yang menghubungkan mereka adalah cara baca atas Islam yang menempatkan keadilan dan perlawanan terhadap penindasan sebagai inti ajaran.

Ketiganya membaca hadis Nabi yang masyhur: “Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadihi.” “Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya” bukan hanya sebagai perintah moral personal, tetapi sebagai imperatif politik.”

Ketiganya juga menghadapi tuduhan yang mirip: dianggap “terlalu politik”, “memanipulasi agama”, atau bahkan “ekstremis” oleh kekuatan yang berkepentingan untuk membungkam perlawanan.

Namun justru dari sudut pandang sejarah, ketiganya mewakili sebuah tradisi panjang dalam peradaban Islam dari Ibnu Khaldun yang menganalisis siklus kekuasaan dan keadilan, hingga pemikir modern seperti Sayyid Qutb, Ali Syariati, dan Hassan al-Banna bahwa Islam tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi agama yang diam di hadapan kezaliman.

Dalam bahasa Soekarno: Islam adalah api, bukan abu. Dalam bahasa Hasan Tiro: Islam adalah punggung tegak, bukan lutut yang menekuk. Dalam bahasa Khamenei: Islam adalah muqawamah perlawanan yang tidak mengenal kata menyerah. []

Tags: Hasan TiroIdentitasIslamMakin Tahu Indonesiaopini
ShareTweetPinSend
Seedbacklink
Anna Rizatil

Anna Rizatil

Related Posts

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti
Opini

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

by SAGOE TV
July 13, 2026
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah
Opini

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

by SAGOE TV
July 11, 2026
Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh
Opini

Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

by SAGOE TV
July 8, 2026
Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota
Opini

Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

by SAGOE TV
July 6, 2026
Calvin Ho
Opini

Paradoks Negara Kepulauan: Aceh dalam Visi Maritim Nasional Indonesia

by SAGOE TV
July 5, 2026
Load More

POPULAR PEKAN INI

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial oleh Sufri Eka Bhakti

Membaca Ulang “Kota Petrodollar” dari Perspektif Dekolonial

July 13, 2026
Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak Analisis Postur Anggaran Terhadap Janji Visi & Program Muzakir Manaf-Fadhlullah

Pemerintah Sedang Rebus Batu, Rakyat Menunggu Makan Enak

July 11, 2026
Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

Jejak Pusaka (Heritage Trail) Sebagai Media Membaca Kembali Cita-Cita Darussalam

July 8, 2026
Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

Wagub Aceh Siap Tindaklanjuti Sengketa Pulau di Singkil hingga Pungli Rumah Duafa

June 30, 2026
Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

Yang Belum Dibawa Arus: Catatan Delapan Bulan Pascabanjir Aceh

July 8, 2026
Horor Perjalanan Belum Berakhir

Horor Perjalanan Belum Berakhir

July 10, 2026
Risman Rachman.

Manajemen Solusi, Bagaimana Menerapkannnya?

March 15, 2025
Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

Dari Medan Menuju Banda Aceh Mendunia: Saatnya Kolaborasi Menjadi Jalan Baru Membangun Kota

July 6, 2026
BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

BPMA dan Polda Aceh Perkuat Pengamanan Blok A Medco E&P Malaka

July 10, 2026

EDITOR'S PICK

Bandar Publishing Terbitkan Buku Wakil Ketua DPRK Banda Aceh

Bandar Publishing Terbitkan Buku Wakil Ketua DPRK Banda Aceh

February 19, 2026
Wagub Aceh Fadhlullah Safari Ramadhan di Masjid Besar Peusangan

Wagub Aceh Fadhlullah Safari Ramadhan di Masjid Besar Peusangan

March 13, 2025
Pemerintah Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Tembus 5,5 Persen

Pemerintah Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Tembus 5,5 Persen

April 10, 2026
Aceh Raih Dua Penghargaan di IMTI 2025, Masuk Lima Besar Destinasi Wisata Ramah Muslim

Aceh Raih Dua Penghargaan di IMTI 2025, Masuk Lima Besar Destinasi Wisata Ramah Muslim

October 10, 2025
Seedbacklink
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Iklan
  • Aset
  • Indeks Artikel

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • News
  • Biografi
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Politik
  • Reportase
  • Resensi
  • Penulis

© 2025 PT Sagoe Media Kreasi - DesingnedBy AfkariDigital.